LOGINDi salah satu area terbuka Universitas Haster, seorang perempuan dengan penampilan mencolok tengah berjalan menyusuri koridor kampus. Siapa lagi kalau bukan si mahasiswi baru bernama Sissy Angelina. Rambut panjangnya ditata bergelombang, bibirnya merah muda dihiasi lip gloss yang membuatnya tampak berkilau dan riasan wajahnya terlihat sempurna. Dia mengenakan setelan kardigan crop berwarna biru muda yang dipadukan dengan rok mini senada. Tas bermerek yang menggantung di lengannya melengkapi penampilannya. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya tak bisa menahan diri untuk melirik. Di belakang Sissy, seorang perempuan muda dengan setelan formal berjalan mengikuti sambil membawa tablet, segelas matcha dan beberapa dokumen. Dia adalah Gina, asisten pribadi perempuan tersebut. "Gina, sini," panggilnya ketus. "Baik, Nona," jawab Gina dengan napas terengah-engah. Sissy berhenti di dekat taman kampus, lalu berbalik menghadap asistennya. "Cari tahu siapa pacarnya Angkasa," titahny
Lalu, di layar Asha terlihat keluar dari asrama. Kening Angkasa mengerut. Ia spontan menegakkan punggung. "Sayang, kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Angkasa dengan nada yang khawatir. Asha tersenyum sembari menyampirkan tali tas biolanya di pundak. "Aku mau ke taman yang gak main dari kampus, Kak. Kakak suka mendengarkan permainan biola, kan?" Asha mengangkat ponselnya sedikit. "Jadi aku mau memainkannya untuk Kakak." Angkasa mengerutkan kening. "Tapi sudah malam, Sayang. Lagipula, aku juga gak ada di sana." "Gak apa-apa, Kak. Aku sudah hafal semua jalur aman dan tempat-tempat rahasia yang pernah Kakak tunjukkan," ucap Asha tampak percaya diri kali ini. Angkasa terdiam sejenak. Ia sebenarnya khawatir membiarkan Asha pergi sendirian malam-malam. Namun, ia pun tahu gadis itu berusaha ingin melakukan sesuatu untuk menghiburnya. "Kalau begitu jangan lupa pakai jaket, Sayang," ucap Angkasa. "Iya, Kak." Asha menunjukkan jaket yang ia kenakan. "Aku sudah pakai." "Oke, hati-
Siang hari di sebuah ruang konferensi hotel mewah, Angkasa tengah mengikuti rapat bersama profesor dan beberapa arsitek yang terlibat dalam proyek pembangunan perpustakaan di kota Grandchester. Layar besar di hadapan mereka menampilkan rancangan bangunan, sementara beberapa lembar dokumen tersebar di atas meja panjang. Angkasa duduk di salah satu sisi meja, menyimak penjelasan seorang arsitek sebelum memberikan pendapatnya. "Menurut saya, bagian ini perlu sedikit diperluas. Area baca anak sebaiknya mendapat pencahayaan alami yang lebih maksimal. Kita juga perlu mempertimbangkan akses bagi pengunjung berkebutuhan khusus." Profesor di sebelah Angkasa mengangguk. "Saya setuju, nanti kita masukkan revisinya." Rapat berlangsung cukup lama hingga akhirnya salah seorang peserta meminta izin keluar sebentar. Angkasa yang sejak tadi memperhatikan layar laptopnya ikut mengangkat kepala. Pandangannya tanp
Asha, Keyra, Noura dan Sabrina kini duduk mengelilingi meja di ruangan santai. Camilan dan beberapa minuman kaleng tersaji di hadapan mereka. Setelah puas menggoda Asha soal Angkasa, akhirnya mereka kembali pada topik utama yang menjadi alasan berkumpul malam itu—Sabrina dan dosen bernama Pak Ardo."Kalau menurut aku, kamu gak perlu menyatakan cinta lagi, Sabby," ujar Keyra sambil mengambil sepotong camilan.Noura menambahkan. "Setuju, apalagi kamu masih melihat mengagumi Pak Ardo, kan?""Ya, aku masih sama. Tetap mengagumi dia," jawab Sabrina jujur.Asha bersuara. "Hmm, kenapa gak coba saja, siapa tahu yang pengakuan cinta yang kedua berhasil."Keyra menggeleng sambil menggoyangkan chicken wings di tangannya yang terbungkus sarung tangan plastik."No, no, no! Menyatakan cinta kedua kalinya dengan posisi Sabby masih menunjukkan kekaguman bakalan berakhir sama dengan yang pertama," kata gadis berkepang dua itu."Terus aku
"Ada apa, Asha?" tanya Keyra dan Noura, hampir bersamaan dengan ucapan yang sama.Asha menarik napas panjang sebelum bicara. "Aku... mau jujur soal teman sekamar aku ke kalian."Keyra dan Noura spontan berhenti dari aktivitas mereka menatap camilan dan minuman di meja. Keduanya saling melirik sebelum akhirnya mengarahkan perhatian pada Asha."Kenapa? Dia jahat sama kamu?" tanya Keyra khawatir.Asha buru-buru mengangkat kedua tangan dan menggeleng. "Enggak, enggak, bukan begitu, Key."Gadis itu menarik napas, berusaha mengumpulkan keberanian. "Sebenarnya... aku sekamar dengan Kak Angkasa." Kepalanya spontan tertunduk setelah mengucapkan kalimat itu.Hening menyergap beberapa detik sebelum Keyra dan Noura berseru kerasa secara bersamaan."APAAAAAAAAAAAAAA?!"Keduanya bahkan sampai membelalakkan mata."Tunggu! Jadi, kating misterius yang selama ini kamu maksud itu Asha Angkasa?" Keyra menunjuk Asha dengan wajah syok level maksimal."Tunggu, tunggu! Kok bisa kamu sekamar sama Ketua BEM ki
Untung saja Sabrina memilih berbicara dengan Keyra dan Noura dulu mengenai perasaannya kepada Pak Ardo. Jadi percakapan mereka tidak berlanjut soal itu lagi. Selain itu, Asha juga harus ke kafe karena jadwal kuliahnya hari itu hanya satu kelas. "Kalau begitu aku ke BCC dulu," kata Asha pada Sabrina. "Sebentar lagi aku masuk shift." Sabrina beranjak sembari merapikan tali tas desainernya di pundak. "Aku antar, kebetulan aku juga mau ketemu adik aku." Asha mengangguk dan akhirnya beranjak mengikut Sabrina ke mobil gadis itu. Di kafe, saat jam istirahatnya, Asha memasang earphone dan mendengar aktivitas Angkasa di seberang sana. Kekasihnya itu meeting lagi. Asha tentu tidak ikut berbicara. Ia hanya menikmati suara Angkasa sembari sesekali membalas pesan yang dikirimkan prianya itu. Syukurlah juga persoalan video pagi tadi tidak berlarut, sehingga Asha tidak perlu mengkhawatirkan soa







