로그인Malam telah turun saat Anastasia keluar dari ruangan itu. Koridor-koridor panjang kini diterangi cahaya yang berkelip tenang, sementara seluruh penghuni kastil mulai kembali ke kamar masing-masing.
Hanya satu orang yang masih berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Anastasia.
Gaun panjangnya bergesekan pelan dengan lantai marmer setiap kali ia melangkah menuju Paviliun Timur. Wajahnya masih terlihat pucat sejak kejadian sore tadi, tetapi ia terus memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun ucapan Lior masih terngiang di telinganya.
Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.
Tidak.
Bagaimanapun juga Jasper adalah suaminya. Pria yang telah ia cintai selama empat tahun. Mungkin... semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin masih ada penjelasan yang belum sempat ia dengarkan. Dengan keyakinan itulah Anastasia akhirnya berdiri di depan kamar yang berada di ujung Paviliun Timur.
Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Berbicara baik-baik dengan Jasper. Namun, sebelum buku-buku jarinya sempat menyentuh permukaan kayu, gerakannya terhenti.
Pintu itu ternyata tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang memperlihatkan sebagian isi ruangan. Tanpa sengaja, pandangan Anastasia jatuh ke dalam.
Dan saat itulah tubuhnya membeku. Di dalam kamar, Jasper sedang memeluk Mary.
Begitu erat. Seolah wanita itu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Salah satu tangannya mengusap perlahan punggung Mary, sementara tangan yang lain membelai rambut panjang wanita itu dengan penuh kelembutan. Sesekali Jasper mengecup keningnya, lalu mengecup bibirnya singkat, berusaha menenangkan isak tangis yang terdengar lirih.
Pemandangan yang selama ini hanya mampu dibayangkan Anastasi, kini benar-benar terjadi di depan matanya.
"Sayang..." suara Mary terdengar bergetar. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Jasper seperti anak kecil yang mencari perlindungan. "Aku takut Baroness akan menghukumku."
Jasper mengusap pipinya dengan ibu jari.
"Itu tidak akan terjadi."
"Tapi... bagaimanapun juga dia wanita bangsawan." Mary menggigit bibirnya pelan. "Sedangkan aku hanya seorang pelayan. Aku bisa dihukum gantung karena berani mengambil suami majikanku."
Mendengar itu, Jasper justru tersenyum dengan begitu lembut. Senyuman yang bahkan belum pernah Anastasia lihat sejak mereka menikah.
Jasper mengangkat dagu Mary agar wanita itu menatapnya.
"Dengarkan aku." Tatapannya dipenuhi kasih sayang. "Dari awal sampai akhir hanya kau yang kucintai, Mary."
Air mata yang sedari tadi ditahan Anastasia mulai menggenang. Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara.
"Pernikahanku dengan Anastasia tidak lebih dari pernikahan politik."
Kalimat itu menghantamnya jauh lebih keras daripada tamparan.
Dadanya terasa sesak. Tangannya yang masih berada di gagang pintu perlahan melemas hingga hampir kehilangan keseimbangan. Di dalam kamar, Mary menatap Jasper dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Aku tetap takut."
Jasper kembali menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Jangan takut." Suaranya begitu lembut. "Lagipula ibuku memihakmu."
Ia mengecup pelipis Mary.
"Selama kau bisa melahirkan anak kita dengan selamat, tidak akan ada seorang pun yang berani menyakitimu."
Mary mengangguk pelan. Wajahnya kembali bersandar di dada Jasper, menikmati kehangatan pelukan pria itu. Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat sebelum Mary kembali bersuara.
"Kalau begitu..." Ia mendongakkan kepalanya. "Kenapa kau tidak menceraikannya saja?"
Jantung Anastasia kembali berdegup kencang, ia benar-benar ingin membuka pintu itu. Ingin masuk dan bertanya mengapa Jasper tega melakukan semua ini kepadanya.
Namun kedua kakinya seolah kehilangan tenaga. Ia hanya mampu berdiri di balik pintu, menjadi saksi bagi kehancuran rumah tangganya sendiri.
Jasper menghela napas panjang.
"Itu tidak bisa."
Mary mengerutkan kening.
"Tidak bisa?"
"Bukan karena aku tidak mau." Jasper mengusap lembut pipi wanita itu. "Tanpa Anastasia, keluarga Silas sudah lama hancur."
Mary terdiam.
"Seluruh utang keluarga kami dilunasi oleh keluarga Korvath melalui pernikahan ini." Nada suara Jasper tetap tenang, seolah sedang membicarakan urusan bisnis. "Mas kawinnya menyelamatkan wilayah kami dari kebangkrutan."
Mary menundukkan pandangan.
"Jadi... kau tidak bisa menceraikannya?"
"Bisa." Jasper tersenyum tipis. "Hanya belum sekarang."
Ia meraih tangan Mary lalu mengecup punggung jemarinya dengan penuh kelembutan.
"Percayalah." Tatapan penuh cinta itu kembali memenuhi wajahnya. "Aku tetap mencintaimu."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang begitu ringan, seolah sedang membicarakan seseorang yang tidak berarti.
"Sedangkan Anastasia..." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Dia tidak lebih dari seorang istri di atas selembar kertas."
Kalimat Anastasia menggantung di udara. Ruangan yang semula dipenuhi suara dentingan peralatan makan mendadak sunyi. Bahkan para pelayan yang berdiri di sisi ruangan saling melirik, tidak berani mengangkat kepala.Jasper perlahan meletakkan sendok yang berada di tangannya, tatapannya mengeras."Ana."Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa kesabarannya mulai habis."Aku sudah memperingatkanmu semalam."Anastasia tidak menjawab. Ia hanya memandang pria di hadapannya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun."Jangan membuat masalah."Mendengar kalimat itu, Anastasia hampir tertawa. Membuat masalah?Sejak ia memasuki ruang makan, ia bahkan belum melakukan apa pun. Ia hanya berdiri beberapa saat, lalu mengucapkan satu kalimat yang bahkan tidak mengandung makian.Di mata Jasper dirinyalah yang selalu menjadi sumber masalah. Sebelum Anastasia sempat membuka mulut, Mary lebih dulu menarik pelan lengan baju Jasper."Baron..." Suara wanita itu begitu lem
Anastasia menatap Lior dengan wajah yang dipenuhi kebingungan. Beberapa saat ia hanya terdiam, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa tidak mengerti."Yang Mulia..." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. "Apa maksud ucapan Anda?"Lior mengalihkan pandangannya kepadanya. Tatapan abu-abu itu tetap tenang, nyaris tanpa riak, seolah pertanyaan Anastasia adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan."Aku rasa," ucapnya datar, "kau tidak cukup bodoh untuk tidak memahami apa yang baru saja kukatakan."Anastasia menggigit bibir bawahnya."Bukan begitu." Ia menggeleng pelan. "Saya benar-benar tidak mengerti."Tatapannya dipenuhi kebingungan yang tulus."Yang Mulia mengatakan saya harus membalasnya dengan cara yang sama." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih. "Tapi... saya tidak tahu apa maksudnya."Keheningan menyelimuti koridor.Lior memandang wanita di hadapannya beberapa saat. Tak
Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.Menjadi... ibu bagi bayi itu?Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal."Ana, dengarkan aku."Ia melangkah mendekat."Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Aku seorang pria."Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan."Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar."Memiliki lebih dari satu
Di balik pintu, Anastasia menutup kedua matanya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa pernikahan mereka memang dingin karena Jasper sulit mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia akhirnya menyadari kenyataan yang selama ini enggan ia terima. Bukan Jasper yang tidak pandai mencintai. Hanya saja pria itu tidak pernah mencintainya.Anastasia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi. Tangannya yang sejak tadi menggantung di udara akhirnya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.Brak!Suara benturan kayu memenuhi ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja terjadi di antara Jasper dan Mary.Kedua orang itu sontak menoleh. Mary tampak terkejut hingga refleks melepaskan pelukan dari tubuh Jasper, sementara Jasper membeku sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Anastasia.Wanita itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Tatapannya menyapu keduanya perlahan sebelum berhenti pada Jasper."Jadi..." Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan. "Begitu rupanya."Kehe
Malam telah turun saat Anastasia keluar dari ruangan itu. Koridor-koridor panjang kini diterangi cahaya yang berkelip tenang, sementara seluruh penghuni kastil mulai kembali ke kamar masing-masing.Hanya satu orang yang masih berjalan tanpa tujuan yang pasti.Anastasia.Gaun panjangnya bergesekan pelan dengan lantai marmer setiap kali ia melangkah menuju Paviliun Timur. Wajahnya masih terlihat pucat sejak kejadian sore tadi, tetapi ia terus memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun ucapan Lior masih terngiang di telinganya.Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.Tidak.Bagaimanapun juga Jasper adalah suaminya. Pria yang telah ia cintai selama empat tahun. Mungkin... semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin masih ada penjelasan yang belum sempat ia dengarkan. Dengan keyakinan itulah Anastasia akhirnya berdiri di depan kamar yang berada di ujung Paviliun Timur.Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Berbicara baik-baik dengan Jasper. Namun, sebelum b
Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa."Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."Anastasia mengerutkan kening.Melayani?Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior."Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu.""Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya."Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis."Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu







