LOGINAroma kopi dan roti bakar yang menyeruak pagi ini membuat Carla terbangun dari tidurnya. Seakan terhipnotis, wanita itu langsung keluar dari dalam kamar dengan mata yang masih sayup-sayup terbuka. Savian yang tengah menyeruput kopi sambil membaca koran di pantry langsung terperengah dan tersenyum lebar melihat Carla yang baru keluar dari kamarnya hanya mengenakan oversized t-shirt lengkap dengan wajah bangun tidurnya yang menggemaskan, tapi terlihat seksi di mata Savian.
Savian bersiul, matanya masih menatap Carla dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai. Pikirannya mulai berkelana saat melihat paha mulus Carla yang terpampang nyata di depan sana, belum lagi sesuatu yang tercetak di dada gadis itu. Sial, Savian merasa ada yang menegang di bawah perutnya. Savian menyeringai, nakal sekali gadis itu berani menggoda imannya di pagi hari begini.
"Wow, sexy!" celetuk Savian seraya menggigit bibir bawahnya tergoda.
Mendengar suara mahluk lain, kening Carla mengernyit, spontan kedua matanya terbuka lebar lalu berteriak saat sadar dan mendapati Savian yang menatapnya dengan pandangan ingin menerkam. Carla menjerit lalu berlari masuk kedalam kamar, sementara Savian terperengah lagi, ia tidak percaya melihat respon Carla yang berlebihan, wanita itu seolah habis melihat mahluk astral di siang bolong. Padahal yang Carla lihat adalah pria tampan yang menggoda iman.
Carla berteriak kesal, ia berdiri menyender pada daun pintu kamarnya. Gadis itu masih terkejut namun mencoba mengumpulkan ingatannya. Sedetik kemudian Carla menepuk jidat, ia lupa kalau kemarin mengizinkan Savian menginap. Carla menggaruk rambutnya kesal sambil merutuki dirinya yang pelupa, apa lagi tadi ia keluar hanya mengenakan baju kebesaran dan celana dalam.
"Arghhh!!!" geram Carla frustrasi.
Carla menarik napas dalam, berniat ingin mengontrol diri tapi malah tidak sengaja mengendus aroma kopi yang membuat air liurnya menyeces. Pagi tanpa kopi adalah perusak suasana hati, maka dari itu Carla langsung berjalan kearah lemari pakaian, mengambil celana panjang longgar dari dalam sana lalu memakainya, setelah itu Carla berdiri di depan pantulan kaca, merapikan penampilan dirinya sejenak sebelum kembali keluar dari kamar.
Demi secangkir kopi di pagi hari, Carla melupakan kejadian memalukan beberapa menit lalu dimana dia keluar hanya memakai baju kebesaran dan celana dalam.
"Morning!" Savian langsung menyapa. Pria itu menarik napas lega melihat Carla yang kini sudah berpakaian lebih baik dari sebelumnya. Kalau seperti ini ia jadi merasa tidak kepanasan sendirian.
"Ngopi, Car." tambah Savian sambil menunjukan secangkir kopi di tangan. Carla mengangguk kecil sebagai respons.
Dengan percaya diri Carla berjalan menuju pantry, ia berdiri di samping Savian kemudian sibuk membuat kopi instan favoritnya, mata Carla mencuri lirikan ke cangkir kopi milik Savian yang tinggal tersisa setengah, ia lantas berdecih sinis karena ternyata Savian menyeduh kopi instan miliknya tanpa izin lebih dulu.
"Kopinya enak juga, ya!" celetuk Savian yang sadar dengan lirikan Carla barusan.
"Rotinya juga enak, kan?" sahut Carla menyindir. Ia tau kalau Savian tadi memakan rotinya juga. Carla tidak masalah jika saja Savian izin lebih dulu, karena meskipun flat ini milik Misel, tetap saja bahan pangannya Carla yang beli.
Savian tersenyum tipis, punggungnya ia sandarkan pada meja pantry, sementara tatapannya masih terpaku pada wajah polos Carla, "Sebagai gantinya, makan siang nanti saya traktir." Usulnya mengambil langkah pertama pendekatan. Savian tidak munafik, Carla cantik dan gadis itu masuk ke dalam kriteria wanita idamannya, wajahnya menggemaskan tapi setiap lihat lekuk tubuhnya membuat pikiran Savian menjadi liar.
"No, thanks!" jawab Carla seraya mengaduk kopinya. Carla sudah terbiasa menghadapi modus-modus buaya muara. Walaupun jomblo dari lahir, tapi bukan berarti tidak ada pria yang mencoba mendekatinya, bahkan Carla sudah menolak lebih dari sepuluh pria yang menginginkan ia untuk menjadi pacarnya.
Savian kembali menyeruput kopinya sambil bergeser diam-diam mendekat pada Carla, meskipun pantry pagi ini dipenuhi dengan aroma kopi, tapi aroma tubuh Carla juga menggugah indra penciumannya, wangi Vanilla yang menyeruak dari tubuh gadis itu membuat Savian ingin menghirup aromanya lebih dalam dan dekat.
Sayangnya, baru setengah langkah kecil Savian ambil, Carla langsung menyadarinya, "Kok kayaknya kamu semakin dekat, ya?" tebak Carla menatap Savian penuh selidik.
Yang di tanya buang muka, pura-pura tidak melakukan apapun, "Perasaan kamu saja kali, saya dari tadi diam." jawab Savian. Carla berdecak, kemudian beranjak pergi ke sofa sambil membawa kopinya.
Menghindar adalah jurus terampuh untuk tidak meladeni tingkah Savian, berinteraksi dengan Savian hanya membuatnya emosi, jadi lebih baik Carla duduk elegan di depan televisi seraya menikmati kopi.
Tapi sayang, Savian tidak kenal kata menyerah, dengan santai Savian mendudukan diri di samping Carla, membuat Carla spontan bergeser menyisakan jarak di antara mereka. Savian menoleh, agak tersinggung melihat Carla yang seakan menghindarinya.
"Saya bau ketek, ya?" tanya Savian sambil mengendus-endus ketiaknya sendiri. Habisnya dari tadi Savian perhatikan Carla terus menjauh darinya. Padahal wanita lain di luar sana berlomba-lomba ingin berdekatan dengannya.
Carla menatap malas kearah Savian, dia mengangkat pundak tak perduli kemudian kembali fokus pada layar televisi.
"Omong-omong, kamu belum cuci muka dan gosok gigi loh." ujar Savian berhasil membuat Carla menoleh lagi kearahnya. "Gosok gigi sana!" lanjut Savian memberi perintah.
"Dih, ngatur." sahut Carla, ia bergidik menatap Savian yang dengan enteng memberinya perintah. Memangnya pria itu siapa? seenak jidat mengaturnya!
"Walaupun kamu cantik, tapi kalau jorok, tetap saja bikin pria ilfeel."
Carla terdiam, memandang Savian dengan tatapan dalam dan menelisik. Kemana perginya Savian yang kemarin? Savian yang berwajah angkuh dan tidak banyak bicara. Pria itu cepat sekali beradaptasi dan menunjukan jati diri yang sebenarnya.
Tak mendengar balasan dari Carla, Savian memilih untuk bertanya, "Kok Misel bisa tahan ya tinggal bareng kamu?"
"Karena aku dan Kak Misel satu frekuensi. Kita sama-sama gak perduli dan gak mengurusi urusan orang lain, gak kayak kamu, laki tapi bawel dan suka ngatur!" ketus Carla, Misel itu tidak ada bedanya dengan Carla, sama-sama cuek dan keras kepala. Karena kata Misel, kunci bahagia itu tidak mementingkan omongan dan urusan orang lain.
Savian merentangkan tangannya, meletakannya di belakang pundak sempit Carla. "Saya ini aslinya gak banyak bicara, kalau sama kamu saya jadi bawel, berarti ada yang berbeda dari kamu."
"Dih, apaan banget!" Carla bergidik lagi, bukannya baper sama omongan Savian, Carla malah geli.
"Kamu sudah punya pacar?" Seakan tak melihat wajah Carla yang sudah jengah mendengar omongannya, Savian terus bersuara, yang sebenarnya sangat mengganggu Carla.
"Serius deh, aku paling gak suka banget sama orang yang banyak omong!" Carla tekankan sekali lagi.
"Ya sudah, nanti saya buat kamu suka. Suka sama saya dan kebawelan saya."
Ide menginap itu muncul dari Keina.Bukan direncanakan, tidak ada yang direncanakan dari hari ini sejak awal. Tapi ketika matahari mulai turun dan langit berubah jadi gradasi jingga kemerahan yang membuat Keina tidak sanggup memalingkan matanya, dia menoleh ke Kahfi dan berkata dengan sangat sederhana.“Mas, kita bisa enggak, enggak pulang malam ini?”Kahfi menatapnya.“Aku mau lihat mataharinya tenggelam.” lanjut Keina. “Dan kalau bisa, lihat langit malamnya juga dari sini.”Kahfi tidak menjawab langsung. Matanya beralih ke cakrawala sebentar, langit yang memang sedang sangat layak untuk ditonton, lalu kembali ke Keina."Sebentar saya pesan villa." jawabnya tanpa pikir panjang."Tapi kan kita enggak bawa baju ganti, Mas?""Kita beli nanti."Keina menyengir.Villa yang Kahfi pesan bukan yang mewah, hanya villa kecil dengan satu kamar, teras menghadap laut, dan dinding putih yang terasa bersih dan tenang. Cukup untuk dua orang yang tidak berencana kemana-mana.Mereka mampir ke minimark
Keina tidak langsung menjawab.Matanya masih berlinang, bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam di dalam dada. Sesuatu yang hangat, yang berat, yang makin hari makin susah untuk berpura-pura tidak ada.Kahfi yang rela meninggalkan karirnya. Kahfi yang memikirkan Keina bahkan sebelum Keina sempat memikirkan dirinya sendiri.Orang macam apa ini.“Mas.” suara Keina keluar sedikit serak.“Hmm?” Kahfi mengambil sendoknya, mulai makan dengan tenang, seperti baru saja tidak mengucapkan sesuatu yang membalikkan semua yang Keina pikir dia tahu tentang pernikahan ini.“Mas serius?”“Saya tidak pernah bilang sesuatu yang tidak serius.”Keina menatap profil suaminya dari samping, rahang yang tegas, mata yang fokus ke piring di depannya, tangan yang bergerak teratur. Tidak ada gurat keraguan di sana. Tidak ada ekspresi seseorang yang baru saja berkorban besar.Kahfi mengatakannya seperti itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Pindah ke Jakarta.
Enam hari berselang usai dirinya resmi menjadi budak korporat, akhirnya pagi ini Keina bisa kembali merasakan yang namanya bangun siang. Lebih tepatnya, gadis itu ketiduran lagi usai sholat subuh. Begitu sepasang matanya terbuka, Keina langsung duduk tegak. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan suaminya yang entah dimana."Mas." panggil Keina dengan rasa cemas. Entahlah, bangun tidur tanpa melihat batang hidung suaminya kini menjadi hal asing untuk gadis itu. Tak mendengar jawaban dari Kahfi, buru-buru Keina turun dari ranjang, dia berjalan keluar dari kamar seraya mengikat asal rambutnya menjadi satu bagian. Gadis itu menghembuskan napas lega tatkala mendapati Kahfi yang sudah duduk di sofa ruang tengah seraya sibuk dengan iPadnya disana."Mas," panggil Keina mendudukan dirinya tepat di samping Kahfi. "Lho, sudah bangun?" Kahfi mengalihkan fokusnya dari layar iPad. Dia tersenyum tipis melihat Keina yang tanpa izin menyesap kopi miliknya. "Aku kira mas keman
Selasa pagi, Keina datang tujuh menit lebih awal dari hari sebelumnya.Bukan karena dia lebih siap, tapi karena Kahfi berangkat lebih awal dan otomatis menurunkannya lebih awal juga. Alhasil Keina berdiri di depan gedung Prominent dengan kopi susu sachet di tangan yang dia beli dari minimarket seberang, menatap pintu lobby yang belum terlalu ramai.Lift ke lantai tujuh. Ruangan Humas masih sepi, hanya Bagas yang sudah duduk di mejanya, headphone besar menutup telinganya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Keina duduk di mejanya. Menghidupkan komputer. Membuka catatan dari hari kemarin. Perutnya sudah terisi penuh, jadi dia tidak perlu sarapan lebih dulu sebelum memulai hari keduanya bekerja di sini.Tepat pukul delapan pagi, ruangan sudah penuh dan ramai dengan suaranya masing-masing.Nara mengetik sambil sesekali bergumam pada layarnya sendiri. Tiara mengedit sesuatu dengan headphone menutup telinganya. Reno sedang menelepon klien dengan nada yang sangat profesional tapi s
Lift terbuka di lantai dasar. Keina mengikuti langkah Kahfi keluar dari gedung, tapi baru tiga langkah dari pintu lobby, Kahfi berhenti.“Tunggu di sini sebentar.” ujarnya tanpa menoleh.Keina berdiri di dekat tiang lobby, menonton Kahfi yang berjalan menuju area parkir dengan langkah yang sama seperti biasanya, teratur, tidak terburu-buru. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat, dan Kahfi membalasnya dengan anggukan yang sama.Keina menyandarkan punggungnya ke tiang, menatap langit Surabaya yang mulai berubah warna jingga di ujung barat. Hari ini, hari yang sejak Minggu malam membuatnya tidak bisa tidur, hari yang dia bayangkan akan jadi malapetaka, ternyata tidak seburuk itu.Mobil Kahfi berhenti tepat di depannya dua menit kemudian. Kaca jendela turun.“Naik.”Keina membuka pintu penumpang, melempar tasnya ke jok belakang, dan duduk dengan helaan napas panjang yang sudah dia tahan sejak tadi.“Capek?” tanya Kahfi sambil mengemudi keluar dari area parkir.“Lum
Minggu malam, Keina tidak bisa tidur untuk kedua kalinya dalam seminggu.Tapi kali ini alasannya berbeda dari malam sebelum interview. Kalau dulu dia takut gagal, sekarang dia takut berhasil. Atau lebih tepatnya, takut dengan semua konsekuensi dari keberhasilan itu. Besok. Hari pertama kerja. Ya, jumat sore Keina mendapatkan kabar dari HRD kalau mulai hari senin dia sudah bisa masuk kerja. Keina menatap langit-langit kamar, menghitung ulang hal-hal yang sudah dia siapkan. Baju sudah digantung di luar lemari, blazer putih tulang dan celana bahan hitam, pilihan yang sudah dia finalisasi setelah tiga kali ganti pikiran sejak Jumat. Tas sudah dipack dari tadi sore. Alarm sudah diset jam lima pagi. Sudah siap. Harusnya. “Na.” Suara Kahfi terdengar rendah, setengah mengantuk. Keina menoleh. “Mas belum tidur?” “Susah tidur kalau ada orang yang bolak-balik di sebelah.” jawab Kahfi dengan mata masih terpejam. “Aku gak bolak-balik.” Keina membela diri. “Aku cuma… ganti posisi beberapa ka







