Share

Chapter 4

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-07-06 18:55:21

“Dasar menantu sialan!” bentak Pak Baskoro begitu melihat Raka baru saja tiba. “Kenapa teleponmu tidak diangkat? Gara-gara kamu, kami jadi menunggu lama!”

“Maaf,” jawab Raka datar. Ia sudah terlalu lelah menghadapi semua masalah yang datang bertubi-tubi. “Mari masuk, Pak... Bu.”

Raka mempersilakan Pak Baskoro dan Bu Endang masuk ke dalam rumah. Setelah ketiganya duduk di ruang tamu, Raka hendak membuatkan minuman. Namun, Bu Endang segera menghentikannya.

“Tidak usah,” ucap Bu Endang dengan nada sinis. “Kami tidak ingin berlama-lama di rumah kumuh ini. Cepat keluarkan semua barang-barang Maya.”

Raka menatap kedua mertuanya dengan tatapan heran.

“Kenapa aku yang harus mengemasi barang-barangnya?” tanyanya dingin. “Dia pergi tanpa pamit, lalu sekarang aku yang harus repot membereskan semua barangnya? Apa aku tidak salah dengar?”

Mendengar jawaban itu, Pak Baskoro langsung bangkit dari duduknya. Tanpa banyak bicara, ia mengayunkan tangan hendak menampar Raka. Namun, sebelum telapak tangannya mengenai wajah Raka, pria itu lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.

“Bajingan! Berani-beraninya kau memegang tanganku!” bentak Pak Baskoro.

“Aku selalu menghormati kalian sebagai mertuaku,” ujar Raka sambil melepaskan genggaman tangannya. “Tapi bukan berarti kalian boleh bertindak semaunya kepadaku.”

“Kamu benar-benar menantu yang tidak tahu diri!” timpal Bu Endang.

“Yang tidak tahu diri justru kalian,” balas Raka tanpa meninggikan suara. “Kalau ingin mengambil barang-barang Maya, silakan. Tapi jangan berharap aku akan membantu.”

Usai berkata demikian, Raka kembali duduk di sofa. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatap kedua mertuanya tanpa gentar.

“Sudah, Pak. Biarkan saja dia,” ujar Bu Endang sambil menarik lengan suaminya. “Lebih baik kita segera mengemasi barang-barang Maya.”

“Iya, Bu. Ayo,” sahut Pak Baskoro.

Namun, sebelum mengikuti istrinya menuju kamar, Pak Baskoro tiba-tiba meludah ke arah Raka.

“Cih!” ludahnya dengan tatapan penuh kebencian. “Aku menyesal pernah menikahkan anakku denganmu.”

Raka tidak membalas sepatah kata pun. Ia hanya menatap Pak Baskoro dengan senyum tipis yang dingin. Tatapan itu membuat Pak Baskoro sejenak ciut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berbalik dan menyusul istrinya menuju kamar.

Waktu terus berlalu hingga seluruh barang milik Maya selesai dipindahkan ke dalam mobil. Pak Baskoro kemudian berdiri di hadapan Raka yang masih duduk di sofa sambil memperhatikan mereka.

“Mulai hari ini, kamu sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Maya,” ucap Pak Baskoro dengan nada dingin. “Segera urus surat cerainya.”

“Ya, akan kuurus,” jawab Raka datar. “Lagipula, siapa yang sanggup bertahan memiliki istri sepertinya?”

Mendengar jawaban itu, wajah Pak Baskoro kembali memerah menahan amarah. Ia hendak melangkah maju, tetapi Bu Endang buru-buru menahan lengannya.

“Sudahlah, Pak,” ucap Bu Endang. “Lebih baik kita segera pergi. Aku sudah muak berada di rumah kumuh ini.”

Pak Baskoro mendengus kasar sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik, ayo kita pergi.”

Keduanya pun berjalan meninggalkan rumah Raka. Namun, tepat ketika mereka hampir melewati ambang pintu, suara Raka kembali terdengar.

“Oh ya...” ucapnya datar. “Aku juga telah salah menilai anak kalian. Dia memang cantik di luar, tetapi hatinya busuk.”

“Jaga ucapanmu!” bentak Bu Endang sambil berbalik. “Lelaki miskin sepertimu tidak pantas berbicara seperti itu tentang anakku!”

Raka tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil menatap kedua orang tua Maya hingga mereka benar-benar pergi.

Setelah mereka pergi, Raka mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lega karena akhirnya dapat mengungkapkan isi hatinya.

"Sepertinya sudah cukup tenang untuk kembali mempelajari buku carka Asmara."

Raka segera bangkit dari duduknya, mengunci pintu rumah, lalu kembali mengambil buku Cakra Asmara yang tadi ia simpan. Ia membalik beberapa halaman yang sempat dibacanya semalam, berharap menemukan petunjuk untuk menyembuhkan kondisinya.

“Semalam aku sudah membaca cukup jauh, tetapi belum juga menemukan cara untuk menyembuhkan kondisiku,” gumam Raka pelan.

Ia menatap sampul buku itu beberapa saat. Keraguan yang sempat muncul perlahan sirna, berganti dengan tekad untuk mempelajari setiap ilmu yang tersimpan di dalamnya.

Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Selama dua pekan terakhir, Raka menghabiskan sebagian besar waktunya mempelajari isi Cakra Asmara. Sesekali Ririn datang mengantarkan makanan dan mengobrol singkat dengannya sebelum kembali pulang.

Memasuki hari keempat belas, Raka akhirnya berhasil menguasai sebagian teknik penting yang terdapat di dalam buku itu.

“Akhirnya aku berhasil menguasai Teknik Sepuluh Jari Cakra Asmara hingga tahap keempat,” gumamnya dengan wajah puas. “Tapi untuk mencapai tahap terakhir, aku harus membuka kedua belas titik kehidupan di tubuhku. Jika gagal, risikonya terlalu besar.”

Ia kemudian menggerakkan kedua tangan dan merasakan perubahan yang begitu jelas. Tubuhnya terasa lebih kuat dan bertenaga, terutama telapak tangan serta jari-jarinya yang kini jauh lebih kokoh dibanding sebelumnya.

Saat melirik jam dinding, jarum pendek telah menunjuk pukul satu siang.

“Tumben Ririn belum datang,” gumam Raka. “Lebih baik aku yang mengunjunginya.”

Raka segera bersiap dan mengganti pakaiannya. Setelah semuanya selesai, ia membuka pintu rumah. Namun, pandangannya seketika tertuju pada sebuah amplop yang tergeletak di teras.

Ia memungut amplop itu dan membaca nama pengirim yang tertera di bagian depan.

“Pengadilan Agama...” gumam Raka pelan. Senyum tipis pun terukir di wajahnya. “Mereka ternyata benar-benar tidak sabar.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 13

    Usai meratakan minyak di telapak tangannya, Raka mulai memijat. Ia mengurut perlahan dari area tengah alis hingga ke ubun-ubun, dilanjutkan dengan sentuhan lembut di sekitar kepala."Tanganmu halus sekali, Raka..." bisik Tante Mira.Raka hanya menyunggingkan senyum tipis, memilih diam agar tetap fokus pada pekerjaannya."Bagaimana rasanya, Tante?" tanya Raka berhati-hati saat menekan titik tertentu."Pijatanmu membuatku merasa sangat nyaman," sahut Tante Mira merem melek.Raka melanjutkan gerak jemarinya, sesekali kembali menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan."Ahhh... Nikmat sekali pijatanmu, Raka," desis Tante Mira kian menggebu.Waktu berlalu, kini Raka mengalihkan fokusnya pada peremajaan otot di sepanjang area tulang belakang. Jalur ini merupakan akses menuju titik vital bernama mata air kehidupan, yang terletak persis di dekat tulang pangkal.Tante Mira tampak begitu terhanyut oleh pijatan Raka. Desa

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 12

    Di ruang tamu, Raka duduk berhadapan dengan pemilik rumah, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang akan menjadi pasiennya. Di samping wanita itu duduk wanita cantik yang tadi menyambut kedatangannya di depan pintu.“Kamu cukup tampan, Anak Muda,” puji nenek itu sambil mengangguk pelan.“Terima kasih, Nek,” balas Raka sambil tersenyum.“Jangan panggil aku nenek. Aku belum setua itu,” protes wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Panggil saja aku Tante Mira.”“Ba-baik, Tante Mira,” jawabnya sedikit kaku.“Nenek, ayo bersiap,” sela wanita muda di sampingnya sambil tersenyum geli. “Jangan menggoda Mas Terapis terus.”“Berisik sekali cucuku ini,” gerutu Tante Mira. Ia kembali menatap Raka dengan penuh rasa ingin tahu. “Oh ya, siapa namamu, Anak Muda?”“Nama saya Raka, Tante,” jawab Raka sopan. “Kalau Tante sudah siap, kita bisa mulai terapinya.”“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Tante

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 11

    “Pijat panggilan?” ulang Raka sambil menatap Ririn.“Iya, Mas,” jawab Ririn antusias. “Mas bisa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Lagi pula, menurutku kemampuan pijat Mas sudah sangat mantap.”Raka terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan. Dari yang ia tahu pekerjaan sebagai tukang pijat tidak terlalu menjanjikan dan sulit menghasilkan penghasilan yang besar.“Ibu juga setuju dengan usul Ririn,” timpal Bu Ratna. “Buktinya, pijatanmu berhasil menyembuhkan Ririn dalam waktu singkat.”“Tapi, Bu...” ucap Raka ragu.Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus membayar tukang pijat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk satu kali terapi. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, keuntungan seorang tukang pijat bisa sangat besar.“Kalau kemampuanmu memang sebagus itu, kenapa tidak dicoba?” ujar Bu Ratna. “Siapa tahu justru di situlah rezekimu.”Raka mengangguk pelan. Penjelasan Bu Ratna me

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 10

    Hendra menyeringai sinis sambil melepaskan jas mahal yang dikenakannya. “Aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.”Raka sama sekali tidak gentar. Ia hanya menggeleng pelan sebelum menatap Hendra dengan sorot mata dingin.“Dua orang yang kau kirim untuk menghajarku saja sudah kubuat babak belur,” ucap Raka tenang. “Sekarang kau sendiri yang datang menantangku. Kalau begitu, majulah. Kita lihat siapa yang akhirnya terbaring di rumah sakit.”Hendra langsung melesat maju. Sebuah pukulan right hook bertenaga penuh meluncur cepat mengincar rahang kiri Raka.Namun, Raka dengan tenang menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya. Dalam sekejap, ia mencengkeram kepalan tangan Hendra, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi sendi berderak.“Aaargh...!” Hendra meringis kesakitan.“Apa cuma segini kemampuanmu?” ejek Raka.“K-kurang ajar...! Lepaskan tanganku!” pekik Hendra sambil berusaha melepaskan diri

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 9

    "Sidang perkara perceraian antara Penggugat, Saudari Maya, melawan Tergugat, Saudara Raka, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua membuka persidangan.Suara ketukan palu menggema memenuhi ruangan. Hakim kemudian memandang ke arah Maya."Saudari Penggugat, silakan jelaskan alasan Saudari mengajukan gugatan cerai," perintah Hakim Ketua.Maya berdiri perlahan, lalu menoleh singkat ke arah Raka sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya."Yang Mulia, saya mengajukan gugatan ini karena suami saya sudah tidak mampu lagi memberikan nafkah yang layak kepada keluarga kami," jelas Maya."Selain itu, selama satu tahun pernikahan, kami juga tidak pernah dikaruniai anak. Saya telah melakukan pemeriksaan medis dan tidak ditemukan masalah kesehatan apa pun yang memengaruhi organ reproduksi saya," lanjut Maya.Mendengar alasan itu, Raka tetap tenang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.Hakim mencatat seluruh keterangan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Raka."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 8

    “Ririn, kamu sudah bisa berdiri?” seru Bu Ratna sambil bergegas masuk ke dalam kamar.Raka buru-buru melepaskan tangkapannya, sementara Ririn segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.“Ririn sudah berkali-kali bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk pintunya dulu,” gerutu Ririn dengan wajah kesal.Bu Ratna hanya tersenyum canggung. Ia langsung menghampiri Ririn, memegang kedua lengannya, lalu memeluk putrinya erat.“Maaf ya, Rin. Ibu memang suka lupa kalau tidak ingat,” ucap Bu Ratna.Mendengar jawaban itu, Raka spontan memalingkan wajah sambil menahan tawanya.“Ya jelas saja lupa kalau tidak ingat, Bu,” balas Ririn sambil terkekeh dan membalas pelukan ibunya.“Ibu senang sekali kamu sudah bisa berdiri lagi,” ucap Bu Ratna setelah melepaskan pelukannya.“Iya, Bu. Ini semua berkat Mas Raka,” jawab Ririn sambil tersenyum ke arah Raka.Bu Ratna kemudian menoleh kepada Raka dengan wajah penuh rasa syukur.“Nak Raka, terima kasih banyak, ya. Ibu benar-benar tidak menyangka ternyata ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status