Share

Chapter 3

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-07-06 18:54:51

Raka terbangun dari tidurnya. Rupanya, ia tertidur setelah membaca buku Cakra Asmara hingga larut malam. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.

"Maya benar-benar nggak pulang," gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala. Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari sofa tanpa ingin memikirkan hal itu lebih jauh.

Namun, belum sempat melangkah ke kamar mandi, suara seseorang dari luar rumah menghentikan langkahnya.

"Mas Raka, ini Ririn," panggil seorang wanita dari balik pintu.

"Iya, Rin. Tunggu sebentar!" sahut Raka.

Raka segera berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampak seorang wanita berambut hitam panjang yang tergerai rapi. Sebuah kacamata menghiasi wajahnya, sementara di tangannya ia membawa sepiring makanan.

"Mas Raka, ini sarapan dari Ibu," ucap Ririn sambil menyodorkan piring tersebut.

"Makasih, Rin. Masuk dulu, yuk," ajak Raka.

Ririn mengangguk pelan. Setelah menerima ajakan itu, keduanya duduk di ruang tamu.

"Tolong sampaikan terima kasihku ke Ibu, ya," ujar Raka.

"Iya, Mas Raka," jawab Ririn. "Oh iya, tadi Ibu juga pesan, Ririn disuruh tanya sesuatu."

"Mau tanya apa, Rin?" tanya Raka penasaran.

"Ehm..." Ririn tampak ragu-ragu hingga beberapa saat.

"Pasti karena semalam Ibu dengar aku bertengkar sama Maya, ya?" tebak Raka.

Ririn mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Ibu khawatir terjadi apa-apa."

"Memang semalam kami bertengkar," jawab Raka sambil tersenyum tipis. "Tapi nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu."

"Maaf ya, Mas. Ririn malah jadi mengungkit masalah yang nggak enak."

"Nggak apa-apa, Rin," balas Raka sambil tersenyum hangat. "Lagi pula, kalian sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri."

Ririn hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan berpamitan.

"Kalau begitu, Ririn pamit dulu, Mas."

"Iya, Rin. Sekali lagi, makasih buat sarapannya."

"Sama-sama, Mas," jawab Ririn sebelum melangkah meninggalkan rumah.

Sesampainya di halaman depan, Ririn tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah rumah Raka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Padahal Mas Raka itu baik... tampan juga," gumamnya lirih. "Tapi istrinya malah nggak bersyukur punya suami seperti Mas Raka."

Ririn hanya mengembuskan napas panjang. Tak lama kemudian, ia kembali melangkah meninggalkan rumah Raka.

Waktu berlalu. Kini Raka sudah berada di tempat kerjanya, menatap layar komputer di hadapannya sambil menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang menanti.

"Pak Raka, Anda dipanggil Pak Heru ke ruangannya," ucap seorang rekan wanita dengan sopan.

Raka menghentikan pekerjaannya, lalu menoleh. "Ada apa Pak Heru memanggil saya?"

"Kurang tahu, Pak," jawab wanita itu sambil menggeleng pelan. "Beliau hanya meminta saya memanggil Bapak tanpa menjelaskan keperluannya."

"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Raka menyimpan berkas yang sedang dikerjakannya, lalu berdiri dari kursi. Tatapannya beralih ke arah ruangan Pak Heru, Kepala HRD perusahaan tempatnya bekerja. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera melangkah menuju ruangan tersebut.

"Selamat siang, Pak Heru," ucap Raka sambil mengetuk pintu ruang HRD. "Ini saya, Raka."

"Silakan masuk, Pak Raka," sahut Pak Heru dari dalam.

Raka membuka pintu dan melangkah masuk. Pak Heru tampak duduk di balik meja kerjanya dengan beberapa berkas yang tersusun rapi di hadapannya.

"Silakan duduk, Pak Raka," ujar Pak Heru sambil membetulkan letak kacamatanya.

Raka duduk tegak. Meski berusaha tetap tenang, rasa penasaran jelas tergambar di wajahnya.

"Ada apa, ya, Pak?" tanyanya sopan. "Apakah ada masalah dengan laporan yang saya berikan sebelumnya?"

Pak Heru menatap Raka beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang.

"Perusahaan kita sedang mengalami krisis keuangan yang cukup berat. Perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi belakangan ini membuat banyak kontrak dibatalkan, sehingga perusahaan terpaksa melakukan efisiensi," ucapnya dengan tatapan penuh penyesalan.

"Maksud Bapak...?"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Pak Heru telah lebih dulu menyodorkan selembar surat berlogo perusahaan ke hadapannya.

Tatapan Raka langsung tertuju pada judul surat itu. Jantungnya berdegup semakin kencang, sementara jemarinya tanpa sadar mencengkeram sisi kursi.

"Apakah... ini surat pemberhentian saya?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Benar, Pak Raka," jawab Pak Heru lirih. "Manajemen terpaksa melakukan perampingan karyawan demi menghemat anggaran operasional."

Pak Heru kemudian menjelaskan bahwa Raka merupakan salah satu dari belasan karyawan yang harus diberhentikan agar perusahaan tetap dapat bertahan di tengah kondisi yang semakin sulit.

Raka menundukkan kepala. Ia terdiam cukup lama, berusaha menerima kenyataan pahit yang baru saja menghantam hidupnya.

"Baiklah... kalau memang itu keputusan akhir perusahaan," ucapnya lirih. "Terima kasih atas kesempatan dan kerja samanya selama ini."

Pak Heru mengangguk pelan. "Sama-sama, Pak Raka. Saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa berbuat lebih banyak."

Raka bangkit dan menjabat tangan Pak Heru sebelum berpamitan. Setelah itu, ia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah berat.

Beberapa jam kemudian, setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir, membereskan meja kerja, dan berpamitan kepada rekan-rekannya, Raka pun meninggalkan perusahaan itu.

Begitu tiba di depan rumah, Raka sontak mengerem motornya. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di halaman. Di samping mobil itu, berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya.

"Ibu, Bapak..." gumamnya pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Seruling Emas
Apes bener hidup si Raka..
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Raka sedang apes, ditinggal Istri lalu kena PHK
goodnovel comment avatar
Mita Yoo
ada apa nih?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 114

    "Itu, Mas Raka," ucap Anin malu-malu. "Kita mau pesan terapi relaksasi."Raka sempat terdiam sambil menatap ketiga wanita di dekatnya."Kalian pasti lelah, ya?" tanya Raka. "Atau kalian mau libur?"Wajah Anin dan Rania seketika menunjukkan kekecewaan karena Raka tidak memahami maksud mereka. Mereka sebenarnya hanya ingin dipijat oleh Raka, bukan karena merasa lelah, melainkan karena ingin kembali merasakan sensasi yang mereka rasakan setiap kali mendapatkan pijatan darinya."Ehm... nggak kok, Mas Raka," jawab Anin. "Kita cuma mau dipijat aja.""Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Raka sambil tersenyum. "Besok atau lusa aku akan memijat kalian bergantian."Ririn menoleh ke arah Anin dan Rania, lalu mengangguk senang."Mantap... Kita dipijat lagi sama Mas Raka," seru Anin dengan wajah ceria."Iya, nih. Sudah lama nggak merasakan pijatan Mas Raka," sambung Rania malu-malu."Dasar kalian ini," ucap Raka sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.Beberapa saat kemudian, Pak Dirga dan Bunda L

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 113

    "Surat ini berisi undangan untuk menghadiri Forum Komunikasi & Edukasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Alternatif," jelas Raka."Tunggu, Pak Raka," sela Pak Fajar sambil mengernyitkan dahi. "Aku merasa ada yang janggal dengan forum itu."Raka dan yang lainnya langsung menatap Pak Fajar dengan serius."Rumor apa, Pak Fajar?" tanya Raka. "Bisakah Anda menjelaskannya?""Jadi, waktu saya masih menempuh pendidikan..."Pak Fajar kemudian mulai menjelaskan. Saat masih menempuh pendidikan fisioterapi, ia sempat mempelajari teknik pijat tradisional. Namun, salah seorang seniornya pernah mengingatkan agar dirinya tidak terlalu mendalami terapi tradisional.Alasannya, organisasi kesehatan modern tidak menyukai praktik tersebut. Jika Pak Fajar tetap menggabungkan keahliannya dengan terapi tradisional, ia dikhawatirkan akan mengalami kesulitan ketika mencari pekerjaan."Awalnya aku tidak percaya," lanjut Pak Fajar. "Tapi setelah aku mencoba melamar pekerjaan dengan menyertakan keahlia

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 112

    Kalimat itu membuat Kiera terdiam. Perempuan itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah mencerna perkataan Raka, sebelum akhirnya kembali menatap lelaki di hadapannya."Terima kasih, Raka," ucap Kiera. "Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh semua pihak. Aku akan berusaha sebaik mungkin."Raka tersenyum, lalu menepuk bahu Kiera. "Bagus. Tapi ingat, jangan memaksakan diri.""Iya, Raka. Tenang saja," gerutu Kiera. "Kamu ini selalu saja menyuruhku untuk nggak memaksakan diri, padahal aku sendiri nggak melakukan apa-apa."Raka tersenyum mendengar celotehan Kiera. Begitu juga dengan yang lainnya. Suasana yang sebelumnya sempat terasa canggung di antara Raka dan Kiera pun kini perlahan mencair. Kiera bahkan sudah bisa kembali bercanda seperti biasanya."Sepertinya sudah cukup untuk hari ini," sahut Pak Fajar, lalu menoleh ke arah Maharani. "Bu Maharani, aku memiliki sebuah ide.""Ide? Jelaskan padaku," tanggap Maharani."Daripada kita bolak-balik untuk melatih Kiera di f

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 111

    Raka hendak menjawab pertanyaan Maharani, tetapi suara dari arah belakang membuatnya menoleh."Aku ditinggal begitu saja. Parah banget!" seru Kiera. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, wajah Kiera kembali memerah sebelum akhirnya ia segera memalingkan wajah, berusaha mengabaikan ingatan tentang sesi terapi tadi.Melihat perubahan ekspresi Kiera, Raka hanya bisa menghela napas. Ia bahkan mulai berpikir bahwa kejadian selama terapi tadi mungkin akan membuat Kiera merasa canggung atau bahkan marah kepadanya."Ya, kan, kamu tadi tidur," jawab Raka, berusaha bersikap santai. "Masa aku tungguin sambil bengong?""A-aku nggak tidur, kok," ucap Kiera tanpa menatap Raka.Maharani yang melihat keanehan sikap Kiera langsung menatap Raka dengan curiga."Raka, kamu habis melakukan apa dengan Kiera?" sahut Maharani.Raka dan Kiera tersentak kaget mendengar pertanyaan itu, sementara Ririn terlihat tersenyum kecil karena mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang terapi."Memangnya apa lagi ya

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 110

    Nadi Ketujuh memiliki fungsi penting dalam tahap pemulihan Kiera. Ketahanan dan kekuatan tubuh bagian bawah sangat dipengaruhi oleh nadi tersebut.Namun, karena Nadi Ketujuh berdekatan dengan nadi terlarang yang memiliki efek sensual, Kiera tidak bisa menahan gejolak hasrat yang muncul di dalam dirinya."Ayo, Raka, teruskan," desis Kiera. "Aku sangat menikmatinya."Raka tidak menjawab apa pun. Ia tetap fokus melakukan pijatan sambil mengalirkan energinya secara perlahan dan terukur.Suara desahan Kiera semakin jelas terdengar. Ia tidak lagi berusaha menahannya dan mulai mencoba menikmati setiap sensasi yang dirasakannya.Ririn yang masih mengintip bersandar pada dinding di dekat tirai. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara desahan Kiera yang semakin keras."Kenapa tubuhku terasa panas?" gumam Ririn pelan.Tanpa sadar, ia menyentuh dadanya sendiri, bahkan mulai meremasnya perlahan. Wajahnya memerah saat merasakan sentuhannya sendiri."Ehm... ahh..." desah Kiera pelan.Raka m

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 109

    "Ra-Raka..." ucap Kiera terbata. "Bisakah kamu menggunakan cara lain?""Cara lain? Memangnya kenapa?" tanya Raka sambil tetap melakukan pijatan pada bagian panggul kanan Kiera."Nggak apa-apa," jawab Kiera tertahan.Raka tampak bingung, tetapi ia tidak terlalu memikirkan perkataan Kiera dan kembali memusatkan perhatian pada terapinya.Kiera merapatkan rahang. Bukan karena sakit, melainkan karena sedang berusaha menahan sensasi nikmat yang mulai dirasakannya."Akh... Raka!" desis Kiera ketika Raka memberikan tekanan pada area panggulnya."Apakah sakit?" tanya Raka."Ti-tidak." Kiera menarik napas pelan. "Teruskan saja terapinya.""Oke." Raka mengangguk. "Sekarang aku akan melakukan pijatan pada bagian pangkal tulang belakang."Mendengar ucapan tersebut, Kiera mulai membayangkan sensasi seperti apa yang akan dirasakannya. Apalagi letak pangkal tulang belakang cukup dekat dengan area intimnya.Raka mulai menyentuh area pangkal tulang belakang dan mengurutnya perlahan sambil tetap mengali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status