MasukRaka terbangun dari tidurnya. Rupanya, ia tertidur setelah membaca buku Cakra Asmara hingga larut malam. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.
"Maya benar-benar nggak pulang," gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala. Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari sofa tanpa ingin memikirkan hal itu lebih jauh. Namun, belum sempat melangkah ke kamar mandi, suara seseorang dari luar rumah menghentikan langkahnya. "Mas Raka, ini Ririn," panggil seorang wanita dari balik pintu. "Iya, Rin. Tunggu sebentar!" sahut Raka. Raka segera berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampak seorang wanita berambut hitam panjang yang tergerai rapi. Sebuah kacamata menghiasi wajahnya, sementara di tangannya ia membawa sepiring makanan. "Mas Raka, ini sarapan dari Ibu," ucap Ririn sambil menyodorkan piring tersebut. "Makasih, Rin. Masuk dulu, yuk," ajak Raka. Ririn mengangguk pelan. Setelah menerima ajakan itu, keduanya duduk di ruang tamu. "Tolong sampaikan terima kasihku ke Ibu, ya," ujar Raka. "Iya, Mas Raka," jawab Ririn. "Oh iya, tadi Ibu juga pesan, Ririn disuruh tanya sesuatu." "Mau tanya apa, Rin?" tanya Raka penasaran. "Ehm..." Ririn tampak ragu-ragu hingga beberapa saat. "Pasti karena semalam Ibu dengar aku bertengkar sama Maya, ya?" tebak Raka. Ririn mengangguk pelan. "Iya, Mas. Ibu khawatir terjadi apa-apa." "Memang semalam kami bertengkar," jawab Raka sambil tersenyum tipis. "Tapi nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu." "Maaf ya, Mas. Ririn malah jadi mengungkit masalah yang nggak enak." "Nggak apa-apa, Rin," balas Raka sambil tersenyum hangat. "Lagi pula, kalian sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri." Ririn hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan berpamitan. "Kalau begitu, Ririn pamit dulu, Mas." "Iya, Rin. Sekali lagi, makasih buat sarapannya." "Sama-sama, Mas," jawab Ririn sebelum melangkah meninggalkan rumah. Sesampainya di halaman depan, Ririn tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah rumah Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Padahal Mas Raka itu baik... tampan juga," gumamnya lirih. "Tapi istrinya malah nggak bersyukur punya suami seperti Mas Raka." Ririn hanya mengembuskan napas panjang. Tak lama kemudian, ia kembali melangkah meninggalkan rumah Raka. Waktu berlalu. Kini Raka sudah berada di tempat kerjanya, menatap layar komputer di hadapannya sambil menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang menanti. "Pak Raka, Anda dipanggil Pak Heru ke ruangannya," ucap seorang rekan wanita dengan sopan. Raka menghentikan pekerjaannya, lalu menoleh. "Ada apa Pak Heru memanggil saya?" "Kurang tahu, Pak," jawab wanita itu sambil menggeleng pelan. "Beliau hanya meminta saya memanggil Bapak tanpa menjelaskan keperluannya." "Oh, begitu. Baiklah, terima kasih." "Sama-sama, Pak." Raka menyimpan berkas yang sedang dikerjakannya, lalu berdiri dari kursi. Tatapannya beralih ke arah ruangan Pak Heru, Kepala HRD perusahaan tempatnya bekerja. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera melangkah menuju ruangan tersebut. "Selamat siang, Pak Heru," ucap Raka sambil mengetuk pintu ruang HRD. "Ini saya, Raka." "Silakan masuk, Pak Raka," sahut Pak Heru dari dalam. Raka membuka pintu dan melangkah masuk. Pak Heru tampak duduk di balik meja kerjanya dengan beberapa berkas yang tersusun rapi di hadapannya. "Silakan duduk, Pak Raka," ujar Pak Heru sambil membetulkan letak kacamatanya. Raka duduk tegak. Meski berusaha tetap tenang, rasa penasaran jelas tergambar di wajahnya. "Ada apa, ya, Pak?" tanyanya sopan. "Apakah ada masalah dengan laporan yang saya berikan sebelumnya?" Pak Heru menatap Raka beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang. "Perusahaan kita sedang mengalami krisis keuangan yang cukup berat. Perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi belakangan ini membuat banyak kontrak dibatalkan, sehingga perusahaan terpaksa melakukan efisiensi," ucapnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maksud Bapak...?" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Pak Heru telah lebih dulu menyodorkan selembar surat berlogo perusahaan ke hadapannya. Tatapan Raka langsung tertuju pada judul surat itu. Jantungnya berdegup semakin kencang, sementara jemarinya tanpa sadar mencengkeram sisi kursi. "Apakah... ini surat pemberhentian saya?" tanyanya dengan suara bergetar. "Benar, Pak Raka," jawab Pak Heru lirih. "Manajemen terpaksa melakukan perampingan karyawan demi menghemat anggaran operasional." Pak Heru kemudian menjelaskan bahwa Raka merupakan salah satu dari belasan karyawan yang harus diberhentikan agar perusahaan tetap dapat bertahan di tengah kondisi yang semakin sulit. Raka menundukkan kepala. Ia terdiam cukup lama, berusaha menerima kenyataan pahit yang baru saja menghantam hidupnya. "Baiklah... kalau memang itu keputusan akhir perusahaan," ucapnya lirih. "Terima kasih atas kesempatan dan kerja samanya selama ini." Pak Heru mengangguk pelan. "Sama-sama, Pak Raka. Saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa berbuat lebih banyak." Raka bangkit dan menjabat tangan Pak Heru sebelum berpamitan. Setelah itu, ia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah berat. Beberapa jam kemudian, setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir, membereskan meja kerja, dan berpamitan kepada rekan-rekannya, Raka pun meninggalkan perusahaan itu. Begitu tiba di depan rumah, Raka sontak mengerem motornya. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di halaman. Di samping mobil itu, berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya. "Ibu, Bapak..." gumamnya pelan."Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se
"Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani
Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon
Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."
Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men
Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak







