Share

Chapter 5

Penulis: Tinta_Jojon
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 18:55:48

“Bu Ratna, ini saya, Raka,” panggil Raka dari depan rumah Ririn yang berada tepat di seberang rumahnya.

“Iya, Nak Raka,” sahut Bu Ratna dari dalam rumah. “Tunggu sebentar.”

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah muncul dan segera mempersilakan Raka masuk.

“Ini, Bu. Saya membawa sedikit makanan,” ucap Raka sambil menyerahkan kantong plastik berisi beberapa makanan yang sempat dibelinya sebelum datang.

“Ya ampun, kenapa harus repot-repot membawa makanan segala?” ujar Bu Ratna sambil menggeleng pelan. “Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.”

“Tidak repot, kok, Bu,” balas Raka sambil tersenyum.

“Kalau begitu, ayo masuk,” ajak Bu Ratna.

Raka pun melangkah masuk ke rumah yang sudah sangat dikenalnya. Sejak kecil, ia memang sering bermain dan menghabiskan waktu di rumah itu bersama Ririn.

Setelah mempersilakan Raka duduk, Bu Ratna pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa dua gelas teh hangat dan meletakkannya di atas meja.

“Ririn ke mana, Bu?” tanya Raka sambil menerima gelas yang disodorkan kepadanya.

Raut wajah Bu Ratna seketika berubah muram.

“Ririn masih di kamarnya dan sedang beristirahat,” jawabnya pelan. “Tadi pagi dia mengalami kecelakaan, Nak.”

“Kecelakaan?” ulang Raka dengan wajah terkejut. “Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Syukurlah tidak ada luka yang serius,” jelas Bu Ratna. “Hanya saja, meski sudah dipijat, sampai sekarang Ririn masih kesulitan untuk berdiri.”

“Kalau begitu, boleh saya melihat keadaannya?” tanya Raka.

“Tentu saja,” jawab Bu Ratna sambil bangkit dari duduknya. “Mari, Ibu antar ke kamarnya.”

Bu Ratna mengajak Raka menuju kamar Ririn. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia langsung membuka pintunya.

Begitu pintu terbuka, Raka sontak terkejut. Ririn ternyata sedang berganti pakaian. Tatapan mereka bertemu sesaat hingga wajah Ririn seketika memerah karena malu.

“M-Mas Raka!” seru Ririn dengan mata membelalak.

Refleks, Ririn meraih bantal di sampingnya lalu melemparkannya ke arah pintu.

“Tutup pintunya...!” teriaknya panik.

Bu Ratna buru-buru menutup kembali pintu kamar, sementara Raka langsung memalingkan wajah dan membelakangi pintu dengan ekspresi canggung.

“Aduh, Nak Raka... maafkan Ibu, ya,” ucap Bu Ratna dengan wajah penuh rasa bersalah.

“I-iya, Bu. Tidak apa-apa,” jawab Raka gugup sambil menggaruk tengkuknya.

“Lain kali kalau Ibu mau masuk, ketuk dulu pintunya,” protes Ririn dari balik pintu dengan nada malu.

“Iya, Rin. Maafkan Ibu. Cepat ganti bajunya, ya,” balas Bu Ratna.

“Iya, Bu. Tunggu sebentar,” sahut Ririn.

Beberapa menit kemudian, suara Ririn kembali terdengar dari dalam kamar.

“Sudah, Bu.”

Bu Ratna kembali membuka pintu dan mempersilakan Raka masuk. Ririn tampak duduk bersandar di ujung ranjang. Wajahnya masih memerah akibat kejadian beberapa saat yang lalu.

“Kalian ngobrol dulu, ya. Ibu masih ada pekerjaan,” pamit Bu Ratna.

Raka mengangguk pelan sebelum kembali menatap Ririn.

“M-Mas Raka... maaf ya soal kejadian tadi,” ucap Ririn lirih.

“Sudahlah, Rin. Tidak usah dipikirkan lagi,” balas Raka sambil tersenyum tipis. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Sudah agak baikan, Mas,” jawab Ririn. “Tapi setiap kali mencoba berdiri, pinggangku masih terasa sangat sakit.”

Mendengar penjelasan itu, Raka teringat pada salah satu materi yang baru dipelajarinya dari buku Cakra Asmara.

“Boleh aku memeriksa bagian pinggangmu, Rin?” tanyanya.

Ririn terdiam sejenak.

“Mas Raka bisa pijat?” tanyanya heran.

Selama ini, Ririn tidak pernah mengetahui bahwa buku yang dipelajari Raka menyimpan teknik pijat luar biasa yang mampu mengatasi berbagai masalah pada tubuh.

“Sedikit,” jawab Raka tenang. “Siapa tahu aku bisa membantu mengetahui penyebab cederamu.”

“Kalau begitu... baiklah, Mas,” sahut Ririn sambil mengangguk pelan.

“Coba berbaring tengkurap dulu. Aku ingin memeriksa bagian pinggangmu,” ujar Raka.

Ririn mengikuti arahan itu hingga posisinya terasa nyaman.

“S-sudah, Mas,” ucapnya pelan.

Raka kemudian meraba area sekitar pinggang dan panggul dengan hati-hati.

“Maaf ya, Rin,” katanya. “Kalau terasa tidak nyaman atau sakit, langsung bilang.”

“Iya, Mas,” jawab Ririn.

Raka memberikan tekanan ringan pada salah satu titik di sekitar panggul.

“Akh... sakit, Mas,” rintih Ririn spontan.

“Sepertinya memang ada gangguan pada area panggulmu,” ujar Raka setelah beberapa saat memeriksa.

“Sebelumnya aku sudah dipijat. Katanya hanya disuruh banyak istirahat,” jelas Ririn.

"Tukang pijat biasa akan kesulitan menangani cedera seperti ini," ujar Raka. "Itulah sebabnya sampai sekarang kamu masih kesulitan berdiri."

“Oh... jadi begitu,” ucap Ririn sambil mengangguk pelan.

“Kalau begitu, tarik selimutmu hingga menutupi bagian perut, lalu turunkan celanamu.” ujar Raka dengan tenang. “Aku akan mulai melakukan pijatan di area panggulmu secara langsung.”

Ririn tampak sedikit terkejut mendengar arahan Raka.

“Ba-baik, Mas,” jawabnya pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 13

    Usai meratakan minyak di telapak tangannya, Raka mulai memijat. Ia mengurut perlahan dari area tengah alis hingga ke ubun-ubun, dilanjutkan dengan sentuhan lembut di sekitar kepala."Tanganmu halus sekali, Raka..." bisik Tante Mira.Raka hanya menyunggingkan senyum tipis, memilih diam agar tetap fokus pada pekerjaannya."Bagaimana rasanya, Tante?" tanya Raka berhati-hati saat menekan titik tertentu."Pijatanmu membuatku merasa sangat nyaman," sahut Tante Mira merem melek.Raka melanjutkan gerak jemarinya, sesekali kembali menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan."Ahhh... Nikmat sekali pijatanmu, Raka," desis Tante Mira kian menggebu.Waktu berlalu, kini Raka mengalihkan fokusnya pada peremajaan otot di sepanjang area tulang belakang. Jalur ini merupakan akses menuju titik vital bernama mata air kehidupan, yang terletak persis di dekat tulang pangkal.Tante Mira tampak begitu terhanyut oleh pijatan Raka. Desa

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 12

    Di ruang tamu, Raka duduk berhadapan dengan pemilik rumah, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang akan menjadi pasiennya. Di samping wanita itu duduk wanita cantik yang tadi menyambut kedatangannya di depan pintu.“Kamu cukup tampan, Anak Muda,” puji nenek itu sambil mengangguk pelan.“Terima kasih, Nek,” balas Raka sambil tersenyum.“Jangan panggil aku nenek. Aku belum setua itu,” protes wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Panggil saja aku Tante Mira.”“Ba-baik, Tante Mira,” jawabnya sedikit kaku.“Nenek, ayo bersiap,” sela wanita muda di sampingnya sambil tersenyum geli. “Jangan menggoda Mas Terapis terus.”“Berisik sekali cucuku ini,” gerutu Tante Mira. Ia kembali menatap Raka dengan penuh rasa ingin tahu. “Oh ya, siapa namamu, Anak Muda?”“Nama saya Raka, Tante,” jawab Raka sopan. “Kalau Tante sudah siap, kita bisa mulai terapinya.”“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Tante

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 11

    “Pijat panggilan?” ulang Raka sambil menatap Ririn.“Iya, Mas,” jawab Ririn antusias. “Mas bisa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Lagi pula, menurutku kemampuan pijat Mas sudah sangat mantap.”Raka terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan. Dari yang ia tahu pekerjaan sebagai tukang pijat tidak terlalu menjanjikan dan sulit menghasilkan penghasilan yang besar.“Ibu juga setuju dengan usul Ririn,” timpal Bu Ratna. “Buktinya, pijatanmu berhasil menyembuhkan Ririn dalam waktu singkat.”“Tapi, Bu...” ucap Raka ragu.Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus membayar tukang pijat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk satu kali terapi. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, keuntungan seorang tukang pijat bisa sangat besar.“Kalau kemampuanmu memang sebagus itu, kenapa tidak dicoba?” ujar Bu Ratna. “Siapa tahu justru di situlah rezekimu.”Raka mengangguk pelan. Penjelasan Bu Ratna me

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 10

    Hendra menyeringai sinis sambil melepaskan jas mahal yang dikenakannya. “Aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.”Raka sama sekali tidak gentar. Ia hanya menggeleng pelan sebelum menatap Hendra dengan sorot mata dingin.“Dua orang yang kau kirim untuk menghajarku saja sudah kubuat babak belur,” ucap Raka tenang. “Sekarang kau sendiri yang datang menantangku. Kalau begitu, majulah. Kita lihat siapa yang akhirnya terbaring di rumah sakit.”Hendra langsung melesat maju. Sebuah pukulan right hook bertenaga penuh meluncur cepat mengincar rahang kiri Raka.Namun, Raka dengan tenang menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya. Dalam sekejap, ia mencengkeram kepalan tangan Hendra, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi sendi berderak.“Aaargh...!” Hendra meringis kesakitan.“Apa cuma segini kemampuanmu?” ejek Raka.“K-kurang ajar...! Lepaskan tanganku!” pekik Hendra sambil berusaha melepaskan diri

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 9

    "Sidang perkara perceraian antara Penggugat, Saudari Maya, melawan Tergugat, Saudara Raka, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua membuka persidangan.Suara ketukan palu menggema memenuhi ruangan. Hakim kemudian memandang ke arah Maya."Saudari Penggugat, silakan jelaskan alasan Saudari mengajukan gugatan cerai," perintah Hakim Ketua.Maya berdiri perlahan, lalu menoleh singkat ke arah Raka sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya."Yang Mulia, saya mengajukan gugatan ini karena suami saya sudah tidak mampu lagi memberikan nafkah yang layak kepada keluarga kami," jelas Maya."Selain itu, selama satu tahun pernikahan, kami juga tidak pernah dikaruniai anak. Saya telah melakukan pemeriksaan medis dan tidak ditemukan masalah kesehatan apa pun yang memengaruhi organ reproduksi saya," lanjut Maya.Mendengar alasan itu, Raka tetap tenang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.Hakim mencatat seluruh keterangan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Raka."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 8

    “Ririn, kamu sudah bisa berdiri?” seru Bu Ratna sambil bergegas masuk ke dalam kamar.Raka buru-buru melepaskan tangkapannya, sementara Ririn segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.“Ririn sudah berkali-kali bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk pintunya dulu,” gerutu Ririn dengan wajah kesal.Bu Ratna hanya tersenyum canggung. Ia langsung menghampiri Ririn, memegang kedua lengannya, lalu memeluk putrinya erat.“Maaf ya, Rin. Ibu memang suka lupa kalau tidak ingat,” ucap Bu Ratna.Mendengar jawaban itu, Raka spontan memalingkan wajah sambil menahan tawanya.“Ya jelas saja lupa kalau tidak ingat, Bu,” balas Ririn sambil terkekeh dan membalas pelukan ibunya.“Ibu senang sekali kamu sudah bisa berdiri lagi,” ucap Bu Ratna setelah melepaskan pelukannya.“Iya, Bu. Ini semua berkat Mas Raka,” jawab Ririn sambil tersenyum ke arah Raka.Bu Ratna kemudian menoleh kepada Raka dengan wajah penuh rasa syukur.“Nak Raka, terima kasih banyak, ya. Ibu benar-benar tidak menyangka ternyata ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status