Share

Bab 127

Penulis: Mita Yoo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 14:00:40

“Dia pernah bilang ... saat paling tenang buat dia kadang justru di ruang tunggu klinik aku, saat nunggu janji temu, karena di sana dia cuma seorang klien, bukan istri atau siapa pun. Dan ... dan ada satu ruang konseling cadangan di lantai atas yang jarang dipakai, yang ada  sofa. Aku bisa coba ke sana,” kata Rendra.

Riani mengangguk. “Semua kemungkinan itu ada. Tapi klinik kamu ‘kan lagi jadi sorotan. Dia pasti nggak mau ketemu wartawan.”

“Ada pintu belakang. Dan ruang itu terisolasi. Cuma aku dan Maya yang punya kuncinya,” Rendra mengangguk. Harapannya mulai bangkit. “Aku harus ke sana.”

Riani menghela napas. “Ren, itu resiko besar. Kalau ada yang lihat kamu ….”

Rendra segera menyela, “Aku nggak peduli. Aku harus pastikan dia aman. Kalau perlu, aku akan bawa dia ke sini, sembunyi di kamar tamu.”

Riani terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Oke. Tapi hati-hati. Aku akan telepon Samuel, bilang kamu ada urusan darurat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 163

    “Kamu cantik, Sayang. Sempurna,” gumam Rendra, seperti berdoa.Tangannya yang besar dan hangat menelusuri setiap inci kulit Dara mulai dari perut, naik perlahan, hingga akhirnya mengisi telapak tangannya dengan gugus dada Dara. Dia membelainya, mengusap dengan ibu jari di puncaknya yang sudah keras, sebelum menunduk kembali.Dan kali ini, bibirnya menyentuh kulitnya secara langsung, tanpa penghalang.Dara memejamkan mata, kepalanya tenggelam ke bantal. Dia membiarkan tubuhnya melengkung, memberikan akses lebih dalam pada Rendra. Di dalam pikirannya, dia membagi dirinya menjadi dua: ada Dara yang terpaku di ranjang ini, menanggung setiap sentuhan, setiap ciuman yang membakar; dan ada Dara lain yang berjarak, yang menghitung, yang mengingat bahwa di suatu tempat, Riani mungkin saja sedang menyiapkan rencana lain untuk menjatuhkan pria ini.Rendra, seolah-olah membaca kegelisahannya, menarik perhatiannya kembali. “Fokus padaku, Sayang,” perintahnya dengan lembut namun tegas.Sementara ta

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 162

    Gaun yang dikenakan Dara melorot sedikit dari bahunya. Udara dingin AC menyentuh kulitnya, segera diikuti oleh kehangatan tangan Rendra yang menelusuri tulang selangkanya. Sentuhannya penuh kepemilikan, seolah-olah sudah memetakan setiap inci tubuhnya.“Lihat,” bisik Rendra sambil memandunya berbalik, menghadap ke cermin besar di dinding kamar suite itu.Dara melihat bayangan mereka terpantul di cermin. Dirinya dengan gaun yang melorot, wajah yang pucat tapi dengan mata yang membara, dan Rendra di belakangnya, lebih tinggi, tatapannya lebih gelap, wajahnya tersembunyi di lekuk lehernya. Sebuah gambar yang intim sekaligus posesif. “Kita terlihat sempurna bersama. Kamu selalu menjadi bagian yang hilang dari hidupku.”Tangannya bergerak maju, perlahan tapi pasti, meraba perut Dara yang datar, lalu telapak tangannya naik untuk meletakkannya di atas sepasang gugus dada Dara yang hanya dilapisi kain tipis. Dara menggigit bibirnya sendiri di cermin

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 161

    Tempat kita. Rendra merujuk sebuah suite di hotel berbintang yang pernah mereka gunakan sekali, di awal ‘permainan’ mereka selain di apartemen Rendra. Dara merasa mual mengingatnya, tetapi dia menguatkan diri.Saat dia sampai di sana, Rendra sudah ada di sana. Dia terlihat lebih tegang dari biasanya, tetapi masih memancarkan daya tarik yang mematikan.“Dara,” ucapnya, membuka pintu lebar-lebar.“Aku khawatir kamu tidak akan datang setelah sidang hari ini,” katanya.“Justru karena sidang itulah aku datang,” kata Dara, masuk ke dalam ruangan. Dia membiarkan suaranya gemetar sedikit. “Aku melihat rekaman itu ... aku, … aku nggak tahu apa yang harus aku percayai lagi. Samuel bilang itu palsu, tapi ... terlihat sangat nyata.”Rendra mendekat, mencoba menyentuh lengannya, tetapi Dara menghindar dengan halus, berpura-pura gelisah dan berjalan ke sisi lain ruangan. “Itu karena videonya dibuat oleh profesional, Sayang,” ka

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 160

    Keesokan harinya, Dara menyamar sederhana dengan kacamata dan kerudung, duduk di barisan paling belakang ruang sidang yang dingin. Udara terasa kaku dan membuat Dara sedikit menggigil. Saat Rendra masuk dengan Samuel di sisinya, dia terlihat tenang, bahkan tersenyum kecil.Riani, di sisi lain, tampak menciut, wajahnya pucat lesu.Sidang berlangsung teknis. Pengacara Rendra, Samuel, dengan lihai memainkan narasi tentang konspirasi balas dendam oleh mantan klien yang punya kondisi tidak stabil. Dia memperlihatkan bukti-bukti digital yang seolah tak terbantahkan. Riwayat pesan ancaman dari Ben, transaksi mencurigakan ke rekening Riani, dan tentu saja, rekaman CCTV yang sudah Dara lihat.Namun saat hakim memberi kesempatan pada Riani berbicara, sesuatu yang tak terduga terjadi. Riani, dengan suara gemetar namun jelas, berkata. “Yang Mulia, saya punya satu bukti fisik yang belum diserahkan. Sesuatu yang . .. Pak Rendra tidak tahu saya memilikinya

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 159

    “Karena Pak Rendra peduli pada Anda,” jawab Samuel, menatapnya langsung. “Pak Rendra tahu Anda mungkin bertemu Bu Riani hari ini. Dia khawatir Anda termakan fitnah. Dia ingin Anda mendengar sisi lain, dari sisi klien saya sebelum mengambil kesimpulan.”“Jadi, semua ini ... foto saya dengan Rendra, foto suami saya di villa itu …  juga ulah Ben?”Samuel menghela napas tipis. “Kami sedang menyelidiki itu. Sangat mungkin. Motifnya jelas, untuk menghancurkan Pak Rendra dengan cara apapun. Dan menyerang orang-orang di sekitarnya adalah taktik klasik. Menyerang Anda dan suami Anda akan melemahkan dukungan sosial dan bisnis Pak Rendra.”Logika itu terdengar benar. Terlalu rapi. Tapi rekaman CCTV tadi. .. itu nyata. Riani berbohong padanya. Atau, Riani sendiri dibohongi oleh Ben.“Bagaimana dengan isu kekerasan yang beredar sebelumnya?” tanya Dara, mencoba mencari kebenarannya.“Gosip tak berdasar yang dibesar-besarkan ole

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 158

    Dara diam, menunggu kalimat selanjutnya.“Ada ... insiden. Dengan asistennya di klik,  sebelum dia menjalin hubungan dengan kamu, Mbak Dara. Saya melihatnya.” Riani menggigit bibirnya.“Itu bukan pertama kalinya dia melakukan itu. Saya memiliki bukti. Rekaman suara. Dokumen medis yang disembunyikan,” kata Riani.Seketika udara dingin menjalar di tulang belakang Dara. “Maksudnya, kekerasan?”Riani mengangguk cepat, matanya penuh ketakutan. “ Bukan hanya fisik, Mbak Dara. Tapi manipulasi, ancaman. Dia punya cara untuk ... membuat orang tidak bisa bicara sejujurnya.” Dia menatap Dara.“Dan saya tahu Mbak Dara dekat dengannya. Saya melihat caranya memandang Mbak Dara. Saya melihat bagaimana dia membicarakan tentang kamu.”Dara merasa tenggorokannya kering. “Kenapa kamu justru memberitahu saya tentang hal ini? Saya bahkan tidak ada hubungannya dengan masalah itu.”“Karena Anda orang yang san

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status