Accueil / Romansa / Sentuh Aku, Pak! / 02. Tinggal Bareng?

Partager

02. Tinggal Bareng?

last update Date de publication: 2021-08-10 12:26:16

Carla dan pria yang belum di ketahui namanya itu duduk berhadapan di meja makan, suasana mendadak intens dan mencengkam sejak keduanya memutuskan untuk berdiskusi empat mata.

Pria itu sudah memberi penjelasan kepada Carla maksud kedatangannya dan memutuskan untuk tinggal di flat. Jelas Carla langsung menentangnya, ia juga memberi tau pria itu kalau Misel sudah meminjamkan flat ini kepadanya. Tapi pria itu tetap kekeh dan mengklaim kalau flat ini milik sepupunya, jadi ia juga berhak untuk tinggal di flat.

"Gak bisa, aku yang lebih dulu tinggal di sini, Kak Misel juga udah meminjamkan flat ini ke aku!" Carla langsung cari pembelaan. Dia tidak mau angkat kaki begitu saja setelah dua tahun lamanya menetap dan merawat flat milik Misel.

Sebelumnya Carla tinggal di flat minimalis itu bersama Misel, tapi satu bulan lalu Misel harus terbang ke Manchester untuk melanjutkan studinya di sana. Misel bahkan tidak mengatakan apapun tentang sepupunya yang akan tinggal di flat, kedatangan pria itu sangat mengejutkannya.

"Tapi saya sepupunya Misel, jadi saya juga berhak tinggal di sini. Lagi pula kamar di flat ini ada dua, jadi kita gak perlu merebutkan kamar, kan?"

"Maksud kamu?" Kening Carla mulai di banjiri keringat dingin.

"Kita bisa tinggal bareng, kamu di kamar 1, saya di kamar 2."

Carla langsung cengo. Mulutnya terbuka lebar, terkejut dengan ucapan pria itu barusan.

Tinggal bareng?

Carla menggelengkan kepala, itu mimpi buruk! ia bahkan tidak pernah sekalipun membayangkan akan berbagi atap dengan pria asing yang sangat...tampan. Lupakan soal visual! Carla memukul kepalanya, di saat genting seperti ini daya pikat pria itu tidak boleh menggoyahkan tekadnya. Bagaimanapun caranya ia harus membuat pria itu segera angkat kaki dari flat ini.

"Tinggal bareng? kamu bercanda?"

Mendengar pertanyaan Carla, pria itu menaikkan satu alisnya, "Lebih baik seperti itu, atau kamu yang mau pindah dari flat ini? Saya gak larang kalau mau kamu begitu." ujar pria itu dengan santainya.

Carla tidak habis pikir, bagaimana bisa pria itu berkata dengan penuh percaya diri seolah ia akan melepaskan flat ini begitu saja?

Carla menyilangkan kakinya, wajahnya yang semula mengendur kini ia pertegas, memberi tanda kepada pria itu kalau ia bukan wanita yang bisa diperlakukan seenaknya. Meski ia tidak memiliki hubungan darah apapun dengan Misel, tapi tetap saja, ia yang lebih dulu menempati flat ini bahkan sejak dua tahun lalu.

"Begini...maaf ya, pak, aku udah tinggal di sini dari dua tahun lalu. Ya, memang mau seberapa lama pun aku tinggal di sini, itu gak penting. Tapi, Kak Misel udah meminjamkan flat ini ke aku, Kak Misel juga bilang kalau aku bisa tempatin flat ini sampai kapanpun aku mau." jelas Carla membuat pria itu terperangah tak percaya. Bukan terperangah karena pembelaan gadis itu, ia terperangah karena baru saja Carla memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.

"Nama saya Savian, dan saya belum setua itu untuk dipanggil bapak!" sungut Savian mengoreksi. Ia menatap Carla jengkel, beberapa menit lalu di kira kurir paket, lalu sekarang gadis itu memanggilnya 'Pak'.

Baru kali ini ada wanita yang membuat percaya diri Savian menyurut. Biasanya Savian selalu percaya diri di hadapan wanita karena para wanita selalu menatapnya dengan sorot mata penuh puja, tapi dimata Carla aura Savian yang kental dengan sejuta pesona jadi tak ada nilainya.

"Okay, Pak Savian, jadi gimana penjelasan aku tadi, udah ngertikan?"

"Savian. Gak pake pak!" Satu kali lagi Savian tekankan.

Carla mengidikan pundaknya tak peduli, ia tidak merasa bersalah karena menurutnya sudah sepantasnya ia memanggil pria itu dengan sebutan 'Pak'. Karena walaupun tampan, tapi sangat jelas terlihat kalau usia Savian sudah memasuki kepala tiga.

"Jadi gimana, Savian?"

Savian melipat kedua tangannya di depan dada, sorot elangnya menatap Carla menantang.

"Gimana apanya? Saya akan tetap tinggal di sini. Kalau kamu yang mau pergi, ya silakan."

Habis sudah kesabaran Carla, ia menggeram lalu menggebrak meja membuat Savian tertegun seketika. Dengan wajah yang sudah merah padam, Carla bangkit dari duduknya, ia berlari masuk kedalam kamar dan kembali dengan ponsel digenggaman.

"Aku telepon Kak Misel, biar Kak Misel yang putusin siapa yang berhak buat tinggal di flat ini!" ujar Carla sambil sibuk mengutak-atik ponselnya.

Savian mengangkat kepalanya tinggi - tinggi, ia sudah sangat percaya diri kalau Misel tentu akan memilihnya, secara dia dan Misel sepupuan, bahkan saat Misel umur 5 tahun Savian pernah satu kali menyebokin wanita yang sekarang berprofesi sebagai Psikiater itu.

"Hallo, Car?" suara Misel langsung terdengar setelah bunyi panggilan pertama. Carla sengaja mengaktifkan loud speaker agar Savian juga mendengar percakapannya dengan Misel.

"Hallo, Kak. Aku ganggu gak?"

"Gak dong, ada apa?"

"Sel, ini gue Savian." Tiba-tiba Savian merampas ponsel dari tangan Carla, membuat Carla menggeram sesaat lalu membiarkan Savian yang memegang ponselnya.

"Savian?! lo di Jakarta sekarang?" Suara Misel langsung naik saat oktaf, ia terdengar excited setelah Savian mengambil alih ponsel milik Carla.

Carla mengangguk samar, jadi pria yang membuatnya naik tensi namun tampan itu bernama Savian. Sementara Savian mendengus, ia merasakan jengkel mendengar Misel memanggilnya tanpa embel-embel kakak atau abang, padahal umur mereka terpaut lumayan jauh.

"Ya, minggu depan gue mulai kerja di tempat baru."

"Loh, jadi beneran lo pindah?"

Praktis Savian mengangguk meski lawan bicara virtualnya tidak melihat anggukannya itu, "Ya, dan karena gua butuh tempat tinggal, jadi gue putusin buat tinggal di flat lo."

Carla memicingkan matanya tajam kearah Savian, kenapa cara bicara pria itu seakan memaksa? Padahal tujuan ia menelepon Misel untuk meminta keputusan dari yang memegang kuasa penuh atas flat yang mereka rebutkan.

"WHAT?! Lo gak lihat di flat gue ada anak gadis?"

Mata Savian langsung melirik kearah Carla, ia tersenyum miring lalu mendekatkan bibirnya ke ponsel, "Makanya gue jadi makin pengen tinggal di sini." bisiknya diiringi dengan seringai tipis.

Carla yang tak paham dengan ucapan Savian cuma berdecak kesal.

"Vi, Vi, tobat lo!" sentak Misel, "Gue udah pinjamin itu flat ke Carla, jadi kalau lo mau tinggal di sana lo minta izinnya ke Carla, bukan ke gue!"

Carla menunduk menyembunyikan tawanya, ia tak kuat menahan geli saat melihat wajah blank Savian setelah mendengar jawaban tak terduga dari Misel.

"Mana Carla, gue mau ngomong sama dia." tambah Misel, Savian langsung menyodorkan ponselnya ke Carla dengan wajah yang sudah masam. Harapannya untuk tinggal di flat bersama Carla telah Misel hempaskan dalam sekejap.

"Kenapa, Kak?" Carla bertanya sambil beranjak menjauh dari Savian.

"Car, sorry ya, Savian juga gak bilang apa-apa sama aku kalau dia mau datang ke Jakarta." kata Misel dengan nada bersalahnya.

Misel sudah menduga kalau kedatangan mendadak Savian pasti membuat kekacauan di flat pagi ini, apa lagi setelah mendengar pernyataan pria itu ingin tinggal di flatnya. Misel yakin Savian pasti membuat Carla berkeringat dingin. Beruntung Carla memilih keputusan yang tepat untuk meneleponnya.

"Aku yang minta maaf karena kayaknya aku gak bisa izinin dia tinggal di sini... Kakak kan tau kalau aku..."

"It's okay, itu hak kamu, Car." sela Misel mencoba menenangkan karena suara Carla sedikit gemetar.

"Aku udah serahin flat itu ke kamu, jadi sekarang keputusannya ada di kamu. Lagian Savian gak bakal jadi gelandangan di jalan walaupun kamu gak izinin dia tinggal di flat." tambah Misel sambil terkekeh kecil.

Carla ikut terkekeh paksa, dan perlahan ia terdiam. Carla jadi merasa tidak enak buat mengusir Savian karena Misel memperlakukan dengan begitu baik.

"Tapi, Kak, aku jadi gak enak." cicit Carla.

"Gak enak kenapa?" tanya Misel, "Mau nyoba tantangan baru gak, Car?" imbuhnya.

"Maksudnya, Kak?"

"Gimana kalau kamu kasih kesempatan Savian buat nginap satu atau dua hari, dan lihat gimana reaksi tubuh kamu."

Carla menggigit bibir bawahnya cemas. Tantangan dari Misel memancing adrenalin jantungnya. Ia takut, tapi ingin mencoba yang Misel katakan.

"Savian gak akan ngelakuin hal yang sama kayak yang kakak tiri aku lakukan ke aku 'kan, Kak?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (14)
goodnovel comment avatar
Ita Azza
ceritanya semakin menarik
goodnovel comment avatar
Amiril Musilm
lagi ngapain
goodnovel comment avatar
Mmh Pauji
lanjut dong
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 40. Check-in

    Ide menginap itu muncul dari Keina.Bukan direncanakan, tidak ada yang direncanakan dari hari ini sejak awal. Tapi ketika matahari mulai turun dan langit berubah jadi gradasi jingga kemerahan yang membuat Keina tidak sanggup memalingkan matanya, dia menoleh ke Kahfi dan berkata dengan sangat sederhana.“Mas, kita bisa enggak, enggak pulang malam ini?”Kahfi menatapnya.“Aku mau lihat mataharinya tenggelam.” lanjut Keina. “Dan kalau bisa, lihat langit malamnya juga dari sini.”Kahfi tidak menjawab langsung. Matanya beralih ke cakrawala sebentar, langit yang memang sedang sangat layak untuk ditonton, lalu kembali ke Keina."Sebentar saya pesan villa." jawabnya tanpa pikir panjang."Tapi kan kita enggak bawa baju ganti, Mas?""Kita beli nanti."Keina menyengir.Villa yang Kahfi pesan bukan yang mewah, hanya villa kecil dengan satu kamar, teras menghadap laut, dan dinding putih yang terasa bersih dan tenang. Cukup untuk dua orang yang tidak berencana kemana-mana.Mereka mampir ke minimark

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 39. Weekend dan Laut

    Keina tidak langsung menjawab.Matanya masih berlinang, bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam di dalam dada. Sesuatu yang hangat, yang berat, yang makin hari makin susah untuk berpura-pura tidak ada.Kahfi yang rela meninggalkan karirnya. Kahfi yang memikirkan Keina bahkan sebelum Keina sempat memikirkan dirinya sendiri.Orang macam apa ini.“Mas.” suara Keina keluar sedikit serak.“Hmm?” Kahfi mengambil sendoknya, mulai makan dengan tenang, seperti baru saja tidak mengucapkan sesuatu yang membalikkan semua yang Keina pikir dia tahu tentang pernikahan ini.“Mas serius?”“Saya tidak pernah bilang sesuatu yang tidak serius.”Keina menatap profil suaminya dari samping, rahang yang tegas, mata yang fokus ke piring di depannya, tangan yang bergerak teratur. Tidak ada gurat keraguan di sana. Tidak ada ekspresi seseorang yang baru saja berkorban besar.Kahfi mengatakannya seperti itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Pindah ke Jakarta.

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 38. Promil?

    Enam hari berselang usai dirinya resmi menjadi budak korporat, akhirnya pagi ini Keina bisa kembali merasakan yang namanya bangun siang. Lebih tepatnya, gadis itu ketiduran lagi usai sholat subuh. Begitu sepasang matanya terbuka, Keina langsung duduk tegak. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan suaminya yang entah dimana."Mas." panggil Keina dengan rasa cemas. Entahlah, bangun tidur tanpa melihat batang hidung suaminya kini menjadi hal asing untuk gadis itu. Tak mendengar jawaban dari Kahfi, buru-buru Keina turun dari ranjang, dia berjalan keluar dari kamar seraya mengikat asal rambutnya menjadi satu bagian. Gadis itu menghembuskan napas lega tatkala mendapati Kahfi yang sudah duduk di sofa ruang tengah seraya sibuk dengan iPadnya disana."Mas," panggil Keina mendudukan dirinya tepat di samping Kahfi. "Lho, sudah bangun?" Kahfi mengalihkan fokusnya dari layar iPad. Dia tersenyum tipis melihat Keina yang tanpa izin menyesap kopi miliknya. "Aku kira mas keman

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 37. Feedback Pak Manajer

    Selasa pagi, Keina datang tujuh menit lebih awal dari hari sebelumnya.Bukan karena dia lebih siap, tapi karena Kahfi berangkat lebih awal dan otomatis menurunkannya lebih awal juga. Alhasil Keina berdiri di depan gedung Prominent dengan kopi susu sachet di tangan yang dia beli dari minimarket seberang, menatap pintu lobby yang belum terlalu ramai.Lift ke lantai tujuh. Ruangan Humas masih sepi, hanya Bagas yang sudah duduk di mejanya, headphone besar menutup telinganya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Keina duduk di mejanya. Menghidupkan komputer. Membuka catatan dari hari kemarin. Perutnya sudah terisi penuh, jadi dia tidak perlu sarapan lebih dulu sebelum memulai hari keduanya bekerja di sini.Tepat pukul delapan pagi, ruangan sudah penuh dan ramai dengan suaranya masing-masing.Nara mengetik sambil sesekali bergumam pada layarnya sendiri. Tiara mengedit sesuatu dengan headphone menutup telinganya. Reno sedang menelepon klien dengan nada yang sangat profesional tapi s

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 36. "Nanti Disaat Yang Tepat

    Lift terbuka di lantai dasar. Keina mengikuti langkah Kahfi keluar dari gedung, tapi baru tiga langkah dari pintu lobby, Kahfi berhenti.“Tunggu di sini sebentar.” ujarnya tanpa menoleh.Keina berdiri di dekat tiang lobby, menonton Kahfi yang berjalan menuju area parkir dengan langkah yang sama seperti biasanya, teratur, tidak terburu-buru. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat, dan Kahfi membalasnya dengan anggukan yang sama.Keina menyandarkan punggungnya ke tiang, menatap langit Surabaya yang mulai berubah warna jingga di ujung barat. Hari ini, hari yang sejak Minggu malam membuatnya tidak bisa tidur, hari yang dia bayangkan akan jadi malapetaka, ternyata tidak seburuk itu.Mobil Kahfi berhenti tepat di depannya dua menit kemudian. Kaca jendela turun.“Naik.”Keina membuka pintu penumpang, melempar tasnya ke jok belakang, dan duduk dengan helaan napas panjang yang sudah dia tahan sejak tadi.“Capek?” tanya Kahfi sambil mengemudi keluar dari area parkir.“Lum

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 35. Day 1 Menjadi Budak Korporat

    Minggu malam, Keina tidak bisa tidur untuk kedua kalinya dalam seminggu.Tapi kali ini alasannya berbeda dari malam sebelum interview. Kalau dulu dia takut gagal, sekarang dia takut berhasil. Atau lebih tepatnya, takut dengan semua konsekuensi dari keberhasilan itu. Besok. Hari pertama kerja. Ya, jumat sore Keina mendapatkan kabar dari HRD kalau mulai hari senin dia sudah bisa masuk kerja. Keina menatap langit-langit kamar, menghitung ulang hal-hal yang sudah dia siapkan. Baju sudah digantung di luar lemari, blazer putih tulang dan celana bahan hitam, pilihan yang sudah dia finalisasi setelah tiga kali ganti pikiran sejak Jumat. Tas sudah dipack dari tadi sore. Alarm sudah diset jam lima pagi. Sudah siap. Harusnya. “Na.” Suara Kahfi terdengar rendah, setengah mengantuk. Keina menoleh. “Mas belum tidur?” “Susah tidur kalau ada orang yang bolak-balik di sebelah.” jawab Kahfi dengan mata masih terpejam. “Aku gak bolak-balik.” Keina membela diri. “Aku cuma… ganti posisi beberapa ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status