Masuk"Kamu teleponan sama siapa, Sha?"Celetukan Keyra membuat Asha berbalik cepat. Gadis itu hampir saja menjatuhkan ponselnya karena tak menyangka Keyra sudah berdiri di belakangnya bersama Sabrina."Oh!" Asha tertawa kecil, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.Ia baru saja mengakhiri panggilan dengan Angkasa. Namun tak mungkin ia memberi tahu Keyra bahwa dirinya sudah berpacaran dengan sang ketua BEM. Apalagi hubungan itu masih dirahasiakan."Itu… anak FEB yang sekelas sama Noura. Teman kelompok aku dan Sabby waktu orientasi juga." Asha mengangkat ponselnya sedikit, berusaha terlihat santai. "Aku tanya dia pernah lihat Noura seharian ini atau enggak. Kebetulan dia kenal sama beberapa anak seangkatannya, jadi dia mau bantu cari tahu. Hehe."Keyra mengangguk-angguk, tampak cukup puas dengan penjelasan itu. "Oh, baguslah. Setidaknya ada bantuan dari orang lain."Asha hanya tersenyum lega. Untung saja Keyra tak bertanya lebih jauh. Kalau sampai sahabatnya itu mengetahui siapa sebenarnya
Setelah Felix berpamitan lebih dulu, Asha masih duduk di kursinya. Ia masih tidak menyangka bahwa selama ini Gaby tidak pernah tulus berteman dengannya. Asha kemudian meraih ponsel dari dalam tasnya. Ia berniat menghubungi Keyra dan Sabrina untuk membicarakan hal tersebut. Namun, belum sempat ia menekan nama salah satu sahabatnya, sebuah panggilan grup lebih dulu muncul di layar. Asha segera mengangkatnya. "Aku ada info, guys." Suara Sabrina langsung menyambut dari seberang. "Ternyata memang benar Noura pelakunya." "Sumpah ya, kenapa sih dia setega itu?!" Keyra menyahut dengan nada tak percaya. Asha menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku juga sudah tahu siapa yang menyuruh Noura." Seketika, kedua gadis di seberang sana terdiam. "Siapa?" tanya Keyra dan Sabrina hampir bersamaan. "Gaby," jawab Asha pelan. "Apa?!" lontar Keyra syok untuk kesekian kalinya hari itu. Asha menarik napas sebelum mulai menjelaskan semua yang berhasil ia rangkai dari kejadian-kejadian sebelumnya. Ga
Setelah kelas terakhirnya berakhir, Asha menemui Felix di kafe lain yang lumayan jauh dari kampus. Kini, keduanya duduk berhadapan di sudut kafe yang tak terlalu ramai. Segelas minuman berada di hadapan masing-masing. Gadis itu meremas jemarinya di bawah meja sebelum akhirnya membuka suara setelah basa-basi singkat. "Aku harus jawab perasaan kamu sekarang, Felix." Ia mengangkat wajah, menatap lelaki di seberangnya dengan serius. "Aku gak punya perasaan lebih ke kamu. Jadi, aku harap kamu mengerti." Felix terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Ya, aku tahu." Senyum tipis terukir di bibir lelaki itu, meski ada sedikit kekecewaan yang begitu jelas di sana. "Sebenarnya, aku mau berusaha bikin kamu suka sama aku. Tapi, melihat kamu menegaskan begini, aku rasa kayaknya memang aku gak punya jalan untuk buka hati kamu buat aku." Felix mengembuskan napas pelan, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi. "Maaf," kata Asha. Jujur saja, ia sebenarnya tak tega menyakiti hati orang lain. Ta
Asha mengulum bibir. "Tapi, Kak...""Dengar dulu, Sayang." Angkasa mengusap lembut punggung Asha. "Aku cuma gak mau kamu terus menanggung akibat dari sesuatu yang bahkan gak kamu lakukan."Asha menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Angkasa hanya ingin melindunginya. Namun, ada hal lain yang membuatnya ragu."Kalau hubungan kita diungkap, pasti Kak Della menuduhku sengaja merebut Kakak dari dia. Dan semua orang akan berpikir begitu walaupun kakak speak up," ungkapnya lirih."Kamu tahu aku punya bukti dia selingkuh, Sayang. Jadi kamu gak usah takut dengan semua tuduhan itu. Apalagi kamu memang gak merebut aku dari dia. Kita punya hubungan setelah aku putus dengan dia.""Kakak bisa mengatakan itu karena Kakak gak perlu menghadapi komentar orang lain setiap hari." Asha mengangkat wajahnya, menatap Angkasa dengan mata berkaca-kaca. "Aku yang harus masuk kelas dan bertemu orang-orang yang sudah percaya gosip itu. Aku juga yang harus menghadapi mere
"Kak, kita mau ke mana?" tanya Asha, menoleh kanan kiri, khawatir ada yang melihat mereka bersama dan semakin memperkeruh gosip yang beredar tentang dirinya. Angkasa lagi-lagi tidak menjawab, alih-alih pria itu terus menariknya pergi. Angkasa baru berhenti setelah mereka tiba di sebuah selasar kecil di belakang gedung fakultas yang sepi. Ia melepaskan tangan Asha, kemudian berbalik menghadap gadis itu. "Kenapa kamu gak angkat telepon aku?" tanya Angkasa. Suara pria itu sedingin es. Asha menunduk sedikit. "Maaf, Kak. Ponselku dalam mode senyap. Aku baru lihat panggilan kakak." Angkasa mengembuskan napas, berusaha menahan kekhawatiran yang sejak tadi mengusik pikirannya. "Kamu sudah lihat unggahan di akun gosip kampus?" tanya Angkasa. Suaranya yang dalam terdengar parau dan terputus-putus. Asha mengangguk pelan. "Iya, Kak." "Sejak kapan?" desis Angkasa. Asha menelan ludah, aura yang menguar dari diri kekasihnya begitu gelap dan mencekam. Jemari Asha saling bertaut di d
"Tunggu… ada sesuatu yang aku gak tahu lagi ya?" tanya Keyra, menilik Asha penuh selidik.Asha menghela napas dan akhirnya mengungkapkan sesuatu yang mengganjal soal Gaby. Dan seperti dugaannya, Keyra tersulut emosinya."Astaga! Sumpah, ya, kalau bukan karena kamu, aku sebenarnya gak mau dekat sama Gaby. Dan sekarang—"Keyra menghela napas kasar. "Ternyata dia pura-pura polos dan sok baik di depan kita. Mana aku udah percaya lagi sama dia.""Key!" Asha buru-buru menyentuh lengan sahabatnya."Apa, Sha? Kamu jangan terlalu baik deh sama orang-orang yang begitu. Dari dulu kamu selalu membiarkan orang menyerang dan menuduh kamu," kesal Keyra."Bukan begitu kok, Key. Aku cuma gak mau asal nuduh kalau belum ada bukti. Lagipula kita juga belum tahu motif Gaby itu sebenarnya apa," jelas Asha pelan.Ia kemudian menghela napas, berusaha menenangkan gadis berkepang itu. "Udah, Key. Intinya, kita fokus dulu buat membuktikan kalau me







