Se connecter"Kakak kenapa bisa ada di sini?!" bisik Asha panik. Ia menjinjit tipis, menajamkan pendengaran. Tak mau sampai ada orang yang masuk dan mendapati Asha berdua dengan seorang laki-laki di ruangan ganti karyawan.Asha baru mendapatkan kerja paruh waktu itu. Meski sudah dapat uang bersih-bersih dari Angkasa dan akan ada bayaran dari Della untuk mengedit video—tapi tetap saja ia butuh pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya.Tidak mendapatkan jawaban Angkasa, Asha hendak keluar dari balik tirai. Ia melangkah melewati Angkasa. Namun tiba-tiba pria itu meraih pergelangan tangannya.Gadis itu terhenti dan satu tarikan membuatnya kembali berhadapan dengan Angkasa. Tatapan mereka bertemu dan seketika jantung Asha berdetak cepat. Suaranya sangat keras sampai memekakkan telinga."Kak, aku harus bekerja," bisik Asha, berusaha menarik pergelangannya lepas dari Angkasa. Namun genggaman pria itu begitu kuat hingga Asha kesusahan.Angkasa kemud
'Aduh, mana ketemu sama Kak Angkasa lagi,' ringis Asha dalam hati.Gadis itu menatap Ketua BEM di hadapannya dengan jantung yang berdebar kencang tak karuan. Tubuh Asha masih mengingat kejadian semalam, tetapi pikiran gadis itu memaksanya untuk bersikap biasa saja.Apalagi mereka sedang berada di tengah area expo. Terlalu banyak mahasiswa di sekitar mereka.Namun, Asha merasa seolah ada lem di alas sepatunya, membuat ia sulit mengambil langkah.Terlebih lagi setelah ingat salah satu komentar di aplikasi tanya-tanya tadi, membuat wajah gadis itu memerah, membayangkan milik Angkasa jika masuk ke dalam punyanya.Benda sebesar dan sepanjang itu bukankah akan merobek miliknya?Dan. Kenapa Asha harus berpikiran ke sana?'Ya ampun, Asha! Kamu cuma mahasiswi beasiswa, kamu harus fokus kuliah. Kamu cuma bagian dari misi bersama Kak Angkasa.'Namun, bayangan terhadap belalai Ketua BEMnya semakin berputar di kepala gadis i
"Kamu habis nonton yang mesum-mesum ya?" goda sahabatnya.Asha berdeham dan kembali menyuap makanannya. "Kamu ngomong apa sih, Key?! Enggak."Keyra terkekeh kecil. "Muka kamu merah banget soalnya dan jawaban 'enggak' kamu mencurigakan. Memangnya kamu maksud aku apa?"Napas Asha tercekat sesaat sebelum akhirnya ia terkekeh kaku. "Ya, enggak, aku enggak tahu maksudnya."Gaby kemudian menyela. "Sudah, jangan goda Asha terus, Key. Kamu kebiasaan deh."Keyra tertawa kecil setelah menyesap minumannya. "Itu memang kebiasaan aku dari dulu sama Asha kok."Sementara itu, Asha memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya dan lanjut makan.Lalu, seorang gadis berkacamata melintas di samping meja mereka sambil membawa food tray."Noura!" seru Gaby sambil melambaikan tangan. "Sini duduk!"Asha menoleh dan mendapati Noura menatap ke arahnya. Gadis berkacamata itu kemudian tersenyum dan menyusul duduk di sebelah Keyra."A-ku gabung ya," kata Noura. Keyra menyapa ramah dan berkenalan dengan gadis ber
"Semalam kenapa, Angkasha?" sela pria itu. Suara beratnya terdengar menggoda.Asha mengerjap pelan dengan wajahnya yang memerah. Menatap Angkasa sedekat itu membuat jantungnya mau meledak."I-itu, Kak, aku—"Ucapan Asha tak sampai lantaran Angkasa menyelanya. Pria itu menurunkan wajahnya ke sisi wajah Asha."Kamu mau saya menyentuh kamu lagi?" suara Angkasa menggema tipis di dekat telinga Asha.Gadis itu samar-samar merasakan bibir Angkasa mengecup telinganya."Wajah kamu sudah sangat merah sampai di sini, Angkasha," tutur Angkasa rendah.Asha membelalak, tangannya kemudian mendorong dada bidang Angkasa dan mundur selangkah. Napasnya keluar masuk tak teratur, membuat dadanya naik turun cukup jelas.Entah kenapa niatnya membahas soal semalam tetiba urung.Gadis itu berdeham sembari mendongak. "Semalam… aku simpan tas biola dan tas pakaian di meja belajar Kakak," ucapnya gelagapan.Angkasa mengan
Sinar matahari yang menembus celah tirai membuat mata Asha terbuka perlahan. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum meregangkan tubuhnya. Bahunya terasa sedikit pegal dan kepalanya berat.Namun, saat ingatannya kembali pada kejadian semalam, seketika wajah Asha memanas.Asha buru-buru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Astaga… yang semalam itu benar-benar nyata," gumam Asha. "Aku dan Kak Angkasa—"Bahkan semua yang terjadi semalam melekat erat di pikiran Asha. Gadis itu memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya.Dengan jantung yang kembali berdebar, ia menoleh ke kiri dan kanan. Namun ia tidak menemukan Angkasa. Asha ingat mereka berciuman lembut sebelum tidur di pelukan pria itu.Asha kemudian mereka ulang semua kejadian-kejadian di tengah malam yang ia kira mimpi."Pantas saja tiap pagi aku sering bangun dalam keadaan lemas," gumamnya pelan. "Ternyata memang karena melakukan itu…"Waja
"Atau kamu pura-pura tidak ingat, hm?"Asha tidak menjawab lagi. Sungguh isi kepalanya bagai benang kusut sekarang. Hangat tubuh mereka yang bergesekan membuat Asha tidak bisa berpikir jernih.Angkasa kemudian menurunkan wajahnya, meraup salah satu benda kembar Asha dan menyusu pada gadis itu sembari terus mendesakkan milik mereka di bawah sana.Asha mendongak dengan desahan yang lolos dari bibirnya. Satu tangannya mencengkeram punggung Angkasa, satunya lagi meremas rambut hitam pria itu dengan kuat."Kak… Ahh… Hnghh… hhh…"Asha memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Getaran di tubuhnya begitu hebat dan jantungnya sendiri sudah tak karuan.Beberapa saat kemudian, Angkasa berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal. Begitu juga dengan Asha yang memeluk pria itu. Debar jantung mereka bersahutan seolah saling menyapa.Angkasa kemudian mengubah posisi Asha meski tetap memangku gadis itu. Angkasa memutar tubuh Asha







