Share

Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya
Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya
Author: Tinta_Jojon

Chapter 1

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-07-06 18:53:49

"Sayang, aku pengen nih..." rayu Raka sambil memeluk tubuh Maya yang berbaring di sampingnya. "main yuk?"

Namun, Maya langsung menepis pelukan Raka dengan kasar. Penolakan itu membuat Raka mengernyit sebelum akhirnya menatap istrinya dengan serius.

"Maya, aku ini suamimu," ucap Raka tegas. "Kenapa kamu bersikap begini?"

Maya bangkit dari tempat tidur lalu menatap Raka dengan sorot mata tajam.

"Kalau kamu memang benar-benar suamiku, kenapa sampai sekarang kamu belum bisa kasih aku anak?" tanya Maya dengan nada tinggi.

Ucapan itu membuat Raka seketika terdiam. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang sebelum berusaha menjelaskan dengan tenang.

"Maya, kita baru menikah satu tahun," jelas Raka. "Banyak pasangan yang sudah menikah lebih lama dari kita, tapi juga belum dikaruniai anak."

Maya tersenyum sinis mendengar ucapan Raka.

"Itu terus yang kamu bilang!" bantah Maya. "Aku sudah bosan dengarnya. Asal kamu tahu, aku sudah periksa kesuburan dan hasilnya normal."

"Sabar, Maya. Mungkin ini memang cobaan buat kita," ujar Raka dengan tenang. "Lagi pula, kondisi keuangan kita sekarang sedang nggak baik. Aku nggak mau anak kita nanti tumbuh serba kekurangan. Anggap saja kita masih punya waktu buat mempersiapkan semuanya."

"Dasar laki-laki nggak berguna!" ejek Maya sambil turun dari ranjang dan hendak melangkah pergi. "Sudah mandul, miskin pula!"

Namun, belum sempat Maya melangkah, Raka sudah lebih dulu menahan tangannya dan berdiri di belakangnya.

"Jaga ucapanmu, Maya," ucap Raka. "Memangnya aku seburuk itu di matamu?"

"Kamu masih nanya?" Maya berbalik, lalu berkata dengan sinis. "Aku benar-benar menyesal sudah menikah sama laki-laki seperti kamu!"

Maya menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Raka, lalu melangkah keluar kamar sambil mengambil ponselnya di meja rias.

"kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Raka tanpa beranjak sedikit pun.

Maya tidak menjawab pertanyaan Raka dan langsung menutup pintu kamar dengan kasar.

Raka menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang.

Raka melangkah menuju pintu. Namun, tepat saat tangannya hendak meraih gagang pintu, ia mendengar Maya sedang berbicara melalui telepon di ruang tamu. Langkahnya pun seketika terhenti.

"Aku sudah muak di rumah ini. Jemput aku sekarang, Mas," ucap Maya di luar kamar.

Mendengar percakapan itu, Raka segera membuka pintu dan bergegas menghampiri Maya yang sedang duduk di ruang tamu. Tanpa berpikir panjang, ia merebut ponsel dari tangan istrinya.

"Siapa kamu? Berani sekali telepon istri saya malam-malam begini!" ujar Raka tegas sambil menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Kamu ini kenapa, sih? Seenaknya saja rebut ponselku!" bentak Maya dengan kesal.

"Diam!" hardik Raka sambil menatap Maya dengan sorot mata tajam.

"Halo! Jawab! Kamu siapa?" seru Raka kepada orang di seberang telepon.

Namun, pria di balik sambungan itu tidak memberikan jawaban. Sambungan telepon langsung terputus begitu saja.

Maya segera merebut kembali ponselnya dari tangan Raka.

"Mulai sekarang, jangan pernah ikut campur urusanku!" bentaknya.

Emosi Raka seketika memuncak. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Maya. Namun, tangannya berhenti di udara dan bergetar hebat, berusaha menahan amarah yang memenuhi dadanya.

"Dasar suami sialan!" Maya menatapnya dingin. "Coba saja kamu berani tampar aku. Aku laporkan kamu ke polisi!"

Tanpa menunggu jawaban, Maya berbalik, membuka pintu dengan kasar, lalu pergi meninggalkan rumah.

Raka hanya mampu menatap kepergian istrinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Perlahan, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menutup wajah dengan kedua tangan.

"Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Raka lirih.

Di tengah pikirannya yang kacau, Raka tiba-tiba teringat pesan terakhir ayahnya sebelum meninggal tiga tahun lalu.

"Di dalam lemari ada sebuah kotak. Apa pun yang terjadi, jangan pernah buka kotak itu sebelum kamu menikah."

Saat itu Raka hanya mengangguk sambil menahan tangis.

"Iya, Yah. Aku janji."

Selama tiga tahun, janji itu terlupakan olehnya. Kotak itu tetap tersimpan rapi di dalam lemari milik ayahnya, tak sekali pun ia menyentuhnya.

Lamunannya buyar ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara Maya yang sedang berbicara dengan seseorang.

Tanpa berpikir panjang, Raka segera berlari keluar. Begitu tiba di halaman, ia melihat Maya berdiri di samping seorang pria di dekat sebuah mobil.

"Bajingan! Berani-beraninya kamu dekati istriku!" teriak Raka penuh amarah.

Namun, Maya sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru membuka pintu mobil, lalu menoleh kepada pria di sampingnya.

"Ayo, Mas, kita pergi," ucap Maya dingin. "Nggak usah pedulikan laki-laki nggak berguna itu."

Langkah Raka seketika terhenti. Ia hanya mampu mengepalkan kedua tangan sambil menatap mobil yang membawa istrinya pergi hingga akhirnya kendaraan itu menghilang di balik gelapnya malam.

Raka kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menatap kosong ke depan, seolah seluruh tenaganya telah terkuras.

"Semuanya sudah telanjur begini," gumamnya lirih. "Lebih baik aku periksa peninggalan Ayah sekarang, sebelum nanti aku lupa lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Sekarani
kotak,,,, kotak apa yg bikin penasaran? kotak peninggalan bapaknya Raka wkwkwk
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Kotak Pandora apakah itu? Apakah Raka bisa meminta 3 permohonan dengan mengelusnya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 97

    "Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 96

    "Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 95

    Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 94

    Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 93

    Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 92

    Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status