Share

147. Soal takdir

Penulis: Rossy Dildara
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 06:24:46

Mata Qiara sontak membulat lebar. Ucapan Mirna barusan benar-benar membuatnya terkejut sekaligus tersinggung.

Dadanya naik turun menahan emosi.

“Apa Nenek sedang mendoakanku meninggal, ikut menyusul istri pertama Om Bagas?” tanyanya dengan suara meninggi. Tatapannya berubah tajam, menusuk langsung ke arah wajah wanita tua itu.

Mirna langsung menggeleng cepat, terlihat sedikit panik karena ucapannya disalahartikan.

“Enggak, Qia. Nenek bukan mendoakanmu,” ujarnya buru-buru. “Nenek justru khawatir
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Najwa Alhuda
tambah lagi donk Thor update bab terbaru nya ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   186

    "Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja." Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah. Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu. Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba. Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan. "Bu Laura!" Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terd

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   185. Kai aku ambil

    "Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu.Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba.Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan."Bu Laura!"Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   184. Jangan, Om!

    Bau menyengat langsung tercium menusuk hidung. "Om ngapain?" suara Qiara langsung berubah tegang, nada khawatir bercampur ketakutan terdengar jelas. Dia berjalan cepat mendekati suaminya. "Itu bukannya bensin, ya?""Iya, Sayang." Jawaban Bagas terdengar santai. Bahkan terlalu santai untuk situasi yang begitu berbahaya dan gila ini.Tangannya kembali terangkat, hendak menyiramkan lagi—tapi dengan cepat Qiara menahannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat pergelangan tangan Bagas yang kekar, berusaha menghentikan aksi nekat itu."Terus kenapa Om siram? Bensin 'kan bahaya, Om. Kalau kena api bisa kebakar." Matanya memandang Bagas lekat-lekat, berharap suaminya sadar akan apa yang sedang dia lakukan.Bagas menoleh. "Justru Om ingin membakarnya."Degh!Jantung Qiara seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar."Om mau bakar rumah Ayah?" tanyanya lagi, berharap dia salah dengar."Iya." Bagas mengangguk mantap, tanpa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   183. 5 liter bensin

    "Mbak, aku mau pesan dua porsi soto ayam, dua air mineral, dan dua jus mangga. Di take away, ya," ucap Bagas pada kasir restoran."Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya."Kasir wanita itu segera mencatat pesanannya dengan cekatan, lalu mengetik cepat di mesin kasir untuk mentotalkan harga pembayaran.Sementara itu, Bagas merogoh dompetnya mengeluarkan sebuah blackcard berwarna hitam pekat, dan membayar dengan cepat tanpa menunggu struk pembayaran tercetak sepenuhnya.Setelah selesai, dia melangkah pergi menuju salah satu kursi kosong di sudut restoran yang agak sepi.Dia duduk. Sembari menunggu pesanan jadi, dia berniat menelepon asisten pribadi dulu.Panggilan tersambung dalam satu nada dering."Halo.""Halo, Bos, selamat siang." Suara asistennya terdengar ramah dan ceria dari seberang sana."Temui aku di restoran soto ayam yang baru buka, dekat pasar Teluk Gong, lalu bawakan bensin di dalam jerigen. 5 liter saja.""Mobil Bos kehabisan bensin?" tanya sang asisten, suaranya terdengar ragu."E

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   182. Kubakar saja

    Mata Dylan sontak membulat, jelas terkejut dengan pertanyaan istrinya. Sedikit pun, tak pernah terlintas di benaknya untuk melakukan hal sekejam itu—terlebih pada cucu pertamanya yang begitu dia sayangi."Bunda ini bicara apa? Kita nggak perlu melakukan tindakan gila seperti itu pada Kai, Kai nggak salah apa-apa di sini. Dia suci, dia nggak berdosa." Suaranya tegas, bahkan sedikit meninggi. Ada naluri melindungi yang begitu kuat dalam ucapannya."Iya, Bunda tau." Laura mengangguk pelan. Tatapannya melembut, namun pikirannya tetap bekerja.Sebetulnya dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Pertanyaan tadi… hanyalah cara untuk menggali isi hati suaminya."Tapi sekarang apa yang ingin Ayah lakukan pada Kai?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan, kali ini lebih tenang, lebih dalam.Dylan menggeleng tanpa ragu. "Nggak ada. Kai nggak perlu dibawa-bawa dalam masalah ini. Yang Ayah masalahkan hanya orang tuanya, hanya mereka, Bun." Nada suaranya mulai turun. Namun amarah itu—belum ben

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   181. Berhak marah

    Dylan tampak terdiam beberapa saat, memandangi mereka secara bergantian. Lalu bukannya menjawab permintaan maaf mereka, dia justru mendorong keduanya untuk melepaskan lututnya, setelah itu dia langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu.Bagas segera menyangga punggung Qiara, khawatir perempuan itu akan terjungkal.Melihat Dylan seperti hendak masuk ke dalam rumah, Qiara bergegas berlari menyusul."Ayah, kenapa Ayah masuk? Jawab dulu permintaan maaf dari ...." Ucapan Qiara belum selesai, tapi Dylan sudah keburu masuk dan menutup pintu sembari membantingnya.Brakk!!!"Astaghfirullah!!" Bagas tersentak, merasa kaget. Dia lalu mendekat ke arah Qiara, memeluknya lalu mengelus dada istrinya, khawatir perempuan itu kaget juga. "Kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang?""Ayah!" panggil Qiara, meraih gagang pintu. Saat diturunkan pintu itu justru telah terkunci dari dalam. "Kenapa dikunci pintunya, Ayah! Kita belum selesai bicara!" tambahnya berteriak."Dylan, apa-apaan kamu? Buka pintunya, Lan!" Ba

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   94. Surat gugatan

    Tubuh Maira seolah kehilangan penopang. Lututnya melemas, dan sebelum sempat menahan diri, tubuhnya ambruk ke lantai dengan bunyi pelan namun menyakitkan. Telapak tangannya refleks menopang lantai yang terasa dingin, sementara dadanya sesak—seperti diremas kuat-kuat oleh sesuatu yang tak terlihat.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   98. Kepala lima

    “Itu ….” “Mau siapapun yang duluan, intinya sama saja!” potong Dylan cepat ketika melihat Qiara terdiam terlalu lama. Kebingungan jelas terpancar di wajah putrinya, membuat Dylan tak ingin menyeretnya lebih jauh ke dalam situasi yang tidak nyaman. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menurunkan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   99. Tidak seberuntung itu

    “Kamu yang sabar ya, Qia ….” Maira mengelus punggung Qiara dengan lembut sambil memeluknya erat. Tubuh Qiara terasa hangat, tapi hatinya seperti dingin dan kosong. Perempuan itu baru saja menumpahkan semua kisah pahit tentang rumah tangganya yang hancur karena perselingkuhan suaminya—dan ironisny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   96. Bersekongkol

    Bilal mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya tampak lelah, redup, seolah semua penjelasan ini bukan baru pertama kali dia ucapkan—bahkan mungkin sudah terlalu sering dia ulangi di dalam kepalanya sendiri. Ada gurat putus asa yang sulit disembunyikan. “Nenek ini, kan sudah kujelaskan, kalau se

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status