Share

Bab 2

Author: Aurora
Vania tak memiliki tempat tinggal di dalam negeri. Dia menginap di kamar tamu lantai dua kediaman Keluarga Rahardian.

Hampir setiap hari perempuan itu datang berkunjung.

Bagas yang dulu sering lembur dan jarang pulang, entah sejak kapan mendadak tampak sangat senggang. Setiap hari, dia sengaja menunggu di rumah.

Selesai makan malam, mereka menonton rekaman di ruang tamu. Vania bahkan mengajak Melani ikut bergabung.

“Skripsiku masih belum selesai. Kalian saja yang nonton,” jawab Melani ringan sebelum kembali ke kamar.

Tawa lepas Vania terdengar dari balik pintu.

“Melani benar-benar mahasiswi teladan. Nggak kayak aku dulu, sering minta kamu bantuin ngerjain tugas.”

Melani masih sibuk hingga pukul sebelas malam. Dia sama sekali tak menyadari Bagas sudah masuk kamar, mengenakan sandal rumah.

Saat Bagas mengulurkan tangan mengambil map berkas di meja, jantung Melani mendadak mencelos. Dia ingin menghentikannya, tapi sudah terlambat.

Di dalam map itu tersimpan surat permohonan cerai yang telah ditandatangani.

“Apa ini?”

Bagas mengernyit, menarik selembar kertas, lalu melemparkannya ke atas meja.

“Kamu mau ikut misi bantuan ke Lunaria?”

Melani memperhatikan lembaran itu dengan seksama. Ternyata yang berada paling atas adalah formulir pendaftaran program misi bantuan ke Lunaria milik kampus.

“Bukan punyaku. Aku cuma bantu teman sekamarku ambil saja,” jawab Melani tenang.

Bagas tampak percaya, tak lagi tertarik pada isi map itu.

Melani pun menghela napas lega.

Dia masih belum ingin Bagas tahu soal perceraian. Sejak awal, pernikahan ini hanyalah keinginan sepihaknya. Maka saat memilih pergi, dia ingin melakukannya dengan tenang dan tetap menjaga harga dirinya.

“Kudengar misi bantuan ke Lunaria itu mengharuskan tinggal di daerah termiskin selama tiga tahun. Cukup berat,” ucap Bagas sambil mengetuk perlahan jari-jemarinya yang ramping di meja.

“Kamu nggak perlu ikut-ikutan. Relasi ayah cukup buat kamu dapat kerja bagus di rumah sakit mana pun di Lagos.”

Nada suaranya terdengar penuh perhatian, tapi Melani hanya tersenyum getir dalam hati.

Setiap tahun, nilai akademiknya selalu peringkat pertama. Selama kuliah, dia telah menerbitkan belasan artikel ilmiah. Dengan kemampuannya sendiri, dia bisa memilih rumah sakit mana pun di Lagos, tanpa perlu mengandalkan relasi siapa pun.

Hal-hal sesederhana itu, Bagas bahkan tak pernah tahu.

Selama empat tahun pernikahan, pria itu tak pernah benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh.

Sebaliknya, Melani tahu betul kebiasaan Bagas yang tidur dengan lampu menyala, membuatnya susah tidur setiap malam karena silau.

Malam ini, dia tak lagi memaksakan diri. Melani mematikan lampu, lalu berbaring.

Benar saja, baru saja dia berbaring, Bagas mulai gelisah, membolak-balikkan tubuhnya.

“Kenapa lampunya dimatikan?”

“Aku nggak takut gelap,” jawab Melani datar. Dia membalikkan badan, membelakangi Bagas, lalu menarik selimut hingga hampir seluruhnya ke arahnya.

Dia mengira Bagas akan menyalakan lampu sendiri.

Tak disangka.

Bagas justru mengulurkan tangan, memeluknya dari belakang. Napas hangat menyentuh leher Melani, sarat akan gairah.

Tubuh Bagas memang tampak kurus, tapi lengannya penuh tenaga. Dengan satu tarikan, dia membalikkan tubuh Melani ke dalam pelukannya.

Ciuman turun bertubi-tubi, tak memberi ruang untuk menolak.

Melani meronta, tapi usahanya sia-sia. Di atas ranjang, Bagas selalu dominan, sangat berbeda dengan sosoknya yang tenang dan dingin di luar.

Melani memalingkan wajah, pandangannya jatuh pada kalender di samping ranjang.

Hari ini … Jumat.

Selama empat tahun, setiap Jumat malam mereka selalu seperti ini.

Dulu, dia mengira karena jarang bertemu, Bagas seakan tak pernah merasa cukup.

Namun, beberapa hari lalu, saat terjaga di tengah malam dan berulang kali membolak-balik majalah yang memuat artikel bersambung karya Vania, Melani akhirnya menyadari … artikel Vania selalu terbit setiap hari Jumat.

Vania adalah penulis yang hidup berpindah-pindah ke berbagai negara. Setiap tulisannya dipenuhi kisah perjalanan keliling dunia bersama suami asingnya. Selain melukiskan pemandangan, hampir setiap kalimatnya seakan memamerkan kemesraan yang tak pernah putus.

Setiap kali teringat betapa seringnya Bagas mendekatinya hanya karena terprovokasi oleh artikel Vania, Melani merasa mual.

Dia terbatuk menahan rasa ingin muntah. Gerakan Bagas akhirnya terhenti.

“Kenapa?” tanya Bagas.

Dia menyalakan lampu dinding. Cahaya kekuningan menyorot garis tegas wajah sampingnya.

“Aku nggak enak badan hari ini … uh .…”

Awalnya Melani hanya ingin menghentikan Bagas, tapi perutnya bergejolak hebat, seolah seluruh isi tubuhnya ingin dimuntahkan.

“Biar aku antar ke rumah sakit. Apa jangan-jangan ....”

“Nggak!”

Melani tahu apa yang ingin Bagas katakan. Setiap kali selesai berhubungan, dia selalu minum obat. Hal itu tak mungkin terjadi.

“Lebih baik kita ke rumah sakit saja. Terlepas iya atau nggak, kamu kelihatan benar-benar kesakitan.”

Sambil bicara, Bagas sudah mengenakan pakaian dan meraih kunci mobil di atas ranjang.

Saat dia hendak membantu Melani bangun, terdengar ketukan pintu, disusul suara Vania.

Bagas langsung bangkit dan melangkah ke arah pintu.

Entah apa yang dikatakan Vania di balik pintu, Bagas tampak mengerutkan kening sebelum akhirnya tersenyum tak berdaya.

Dia kembali ke sisi ranjang.

“Vania bilang dia lagi baca cerita horor rakyat sendirian. Katanya takut sampai mau nangis.”

Di bawah cahaya lampu, wajah Bagas tampak ragu.

Melani langsung mengerti.

“Kamu temani dia saja. Aku nggak apa-apa.”

Saat mereka masih berbicara, ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini lebih cepat dan mendesak.

Bagas melirik sekilas, lalu bangkit tergesa. Namun baru beberapa langkah, dia seperti teringat sesuatu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

“Tunggu aku. Nanti aku balik, kita ke rumah sakit.”

Melani tersenyum pahit menatap pintu yang tertutup.

Tunggu?

Kata yang paling tak berguna.

Dia tak suka menunggu.

Rasa mual membuat Melani tak bisa tidur. Dia duduk dan mengambil formulir pendaftaran misi bantuan ke Lunaria dari dalam map dokumen.

Awalnya, dia masih ragu pergi ke luar negeri. Namun dalam kondisi seperti ini, jika setelah lulus dia tetap tinggal di Lagos, setelah bercerai, dia pasti masih akan terus bertemu dengan Bagas.

Lebih baik pergi sembari menempa diri selama beberapa tahun.

Saat mengisi formulir, pada kolom status pernikahan, dia menuliskan dengan tegas … lajang!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status