Share

Chapter 2

Penulis: Tinta_Jojon
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 18:54:25

“Kotak ini... bagaimana aku bisa melupakannya?” gumam Raka saat membuka lemari tua yang berada di gudang.

Di hadapannya tergeletak sebuah kotak kayu peninggalan ayahnya yang telah dipenuhi lapisan debu. Jemarinya perlahan menyapu permukaan kotak itu sebelum mengangkatnya.

“Apa yang sebenarnya Ayah simpan di dalamnya?” gumamnya penuh rasa penasaran. “Sampai-sampai aku tidak boleh membukanya sebelum menikah.”

Dengan hati yang berdebar, Raka membawa kotak itu ke ruang tamu. Ia meletakkannya perlahan di atas meja, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka peninggalan terakhir sang ayah.

Begitu tutup kotak terangkat, Raka menemukan tiga buah surat yang tersusun rapi di bagian paling atas. Tepat di bawahnya tergeletak sebuah buku tebal berjudul Cakra Asmara.

“Sepertinya ketiga surat ini memang disusun secara berurutan,” gumam Raka. “Kalau begitu, lebih baik aku membacanya dari yang paling atas.”

Perlahan, ia membuka surat pertama. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan tulisan tangan yang langsung dikenalnya. Tulisan itu milik mendiang ayahnya.

Raka menarik napas pelan, lalu mulai membaca setiap kalimat yang tertulis.

Surat pertama berisi permintaan maaf dari sang ayah, disertai harapan agar Raka dapat menjalani hidup dengan baik dan menemukan kebahagiaan meski beliau telah tiada.

“Ayah...” gumam Raka lirih sambil tersenyum tipis. “Anakmu akan terus berjuang untuk bahagia, apa pun yang terjadi.”

Raka membuka surat kedua. Namun, baru beberapa baris ia baca, wajahnya langsung memucat dan kedua matanya membelalak.

"Jadi... selama ini penyebabnya adalah kecelakaan itu," gumamnya lirih.

Dulu ia mengira rasa sakit yang pernah dialaminya telah berlalu begitu saja. Ternyata, benturan itu meninggalkan akibat yang jauh lebih kejam—merenggut harapannya untuk memiliki keturunan.

Raka terus membaca hingga kalimat terakhir dalam surat itu. Rasa penasarannya semakin memuncak. Tanpa membuang waktu, ia segera membuka surat ketiga dan mulai membacanya dengan saksama.

“Kamu akan menemukan cara untuk menyembuhkan kemandulanmu, bahkan mengubah hidupmu. Semua itu bisa kamu pelajari dari buku yang Ayah tinggalkan.”

Raka terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan beralih ke buku Cakra Asmara yang masih tergeletak di dalam kotak.

Raka segera mengeluarkan buku Cakra Asmara dari dalam kotak. Jemarinya perlahan mengusap sampul buku yang mulai kusam dimakan usia.

“Aku benar-benar bodoh sampai melupakan wasiat Ayah,” gumam Raka sambil tertawa pahit. “Kalau saja aku mengingatnya lebih awal, mungkin Maya tidak akan meninggalkanku.”

Begitu nama Maya terucap, bayangan kejadian yang baru saja dialaminya kembali berputar di benaknya. Dadanya kembali terasa sesak.

“Tapi sudahlah,” gumamnya lirih. “Setidaknya sekarang aku sudah mengetahui sifat aslinya.”

Raka segera membuka buku Cakra Asmara. Namun, saat halaman pertama terbuka, ia hanya menemukan sebuah kalimat singkat. Sementara itu, seluruh halaman berikutnya tampak kosong tanpa satu huruf pun.

"Hanya darah keturunanku yang dapat membaca isi kitab ini."

Raka mengernyit sambil menatap kalimat itu dengan saksama.

“Darah keturunan?” gumamnya. “Apa maksudnya... jangan-jangan aku harus meneteskan darahku ke buku ini?”

Tanpa berpikir lebih lama, Raka mengambil sebuah silet yang berada di dekat lemari. Ia kembali duduk, lalu menggores ujung jarinya hingga setetes darah mengalir dan jatuh tepat di atas halaman buku.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

Darah itu seolah diserap oleh permukaan buku hingga menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

“Sungguh buku yang aneh...” gumam Raka dengan mata membelalak.

Beberapa detik kemudian, kalimat yang semula terpampang di halaman pertama perlahan menghilang. Sebagai gantinya, muncul deretan huruf yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Anehnya, meski belum pernah melihat tulisan itu sebelumnya, ia dapat membacanya dengan jelas.

"Kitab ini kutinggalkan bukan sekadar sebagai warisan, melainkan sebagai jalan agar keturunanku kelak menemukan kebahagiaan yang sejati. Di dalamnya tersimpan ilmu pijat yang telah dirahasiakan secara turun-temurun; seni menyelaraskan aliran kehidupan, membangkitkan keharmonisan antara suami dan istri, serta membantu memulihkan berbagai penyakit melalui sentuhan pada titik-titik kehidupan yang tersembunyi. Namun ingatlah, ilmu ini bukan untuk sembarang tangan. Hanya mereka yang berhati teguh, berakhlak baik, dan mampu menjaga amanah yang pantas mewarisinya."

Tangan Raka bergetar setelah membaca setiap kalimat yang terpampang di hadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa benda peninggalan ayahnya menyimpan rahasia sebesar itu.

“Pantas saja Ayah melarangku membukanya sebelum menikah,” gumam Raka pelan. “Tapi... siapa sebenarnya Ayah?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 13

    Usai meratakan minyak di telapak tangannya, Raka mulai memijat. Ia mengurut perlahan dari area tengah alis hingga ke ubun-ubun, dilanjutkan dengan sentuhan lembut di sekitar kepala."Tanganmu halus sekali, Raka..." bisik Tante Mira.Raka hanya menyunggingkan senyum tipis, memilih diam agar tetap fokus pada pekerjaannya."Bagaimana rasanya, Tante?" tanya Raka berhati-hati saat menekan titik tertentu."Pijatanmu membuatku merasa sangat nyaman," sahut Tante Mira merem melek.Raka melanjutkan gerak jemarinya, sesekali kembali menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan."Ahhh... Nikmat sekali pijatanmu, Raka," desis Tante Mira kian menggebu.Waktu berlalu, kini Raka mengalihkan fokusnya pada peremajaan otot di sepanjang area tulang belakang. Jalur ini merupakan akses menuju titik vital bernama mata air kehidupan, yang terletak persis di dekat tulang pangkal.Tante Mira tampak begitu terhanyut oleh pijatan Raka. Desa

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 12

    Di ruang tamu, Raka duduk berhadapan dengan pemilik rumah, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang akan menjadi pasiennya. Di samping wanita itu duduk wanita cantik yang tadi menyambut kedatangannya di depan pintu.“Kamu cukup tampan, Anak Muda,” puji nenek itu sambil mengangguk pelan.“Terima kasih, Nek,” balas Raka sambil tersenyum.“Jangan panggil aku nenek. Aku belum setua itu,” protes wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Panggil saja aku Tante Mira.”“Ba-baik, Tante Mira,” jawabnya sedikit kaku.“Nenek, ayo bersiap,” sela wanita muda di sampingnya sambil tersenyum geli. “Jangan menggoda Mas Terapis terus.”“Berisik sekali cucuku ini,” gerutu Tante Mira. Ia kembali menatap Raka dengan penuh rasa ingin tahu. “Oh ya, siapa namamu, Anak Muda?”“Nama saya Raka, Tante,” jawab Raka sopan. “Kalau Tante sudah siap, kita bisa mulai terapinya.”“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Tante

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 11

    “Pijat panggilan?” ulang Raka sambil menatap Ririn.“Iya, Mas,” jawab Ririn antusias. “Mas bisa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Lagi pula, menurutku kemampuan pijat Mas sudah sangat mantap.”Raka terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan. Dari yang ia tahu pekerjaan sebagai tukang pijat tidak terlalu menjanjikan dan sulit menghasilkan penghasilan yang besar.“Ibu juga setuju dengan usul Ririn,” timpal Bu Ratna. “Buktinya, pijatanmu berhasil menyembuhkan Ririn dalam waktu singkat.”“Tapi, Bu...” ucap Raka ragu.Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus membayar tukang pijat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk satu kali terapi. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, keuntungan seorang tukang pijat bisa sangat besar.“Kalau kemampuanmu memang sebagus itu, kenapa tidak dicoba?” ujar Bu Ratna. “Siapa tahu justru di situlah rezekimu.”Raka mengangguk pelan. Penjelasan Bu Ratna me

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 10

    Hendra menyeringai sinis sambil melepaskan jas mahal yang dikenakannya. “Aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.”Raka sama sekali tidak gentar. Ia hanya menggeleng pelan sebelum menatap Hendra dengan sorot mata dingin.“Dua orang yang kau kirim untuk menghajarku saja sudah kubuat babak belur,” ucap Raka tenang. “Sekarang kau sendiri yang datang menantangku. Kalau begitu, majulah. Kita lihat siapa yang akhirnya terbaring di rumah sakit.”Hendra langsung melesat maju. Sebuah pukulan right hook bertenaga penuh meluncur cepat mengincar rahang kiri Raka.Namun, Raka dengan tenang menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya. Dalam sekejap, ia mencengkeram kepalan tangan Hendra, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi sendi berderak.“Aaargh...!” Hendra meringis kesakitan.“Apa cuma segini kemampuanmu?” ejek Raka.“K-kurang ajar...! Lepaskan tanganku!” pekik Hendra sambil berusaha melepaskan diri

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 9

    "Sidang perkara perceraian antara Penggugat, Saudari Maya, melawan Tergugat, Saudara Raka, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua membuka persidangan.Suara ketukan palu menggema memenuhi ruangan. Hakim kemudian memandang ke arah Maya."Saudari Penggugat, silakan jelaskan alasan Saudari mengajukan gugatan cerai," perintah Hakim Ketua.Maya berdiri perlahan, lalu menoleh singkat ke arah Raka sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya."Yang Mulia, saya mengajukan gugatan ini karena suami saya sudah tidak mampu lagi memberikan nafkah yang layak kepada keluarga kami," jelas Maya."Selain itu, selama satu tahun pernikahan, kami juga tidak pernah dikaruniai anak. Saya telah melakukan pemeriksaan medis dan tidak ditemukan masalah kesehatan apa pun yang memengaruhi organ reproduksi saya," lanjut Maya.Mendengar alasan itu, Raka tetap tenang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.Hakim mencatat seluruh keterangan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Raka."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 8

    “Ririn, kamu sudah bisa berdiri?” seru Bu Ratna sambil bergegas masuk ke dalam kamar.Raka buru-buru melepaskan tangkapannya, sementara Ririn segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.“Ririn sudah berkali-kali bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk pintunya dulu,” gerutu Ririn dengan wajah kesal.Bu Ratna hanya tersenyum canggung. Ia langsung menghampiri Ririn, memegang kedua lengannya, lalu memeluk putrinya erat.“Maaf ya, Rin. Ibu memang suka lupa kalau tidak ingat,” ucap Bu Ratna.Mendengar jawaban itu, Raka spontan memalingkan wajah sambil menahan tawanya.“Ya jelas saja lupa kalau tidak ingat, Bu,” balas Ririn sambil terkekeh dan membalas pelukan ibunya.“Ibu senang sekali kamu sudah bisa berdiri lagi,” ucap Bu Ratna setelah melepaskan pelukannya.“Iya, Bu. Ini semua berkat Mas Raka,” jawab Ririn sambil tersenyum ke arah Raka.Bu Ratna kemudian menoleh kepada Raka dengan wajah penuh rasa syukur.“Nak Raka, terima kasih banyak, ya. Ibu benar-benar tidak menyangka ternyata ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status