Share

Bab 7

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2025-11-05 10:47:40

“Apa kau gila? Mana mungkin aku berciuman denganmu,” sahut Sophia dengan mata membulat dan napasnya yang tiba-tiba terasa memburu usai mendengar ucapan John barusan.

Pria itu menyunggingkan senyum tipis. “Aku hanya ingin kau belajar memahami tubuhmu. Belajar kapan rasa takut itu muncul. Dan kalau kau ingin memahaminya, kadang kau perlu menghadapi sumbernya.”

“Denganmu?” ucapnya dengan nada datar.

“Siapa lagi yang lebih aman daripada seseorang yang tahu batasnya?” bisiknya seolah tengah menghipnotis Sophia agar mengikuti perintahnya.

Meski ucapan itu terdengar tenang, tapi justru membuat Sophia semakin bingung.

Bagian rasional dirinya tahu, ini seharusnya murni terapi.

Namun bagian lain—bagian yang sudah lama dia tekan, mengatakan bahwa yang sedang terjadi jauh melampaui itu.

John melangkah satu langkah mendekat. Aromanya kembali memenuhi ruang kecil itu yang begitu samar, hangat, menenangkan, tapi memabukkan.

“Ketakutanmu muncul setiap kali seseorang mencoba mendekat secara fisik,” ujarnya pelan. “Bukan karena kau tidak ingin, tapi karena tubuhmu menolak kehilangan kendali.”

Dia menatapnya dengan pandangan yang terlalu lembut untuk disebut profesional.

“Ciuman bukan sekadar kontak bibir, Sophia. Itu bahasa antara dua jiwa yang pernah saling mengenal. Mungkin tubuhmu hanya lupa cara berbicara dengan bahasa itu.”

Sophia menggeleng dengan cepat. “John, ini—ini bukan bagian dari terapi—”

“Tentu saja tidak,” katanya, namun langkahnya justru mendekat lagi. “Tapi mungkin bagian dari prosesmu untuk mengenali apa yang sebenarnya kau rasakan.”

Ia berhenti tepat di hadapan Sophia. Sekarang jarak mereka begitu dekat hingga napasnya terasa di kulit wajah Sophia. Tatapannya tajam dan lekat sampai membuat Sophia membeku dibuatnya.

Sophia ingin mundur, tapi kakinya tak bergerak. Ia tahu seharusnya menghentikan ini.

Tapi bagian kecil dalam dirinya justru ingin tahu seperti apa rasanya, tapi bukan Mike yang menyentuhnya, melainkan seseorang dari masa lalunya, seseorang yang dulu membuatnya percaya bahwa cinta bisa terasa aman.

Tanpa menunggu jawaban, John mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sophia. Awalnya Sophia membolakan matanya.

Namun, saat lidah John terulur masuk ke dalam mulutnya, Sophia merasakan gelanyar aneh yang berhasil membangkitkan gairahnya. Hingga ciuman pun berlangsung cukup panas.

Tangan Sophia yang semula gemetar, kini mencengkeram lengan John yang masih mencium bibirnya.

“Umh ….”

John menyunggingkan senyum tipis di antara ciuman itu ketika mendengar suara desahan keluar dari mulut Sophia.

“John …,” suaranya nyaris hilang dibawa angin.

John melepaskan bibirnya dari ciuman itu dan menatap Sophia dengan jarak yang masih sangat dekat, bahkan terlalu dekat.

“Apa kau mengeluarkan desahan ketika berciuman dengan Mike saat itu?” bisiknya dengan pelan.

Sophia menggeleng dengan pelan. “Tidak. Bahkan membalas ciumannya pun tidak.”

Mata mereka kembali bertemu. Dan dalam keheningan yang panjang itu, dunia seolah berhenti berputar. John menarik wajah Sophia kembali dan melumat bibirnya dengan penuh.

Kali ini, bahkan suara isapan menguar di dalam ruangan itu. John melumatnya lebih dalam dan cukup liar hingga membuat Sophia mendesah berulang kali.

Namun, ciuman itu tidak bisa berlangsung lama sebelum ketukan pintu terdengar. Sophia langsung melepaskan ciuman itu dan mendorong tubuh John agar menjauh.

John menutup matanya sejenak untuk menenangkan diri, lalu berkata dengan suara datar, “Masuk.”

Asisten klinik muncul di ambang pintu dan menunduk sopan. “Maaf, Dokter. Janji dengan pasien berikutnya sudah menunggu.”

John hanya mengangguk. “Terima kasih, berikan aku dua menit lagi.”

Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening. Sophia menundukkan kepalanya sambil menatap tangannya sendiri yang bergetar halus.

Ia tidak tahu apa yang barusan terjadi. Namun, dia tahu satu hal: batas antara terapi dan sesuatu yang lebih dalam sudah mulai kabur.

John berdiri di hadapan wanita itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Sophia?” panggilnya dengan pelan.

Sophia menoleh pelan menatap John. Bibirnya terasa berdenyut, bengkak, dan merah. Bahkan pipinya masih panas karena teringat ciuman yang baru saja mereka lakukan tadi.

“Sampai jumpa di sesi terapi berikutnya. Kau bisa mencobanya nanti dengan Mike. Seperti tadi.”

Sophia terdiam sambil menatap wajah John yang tampak tenang, kontras dengan dirinya yang masih membeku, kaku, bahkan panas dingin.

“Aku tidak tahu. Apakah bisa melakukan ini dengannya atau tidak.”

John tersenyum tipis seraya menatap lekat wajah Sophia. "Kalau begitu, aku akan dengan senang hati membuat hasratmu hidup dengan cara tadi."

John mengusapi bibir Sophia yang masih bengkak itu lalu berbisik, "... atau bahkan lebih dari ini." 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 115

    Benny melangkah masuk ke dalam ruang kerja Raka dengan raut wajah yang penuh kegelisahan.Pria paruh baya itu tampak jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.Rambutnya yang sudah mulai memutih dibiarkan sedikit berantakan, sementara kedua matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.Dia menutup pintu dengan hati-hati, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Raka.Raka mengangkat wajahnya perlahan dari berkas-berkas di atas meja.Tatapannya datar, tanpa kehangatan, seolah sudah menebak maksud kedatangan Benny sejak awal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua lengannya terlipat di dada.“Raka,” ucap Benny dengan suara serak. “Aku datang kemari untuk memohon bantuanmu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Benny sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Keheningan beberapa detik itu terasa menekan.“Aku mohon,” lanjut Benny, suaranya semakin lirih. “Tolong bicaralah dengan John. Minta dia mencabu

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 114

    “Jadi benar, kau sedang hamil?” tanya Bianca dengan mata membola karena terkejut.Sophia menerbitkan cengiran tipis, sementara matanya berkilat oleh campuran rasa tak percaya dan haru.“Aku juga tidak tahu,” jawabnya pelan. “Sampai kemarin, aku benar-benar tidak menyadarinya.”Tangannya terangkat perlahan lalu mengusap perutnya yang masih rata. Sentuhan itu dilakukan dengan hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh namun berharga di dalam sana.“Aku tidak pernah membayangkan akan ada kehidupan di dalam tubuhku,” lanjut Sophia dengan nada lirih.“Semua ini bermula dari terapi, dari proses penyembuhan yang kupikir hanya akan membantuku berdiri kembali. Lalu entah bagaimana, aku terikat, jatuh cinta, dan sekarang … aku sedang mengandung bayi John.”Bianca menghela napas panjang seraya menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh perhatian. Dia kemudian duduk lebih dekat, lalu meraih tangan Sophia.“Kau harus menjaga kandunganmu dengan sangat baik,” katanya lembut namun tegas. “

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 113

    Suasana kantor kepolisian pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Di salah satu ruang tahanan, Mike kini telah resmi ditahan.Wajahnya terlihat pucat, sorot matanya kosong, jauh berbeda dari sikap arogan yang selama ini ia tunjukkan.Borgol membelit kedua pergelangan tangannya, menjadi penanda bahwa segala perbuatannya tidak lagi dapat ia sangkal.Proses hukum telah berjalan, dan kali ini ia tidak memiliki ruang untuk melarikan diri.Sementara itu, di sisi lain kota, John berada di kantor kuasa hukumnya.Sebuah ruangan bernuansa profesional dengan dinding berwarna netral dan rak-rak tinggi berisi berkas perkara menjadi saksi keseriusan langkah yang kini ia ambil.Di hadapannya, sebuah meja kerja dipenuhi map-map tebal yang tersusun rapi. Setiap map berisi bukti yang telah John kumpulkan dengan cermat dan teliti selama beberapa waktu terakhir.John duduk dengan punggung tegak, ekspresinya tenang namun sorot matanya menyiratkan keteguhan yang tidak bisa digoyahkan.Di seberang meja,

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 112

    Ruang keluarga di rumah itu mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang mengendap di udara.John berdiri tegak di hadapan kedua orang tuanya, sementara Raka dan Aruna duduk berseberangan di sofa panjang berwarna gelap.Keheningan yang semula tercipta pecah seketika ketika John dengan suara mantap mengutarakan pengakuannya.“Sophia sedang hamil.”Kalimat itu meluncur tenang dari bibir John, namun dampaknya seolah menghantam ruangan dengan keras.Raka langsung menganga, matanya membelalak tak percaya.Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, seolah membutuhkan penopang agar tidak goyah oleh kenyataan yang baru saja didengarnya.“Hamil …?” gumam Raka dengan pelan, lebih kepada dirinya sendiri.Aruna, yang sejak awal menatap John dengan wajah serius, justru tampak lebih cepat memulihkan diri. Ia menoleh pada Raka, lalu kembali menatap John.“Kalau begitu,” katanya tegas, “tidak ada alasan lagi untuk menunda. Kau harus

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 111

    Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela ruang rawat, menyinari bangsal dengan kehangatan yang lembut.Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul tujuh tepat.Suasana rumah sakit yang biasanya dipenuhi kesibukan kini terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi pemulihan Sophia yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi setengah duduk.Di hadapannya, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan sarapan sederhana namun bergizi.John duduk di sisi ranjang, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang digulung hingga siku.Di tangannya terdapat sendok kecil yang berisi bubur hangat. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi Sophia, memastikan wanita itu tidak tergesa saat menelan makanan.“Pelan-pelan,” ucap John dengan nada lembut. “Jangan dipaksakan. Tubuhmu masih membutuhkan banyak energi untuk pulih.”Sophia menurut. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyah dengan tenang.Tatapannya sesekali tertuju pada John yang s

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 110

    Beberapa jam setelah menjalani penanganan intensif, suasana di ruang rawat Sophia mulai terasa lebih tenang.Lampu-lampu redup memantulkan cahaya lembut ke dinding putih bangsal, sementara bunyi alat monitor terdengar stabil dan teratur.John berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang perlahan mulai berubah warna.Wajahnya tampak letih, tetapi matanya masih menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya reda.Tanpa disadari John, jari-jari Sophia bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka dengan hati-hati.Pandangannya sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami di mana dirinya berada.Saat matanya menangkap sosok John yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, bibirnya bergerak pelan.“John …?” panggil Sophia dengan suara lirih, hampir tak terdengar.Namun, suara itu cukup untuk membuat John tersentak. Ia spontan menoleh dan matanya membelalak sebelum langkah kakinya segera menghampiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status