Share

Bab 5

Author: Aurora
Bagas dan Vania sama-sama terdiam, seakan diam itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Ehem .…” Bagas berdeham pelan, menarik kembali arah pembicaraan.

“Memangnya mau ke mana? Ngapain?” tanyanya pada Vania.

Vania menjulurkan lidahnya dengan manja.

“Di barat kota lagi ada pemutaran film. Kita ke sana naik sepeda, yuk?”

Bagas kembali terdiam. Kali ini pandangannya beralih pada Melani.

Melani hanya mengangkat bahu.

“Kalian saja. Kebetulan aku mau balik ke kampus, masih harus susun skripsi.”

Masayu yang berdiri di samping mereka tampak belum sepenuhnya menangkap dinamika di antara ketiganya. Dia malah tersenyum ramah dan ikut mengajak.

“Kamu juga bisa ikut, kok, Mel.”

“Melani sepertinya nggak bakal suka. Lagian barat kota juga jauh.”

Belum sempat Melani membuka mulut, Vania sudah lebih dulu menolaknya.

Bagas ikut mengangguk.

“Iya. Melani itu penakut. Fisiknya juga nggak kuat. Nggak sanggup naik sepeda sejauh itu.”

Melani tak membantah.

Dalam hati, dia hanya berpikir.

Selama tiga tahun kuliah, dia menjabat ketua klub bela diri bebas dan tak pernah sekali pun kalah di tingkat fakultas. Kalau junior-juniornya mendengar ucapan Bagas barusan, mungkin mereka sudah ingin memukul kepalanya lebih dulu.

Tak ingin berlama-lama dan membuang waktu, Melani mengeluarkan gelang giok yang sejak tadi sudah dia lepaskan. Dia menyerahkannya pada Bagas.

“Ini .…”

Dia sebenarnya ingin mengingatkan agar gelang itu disimpan baik-baik. Namun Masayu keburu melihatnya. Matanya langsung berbinar, tangannya refleks menyambar gelang itu penuh kekaguman.

“Ya Tuhan! Ini giok jenis kaca. Bening banget!”

Masayu menoleh ke Vania dengan wajah penuh iri.

“Bukannya beberapa hari lalu kamu bilang ingin cari gelang giok yang bagus, Van? Mas Bagas-mu ini gercep banget! Kenapa aku nggak punya teman cowok kayak gini, sih?”

Vania menunduk, wajahnya memerah.

Masayu masih terus menggoda.

“Van, cepat pakai! Aku belum pernah lihat giok seindah ini. Pasti mahal banget, ya?”

Di bawah tatapan penuh harap Vania, Bagas ragu sejenak. Namun akhirnya dia mengambil gelang itu dan memakaikannya ke pergelangan tangan Vania.

Sepanjang proses itu, matanya terus mengamati ekspresi Melani.

Melihat gelang itu akhirnya melingkar di tangan Vania, Melani mengembuskan napas panjang.

Harta Keluarga Rahardian itu, baginya, hanyalah beban panas yang sulit digenggam.

Lagi pula, cepat atau lambat gelang itu memang akan menjadi milik Vania. Memberikannya sekarang justru terasa melegakan.

“Kalian bersenang-senang saja. Aku naik taksi dulu.”

Tanpa menoleh lagi, Melani masuk ke dalam lift.

Di belakangnya, Bagas yang selama ini selalu berada dalam pusat pandangannya, untuk pertama kalinya justru menatap punggungnya yang menjauh.

Melihat kepergian Melani begitu tegas dan ringan, ada perasaan asing yang tak bisa dijelaskan muncul di hati Bagas.

Malam itu, Melani menonton pertunjukan drama seorang diri.

Drama tragedi Jenufa membuatnya menangis hampir sepanjang pertunjukan.

Keesokan harinya, dia melihat berita terbaru tentang Vania terpampang di koran.

Di foto itu, gelang giok tampak melingkar indah di pergelangan tangan Vania. Dalam tulisannya tertulis.

[Memakai gelang giok, mengayuh sepeda, dan menonton film bersama orang yang tepat.]

Bayangan Bagas dan Vania di foto saling berhimpitan, seolah tak terpisahkan.

Melani melipat koran itu dengan tenang, lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia menoleh pada teman sekamarnya.

“Besok-besok, kalau ada koran atau majalah dikirim lagi, kalian saja yang baca. Aku nggak punya waktu lagi.”

Saat Vania pertama kali menerobos masuk ke hidupnya, Melani pernah seperti tikus di selokan. Diam-diam membaca setiap artikel tentang Vania berulang kali, penuh kecemburuan.

Namun sekarang, dia benar-benar tak peduli lagi.

Selama bertahun-tahun, dia hanyalah penonton dalam hidup Bagas.

Dia pernah tertawa. Pernah menangis.

Kini tirai telah ditutup.

Dan sudah waktunya dia menarik diri dari tragedi itu.

Hari keberangkatan misi bantuan ke Lunaria semakin dekat. Beberapa teman dekatnya sudah mengajukan cuti, ingin menghabiskan waktu terakhir bersama keluarga.

Melani yang tetap tinggal di kampus justru mengambil alih hampir seluruh urusan logistik tim. Dia mondar-mandir menyiapkan perlengkapan, sibuk tanpa henti selama beberapa hari.

Sepuluh hari sebelum keberangkatan, dia pergi ke apotek untuk membeli obat-obatan. Saat melewati rak berisi irisan hawthorn, entah kenapa tangannya refleks mengambil beberapa bungkus.

Akhir-akhir ini, dia sering mual dan ingin muntah. Menstruasinya juga terlambat.

Pada akhirnya, dia tetap tak bisa menahan diri dan pergi ke rumah sakit.

Ketakutan terbesarnya … benar-benar terjadi.

Saat dokter memberi tahu bahwa dia hamil dua bulan, Melani hampir saja mengumpat.

Kepalanya berdengung.

Dua bulan.

Jika dihitung-hitung, itu tepat sebelum Vania kembali ke negara ini. Malam terakhirnya bersama Bagas.

Kenapa harus kebetulan seperti ini!

Padahal, tinggal beberapa hari lagi dia bisa mendapatkan surat cerai dan berangkat ke Lunaria.

Tak mampu menahan diri, Melani bergegas ke bilik telepon umum dan menekan nomor pager kantor Bagas.

Sekuat apa pun dirinya, dia tetaplah mahasiswi yang baru menginjak dua puluh empat tahun.

Setelah ragu sejenak, dia menekan tombol sambung.

Namun detik berikutnya ….

Pager itu justru berbunyi … tak jauh darinya.

Melani menoleh mengikuti arah suara.

Bagas berdiri di sana, mengenakan mantel panjang.

Di sisinya, Vania berdiri anggun, wajah cerah, tampak begitu serasi berdampingan dengannya.

Bagas mengernyit saat mendengar pager berbunyi, lalu mengangkat alat itu.

Melani buru-buru memutus sambungan yang belum tersambung, lalu bersembunyi ke dalam bayangan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status