Share

Bab 104

Penulis: Leona Valeska
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 00:17:04

Waktu sudah menunjuk angka lima sore.

Aruna melangkah perlahan menghampiri Raka yang tengah berdiri di dekat jendela ruang kerja rumah mereka.

Pria itu menatap ke luar dengan kedua tangan bersedekap di dada, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Cahaya sore menembus kaca jendela, memantulkan bayangan samar di lantai marmer yang mengilap. Suasana di ruangan itu terasa sunyi, namun sarat dengan ketegangan yang belum terucap.

“Raka,” panggil Aruna pelan, namun cukup untuk membuat suaminya menoleh.

Raka memutar tubuhnya setengah menghadap Aruna. Tatapannya tertuju pada wajah sang istri dengan sorot mata penuh ingin tahu, meski bibirnya tetap terkatup rapat.

Dia tidak mengucapkan satu kata pun, tetapi Aruna tahu benar bahwa suaminya menanti penjelasan.

“Aku sudah bertemu dengan Sophia,” ucap Aruna tenang. “Aku sudah berbicara dengannya secara langsung.”

Raka sedikit mengernyit, tetapi tetap diam. Dia kembali menatap lurus ke depan, seolah berusaha menyembunyikan reaksi batinnya.

Aruna
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 113

    Suasana kantor kepolisian pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Di salah satu ruang tahanan, Mike kini telah resmi ditahan.Wajahnya terlihat pucat, sorot matanya kosong, jauh berbeda dari sikap arogan yang selama ini ia tunjukkan.Borgol membelit kedua pergelangan tangannya, menjadi penanda bahwa segala perbuatannya tidak lagi dapat ia sangkal.Proses hukum telah berjalan, dan kali ini ia tidak memiliki ruang untuk melarikan diri.Sementara itu, di sisi lain kota, John berada di kantor kuasa hukumnya.Sebuah ruangan bernuansa profesional dengan dinding berwarna netral dan rak-rak tinggi berisi berkas perkara menjadi saksi keseriusan langkah yang kini ia ambil.Di hadapannya, sebuah meja kerja dipenuhi map-map tebal yang tersusun rapi. Setiap map berisi bukti yang telah John kumpulkan dengan cermat dan teliti selama beberapa waktu terakhir.John duduk dengan punggung tegak, ekspresinya tenang namun sorot matanya menyiratkan keteguhan yang tidak bisa digoyahkan.Di seberang meja,

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 112

    Ruang keluarga di rumah itu mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang mengendap di udara.John berdiri tegak di hadapan kedua orang tuanya, sementara Raka dan Aruna duduk berseberangan di sofa panjang berwarna gelap.Keheningan yang semula tercipta pecah seketika ketika John dengan suara mantap mengutarakan pengakuannya.“Sophia sedang hamil.”Kalimat itu meluncur tenang dari bibir John, namun dampaknya seolah menghantam ruangan dengan keras.Raka langsung menganga, matanya membelalak tak percaya.Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, seolah membutuhkan penopang agar tidak goyah oleh kenyataan yang baru saja didengarnya.“Hamil …?” gumam Raka dengan pelan, lebih kepada dirinya sendiri.Aruna, yang sejak awal menatap John dengan wajah serius, justru tampak lebih cepat memulihkan diri. Ia menoleh pada Raka, lalu kembali menatap John.“Kalau begitu,” katanya tegas, “tidak ada alasan lagi untuk menunda. Kau harus

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 111

    Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela ruang rawat, menyinari bangsal dengan kehangatan yang lembut.Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul tujuh tepat.Suasana rumah sakit yang biasanya dipenuhi kesibukan kini terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi pemulihan Sophia yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi setengah duduk.Di hadapannya, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan sarapan sederhana namun bergizi.John duduk di sisi ranjang, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang digulung hingga siku.Di tangannya terdapat sendok kecil yang berisi bubur hangat. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi Sophia, memastikan wanita itu tidak tergesa saat menelan makanan.“Pelan-pelan,” ucap John dengan nada lembut. “Jangan dipaksakan. Tubuhmu masih membutuhkan banyak energi untuk pulih.”Sophia menurut. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyah dengan tenang.Tatapannya sesekali tertuju pada John yang s

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 110

    Beberapa jam setelah menjalani penanganan intensif, suasana di ruang rawat Sophia mulai terasa lebih tenang.Lampu-lampu redup memantulkan cahaya lembut ke dinding putih bangsal, sementara bunyi alat monitor terdengar stabil dan teratur.John berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang perlahan mulai berubah warna.Wajahnya tampak letih, tetapi matanya masih menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya reda.Tanpa disadari John, jari-jari Sophia bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka dengan hati-hati.Pandangannya sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami di mana dirinya berada.Saat matanya menangkap sosok John yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, bibirnya bergerak pelan.“John …?” panggil Sophia dengan suara lirih, hampir tak terdengar.Namun, suara itu cukup untuk membuat John tersentak. Ia spontan menoleh dan matanya membelalak sebelum langkah kakinya segera menghampiri

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 109

    Ambulans berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat rumah sakit. Pintu belakang terbuka dengan cepat, dan Sophia segera dipindahkan ke atas brankar oleh tim medis yang telah bersiap.Tubuhnya terbaring lemah, wajahnya pucat, sementara noda darah masih terlihat jelas meski telah diberi penanganan awal.John berjalan di samping brankar itu dengan langkah tergesa, matanya tak lepas dari wajah Sophia yang tak sadarkan diri.Setibanya di dalam ruang IGD, Sophia langsung dibawa masuk ke ruang penanganan intensif.Tirai ditutup, pintu didorong hingga menutup rapat, meninggalkan John sendirian di lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Ia berhenti melangkah, kemudian bersandar pada dinding. Perlahan, John memejamkan matanya.Bayangan darah yang mengalir di paha Sophia kembali terlintas jelas di benaknya. Dadanya terasa sesak, napasnya berat.Sebagai seorang dokter, pikirannya segera dipenuhi kemungkinan-kemungkinan medis yang paling ia takuti.“Apakah Sophia sedang hamil?” gumam

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 108

    Sophia menoleh ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja kerja. Layar menyala menampilkan nama John.Senyum tipis segera terukir di wajahnya, senyum yang lahir dari rasa hangat dan rindu yang tak perlu ia sembunyikan. Ia meraih ponsel itu tanpa ragu dan segera menerima panggilan tersebut.“Halo,” ucap Sophia lembut. “Kau sangat merindukanku, hm? Baru juga aku hendak menutup butik, kau sudah menghubungiku.”Di seberang sana, John terkekeh pelan. Nada suaranya terdengar ringan, berbeda dari ketegangan yang akhir-akhir ini sering mewarnai hari-hari mereka.“Apa aku tidak boleh merindukanmu?” balasnya. “Aku sedang di jalan. Aku akan menjemputmu.”Sophia melirik jam dinding di ruang kerjanya. “Baiklah,” katanya. “Aku akan bersiap-siap. Tidak lama lagi aku selesai.”Setelah mengakhiri panggilan, Sophia menarik napas lega. Ia berdiri, lalu menutup beberapa tirai yang menghadap ke etalase butik.Cahaya lampu luar perlahan terhalang, meninggalkan suasana yang lebih redup dan tenang. Ia mera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status