LOGINLior turun dari kereta dan Anastasia hanya bisa menatap punggungnya beberapa saat. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengikuti pria itu turun.Entah apa sebenarnya isi perjanjian antara Lior dan Ansel. Anastasia mulai merasa bahwa pernikahannya dengan Jasper mungkin hanyalah sebagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.Dan tanpa ia sadari, dirinya telah berdiri tepat di tengah-tengahnya.Pertemuan itu akhirnya terjadi di salah satu ruang pribadi milik keluarga Korvath yang berada tidak jauh dari pusat kota. Tempat tersebut sengaja dipilih Ansel karena lebih sepi dan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan para pelayan yang berada di bangunan itu hanya orang-orang yang sudah lama bekerja untuk keluarga Korvath dan dapat dipercaya.Namun, begitu Anastasia membuka pintu dan masuk bersama Lior, suasana ruangan langsung berubah.Ansel yang sedang berdiri di belakang meja kerjanya mengangkat wajah. Ia awalnya hanya melihat Anastasia dan mengira adiknya datang s
Anastasia sudah lebih dulu berada di dalam kereta ketika Stevi akhirnya ikut naik. Karena kereta itu memang disiapkan untuk perjalanan Anastasia dan tidak mungkin menyiapkan kereta lain hanya untuk seorang pelayan, Stevi tidak punya pilihan selain ikut dalam kereta yang sama. Ia segera duduk di samping Anastasia, sementara Lior tetap berada di bangku yang berseberangan dengan mereka.Stevi sempat melirik Lior dengan canggung sebelum menundukkan kepala. Jelas gadis itu masih merasa aneh karena tiba-tiba harus berada dalam satu kereta dengan Duke yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.Anastasia sendiri juga merasa sedikit tidak nyaman. Ia menatap Lior,"Yang Mulia, karena Anda tiba-tiba memutuskan untuk ikut, saya harap Anda tidak keberatan jika Stevi tetap berada di dalam kereta."Lior mengalihkan pandangan kepada Stevi yang duduk di samping Anastasia. Ia tidak menunjukkan keberatan sedikit pun."Tidak masalah."Jawabannya singkat dan tenang.Anastasia mengangguk. "Terima kas
Jasper tidak menjawab. Anastasia pun berbalik dan pergi menuju ruang makan. Langkahnya tetap tenang, seolah percakapan mereka memang sudah selesai.Jasper masih berdiri di lorong, memperhatikan punggung Anastasia hingga menghilang. Tangannya mengepal, tetapi kali ini bukan karena marah. Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa khawatir.Selama ini, Jasper yakin Anastasia akan selalu bertahan. Namun wanita itu sudah tidak seperti dulu. Ia tidak lagi memohon, menangis, atau takut kehilangan pernikahan mereka. Bahkan ancaman perceraian tadi terdengar seperti keputusan yang benar-benar sudah dipikirkannya.Sementara itu, Anastasia duduk di ruang makan dan meminta teh seperti biasa. Tangannya memang sedikit dingin, tetapi wajahnya tetap tenang, ia merasa telah mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya sejak awal. Jika Jasper kembali melewati batas, kali ini Anastasia tidak akan hanya mengancam.Ia benar-benar akan pergi.***Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di dalam kastil,
Setelah mengatakan itu, Anastasia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak menoleh lagi. Seolah-olah percakapan dengan Jasper telah selesai dan tidak ada alasan baginya untuk berdiri lebih lama di lorong itu.Namun baru beberapa langkah, suara Jasper kembali terdengar dari belakang."Ana."Anastasia berhenti. Ia menutup mata sejenak sebelum berbalik. Wajahnya tetap tenang ketika menatap Jasper yang masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan amarah."Apa lagi?""Kau benar-benar akan terus bersikap seperti ini kepadaku?"Anastasia menatapnya tanpa ekspresi."Seperti apa?""Seolah-olah aku bukan suamimu."Anastasia terdiam beberapa detik. Lalu ia menarik napas perlahan."Karena kau sendiri yang membuatku sulit menganggapmu sebagai suami."Jasper mengeraskan rahangnya."Aku sudah mengatakan bahwa a
Stevi mengangguk."Baik."Anastasia kembali menatap surat dari Ansel yang masih berada di atas meja. Besok ia harus pergi, dan apa pun yang menunggunya di luar sana mungkin akan mengubah banyak hal, ia hanya bisa berharap rencana Stevi tidak berubah menjadi masalah baru sebelum ia sempat bertemu dengan kakaknya.Sementara di luar kamar, suara langkah pelayan masih terdengar samar di sepanjang koridor kastil. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu itu, Anastasia sedang mempersiapkan sesuatu yang harus dilakukan secara diam-diam.I mulai merasa bahwa masalah yang dihadapinya tidak lagi hanya tentang Jasper dan Mary. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di belakang semua ini.***Pagi itu, Anastasia baru saja keluar dari kamarnya ketika ia bertemu Jasper di lorong menuju ruang makan. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah malam yang melelahkan, ia hanya ingin sarapan dengan tenang lalu menjalani hari seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti keti
Anastasia akhirnya berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Lior. Ia hanya merapikan ujung gaunnya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu meninggalkan meja makan. Malam itu, ia tidak peduli apakah Lior masih ingin berbicara dengannya atau tidak. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.Begitu keluar dari Paviliun Barat, Anastasia berjalan kembali menuju kastil dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh. Perkataan Lior terus terngiang di benaknya, begitu pula kejadian beberapa jam sebelumnya. Jasper, perceraian, Mary, keluarganya, bahkan pertanyaan tentang Lior yang belum juga mampu ia jawab. Semuanya datang bersamaan hingga Anastasia tidak ingin memikirkan satu pun.Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu. Anastasia berdiri beberapa saat di tengah ruangan tanpa melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, seolah tubuhnya sudah berada di sana, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh di belaka







