Share

Bab 105

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2025-12-28 18:29:40

Lampu-lampu neon berpendar redup di dalam sebuah klub malam eksklusif yang terletak di pusat kota.

Dentuman musik elektronik terdengar teredam di balik dinding tebal ruang VIP, menciptakan suasana yang terasa mewah sekaligus menegangkan.

Di ruangan itu, sofa-sofa kulit hitam tertata rapi mengelilingi sebuah meja kaca rendah, sementara pencahayaan temaram sengaja diatur untuk menjaga privasi para pengunjungnya.

Clara melangkah masuk dengan hati-hati. Gaun hitam yang dikenakannya tampak kontras dengan raut wajahnya yang waspada.

Dia baru saja menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal yang memintanya datang ke tempat ini, tanpa penjelasan apa pun.

Awalnya dia ragu, namun rasa penasaran dan nada mendesak dalam pesan tersebut akhirnya mendorongnya untuk datang.

Begitu pintu ruang VIP tertutup di belakangnya, Clara langsung menghentikan langkah.

Di hadapannya, seorang pria duduk dengan santai, mengenakan setelan gelap dan kacamata hitam meski ruangan itu minim cahaya. Sosok itu tampak t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 119

    Sore itu, sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari gedung pengadilan tampak relatif lengang.Alunan musik instrumental yang lembut mengisi ruang, berpadu dengan aroma kopi yang menenangkan.Sophia duduk di salah satu meja dekat jendela, punggungnya tegak, raut wajahnya tegas tanpa sedikit pun senyum.Di hadapannya, Clara duduk dengan posisi tubuh agak membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di atas meja, menandakan kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan.Sejak awal pertemuan, suasana di antara mereka terasa kaku. Sophia tidak berniat memperpanjang percakapan yang menurutnya tidak perlu.Waktu dan energinya sudah terlalu banyak terkuras oleh persidangan, kebohongan, serta manipulasi yang silih berganti.Sophia menatap Clara lurus-lurus, lalu membuka percakapan dengan suara tenang namun dingin.“Aku tidak ingin bertele-tele,” ucapnya tegas. “Katakan langsung apa yang ingin kau bicarakan denganku.”Clara terkejut sejenak oleh ketegasan itu. Ia mengangguk kecil, menarik napas pan

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 118

    Dua minggu kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri kembali dipenuhi oleh suasana tegang yang menyesakkan.Deretan kursi kayu tampak terisi hampir penuh oleh para pengunjung yang ingin menyaksikan kelanjutan perkara besar yang melibatkan Mike, Sophia, serta sejumlah nama lain yang turut terseret.Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi tidak mampu menghangatkan atmosfer dingin yang menyelimuti ruangan itu.Hakim ketua memasuki ruang sidang dengan langkah mantap, diikuti oleh dua hakim anggota. Ketukan palu menggema, menandai dimulainya persidangan lanjutan.“Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum,” ucap hakim ketua dengan suara berat dan tegas.“Agenda persidangan hari ini adalah mendengarkan pembelaan terakhir dari pihak terdakwa.”Kuasa hukum Mike berdiri dari kursinya, merapikan jas hitam yang dikenakannya. Wajahnya tampak serius, seolah telah menyiapkan strategi terakhir untuk menyelamatkan kliennya dari jerat hukum yang semakin kuat.“Yang Mulia,” ujar

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 117

    Satu bulan kemudian, suasana di Pengadilan Negeri terasa jauh lebih tegang dibanding hari-hari biasa.Ruang sidang utama dipenuhi oleh pengunjung, awak media, serta beberapa pihak yang memiliki kepentingan dalam perkara besar yang kini menjadi perhatian publik.Kasus penyerangan, pemerasan, dan penipuan yang melibatkan Mike akhirnya memasuki sidang perdana.Sophia dan John hadir sejak pagi. Keduanya duduk berdampingan di bangku penggugat.Wajah Sophia tampak lebih tenang dibandingkan sebulan lalu, meskipun sorot matanya masih menyimpan kehati-hatian.John duduk di sampingnya dengan sikap tegap dan menggenggam tangan Sophia erat seolah ingin memastikan bahwa wanita itu tidak lagi merasa sendirian menghadapi semua ini.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua hadirin berdiri, lalu kembali duduk setelah hakim mempersilakan.Sidang pun dibuka secara resmi dengan ketukan palu yang terdengar nyaring dan tegas.Hakim ketua mulai membacakan perkara yang menjerat Mike deng

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 116

    Tiga hari kemudian, suasana apartemen John terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Cahaya matahari sore menembus tirai tipis ruang tengah, memantulkan nuansa hangat yang kontras dengan rangkaian peristiwa kelam yang baru saja mereka lewati.Sophia akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter setelah kondisinya dinyatakan stabil. Meski tubuhnya masih tampak sedikit lemah, wajahnya memperlihatkan ketenangan yang perlahan kembali.Saat itu, Sophia duduk di sofa ruang tengah dengan posisi bersandar, kedua tangannya bertumpu di atas pangkuannya.John duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup dekat, seolah ingin memastikan bahwa Sophia benar-benar baik-baik saja.Sejak mereka tiba di apartemen, John nyaris tidak melepaskan perhatiannya sedikit pun dari wanita itu.Beberapa saat mereka terdiam, menikmati ketenangan yang jarang hadir belakangan ini.Sophia kemudian menoleh ke arah John, menatap wajah pria itu dengan sorot mata penuh pertanyaan yang sejak tadi tertahan di

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 115

    Benny melangkah masuk ke dalam ruang kerja Raka dengan raut wajah yang penuh kegelisahan.Pria paruh baya itu tampak jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.Rambutnya yang sudah mulai memutih dibiarkan sedikit berantakan, sementara kedua matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.Dia menutup pintu dengan hati-hati, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Raka.Raka mengangkat wajahnya perlahan dari berkas-berkas di atas meja.Tatapannya datar, tanpa kehangatan, seolah sudah menebak maksud kedatangan Benny sejak awal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua lengannya terlipat di dada.“Raka,” ucap Benny dengan suara serak. “Aku datang kemari untuk memohon bantuanmu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Benny sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Keheningan beberapa detik itu terasa menekan.“Aku mohon,” lanjut Benny, suaranya semakin lirih. “Tolong bicaralah dengan John. Minta dia mencabu

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 114

    “Jadi benar, kau sedang hamil?” tanya Bianca dengan mata membola karena terkejut.Sophia menerbitkan cengiran tipis, sementara matanya berkilat oleh campuran rasa tak percaya dan haru.“Aku juga tidak tahu,” jawabnya pelan. “Sampai kemarin, aku benar-benar tidak menyadarinya.”Tangannya terangkat perlahan lalu mengusap perutnya yang masih rata. Sentuhan itu dilakukan dengan hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh namun berharga di dalam sana.“Aku tidak pernah membayangkan akan ada kehidupan di dalam tubuhku,” lanjut Sophia dengan nada lirih.“Semua ini bermula dari terapi, dari proses penyembuhan yang kupikir hanya akan membantuku berdiri kembali. Lalu entah bagaimana, aku terikat, jatuh cinta, dan sekarang … aku sedang mengandung bayi John.”Bianca menghela napas panjang seraya menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh perhatian. Dia kemudian duduk lebih dekat, lalu meraih tangan Sophia.“Kau harus menjaga kandunganmu dengan sangat baik,” katanya lembut namun tegas. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status