Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 72. Gendang Perang Teratai Merah

Share

72. Gendang Perang Teratai Merah

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-06-27 04:07:20

​DUM! DUM! DUM!

​Suara tabuhan gendang perang yang menggetarkan dada itu merobek kabut fajar perbatasan selatan. Dari atas tembok pertahanan Benteng Nanzhou yang sedingin es, Liying menatap lurus ke arah lautan manusia yang perlahan menelan cakrawala. Pasukan barisan depan Bojing tiba. Ribuan panji berwarna merah pekat dengan lambang naga Teratai Merah berkibar angkuh di bawah langit mendung, seolah membawa serta aroma kematian yang mencekik udara.

​Chu Renshu berdiri tepat setengah langkah d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   74. Kabut Ungu di Akhir Badai

    BRUK! KLONTANG!​Suara pedang dan tombak yang dijatuhkan ke atas lantai batu bergema bersahut-sahutan. Barisan infanteri Teratai Merah yang tersisa di halaman utama Nanzhou menatap ngeri pada gumpalan daging dan organ dalam jenderal mereka yang kini terbelah dua. Semangat tempur mereka yang tadinya berkobar angkuh, kini hancur lebur ditelan teror absolut.​"Mundur! Jenderal telah tewas!" jerit seorang perwira Yanze dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. "Iblis itu membelahnya! Lari! Tinggalkan benteng ini!"​Kepanikan menyebar layaknya wabah penyakit mematikan. Ribuan prajurit elit yang tersisa berbalik arah, berdesakan memperebutkan jalan keluar melewati puing-puing gerbang selatan. Mereka saling dorong, saling injak, melupakan formasi dan kebanggaan kekaisaran demi menyelamatkan nyawa dari sabetan pedang sang prajurit raksasa. Pasukan Yanze hancur dan mundur. ​Dari atas menara komando yang tinggi, Liying menatap pemandangan memalukan itu dengan senyum sinis. Asap pertempuran

  • Sentuh Aku, Renshu!   73. Tarian Jarum dan Pembantaian Sang Iblis

    ​KRAAAT! BOOOM!​Suara kayu oak setebal setengah meter yang patah dan hancur berkeping-keping terdengar layaknya petir yang menyambar tepat di telinga. Badai debu dan serpihan batu bata menyembur ke udara. Gerbang selatan jebol. Pertahanan lapis pertama Nanzhou yang selama berjam-jam dibombardir oleh mesin pelontar batu raksasa akhirnya runtuh sepenuhnya. ​Pasukan Yanze merangsek masuk. ​"Hancurkan pertahanan mereka!" raung seorang komandan Yanze, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Bantai semua pria dan seret Putri Liying hidup-hidup ke hadapan Putra Mahkota!"​"Maju! Nanzhou sudah takluk di bawah Teratai Merah!" sorak ribuan infanteri lapis baja yang berdesakan masuk seperti air bah ke halaman dalam benteng. Mereka mengira kemenangan sudah berada di dalam genggaman.​Namun, Liying telah memperhitungkan jatuhnya gerbang selatan tersebut sejak malam sebelumnya. Begitu musuh masuk, mereka dipaksa memecah formasi untuk menyusuri lorong-lorong batu sempit di dalam markas.​Di bagian

  • Sentuh Aku, Renshu!   72. Gendang Perang Teratai Merah

    ​DUM! DUM! DUM!​Suara tabuhan gendang perang yang menggetarkan dada itu merobek kabut fajar perbatasan selatan. Dari atas tembok pertahanan Benteng Nanzhou yang sedingin es, Liying menatap lurus ke arah lautan manusia yang perlahan menelan cakrawala. Pasukan barisan depan Bojing tiba. Ribuan panji berwarna merah pekat dengan lambang naga Teratai Merah berkibar angkuh di bawah langit mendung, seolah membawa serta aroma kematian yang mencekik udara. ​Chu Renshu berdiri tepat setengah langkah di depan Liying. Tubuh besarnya yang terbalut zirah baja bertindak sebagai perisai hidup bagi sang Putri. Tangan prajurit itu bertumpu pada gagang pedangnya, rahangnya mengeras menahan insting predator yang mendidih di dalam pembuluh darahnya.​Seorang jenderal musuh berkuda maju ke depan formasi. Suaranya yang diperkuat oleh tenaga dalam menggema ke seluruh lembah.​"Atas titah Putra Mahkota Bojing! Buka gerbang Nanzhou dan serahkan Putri Liying sekarang juga!" teriak jenderal itu dengan nada me

  • Sentuh Aku, Renshu!   71. Ujian Baja dan Pelukan Panas

    Udara di dalam ruang peta Markas Militer Nanzhou terasa sangat pengap. Tumpukan perkamen, laporan logistik, dan peta topografi berserakan menutupi permukaan meja kayu ek yang panjang. Dua hari sebelum pasukan Bojing tiba, Liying tidak tidur selama tiga hari mengurus strategi dan logistik. ​"Meilin, panah beracun yang kau buat, bagikan kepada regu pemanah sayap kiri," perintah Liying. Suaranya serak dan parau, namun ketegasannya tak memudar. "Mereka akan menembak dari atas tebing."​Tabib Meilin mengangguk pelan, menyodorkan secangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul. "Sudah hamba atur, Tuan Putri. Tapi Anda harus meminum ini. Wajah Anda pucat pasi." ​Liying menepis cangkir teh itu. Ia beralih menatap Xiaoxiao yang berdiri di sudut ruangan. "Bagaimana dengan emas rampasan dari pasar budak?" ​"Seratus ribu keping emas telah dibagikan kepada para komandan tentara bayaran, Yang Mulia," lapor Xiaoxiao cepat. "Moral pasukan sedang berada di puncak. Mereka bersiap memblokir gerba

  • Sentuh Aku, Renshu!   70. Surat Darah dari Teratai Merah

    Langit di atas Benteng Nanzhou mendung pekat, seolah alam pun tahu bahwa masa tenang yang singkat itu telah berakhir. Angin selatan bertiup membawa debu kering menyapu halaman utama Markas Militer saat suara terompet peringatan berbunyi nyaring dari atas menara pengawas.​Tempo kedamaian mereka melesat hancur dalam sekejap. Pintu gerbang utama dipaksa terbuka untuk memberi jalan bagi sekelompok penunggang kuda yang datang dengan arogansi tinggi. Mereka mengenakan zirah berwarna merah gelap berlambang naga, warna kebesaran Istana Teratai Merah.​Di balkon lantai dua markas, Putri Liying berdiri menatap kedatangan rombongan itu dengan rahang mengeras. Di sisinya, Chu Renshu menatap tajam ke arah bawah, tangannya secara instingtif beristirahat di atas gagang pedang bajanya.​Gubernur Militer Wei dan beberapa perwiranya bergegas turun ke halaman utama untuk menyambut. Sebagai warlord yang bermain dua kaki, Gubernur Wei berusaha mempertahankan senyum diplomatisnya.​"Utusan dari Ibu Kota,

  • Sentuh Aku, Renshu!   69. Racun Industri dan Warisan Sang Jenderal

    Aroma belerang dan herbal pahit yang menyengat menenggelamkan bau anyir darah di paviliun sayap utara. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kertas, menerangi Meilin yang sedang menggerutu pelan. Jari-jari telaten wanita itu mengoleskan pasta tulang berwarna hitam pekat ke bahu kiri Xiaoxiao yang masih memar keunguan."Tahan sedikit," tegur Meilin tajam, menekan perban kain dengan sedikit tenaga. "Sudah kubilang bahu kirimu ini butuh waktu untuk pulih setelah dislokasi paksa. Kau malah keluyuran semalaman memimpin operasi pembersihan!""Aku hanya memakai tangan kananku untuk menjentikkan jarum semalam, Kak Meilin," kekeh Xiaoxiao, adik bungsu Renshu itu, sama sekali tidak terlihat kesakitan meski bahunya dibebat ketat. "Lagipula, para prajurit garda depan Nanzhou yang melakukan tebasannya. Aku hanya berdiri di atas atap dan mengawasi."Pintu kayu bergeser terbuka, menampilkan sosok Liying yang melangkah masuk. Aura sang Putri tak lagi memancarkan keputusasaan seperti di ibu kota;

  • Sentuh Aku, Renshu!   62. Titik putar

    "Kita tidak kembali ke jalan yang sama. Kita membelah hutan belantara ini seratus delapan puluh derajat," ucap Liying, menunjuk ke arah rimbunnya hutan gelap yang membentang di sisi kiri mereka. Hutan yang sama sekali tidak memiliki jalur setapak. "Kita menuju ujung paling selatan Yanze."​Mata Mei

  • Sentuh Aku, Renshu!   61. Jalan Buntu

    Hujan badai mengguyur tanpa ampun, menghantam bumi bagai ribuan jarum es yang dijatuhkan dari langit gelap. Derak guruh bersahut-sahutan membelah malam, menenggelamkan suara ringkikan kuda yang kelelahan.​Sudah dua hari dua malam mereka memacu kuda tanpa henti. Beristirahat hanya untuk memberi min

  • Sentuh Aku, Renshu!   60. Meninggalkan belenggu

    Lonceng distrik berbunyi. Pasukan elit dari barak utama akan segera mengepung tempat ini," ucap Renshu cepat, kembali pada mode tempurnya. Ia menoleh ke arah dua gadis di belakang Liying. Meilin sedang memapah Xiaoxiao yang meringis menahan sakit akibat lengannya yang dislokasi. "Kita tidak punya w

  • Sentuh Aku, Renshu!   59. Hancurnya Neraka Teratai Merah

    Suara bariton Chu Renshu yang bergetar penuh ancaman menggema hebat, memecah kebekuan di dalam ruang bawah tanah yang lembap itu. Belasan Pasukan Elit Teratai Merah yang tengah berkerumun di anak tangga seketika tersentak. Mata mereka beralih dari tubuh Putra Mahkota Bojing yang kejang-kejang di la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status