Accueil / Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 04. Antara Ingatan Kabur dan Godaan Baru

Share

Bab 04. Antara Ingatan Kabur dan Godaan Baru

Auteur: eslesta
last update Dernière mise à jour: 2025-12-10 16:43:03

Setelah berhasil melewati satu sarapan paling canggung di apartemen sahabatnya itu, Jennar akhirnya pamit. Jarum jam tepat menunjuk angka delapan ketika ia mencondongkan tubuh, mencium pipi Alexa, lalu menarik napas panjang sebelum meraih sepatu haknya.

“Lo yakin nggak mau diantar?” Alexa memeluk lengannya sendiri, matanya meneliti wajah Jennar yang masih sedikit kacau.

Jennar mencoba tersenyum. “Nggak perlu, Lex. Gue pesan ojek online aja. Lagipula lo ada da—”

“Aku aja yang antar, Kak.”

Suara Birru memotong kalimatnya. Pemuda itu muncul dari lorong dengan tampilan jauh lebih rapi daripada saat sarapan, dengan kaus polo hitam menempel pas di tubuhnya, jeans gelap, rambut basah yang disisir asal, dan kunci mobil Alexa berputar di jarinya.

Ia berdiri santai seperti tidak ada yang aneh dengan aksinya.

Alexa melotot, “Tumben?! Biasanya kamu paling anti urusan antar jemput manusia, dik.”

Birru mengangkat bahu.

Lalu Jennar merasakan tatapan Alexa jatuh padanya, seperti menanyakan keberaniannya untuk mempercayai adik lelaki itu.

Setelah menimbang ulang kondisi Jennar yang jelas-jelas masih kacau setelah mabuk, Alexa akhirnya mengangguk.

“Ya sudah. Lo diantar sama Birru, ya. Gue lebih tenang kalau adik yang antar. Penampilan lo itu berantakan. Dan, Jen...” suara Alexa melunak, “Daniel itu nggak pantas lagi lo tangisi.”

“Oke? Anytime you need, lo ke sini.”

Pernyataan itu mengenai tepat sasaran. Jennar menelan salivanya, menunduk, lalu menatap haru mata sahabatnya. Satu-satunya orang yang peduli akan apa yang terjadi pada kandasnya hubungannya dengan Daniel, tunangannya.

“Cepetan. Nanti macet,” sela Birru sembari membungkuk mengambil sepatunya.

“Hati-hati, Ru! Sahabat kakak jangan sampai dibuat lecet, atau nanti Kakak aduin sama Papa biar kamu dideportasi ke Yogyakarta!” teriak Alexa sambil mengusap lengan Jennar hangat-hangat.

Birru menegakkan badan, “Ya.”

Jennar hanya bisa menghembuskan napas, lalu langkah high heels-nya terdengar menuju pintu. Alexa melambaikan tangan sampai tubuh keduanya hilang dari pandangan.

Begitu pintu tertutup, hening langsung menyelimuti mereka. Jennar menunduk memandangi karpet lorong, sementara dari sebelahnya Birru bersiul kecil, seolah menikmati kegugupan perempuan di sebelahnya.

Ting!

Pintu lift terbuka perlahan.

Mereka masuk bersamaan, langkah kaki Jennar tercepat tapi agak berat. Birru santai melangkah sambil menempelkan kartu aksesnya, matanya menyipit tipis memandang Jennar dari ujung bibir.

Begitu pintu tertutup rapat, sunyi menjalar di antara mereka. Hanya suara mesin lift berdengung rendah dan detak jantung Jennar yang berdetak terlalu kencang sampai terasa di pelipisnya.

Lampu putih di langit-langit memantul di dinding kaca, menciptakan bayangan mereka yang bertumpuk-tumpuk. Jennar menundukkan kepala, wajahnya tersembunyi, seolah malu menatap bayangan dirinya sendiri — apalagi sosok Birru yang ada persis di samping.

“Mbak Jennar capek?” tanya Birru, nada suaranya manis dan menggoda, tapi ada getar menantang di balik itu.

Jennar mengangkat wajahnya sedikit, matanya cepat menjauh ke samping, cuma menatap sekilas lewat ujung kelopak. “Lumayan.”

“Hmm...” Birru mengerutkan dahi dan memiringkan kepala seperti sedang menimbang sesuatu yang menarik. “Capek pikiran, atau capek fisik?”

Jennar berkedip, ragu, “Maksud kamu?”

Birru melangkah mendekat, jaraknya menyusut hanya beberapa inci. Napasnya yang hangat nyaris menyentuh tengkuk Jennar. Suaranya turun satu oktaf, hampir seperti bisikan.

“Soalnya semalam Mbak Jennar all out banget waktu …. Joget gitu.”

Jantung Jennar seakan melompat. Ia sedikit memutar badan, mulutnya terbuka hendak bertanya, tapi kata-kata itu membeku di tenggorokannya. Apa maksud Birru? Sejauh mana ‘joget’ yang dimaksud? Apa yang sebenarnya terjadi setelah itu?

Namun tepat saat kata-kata itu naik ke bibirnya, tiba-tiba pintu lift terbuka.

Birru melangkah keluar tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan senyum tipis di sudut bibirnya yang sulit ditafsirkan.

“Eh?! Birru, tunggu!”

Jennar tercekat. Ia buru-buru menyusul, tapi langkahnya sempat tersendat ketika ingatan semalam berkelebat di kepalanya mulai dari kilatan lampu, tawa yang menggema, tangan yang ia genggam, atau justru tangan yang menggenggamnya?

Ucapan Birru terus berdengung di telinganya, membuat denyut jantungnya seolah berhenti sesaat, lalu berdebar dua kali lebih kencang.

***

Birru menekan tombol kunci mobil, dan lampu Mini Cooper merah milik Alexa berkedip pelan di antara deretan kendaraan. Basement di hari Sabtu tampak lengang karena sebagian penghuni lebih suka berdiam diri menikmati akhir pekan dengan beristirahat.

Jennar masuk ke kursi penumpang, aroma interior mobil yang bersih dan wangi leather bercampur dengan sisa parfum Alexa yang terlalu akrab bagi Jennar.

Gadis cantik itu meletakkan tas di pangkuan dan menarik napas panjang, berusaha mengusir sisa pening dari kepalanya.

Birru menyusul di balik kemudi, menurunkan kursi sedikit, lalu memutar setir untuk memastikan posisinya nyaman. Ia menyalakan mesin. AC berhembus dingin. Musik pelan terdengar

Mobil meluncur keluar basement, melewati tiang-tiang beton yang dingin. Begitu keluar ke permukaan, kilatan matahari langsung memercik masuk melalui kaca depan. Lagu pop dengan beat lembut mengalun.

Jennar memejamkan mata sebentar. Mencoba menyerap energi itu ke dalam tubuhnya. Rasanya hangat, terang dan tenang.

“Jadi … Daniel itu siapa, Mbak?” tanya Birru tiba-tiba, nadanya datar namun jelas membawa rasa ingin tahu.

Jennar spontan menengok ke samping, melihat wajah Birru yang semakin tegas diterpa sinar matahari pagi. Garis rahangnya, mata yang menatap penuh fokus, tangan yang erat menggenggam setir. Ada sesuatu yang membuat Jennar tak sengaja menatap lebih lama.

“Mbak?” Birru menegur ringan, tidak sadar sedang diamati.

Jennar segera mengalihkan pandangan, sedikit canggung. “Eh? Ada lah pokoknya. Anak kecil kayak kamu gaperlu tau.”

Birru tertawa pelan. Bukan mengejek, tapi seperti seseorang yang tahu fakta berbeda. “Bukan siapa-siapa gitu Mbak? Tapi semalam kamu bawa bawa namanya.”

Mata Jennar membulat, sorotannya berubah jadi tajam. “Semalam—”

“—aku gak ngapa-ngapain, kan?”

Birru mengangkat satu sudut bibir.

“Aku yang diapa-apain.”

Senyum yang berbahaya. “Mbak Jennar, mungkin memang lebih baik nggak usah tahu. Biar jadi rahasia kecil kita.”

Jennar mengerutkan dahi, penasaran dan kesal bercampur rona merah di pipi yang malu.

“Bisa dong.” Birru mengurangi kecepatan sedikit, seolah memberi ruang untuk kalimatnya.

“Atau, Mbak memang ingin tau bagaimana Mbak liat aku dengan tatapan menggoda. Lalu Mbak membuka baju dan menarikku ke sofa. Mbak duduk di pangkuanku lalu kita ber—”

“STOP!” Jennar hampir membanting tasnya sendiri.

Birru tertawa pelan tapi tidak memalingkan wajah dari jalan. “Apa aku bilang barusan. Lebih baik Mbak nggak tau, kan?”

Jennar tak berani membuka mulutnya lagi. Saat ini pipinya memerah dan memanas. Dia tak menyangka aksinya saat mabuk semalam sampai sejauh itu.

Sunyi beberapa detik. Hanya suara mesin dan lagu lama yang mengisi kabin.

“Jadi…” Birru memecah hening lagi, “Daniel itu siapa?”

“Bukan siapa-siapa,” jawab Jennar keras kepala, tangan memijat pelipis, kepala berat oleh sisa alkohol dan patah hati yang belum usai.

Jennar menekan pelipisnya sambil bersandar lemah pada headrest kursi mobil. “Sebaiknya kamu fokus nyetir. Jangan sampai salah alamat. Ini pertama kali kamu ke rumahku, kan?”

Birru menggeleng santai. “Aku udah pernah kok ke rumah Mbak.”

Jennar langsung menoleh, mata membelalak. “Hah? Kapan?”

Birru menyipitkan mata, setengah menggoda. “Adalah, satu waktu.”

“Seriusan? Kok bisa?” Jennar masih tak percaya.

Birru hanya tersenyum kecil, tak menanggapi lebih lanjut dan fokus dengan jalanan.

Karena Birru tidak membalas. ia memilih diam. Tatapannya membeku, lurus ke luar jendela, di mana pohon-pohon berkelebat pelan, tapi kepalanya sesak oleh bayangan Daniel. Ruang dalam hatinya terasa penuh, tidak menyisakan tempat untuk nama lain.

Birru juga diam, dadanya bergejolak. Ada yang aneh di dalam hatinya, sebuah rasa ingin melindungi yang tak bisa ia jelaskan, tumbuh seiring sentuhan malam itu yang masih membekas hangat.

“Mbak.” tanyanya diantara perhentian. “Mau aku ajari gak?”

Jennar menautkan alis. “Ajari apa?”

“Aku harus ajarin kamu gimana caranya lupa nama Daniel sebelum kamu coba godain laki-laki lain?”

Bersambung...

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 75. Akhirnya Sah!

    Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent

  • Sentuhan Adik Sahabatku   bab 74. Sebelum Akad.

    Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 73. Jelang Pernikahan.

    “Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 72. Grand Opening.

    Jam dinding baru menunjukkan pukul 09.12 ketika suara sepatu beradu cepat di lantai keramik TRIPLE BREAK BILLIARD.“Banner depan udah lurus belum? Jangan miring lagi!” seru Tommy dari balik bar sambil memasang botol-botol minuman satu per satu ke rak tertinggi.Raka, salah satu staf, berlari kecil sambil menggendong gulungan kabel tambahan, wajahnya tampak sedikit kesal karena angin yang kencang. “Udah, Bang! Tapi tadi anginnya bener-bener bikin susah,” katanya dengan nafas tersengal.Di sisi lain ruangan, Jordi berdiri goyah di atas kursi, kedua tangan sibuk merapikan balon hitam-hijau yang membingkai pintu masuk dengan bentuk melengkung. Vanya, kekasihnya, menahan kursi di bawah kaki Jordi agar tak tergelincir.“Baby, kalau aku jatuh, kamu yang pegangin ya,” celetuk Jordi sambil tersenyum nakal.Vanya mendengus pelan, matanya menatap tajam. “Turun aja kalau kamu takut.”Jordi terkekeh, menurunkan pandangan, “Enggak, aku cuma wanti-wanti aja.”Tak jauh dari mereka, Birru bergerak cep

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 71. Kabur Dari Masalah.

    Birru berdiri di lantai dua, kedua tangannya menekan pagar besi hitam berlapis doff. Matanya tak lepas menatap hiruk-pikuk lantai satu TRIPLE BREAK BILLIARD—suara gesekan bola yang saling bertubrukan, dentingan logam stik yang diuji coba, dan aroma kayu baru yang masih bercampur dengan bau cat basah memenuhi udara.Lampu gantung bergaya industrial menyala hangat, memantulkan cahayanya ke permukaan meja hijau yang mengkilap. Di atas bar, spanduk Grand Opening terbentang rapi meski banner promosi di sudut masih sedikit miring, sementara para staf sibuk mengelap gelas dan menyusun kursi.Napasnya tersendat. Sepuluh hari lagi ia akan menikah, dan besok tempat ini akan dibuka untuk umum—mimpi yang sempat terasa mustahil, apalagi setelah kejadian beberapa minggu lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Birru menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar pelan. “Semoga besok nggak ada yang meledak lagi... semoga semuanya lancar seperti yang kuharap,” gumamnya sambil menengok ke meja hijau ya

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 70. Perlawanan Alexa.

    Jennar baru saja melintas di depan ruang keluarga ketika suara ibunya menghentikan langkahnya.“Jen.”Nada itu tidak keras, tapi cukup membuatnya berhenti. Priska duduk lebih tegak di sofa, buku kecil bersampul cokelat sudah terbuka di pangkuannya.Jennar menoleh. “Ya, Ma?”“Ada waktu sebentar? Mama mau bahas persiapan nikah kamu.”Jennar menggeser tali tas selempangnya yang hampir melorot, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di ujung sofa, meletakkan tasnya pelan di samping. “Ada kok, Ma. Kenapa?”Priska menghela napas kecil, jari-jarinya merapikan halaman catatan yang dipenuhi angka dan lingkaran tinta biru.“Tadi pihak tenda sama dekorasi datang. Minta uang muka.” Ia menyebutkan angka-angka itu pelan, seolah takut membuatnya terasa berat. “Mama sudah kasih tujuh juta. Sisanya lima juta nanti setelah pesta.”Ia mendongak, mencari reaksi di wajah putrinya. “Make-up pengantin dan keluarga juga sudah Mama lunasi, dua juta. Nggak apa-apa, kan?”Jennar tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Makasih

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status