Beranda / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 33. Siksaan di Mata Sang Elang

Share

33. Siksaan di Mata Sang Elang

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 23:05:30

Di luar aula utama Paviliun Kaca Kusam, matahari menjelang siang bersinar terik, mengusir sisa-sisa embun dari dedaunan. Namun, di sudut teras barat yang terhalang dari pandangan, suhu udara terasa sedingin gletser abadi.

​Chu Renshu berdiri mematung membelakangi dinding, bersembunyi di balik bayangan pilar kayu jati raksasa.

​Sebagai seorang prajurit bayangan yang dilatih untuk mendeteksi bahaya dari jarak puluhan tombak, pendengaran Renshu jauh lebih tajam dari manusia biasa. Dan hari ini, ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Renshu!   74. Kabut Ungu di Akhir Badai

    BRUK! KLONTANG!​Suara pedang dan tombak yang dijatuhkan ke atas lantai batu bergema bersahut-sahutan. Barisan infanteri Teratai Merah yang tersisa di halaman utama Nanzhou menatap ngeri pada gumpalan daging dan organ dalam jenderal mereka yang kini terbelah dua. Semangat tempur mereka yang tadinya berkobar angkuh, kini hancur lebur ditelan teror absolut.​"Mundur! Jenderal telah tewas!" jerit seorang perwira Yanze dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. "Iblis itu membelahnya! Lari! Tinggalkan benteng ini!"​Kepanikan menyebar layaknya wabah penyakit mematikan. Ribuan prajurit elit yang tersisa berbalik arah, berdesakan memperebutkan jalan keluar melewati puing-puing gerbang selatan. Mereka saling dorong, saling injak, melupakan formasi dan kebanggaan kekaisaran demi menyelamatkan nyawa dari sabetan pedang sang prajurit raksasa. Pasukan Yanze hancur dan mundur. ​Dari atas menara komando yang tinggi, Liying menatap pemandangan memalukan itu dengan senyum sinis. Asap pertempuran

  • Sentuh Aku, Renshu!   73. Tarian Jarum dan Pembantaian Sang Iblis

    ​KRAAAT! BOOOM!​Suara kayu oak setebal setengah meter yang patah dan hancur berkeping-keping terdengar layaknya petir yang menyambar tepat di telinga. Badai debu dan serpihan batu bata menyembur ke udara. Gerbang selatan jebol. Pertahanan lapis pertama Nanzhou yang selama berjam-jam dibombardir oleh mesin pelontar batu raksasa akhirnya runtuh sepenuhnya. ​Pasukan Yanze merangsek masuk. ​"Hancurkan pertahanan mereka!" raung seorang komandan Yanze, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Bantai semua pria dan seret Putri Liying hidup-hidup ke hadapan Putra Mahkota!"​"Maju! Nanzhou sudah takluk di bawah Teratai Merah!" sorak ribuan infanteri lapis baja yang berdesakan masuk seperti air bah ke halaman dalam benteng. Mereka mengira kemenangan sudah berada di dalam genggaman.​Namun, Liying telah memperhitungkan jatuhnya gerbang selatan tersebut sejak malam sebelumnya. Begitu musuh masuk, mereka dipaksa memecah formasi untuk menyusuri lorong-lorong batu sempit di dalam markas.​Di bagian

  • Sentuh Aku, Renshu!   72. Gendang Perang Teratai Merah

    ​DUM! DUM! DUM!​Suara tabuhan gendang perang yang menggetarkan dada itu merobek kabut fajar perbatasan selatan. Dari atas tembok pertahanan Benteng Nanzhou yang sedingin es, Liying menatap lurus ke arah lautan manusia yang perlahan menelan cakrawala. Pasukan barisan depan Bojing tiba. Ribuan panji berwarna merah pekat dengan lambang naga Teratai Merah berkibar angkuh di bawah langit mendung, seolah membawa serta aroma kematian yang mencekik udara. ​Chu Renshu berdiri tepat setengah langkah di depan Liying. Tubuh besarnya yang terbalut zirah baja bertindak sebagai perisai hidup bagi sang Putri. Tangan prajurit itu bertumpu pada gagang pedangnya, rahangnya mengeras menahan insting predator yang mendidih di dalam pembuluh darahnya.​Seorang jenderal musuh berkuda maju ke depan formasi. Suaranya yang diperkuat oleh tenaga dalam menggema ke seluruh lembah.​"Atas titah Putra Mahkota Bojing! Buka gerbang Nanzhou dan serahkan Putri Liying sekarang juga!" teriak jenderal itu dengan nada me

  • Sentuh Aku, Renshu!   71. Ujian Baja dan Pelukan Panas

    Udara di dalam ruang peta Markas Militer Nanzhou terasa sangat pengap. Tumpukan perkamen, laporan logistik, dan peta topografi berserakan menutupi permukaan meja kayu ek yang panjang. Dua hari sebelum pasukan Bojing tiba, Liying tidak tidur selama tiga hari mengurus strategi dan logistik. ​"Meilin, panah beracun yang kau buat, bagikan kepada regu pemanah sayap kiri," perintah Liying. Suaranya serak dan parau, namun ketegasannya tak memudar. "Mereka akan menembak dari atas tebing."​Tabib Meilin mengangguk pelan, menyodorkan secangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul. "Sudah hamba atur, Tuan Putri. Tapi Anda harus meminum ini. Wajah Anda pucat pasi." ​Liying menepis cangkir teh itu. Ia beralih menatap Xiaoxiao yang berdiri di sudut ruangan. "Bagaimana dengan emas rampasan dari pasar budak?" ​"Seratus ribu keping emas telah dibagikan kepada para komandan tentara bayaran, Yang Mulia," lapor Xiaoxiao cepat. "Moral pasukan sedang berada di puncak. Mereka bersiap memblokir gerba

  • Sentuh Aku, Renshu!   70. Surat Darah dari Teratai Merah

    Langit di atas Benteng Nanzhou mendung pekat, seolah alam pun tahu bahwa masa tenang yang singkat itu telah berakhir. Angin selatan bertiup membawa debu kering menyapu halaman utama Markas Militer saat suara terompet peringatan berbunyi nyaring dari atas menara pengawas.​Tempo kedamaian mereka melesat hancur dalam sekejap. Pintu gerbang utama dipaksa terbuka untuk memberi jalan bagi sekelompok penunggang kuda yang datang dengan arogansi tinggi. Mereka mengenakan zirah berwarna merah gelap berlambang naga, warna kebesaran Istana Teratai Merah.​Di balkon lantai dua markas, Putri Liying berdiri menatap kedatangan rombongan itu dengan rahang mengeras. Di sisinya, Chu Renshu menatap tajam ke arah bawah, tangannya secara instingtif beristirahat di atas gagang pedang bajanya.​Gubernur Militer Wei dan beberapa perwiranya bergegas turun ke halaman utama untuk menyambut. Sebagai warlord yang bermain dua kaki, Gubernur Wei berusaha mempertahankan senyum diplomatisnya.​"Utusan dari Ibu Kota,

  • Sentuh Aku, Renshu!   69. Racun Industri dan Warisan Sang Jenderal

    Aroma belerang dan herbal pahit yang menyengat menenggelamkan bau anyir darah di paviliun sayap utara. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kertas, menerangi Meilin yang sedang menggerutu pelan. Jari-jari telaten wanita itu mengoleskan pasta tulang berwarna hitam pekat ke bahu kiri Xiaoxiao yang masih memar keunguan."Tahan sedikit," tegur Meilin tajam, menekan perban kain dengan sedikit tenaga. "Sudah kubilang bahu kirimu ini butuh waktu untuk pulih setelah dislokasi paksa. Kau malah keluyuran semalaman memimpin operasi pembersihan!""Aku hanya memakai tangan kananku untuk menjentikkan jarum semalam, Kak Meilin," kekeh Xiaoxiao, adik bungsu Renshu itu, sama sekali tidak terlihat kesakitan meski bahunya dibebat ketat. "Lagipula, para prajurit garda depan Nanzhou yang melakukan tebasannya. Aku hanya berdiri di atas atap dan mengawasi."Pintu kayu bergeser terbuka, menampilkan sosok Liying yang melangkah masuk. Aura sang Putri tak lagi memancarkan keputusasaan seperti di ibu kota;

  • Sentuh Aku, Renshu!   67. Tunduk pada Sang Putri

    Udara di dalam Aula Utama Markas Militer Nanzhou terasa sangat padat dan mencekik. Mata Gubernur Militer Wei menatap gulungan dokumen di atas meja, lalu perlahan beralih menatap Liying. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu berkedut samar. Di balik wajahnya yang tegang, Gubernur Wei berniat lici

  • Sentuh Aku, Renshu!   65. Ciuman Darah dan Tarian Setara

    Bibir mereka masih menyatu dalam pagutan lapar saat sebuah desingan tajam membelah udara hutan yang sunyi.​Insting tempur Chu Renshu yang sangat tajam bereaksi secepat kilat. Pria tegap itu melepaskan pinggang Liying, memutar tubuh gadis itu ke belakang punggungnya, dan menangkap sebuah pisau lemp

  • Sentuh Aku, Renshu!   64. Luka Sang Prajurit

    Sinar matahari pagi menyusup perlahan menembus celah rimbunnya kanopi hutan selatan, mengusir sisa-sisa badai yang mengamuk semalaman. Udara terasa beku dan pekat oleh aroma tanah basah serta dedaunan pinus.​Liying membuka matanya perlahan. Hawa panas yang menemaninya sepanjang malam kini telah men

  • Sentuh Aku, Renshu!   63. Api Unggun dan Pakaian Basah

    ​Hutan belantara selatan menyambut pelarian mereka dengan kekejaman alam yang tak kenal ampun. Pepohonan purba yang menjulang tinggi seolah menjadi jeruji penjara kayu yang mengurung mereka dalam kegelapan. Malam pertama mereka di hutan belantara selatan itu diiringi oleh hujan lebat yang mengguyur

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status