Share

Bab 3

Penulis: Aurora
Bagas tak pulang semalaman.

Keesokan harinya, Melani melihat artikel terbaru yang diterbitkan Vania di majalah edisi terbaru.

[Saat berada di titik terendah, beruntungnya masih ada seseorang yang mau menemaniku pergi begitu saja … mendaki Gunung Asmara di tengah malam.]

Meski foto yang ditampilkan adalah swafoto Vania, siluet pria tinggi di belakangnya langsung dikenali Melani.

Itu Bagas.

Para editor majalah pun langsung ramai bergosip.

“Cewek yang mencintai kebebasan memang punya daya tarik tersendiri. Kayaknya orang-orang yang ngejar Kak Vania sudah mengantre sampai Prancis, ya…”

“Sudah kuduga! Setelah dicampakkan pria brengsek dan bercerai, Kak Vania pasti nggak bakal terpuruk. Panutan banget!”

“Postur pria di foto tinggi banget. Kapan, ya, wajah aslinya diperlihatkan ke penggemar?”

Melani tersenyum tipis.

Andai mereka tahu tahu bahwa pria itu adalah seorang pria beristri, bahkan pemilik perusahaan majalah itu sendiri, entah bagaimana ekspresi mereka nanti.

Konon katanya, pasangan yang mendaki hingga puncak Gunung Asmara bersama akan sehidup semati, terikat seumur hidup.

Dulu, Melani pernah meminta Bagas menemaninya ke sana.

Dia memohon berkali-kali.

Namun Bagas hanya menatapnya dingin.

“Melani, kupikir kamu bukan tipe orang yang ikut-ikutan tren.”

Saat itu, Melani kehabisan kata. Dia hanya bisa mengurungkan niat.

Hal yang sama … jika dia yang melakukannya, akan disebut tak punya pendirian. Namun saat Vania yang melakukannya, itu disebut kebebasan. Jiwa merdeka.

Begitulah bedanya antara dicintai dan tak dicintai.

Hanya saja, Melani tak benar-benar mengerti pria. Tak mencintai, tapi masih sanggup menegakkan hasrat. Demi mencegah kejadian semalam terulang, dia memutuskan membereskan semua barang miliknya dan pergi. Sebelum surat cerai resmi terbit, dia tak akan kembali ke tempat ini.

Vania memang lebih sering tinggal di asrama kampus.

Barang-barang Melani di rumah itu tak banyak. Satu koper sudah cukup memuat semua pakaiannya.

Terakhir, dia membuka laci di sisi tempat tidur dan mengeluarkan sebuah album foto tebal.

Dia menyukai fotografi. Setiap bulan, dia selalu mengajak Bagas ke studio foto.

Namun dalam setiap foto, pria yang berdiri di sisinya selalu berwajah datar, tanpa senyum sedikit pun.

Melani membawa album itu turun dan membuangnya ke tempat sampah.

Cinta yang tak pernah dihargai.

Bahkan pemulung pun akan merasa sial jika menemukannya.

Menjelang kelulusan, Melani begitu sibuk.

Selama dua minggu penuh, dia nyaris tak memikirkan Bagas sama sekali.

Selesai rapat kelompok di hari Jumat, pemilik toko kecil di bawah asrama menghentikannya.

“Melani! Hari ini ada empat atau lima telepon yang mencarimu!”

Melanie menatap nomor yang ditunjukkan pemilik toko. Itu nomor kantor Bagas.

Empat tahun terakhir, apa pun urusannya selalu dia yang lebih dulu menghubungi Bagas. Bahkan sering kali harus membuat janji lewat sekretarisnya.

“Menelepon adalah bentuk komunikasi paling nggak efisien. Buang-buang waktu.”

Kalimat itu terlintas jelas di kepalanya. Kalimat yang dulu sering diajarkan Bagas.

Melani berniat mengabaikannya.

Namun tak disangka, Bagas terus menelepon, berkali-kali hingga pemilik toko yang tak tahan akhirnya naik ke asrama dan memintanya menjawab.

Di ujung telepon, suara Bagas terdengar serak.

“Ayah minta kita menjenguknya bersama.”

Sejak istri Prof Rahardian meninggal dua tahun lalu, semangat hidup beliau ikut terkubur. Kesehatannya pun merosot drastis, seolah ambruk dalam semalam. Beliau mengundurkan diri dari semua jabatan dan memilih tinggal di panti wreda.

Dulu, Melani selalu mengatur kunjungan setiap sepuluh hari sekali.

Semenjak kejadian bulan lalu, memang sudah lama dia tak datang.

Rasa bersalah perlahan muncul di hatinya.

Meski dia dan Bagas tak lagi bisa menjadi suami istri, Prof Rahardian dan almarhum istrinya selalu tulus menyayanginya.

Selagi masih berada di Lagos, memang seharusnya dia lebih sering menjenguk.

Bagas menjemput Melani dengan mobil.

Begitu bertemu, dia langsung bertanya, “Akhir-akhir ini kenapa kamu nggak pulang?”

“Lagi sibuk di kampus.”

“Syukurlah. Vania sempat mengira kamu marah karena aku terlalu dekat dengannya.”

Sambil mengemudi, jari Bagas mengetuk pelan setir kemudi.

“Aku sudah bilang ke dia, kamu bukan orang yang seperti itu. Tapi dia nggak percaya. Malah bilang, demi menghindari gosip, bulan depan dia akan pindah.”

“Bilang saja sama dia nggak perlu pindah. Aku nggak masalah.”

Nada suara Melani terdengar malas. Datar seperti saat dia bertugas jaga menanyakan kondisi pasien.

Bagas sedikit mengernyit.

Jawaban itu sebenarnya yang dia harapkan.

Namun entah kenapa, ketika Melani mengatakannya begitu ringan, dia justru merasa ada sesuatu yang tak beres.

Dia hendak menoleh, ingin melihat ekspresi Melani dengan lebih jelas.

Namun perempuan di kursi penumpang itu sudah terlelap.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status