共有

Bab 126

作者: Mita Yoo
last update 最終更新日: 2025-12-26 20:00:15

Pikiran Rendra masih penuh dengan informasi dari Tari dan kekhawatiran akan keberadaan Dara saat dia membuka pintu rumahnya. Harapannya untuk segera berdiskusi dengan Riani atau menyusun langkah berikutnya pupus dalam sekejap.

Begitu dia melangkah masuk ke ruang tamu, bayangan hitam melesat dari samping. Bukan sapaan, bukan pertanyaan. Hanya sebuah tenaga yang meledak dari kepalan tangan yang terbungkus amarah murni.

Bugh!

Tinju itu menghantam pipi Rendra dengan keras dan akurat, membanting tubuhnya ke samping. Dia terhuyung, menyandar ke dinding, dia merasakan darah mulai menyebar di mulutnya.

Dunia di dalam pandangannya berputar sejenak.

Arkha berdiri dengan napas berat, wajahnya merah padam, mata penuh kebencian yang mendidih. “Berani sekali kamu mengancam adikku!” Teriakannya menggema di ruangan. Ternyata Tari sudah menghubunginya, mungkin dengan versi cerita yang dipelintir.

Rendra meludah, meli
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 164

    Saat Dara kembali ke rumah, Arkha yang sudah berada di rumah menyambutnya dengan pertanyaan menuduh.Dia telah mengganti pakaiannya dengan kaus santai. “Kamu pasti habis ketemu Rendra ‘kan? Mentang-mentang dia disuruh wajib lapor dulu. Ngapain aja kamu sama dia?”Dara segera membantah. “Mas, udah aku bilang. Aku akan pertimbangkan perceraian kita kalau kamu bikin perjanjian sama aku. Dan kamu setuju.”Dara baru saja melangkah, saat Arkha tiba-tiba memberitahu hal yang membuatnya kembali berhenti. “Aku udah nemu buktinya. Kalau Ben pernah ketemu Riani hari itu di hotel,” katanya.Dara menoleh. “Kamu ... dapat dari mana, Mas?”“Temen aku.”Dara mendekat, suaranya sedikit memohon. ,Aku minta buktinya boleh, Mas? Untuk kasih ke pengacaranya Rendra.”Arkha menyeringai. “Kamu mau buktinya? Layani aku dulu. Bikin aku puas di ranjang.”Dara berdiri membeku, masih membawa aura hote

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 163

    “Kamu cantik, Sayang. Sempurna,” gumam Rendra, seperti berdoa.Tangannya yang besar dan hangat menelusuri setiap inci kulit Dara mulai dari perut, naik perlahan, hingga akhirnya mengisi telapak tangannya dengan gugus dada Dara. Dia membelainya, mengusap dengan ibu jari di puncaknya yang sudah keras, sebelum menunduk kembali.Dan kali ini, bibirnya menyentuh kulitnya secara langsung, tanpa penghalang.Dara memejamkan mata, kepalanya tenggelam ke bantal. Dia membiarkan tubuhnya melengkung, memberikan akses lebih dalam pada Rendra. Di dalam pikirannya, dia membagi dirinya menjadi dua: ada Dara yang terpaku di ranjang ini, menanggung setiap sentuhan, setiap ciuman yang membakar; dan ada Dara lain yang berjarak, yang menghitung, yang mengingat bahwa di suatu tempat, Riani mungkin saja sedang menyiapkan rencana lain untuk menjatuhkan pria ini.Rendra, seolah-olah membaca kegelisahannya, menarik perhatiannya kembali. “Fokus padaku, Sayang,” perintahnya dengan lembut namun tegas.Sementara ta

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 162

    Gaun yang dikenakan Dara melorot sedikit dari bahunya. Udara dingin AC menyentuh kulitnya, segera diikuti oleh kehangatan tangan Rendra yang menelusuri tulang selangkanya. Sentuhannya penuh kepemilikan, seolah-olah sudah memetakan setiap inci tubuhnya.“Lihat,” bisik Rendra sambil memandunya berbalik, menghadap ke cermin besar di dinding kamar suite itu.Dara melihat bayangan mereka terpantul di cermin. Dirinya dengan gaun yang melorot, wajah yang pucat tapi dengan mata yang membara, dan Rendra di belakangnya, lebih tinggi, tatapannya lebih gelap, wajahnya tersembunyi di lekuk lehernya. Sebuah gambar yang intim sekaligus posesif. “Kita terlihat sempurna bersama. Kamu selalu menjadi bagian yang hilang dari hidupku.”Tangannya bergerak maju, perlahan tapi pasti, meraba perut Dara yang datar, lalu telapak tangannya naik untuk meletakkannya di atas sepasang gugus dada Dara yang hanya dilapisi kain tipis. Dara menggigit bibirnya sendiri di cermin

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 161

    Tempat kita. Rendra merujuk sebuah suite di hotel berbintang yang pernah mereka gunakan sekali, di awal ‘permainan’ mereka selain di apartemen Rendra. Dara merasa mual mengingatnya, tetapi dia menguatkan diri.Saat dia sampai di sana, Rendra sudah ada di sana. Dia terlihat lebih tegang dari biasanya, tetapi masih memancarkan daya tarik yang mematikan.“Dara,” ucapnya, membuka pintu lebar-lebar.“Aku khawatir kamu tidak akan datang setelah sidang hari ini,” katanya.“Justru karena sidang itulah aku datang,” kata Dara, masuk ke dalam ruangan. Dia membiarkan suaranya gemetar sedikit. “Aku melihat rekaman itu ... aku, … aku nggak tahu apa yang harus aku percayai lagi. Samuel bilang itu palsu, tapi ... terlihat sangat nyata.”Rendra mendekat, mencoba menyentuh lengannya, tetapi Dara menghindar dengan halus, berpura-pura gelisah dan berjalan ke sisi lain ruangan. “Itu karena videonya dibuat oleh profesional, Sayang,” ka

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 160

    Keesokan harinya, Dara menyamar sederhana dengan kacamata dan kerudung, duduk di barisan paling belakang ruang sidang yang dingin. Udara terasa kaku dan membuat Dara sedikit menggigil. Saat Rendra masuk dengan Samuel di sisinya, dia terlihat tenang, bahkan tersenyum kecil.Riani, di sisi lain, tampak menciut, wajahnya pucat lesu.Sidang berlangsung teknis. Pengacara Rendra, Samuel, dengan lihai memainkan narasi tentang konspirasi balas dendam oleh mantan klien yang punya kondisi tidak stabil. Dia memperlihatkan bukti-bukti digital yang seolah tak terbantahkan. Riwayat pesan ancaman dari Ben, transaksi mencurigakan ke rekening Riani, dan tentu saja, rekaman CCTV yang sudah Dara lihat.Namun saat hakim memberi kesempatan pada Riani berbicara, sesuatu yang tak terduga terjadi. Riani, dengan suara gemetar namun jelas, berkata. “Yang Mulia, saya punya satu bukti fisik yang belum diserahkan. Sesuatu yang . .. Pak Rendra tidak tahu saya memilikinya

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 159

    “Karena Pak Rendra peduli pada Anda,” jawab Samuel, menatapnya langsung. “Pak Rendra tahu Anda mungkin bertemu Bu Riani hari ini. Dia khawatir Anda termakan fitnah. Dia ingin Anda mendengar sisi lain, dari sisi klien saya sebelum mengambil kesimpulan.”“Jadi, semua ini ... foto saya dengan Rendra, foto suami saya di villa itu …  juga ulah Ben?”Samuel menghela napas tipis. “Kami sedang menyelidiki itu. Sangat mungkin. Motifnya jelas, untuk menghancurkan Pak Rendra dengan cara apapun. Dan menyerang orang-orang di sekitarnya adalah taktik klasik. Menyerang Anda dan suami Anda akan melemahkan dukungan sosial dan bisnis Pak Rendra.”Logika itu terdengar benar. Terlalu rapi. Tapi rekaman CCTV tadi. .. itu nyata. Riani berbohong padanya. Atau, Riani sendiri dibohongi oleh Ben.“Bagaimana dengan isu kekerasan yang beredar sebelumnya?” tanya Dara, mencoba mencari kebenarannya.“Gosip tak berdasar yang dibesar-besarkan ole

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status