/ Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 03. Canggung, Hangat, dan Birru

공유

Bab 03. Canggung, Hangat, dan Birru

작가: eslesta
last update 최신 업데이트: 2025-12-10 16:42:43

Jennar mendadak kaku. Bekas lipsticknya juga mungkin masih rancu.

Suasana di apartemen mewah Alexa mendadak terasa terlalu hening.

Jennar berdiri kaku di ujung meja. Bibirnya seolah rapat tak bisa menjawab pertanyaan mudah dari Alexa yang tadi mempertanyakan tentang hubungannya dengan Birru.

“Jen, lo tidur dimana?” Alexa memecah keheningan dengan nada pertanyaan yang diselipi curiga. Ia masih berdiri di ambang pintu kamar, matanya tak lepas mengamati makanan yang terhidang di meja.

Bubur ayam tersaji lengkap, tapi sudah dingin. Teh melati yang masih mengepul tipis memberi petunjuk, Birru lah yang menyiapkannya.

“Eum… Lex. Itu…” gumam Jennar, nyaris tak terdengar.

Alexa mengembuskan napas keras.

Pandangannya yang awalnya hanya menuntut penjelasan, pelan-pelan merayap turun, menyapu setiap detail dari Jennar yang terlihat salah tempat pagi itu.

Blazer Jennar kusut, blousenya miring karena kancing bagian atas tidak bertemu dengan lubang yang semestinya. Riasannya luntur dengan eyeliner memudar, lipstik nyaris hilang. Rambut yang biasanya rapi kini mengembang.

Alexa bersedekap.

Rasa penasaran meletup tajam, membuatnya yakin ada sesuatu di antara Jennar dan Birru yang tidak ia ketahui.

Gadis berpiyama itu mendekat beberapa langkah. “Kenapa sih muka lo panik gitu?”

Jennar mengembuskan napas gugup, berusaha memahami dirinya sendiri. G–gue–”

Alexa memijit pelipisnya. “Oke, coba dari awal. Pelan-pelan.”

Semakin Jennar mencoba menjelaskan, semakin kacau kalimatnya. Suaranya saling bertabrakan dengan degup jantungnya sendiri.

Sementara itu Birru tampak santai sekali, satu tangan memegang cangkir kopi yang baru saja selesai ia seduh, tangan lain bersandar di meja dapur. Seolah pemandangan canggung ini bukan sesuatu yang membuat jantung orang lain ingin copot.

Alexa akhirnya menarik napas, “Lo tidur di ruang tamu, Jen?”

“Kenapa gak bangunin gue?”

Ia menatap Birru dari atas ke bawah. Pria itu hanya melirik sebentar lalu mengangkat cangkirnya, menyeruput kopi perlahan.

Alis Alexa naik, meragukan kecanggungan ini.

Jennar menggigit bibir, suara nyaris tercekat. Matanya terpejam sesaat, hampir saja terbongkar. Jennar menelan saliva, kebingungan, antara jujur atau sekadar menutupinya.

Birru akhirnya angkat suara, tapi bukan untuk membela, malah menambah berat suasana. “Dia bangun di kamar tamu. Dan ... ya, kondisinya cukup mengenaskan,” katanya ringan.

Jennar sontak menoleh tajam. “Birru!”

Namun Birru hanya menaikkan bahu kecil, datar, tanpa ekspresi bersalah sedikitpun dan dia menyeruput kopinya lagi seolah tidak ada badai emosi yang menggulung di ruangan itu.

Alexa menatap tajam, bibirnya mengeras.

“Kakak gak liat make upnya berantakan?”

Alexa berbalik, menoleh ke Birru dengan pandangan menusuk.

Birru menghela napas tipis, matanya berkedip pelan, “Semalam, pas aku sampai di sini, dia lagi tiduran di sofa, ngomong-ngomong nggak jelas tentang nama… Eum, siapa, ya?”

Alexa langsung menyambar, “Daniel?”

“Iya, itu, Kak! Mbak Jennar banyak bicara yang aneh-aneh,” Birru menatap Jennar sekilas, sudut bibirnya menegang seperti menahan senyum. "Apa ya aku lupa? Selingkuh? Gitu katanya, kak.”

Jennar mendadak membeku di tempatnya.

Alexa mengernyit, nada suaranya berubah penasaran.

“Jen?”

Jenner mendesah kecil–memijit pelipisnya kecil. “Iya Lex. Daniel selingkuh.”

***

Situasi tegang di depan kamar Alexa akhirnya luruh sendiri, digantikan oleh rasa lapar yang menyerang tiga orang di apartemen pagi itu. Mereka kini berpindah ke ruang makan, berusaha bersikap normal meski atmosfer aneh masih menggantung di udara.

Alexa, dengan piyama kusut dan rambut yang diikat asal, berdiri di depan meja dapur. Ia memecahkan telur, memasukkannya ke mangkuk sambil berpikir tentang yang dibicarakan Jennar tadi. Diselingkuhi tunangan yang sudah jalan enam tahun.

Benar, mengenaskan.

Dalam sekejap, dapur dipenuhi suara-suara kecil yang menenangkan, mulai dari dentang sendok, desis minyak panas. Aroma telur dadar mulai merebak, tapi tidak cukup kuat untuk menutupi ketegangan yang mengikat dua orang di meja makan.

Birru duduk tepat di sebelah Jennar. Mereka diam, seakan ada garis tak kasat mata yang membuat keduanya enggan bergerak terlalu cepat atau berbicara terlalu keras.

Jennar terus mengaduk buburnya yang sudah dingin, entah karena bingung atau karena takut menatap siapapun. Sementara Birru menyuap buburnya pelan-pelan, sendoknya sesekali mengetuk mangkuk dengan ritme kecil yang justru membuat Jennar makin sulit menenangkan detaknya sendiri.

Alexa akhirnya kembali dengan piring nasi dan telur dadar. Ia duduk, menatap adiknya tanpa basa-basi.

“Birru,” panggilnya datar. “Sekarang kamu jelasin. Kenapa bisa tiba-tiba datang ke sini semalam?”

Birru mengunyah sampai benar-benar selesai sebelum membuka suara. “Karena mulai hari ini aku bakal tinggal di sini.”

Sendok Jennar hampir jatuh dari tangannya. Napasnya tercekat.

Alexa memicingkan mata. “Tinggal di sini? Maksudnya apa?”

Birru menyuap buburnya lagi sebelum menjelaskan, “Iya, Kak. Aku akan tinggal di sini beberapa bulan. Karena Pak Suryo pensiun, Papa minta aku pegang cabang perusahaan yang di Jakarta dan dia minta kakak awasi aku di sini.”

Alexa tertawa kecil, meledek, “Jadi akhirnya kamu mau juga di Jakarta?! Harusnya Pak Suryo pensiun dari dulu.”

“Papa bilang cuma sementara. Karena memang sulit cari pengganti Pak Suryo. Kakak tau sendiri, Papa susah banget untuk langsung percaya sama orang baru.”

Alexa hanya manggut-manggut mendengar ucapan Birru.

Sementara itu, dunia Jennar seolah terguling. Ia merasakan tubuhnya tiba-tiba mual karena kenyataan di depannya. Sesuatu di belakang kepalanya berkata hal memalukan semalam yang ia lakukan pada Birru, tidak akan bisa dibuang begitu saja.

Birru tahu, dan dari cara pria itu duduk santai di sampingnya jelas ia sangat tahu.

“Jadi, bisnis apa selanjutnya?” lanjut Alexa.

“Rencana mau buka tempat gym, kak.”

“Ooh, lumayan. Prospeknya cukup bagus. Nanti kakak bisa promosikan dengan teman-teman kantor,” jawab Alexa, lalu menghentak kecil. “Duh, telurnya kurang kecap!”

Ia bangkit, kursi berderit. Suasana kembali sunyi dengan sunyi yang berat, seperti baru saja turun dari langit-langit.

Birru menunduk, matanya terpaku pada mangkuk di depannya, tapi sekilas ia melirik ke arah Jennar. Tatapan singkat itu menyusup, mengirimkan gelombang dingin yang merayap di lengan Jennar.

Jennar buru-buru mengambil gelas tehnya, mencoba menghilangkan gemetar di ujung jarinya.

Alexa melangkah pergi ke dapur, meninggalkan sunyi yang semakin berat di ruangan.

Saat itu Birru menggeser kursinya dengan sangat pelan, seolah tak ingin terdengar. Refleks, Jennar menegakkan badan, matanya mengawasi tiap gerakan Birru.

Birru berjalan memutar meja dengan pura-pura meraih tisu di sisi seberang, tapi langkahnya melambat saat melewati kursi Jennar. Satu tangan bertumpu ringan di sandaran kursi, tubuhnya condong sedikit dan itu cukup untuk membuat napas Jennar tercekat.

Aroma sabun mandi yang segar dan maskulin lebih dulu menyentuh inderanya.

“Mbak Jennar,” ucap Birru lembut, rendah, nyaris seperti gumaman yang hanya dirancang untuk satu orang. Getaran halus merayap di tengkuk Jennar.

“Tenang saja…” bisiknya, nadanya tenang namun memiliki bobot yang membuat denyut nadi Jennar kacau, “aku nggak berniat jadi rahasia kecil. Kecuali kamu sendiri yang mau nyebarin.”

Tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, Birru mengambil tisu itu, berbalik, dan kembali duduk. Ekspresi wajahnya berubah netral, seolah tak terjadi apa-apa di belakang punggung Jennar.

Alexa datang membawa botol kecap, tersenyum ringan tanpa menyadari badai kecil yang baru saja lewat.

Sementara Jennar duduk membeku. Jantungnya berlomba dengan pikirannya yang semakin kacau dan semakin tidak ia pahami.

Bersambung...

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 75. Akhirnya Sah!

    Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent

  • Sentuhan Adik Sahabatku   bab 74. Sebelum Akad.

    Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 73. Jelang Pernikahan.

    “Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 72. Grand Opening.

    Jam dinding baru menunjukkan pukul 09.12 ketika suara sepatu beradu cepat di lantai keramik TRIPLE BREAK BILLIARD.“Banner depan udah lurus belum? Jangan miring lagi!” seru Tommy dari balik bar sambil memasang botol-botol minuman satu per satu ke rak tertinggi.Raka, salah satu staf, berlari kecil sambil menggendong gulungan kabel tambahan, wajahnya tampak sedikit kesal karena angin yang kencang. “Udah, Bang! Tapi tadi anginnya bener-bener bikin susah,” katanya dengan nafas tersengal.Di sisi lain ruangan, Jordi berdiri goyah di atas kursi, kedua tangan sibuk merapikan balon hitam-hijau yang membingkai pintu masuk dengan bentuk melengkung. Vanya, kekasihnya, menahan kursi di bawah kaki Jordi agar tak tergelincir.“Baby, kalau aku jatuh, kamu yang pegangin ya,” celetuk Jordi sambil tersenyum nakal.Vanya mendengus pelan, matanya menatap tajam. “Turun aja kalau kamu takut.”Jordi terkekeh, menurunkan pandangan, “Enggak, aku cuma wanti-wanti aja.”Tak jauh dari mereka, Birru bergerak cep

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 71. Kabur Dari Masalah.

    Birru berdiri di lantai dua, kedua tangannya menekan pagar besi hitam berlapis doff. Matanya tak lepas menatap hiruk-pikuk lantai satu TRIPLE BREAK BILLIARD—suara gesekan bola yang saling bertubrukan, dentingan logam stik yang diuji coba, dan aroma kayu baru yang masih bercampur dengan bau cat basah memenuhi udara.Lampu gantung bergaya industrial menyala hangat, memantulkan cahayanya ke permukaan meja hijau yang mengkilap. Di atas bar, spanduk Grand Opening terbentang rapi meski banner promosi di sudut masih sedikit miring, sementara para staf sibuk mengelap gelas dan menyusun kursi.Napasnya tersendat. Sepuluh hari lagi ia akan menikah, dan besok tempat ini akan dibuka untuk umum—mimpi yang sempat terasa mustahil, apalagi setelah kejadian beberapa minggu lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Birru menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar pelan. “Semoga besok nggak ada yang meledak lagi... semoga semuanya lancar seperti yang kuharap,” gumamnya sambil menengok ke meja hijau ya

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 70. Perlawanan Alexa.

    Jennar baru saja melintas di depan ruang keluarga ketika suara ibunya menghentikan langkahnya.“Jen.”Nada itu tidak keras, tapi cukup membuatnya berhenti. Priska duduk lebih tegak di sofa, buku kecil bersampul cokelat sudah terbuka di pangkuannya.Jennar menoleh. “Ya, Ma?”“Ada waktu sebentar? Mama mau bahas persiapan nikah kamu.”Jennar menggeser tali tas selempangnya yang hampir melorot, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di ujung sofa, meletakkan tasnya pelan di samping. “Ada kok, Ma. Kenapa?”Priska menghela napas kecil, jari-jarinya merapikan halaman catatan yang dipenuhi angka dan lingkaran tinta biru.“Tadi pihak tenda sama dekorasi datang. Minta uang muka.” Ia menyebutkan angka-angka itu pelan, seolah takut membuatnya terasa berat. “Mama sudah kasih tujuh juta. Sisanya lima juta nanti setelah pesta.”Ia mendongak, mencari reaksi di wajah putrinya. “Make-up pengantin dan keluarga juga sudah Mama lunasi, dua juta. Nggak apa-apa, kan?”Jennar tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Makasih

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status