Masuk
“Sayang, aku sudah tidak tahan...” rayu Raka sambil memeluk tubuh Maya yang berbaring di sampingnya. “Sudah seminggu kita tidak melakukannya.”
Namun, Maya langsung menepis pelukan Raka dengan kasar. Penolakan itu membuat Raka mengernyit sebelum akhirnya menatap istrinya dengan wajah serius. “Maya, aku ini suamimu,” ucap Raka tegas. “Kenapa kamu bersikap seperti ini?” Maya bangkit dari tempat tidur lalu menatap Raka dengan sorot mata tajam. “Kalau memang kamu benar-benar suamiku, kenapa sampai sekarang kamu tidak bisa memberiku seorang anak?” tanya Maya dengan nada tinggi. Ucapan itu membuat Raka seketika terdiam. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang sebelum berusaha menjelaskan dengan tenang. "Maya, pernikahan kita baru satu tahun," jelas Raka. "Beberapa pasangan suami istri juga banyak yang belum dikaruniai keturunan seperti kita." Maya tersenyum sinis mendengar ucapan Raka. "Kata-kata itu terus yang keluar dari mulutmu!" bantah Maya. "Aku sudah bosan mendengarnya. Asal kamu tahu, aku sudah memeriksakan kesuburanku dan hasilnya baik-baik saja." “Sabar, Maya. Ini cobaan untuk kita,” ujar Raka dengan tenang. “Lagipula, kondisi keuangan kita sedang tidak baik. Aku tidak ingin anak kita tumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Setidaknya, kita sedang mempersiapkan semuanya lebih dulu.” "Dasar lelaki tidak berguna!" ejek Maya sambil turun dari ranjang dan hendak melangkah pergi. "Sudah mandul, miskin pula!" Namun, belum sempat Maya melangkah, Raka sudah lebih dulu menahan tangan Maya dan berdiri di belakangnya. "Jaga ucapanmu, Maya," ucap Raka. "Apakah aku seburuk itu di matamu?" "Kamu masih bertanya?" Maya berbalik, lalu berkata dengan sinis. "Aku sangat menyesal menikah dengan lelaki sepertimu!" Maya menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Raka, lalu melangkah keluar kamar sambil mengambil ponselnya di meja rias. "Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini?" tanya Raka tanpa melangkah sedikit pun. Maya tidak menjawab perkataan Raka dan langsung menutup pintu kamar dengan kasar. Raka menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. Raka melangkah menuju pintu. Namun, tepat saat tangannya hendak meraih gagang pintu, ia mendengar suara Maya yang sedang berbicara melalui telepon di ruang tamu. Langkahnya pun seketika terhenti. "Aku sudah muak berada di rumah ini. Jemput aku sekarang, Mas," ucap Maya di luar kamar. Raka yang mendengar percakapan itu segera membuka pintu dan bergegas menghampiri Maya yang sedang duduk di ruang tamu. Tanpa berpikir panjang, ia merebut ponsel dari tangan istrinya. “Siapa kau? Berani sekali menghubungi istriku!” ujar Raka tegas sambil menempelkan ponsel itu ke telinganya. “Kamu ini kenapa? Seenaknya saja merebut ponselku!” bentak Maya dengan kesal. “Diam!” hardik Raka sambil menatap Maya dengan sorot mata tajam. “Halo! Jawab, siapa kau?” seru Raka kepada orang di seberang telepon. Namun, pria di balik sambungan itu tidak memberikan jawaban. Saluran telepon langsung terputus begitu saja. Maya segera merebut kembali ponselnya dari tangan Raka. “Mulai sekarang, jangan pernah campuri urusanku!” bentaknya. Emosi Raka seketika memuncak. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Maya. Namun, tangannya berhenti di udara dan bergetar hebat, berusaha menahan amarah yang memenuhi dadanya. “Dasar suami sialan! Jika kau berani menamparku,” ucap Maya dengan tatapan dingin. “Aku akan melaporkanmu ke polisi.” Tanpa menunggu jawaban, Maya berbalik, membuka pintu dengan kasar, lalu pergi meninggalkan rumah. Raka hanya mampu menatap kepergian istrinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menutup wajah dengan kedua tangan. “Apa yang harus aku lakukan?” gumam Raka lirih. Di tengah pikirannya yang kacau, Raka tiba-tiba teringat pesan terakhir ayahnya sebelum meninggal tiga tahun lalu. "Di dalam lemari ada sebuah kotak. Apa pun yang terjadi, jangan pernah membukanya sebelum kamu menikah." Saat itu Raka hanya mengangguk sambil menahan tangis. "Iya, Yah. Aku janji." Selama tiga tahun, janji itu terlupakan olehnya. Kotak itu tetap tersimpan rapi di dalam lemari milik ayahnya, tak sekali pun ia menyentuhnya. Lamunannya buyar ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara Maya yang sedang berbicara dengan seseorang. Tanpa berpikir panjang, Raka segera berlari keluar. Begitu tiba di halaman, ia melihat Maya berdiri di samping seorang pria yang berada di dekat sebuah mobil. “Bajingan! Berani-beraninya kau mendekati istriku!” teriak Raka penuh amarah. Namun, Maya sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru membuka pintu mobil, lalu menoleh kepada pria di sampingnya. “Ayo, Mas, kita pergi,” ucap Maya dingin. “Tinggalkan saja lelaki tidak berguna itu.” Langkah Raka seketika terhenti. Ia hanya mampu mengepalkan kedua tangan sambil menatap mobil yang membawa istrinya pergi, hingga akhirnya kendaraan itu menghilang di balik gelapnya malam. Raka kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menatap kosong ke depan, seolah seluruh tenaganya telah terkuras. “Semuanya sudah terlanjur seperti ini,” gumamnya lirih. “lebih baik aku memeriksa peninggalan Ayah. Sebelum nanti aku kembali melupakannya.”Usai meratakan minyak di telapak tangannya, Raka mulai memijat. Ia mengurut perlahan dari area tengah alis hingga ke ubun-ubun, dilanjutkan dengan sentuhan lembut di sekitar kepala."Tanganmu halus sekali, Raka..." bisik Tante Mira.Raka hanya menyunggingkan senyum tipis, memilih diam agar tetap fokus pada pekerjaannya."Bagaimana rasanya, Tante?" tanya Raka berhati-hati saat menekan titik tertentu."Pijatanmu membuatku merasa sangat nyaman," sahut Tante Mira merem melek.Raka melanjutkan gerak jemarinya, sesekali kembali menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan."Ahhh... Nikmat sekali pijatanmu, Raka," desis Tante Mira kian menggebu.Waktu berlalu, kini Raka mengalihkan fokusnya pada peremajaan otot di sepanjang area tulang belakang. Jalur ini merupakan akses menuju titik vital bernama mata air kehidupan, yang terletak persis di dekat tulang pangkal.Tante Mira tampak begitu terhanyut oleh pijatan Raka. Desa
Di ruang tamu, Raka duduk berhadapan dengan pemilik rumah, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang akan menjadi pasiennya. Di samping wanita itu duduk wanita cantik yang tadi menyambut kedatangannya di depan pintu.“Kamu cukup tampan, Anak Muda,” puji nenek itu sambil mengangguk pelan.“Terima kasih, Nek,” balas Raka sambil tersenyum.“Jangan panggil aku nenek. Aku belum setua itu,” protes wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Panggil saja aku Tante Mira.”“Ba-baik, Tante Mira,” jawabnya sedikit kaku.“Nenek, ayo bersiap,” sela wanita muda di sampingnya sambil tersenyum geli. “Jangan menggoda Mas Terapis terus.”“Berisik sekali cucuku ini,” gerutu Tante Mira. Ia kembali menatap Raka dengan penuh rasa ingin tahu. “Oh ya, siapa namamu, Anak Muda?”“Nama saya Raka, Tante,” jawab Raka sopan. “Kalau Tante sudah siap, kita bisa mulai terapinya.”“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Tante
“Pijat panggilan?” ulang Raka sambil menatap Ririn.“Iya, Mas,” jawab Ririn antusias. “Mas bisa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Lagi pula, menurutku kemampuan pijat Mas sudah sangat mantap.”Raka terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan. Dari yang ia tahu pekerjaan sebagai tukang pijat tidak terlalu menjanjikan dan sulit menghasilkan penghasilan yang besar.“Ibu juga setuju dengan usul Ririn,” timpal Bu Ratna. “Buktinya, pijatanmu berhasil menyembuhkan Ririn dalam waktu singkat.”“Tapi, Bu...” ucap Raka ragu.Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus membayar tukang pijat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk satu kali terapi. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, keuntungan seorang tukang pijat bisa sangat besar.“Kalau kemampuanmu memang sebagus itu, kenapa tidak dicoba?” ujar Bu Ratna. “Siapa tahu justru di situlah rezekimu.”Raka mengangguk pelan. Penjelasan Bu Ratna me
Hendra menyeringai sinis sambil melepaskan jas mahal yang dikenakannya. “Aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.”Raka sama sekali tidak gentar. Ia hanya menggeleng pelan sebelum menatap Hendra dengan sorot mata dingin.“Dua orang yang kau kirim untuk menghajarku saja sudah kubuat babak belur,” ucap Raka tenang. “Sekarang kau sendiri yang datang menantangku. Kalau begitu, majulah. Kita lihat siapa yang akhirnya terbaring di rumah sakit.”Hendra langsung melesat maju. Sebuah pukulan right hook bertenaga penuh meluncur cepat mengincar rahang kiri Raka.Namun, Raka dengan tenang menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya. Dalam sekejap, ia mencengkeram kepalan tangan Hendra, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi sendi berderak.“Aaargh...!” Hendra meringis kesakitan.“Apa cuma segini kemampuanmu?” ejek Raka.“K-kurang ajar...! Lepaskan tanganku!” pekik Hendra sambil berusaha melepaskan diri
"Sidang perkara perceraian antara Penggugat, Saudari Maya, melawan Tergugat, Saudara Raka, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua membuka persidangan.Suara ketukan palu menggema memenuhi ruangan. Hakim kemudian memandang ke arah Maya."Saudari Penggugat, silakan jelaskan alasan Saudari mengajukan gugatan cerai," perintah Hakim Ketua.Maya berdiri perlahan, lalu menoleh singkat ke arah Raka sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya."Yang Mulia, saya mengajukan gugatan ini karena suami saya sudah tidak mampu lagi memberikan nafkah yang layak kepada keluarga kami," jelas Maya."Selain itu, selama satu tahun pernikahan, kami juga tidak pernah dikaruniai anak. Saya telah melakukan pemeriksaan medis dan tidak ditemukan masalah kesehatan apa pun yang memengaruhi organ reproduksi saya," lanjut Maya.Mendengar alasan itu, Raka tetap tenang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.Hakim mencatat seluruh keterangan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Raka."
“Ririn, kamu sudah bisa berdiri?” seru Bu Ratna sambil bergegas masuk ke dalam kamar.Raka buru-buru melepaskan tangkapannya, sementara Ririn segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.“Ririn sudah berkali-kali bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk pintunya dulu,” gerutu Ririn dengan wajah kesal.Bu Ratna hanya tersenyum canggung. Ia langsung menghampiri Ririn, memegang kedua lengannya, lalu memeluk putrinya erat.“Maaf ya, Rin. Ibu memang suka lupa kalau tidak ingat,” ucap Bu Ratna.Mendengar jawaban itu, Raka spontan memalingkan wajah sambil menahan tawanya.“Ya jelas saja lupa kalau tidak ingat, Bu,” balas Ririn sambil terkekeh dan membalas pelukan ibunya.“Ibu senang sekali kamu sudah bisa berdiri lagi,” ucap Bu Ratna setelah melepaskan pelukannya.“Iya, Bu. Ini semua berkat Mas Raka,” jawab Ririn sambil tersenyum ke arah Raka.Bu Ratna kemudian menoleh kepada Raka dengan wajah penuh rasa syukur.“Nak Raka, terima kasih banyak, ya. Ibu benar-benar tidak menyangka ternyata ka







