LOGINAsha segera merunduk ke ponsel di tangannya. Ia mengusap layar cepat dan menghubungi Mr. Anonim. Dua ibu jari gadis itu mengetuk layar dengan keras seolah mau memecahkan kacanya.
[Kamu sebar foto aku dan Ketua BEM?]Menunggu balasan, Andrea mengetukkan kedua telunjuknya berulang kali di sisi ponselnya. Ia sambil menggigit bibirnya.Mungkinkah fotonya ada di mading kampus? layar pengumuman digital? Atau di sebar di grup-grup khusus?Argh! Jantung Asha berget"ASHA!"Suara Angkara menggelegar saat ia menerobos masuk. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari sosok kekasihnya.Namun—Pemandangan di hadapan Angkasa membuat langkah pria itu seketika terhenti. Pupil Angkasa melebar lantaran menyaksikan Asha berdiri dengan penampilan yang berantakan di sana. Rambut cokelat gadis itu kusut dan basah, wajahnya pucat dengan air mata yang masih membekas di pipinya. Lalu kemeja gadis itu terbuka pada beberapa kancing bagian atas, menampilkan branya.Dan yang lebih mengejutkan Angkasa adalah—Asha memegang balok kayu berpaku dan saat ini dalam posisi ingin memukul Della dengan benda itu.Kalau Angkasa tidak datang tepat waktu, Della pasti sudah kena hantaman balok kayu itu. Beruntung—kehadiran Angkasa menahan gerakan lengan Asha.Sementara itu, Della yang sudah gemetaran mengesot mundur, menjauh dari ujung paku yang tersisa beberapa sentimeter dari wajahnya."Angkasa! Tolong!" jer
Beberapa saat sebelumnya.Arena hoki es Universitas Haster masih dipenuhi sorak-sorai para penonton yang merayakan kemenangan tim tuan rumah. Para pemain saling berpelukan, sementara beberapa mahasiswa berbondong-bondong turun mendekati pembatas arena untuk memberikan ucapan selamat kepada para pemain hoki.Namun, di tengah keramaian itu, Angkasa justru sibuk mencari Asha.Setelah berganti pakaian, pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi Asha. Ia sempat tersenyum kecil, membayangkan wajah ceria gadis itu ketika menyambutnya setelah pertandingan.Namun, panggilannya tidak dijawab.Angkasa mencoba sekali lagi, namun tak kunjung dapat jawaban.Ia kemudian mengirimkan pesan, menanyakan keberadaan Asha. Akan tetapi, hingga beberapa menit berlalu, kekasihnya itu belum juga membalasnya ataupun menelepon balik.Senyum di wajah Angkasa perlahan menghilang.Ke mana pacarnya itu?Angkasa akhirnya menghubungi
Memanfaatkan kesempatan saat Caramel dan Jenny membantu Della, Asha segera menunduk dan berusaha melepaskan ikatan di pergelangan kakinya. Jemari gadis itu gemetar, namun ia terus menarik simpul tersebut sampai akhirnya kedua kakinya bebas.Ia tak membuang waktu. Asha segera bangkit dari kursi. Dengan napas terengah-engah, ia enyapu pandangan ke seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bisa membantunya mempertahankan diri.Tak butuh waktu lama, manik cokelat Asha kemudian menangkap sepotong balok kayu di dekat tumpukan barang bekas.Gadis itu bergegas meraihnya. Beberapa paku yang menancap di sisi balok tersebut tampak longgar, sebagian ujungnya mencuat keluar. Asha menggenggam kayu itu dengan kedua tangan, menjaga jarak ketika Della dan kedua temannya kembali berdiri.Senyum mengejek di wajah mereka bertiga telah lenyap total."Kamu? Kamu mau apa dengan benda itu?" tanya Caramel, suaranya tak lagi terdengar sesantai sebelumnya.Ash
[Kita perlu meeting soal konsep video baru. Temui aku sekarang]Pesan itu muncul di layar ponsel Asha yang tergeletak di sebelah wastafel. Sembari membaca pesan itu, Asha mengusap tangannya menggunakan tisu.Asha mengerjap pelan. Ada sedikit keheranan di wajahnya, tetapi ia segera membalas pesan Della tersebut sebelum bergegas keluar dari toilet.Namun, baru saja ia melewati pintu, seseorang tiba-tiba menyergap Asha dari belakang."Mmphh!"Sebuah tangan membekap mulutnya dengan kain. Asha sontak meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman orang asing itu. Namun, aroma menyengat dari kain tersebut membuat kepalanya pening. Pandangan Asha berangsur kabur, tubuhnya kehilangan tenaga, hingga akhirnya kesadaran Asha lenyap.***Byurrrr!Asha tersentak bangun saat air dingin menerjang wajahnya.Gadis itu terbatuk kecil, mengerjapkan mata berkali-kali sebelum akhirnya bisa melihat sosok Caramel yang berdiri di hadapannya.Ia kemudian merasakan pergerakannya terbatasi lantaran sebuah t
Asha memejamkan matanya, berusaha mengingat kembali apa yang baru saja diceritakan Angkasa kepadanya. Ia mencoba merangkai potongan-potongan ingatan yang terlintas samar, berharap bisa menemukan sesuatu. Namun, saat Asha mencoba memaksa mendapat gambaran, justru bayangan kabur yang muncul di benaknya. Lalu bukannya menemukan Angkasa di masa lalu, sebuah potongan lain melintas begitu saja. Asha melihat sesuatu yang tidak begitu jelas, disusul perasaan menyakitkan yang tiba-tiba menyergap dadanya. Kening Asha berkerut, jemarinya mencengkeram ujung selimut dan napasnya sempat tertahan. Ada sesuatu dalam bayangan itu yang membuat hatinya terasa nyeri. Namun, sebelum bisa menangkap gambaran itu lebih jauh, Asha buru-buru membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengusir sisa-sisa bayangan yang masih mengganggu pikirannya. "Maaf, Kak…" Asha menunduk, tampak sedikit kecewa pada dirinya sendi
Angkasa mengulas senyum sembari mengusap pucuk kepala Asha. "Tapi itu bukan pertemuan pertama kita, Sayang?"Asha mengerutkan kening. "Kok bisa, Kak. Memang kita sudah pernah ketemu sebelum wawancara beasiswa itu?"Angkasa terdiam sejenak, menatap lekat wajah bening Asha, kemudian mengerjap pelan."Hm," sahutnya singkat.Asha menggeser kepalanya ke samping hingga bisa menatap wajah Angkasa lebih jelas. "Serius, Kak?""Terus kita pertama kali bertemu di mana? Kok aku gak ingat apa-apa?" cecar Asha, menampilkan wajahnya yang syok.Angkasa mengangkat satu sudut bibirnya tipis sebelumnya akhirnya mengenang momen itu sambil menceritakannya pada Asha.Sekitar tujuh tahun yang lalu.Ada hari yang menjadi salah satu hari terburuk dalam hidup Angkasa Reynard.Sang kakek, satu-satunya anggota keluarga yang selalu berada di pihaknya, telah pergi untuk selamanya. Belum genap sehari ia kehilangan sosok yang begitu disayanginya, Angkasa kembali terlibat pertengkaran dengan sang papa. Pria itu lagi-







