Masuk"Kotak ini... kenapa bisa aku melupakannya?" gumam Raka saat membuka lemari tua yang berada di gudang.
Di hadapannya tergeletak sebuah kotak kayu peninggalan ayahnya yang telah dipenuhi lapisan debu. Jemarinya perlahan menyapu permukaan kotak itu sebelum mengangkatnya. "Apa yang sebenarnya Ayah simpan di dalam kotak ini?" gumamnya penuh rasa penasaran. "Sampai-sampai aku nggak boleh membukanya sebelum menikah." Dengan hati yang berdebar, Raka membawa kotak itu ke ruang tamu. Ia meletakkannya perlahan di atas meja, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka peninggalan terakhir sang ayah. Begitu tutup kotak terangkat, Raka menemukan tiga buah surat yang tersusun rapi di bagian paling atas. Tepat di bawahnya tergeletak sebuah buku tebal berjudul Cakra Asmara. "Sepertinya ketiga surat ini memang disusun berurutan," gumam Raka. "Kalau begitu, aku baca dari yang paling atas." Perlahan, ia membuka surat pertama. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan tulisan tangan yang langsung dikenalnya. Tulisan itu milik mendiang ayahnya. Raka menarik napas pelan, lalu mulai membaca setiap kalimat yang tertulis. Surat pertama berisi permintaan maaf dari sang ayah, disertai harapan agar Raka dapat menjalani hidup dengan baik dan menemukan kebahagiaan meski beliau telah tiada. "Ayah..." gumam Raka lirih sambil tersenyum tipis. "Anakmu akan terus berjuang untuk bahagia, apa pun yang terjadi." Raka membuka surat kedua. Namun, baru beberapa baris ia baca, wajahnya langsung memucat dan kedua matanya membelalak. "Jadi... selama ini penyebabnya memang kecelakaan itu," gumamnya lirih. Dulu ia mengira rasa sakit yang pernah dialaminya telah berlalu begitu saja. Ternyata, benturan itu meninggalkan akibat yang jauh lebih kejam—merenggut harapannya untuk memiliki keturunan. Raka terus membaca hingga kalimat terakhir dalam surat itu. Rasa penasarannya semakin memuncak. Tanpa membuang waktu, ia segera membuka surat ketiga dan mulai membacanya dengan saksama. "Kamu akan menemukan cara untuk menyembuhkan kemandulanmu, bahkan mengubah hidupmu. Semua itu bisa kamu pelajari dari buku yang Ayah tinggalkan." Raka terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan beralih ke buku Cakra Asmara yang masih tergeletak di dalam kotak. Raka segera mengeluarkan buku Cakra Asmara dari dalam kotak. Jemarinya perlahan mengusap sampul buku yang mulai kusam dimakan usia. "Aku benar-benar bodoh sampai bisa melupakan wasiat Ayah," gumam Raka sambil tertawa pahit. "Kalau saja aku ingat lebih awal, mungkin Maya nggak akan meninggalkanku." Begitu nama Maya terucap, bayangan kejadian yang baru saja dialaminya kembali berputar di benaknya. Dadanya kembali terasa sesak. "Tapi sudahlah," gumamnya lirih. "Setidaknya sekarang aku sudah tahu sifat aslinya." Raka segera membuka buku Cakra Asmara. Namun, saat halaman pertama terbuka, ia hanya menemukan sebuah kalimat singkat. Sementara itu, seluruh halaman berikutnya tampak kosong tanpa satu huruf pun. "Hanya darah keturunanku yang dapat membaca isi kitab ini." Raka mengernyit sambil menatap kalimat itu dengan saksama. "Darah keturunan?" gumamnya. "Maksudnya apa? Jangan-jangan aku harus meneteskan darahku ke buku ini?" Tanpa berpikir lebih lama, Raka mengambil sebuah silet yang berada di dekat lemari. Ia kembali duduk, lalu menggores ujung jarinya hingga setetes darah mengalir dan jatuh tepat di atas halaman buku. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Darah itu seolah diserap oleh permukaan buku hingga menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. "Buku apa ini...?" gumam Raka dengan mata membelalak. Beberapa detik kemudian, kalimat yang semula terpampang di halaman pertama perlahan menghilang. Sebagai gantinya, muncul deretan huruf yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Anehnya, meski belum pernah melihat tulisan itu sebelumnya, ia dapat membacanya dengan jelas. "Kitab ini kutinggalkan bukan sekadar sebagai warisan, melainkan sebagai jalan agar keturunanku kelak menemukan kebahagiaan yang sejati. Di dalamnya tersimpan ilmu pijat yang telah dirahasiakan secara turun-temurun; seni menyelaraskan aliran kehidupan, membangkitkan keharmonisan antara suami dan istri, serta membantu memulihkan berbagai penyakit melalui sentuhan pada titik-titik kehidupan yang tersembunyi. Namun, ingatlah, ilmu ini bukan untuk sembarang tangan. Hanya mereka yang berhati teguh, berakhlak baik, dan mampu menjaga amanah yang pantas mewarisinya." Tangan Raka bergetar setelah membaca setiap kalimat yang terpampang di hadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa benda peninggalan ayahnya menyimpan rahasia sebesar itu. "Pantas saja Ayah melarangku membukanya sebelum menikah," gumam Raka pelan. "Tapi... sebenarnya siapa Ayah?""Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se
"Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani
Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon
Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."
Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men
Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak







