Share

Bab 3. Bukan Dia!

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 22:10:04

Ariana terbangun dengan napas putus-putus. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dia fokus pada mimpi yang benar-benar membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dia terbangun bukan dari mimpi indah, melainkan dari mimpi yang menurutnya tak perlu muncul.

Ya, pria asing yang menghabiskan malam dengannya waktu itu hadir dalam mimpinya. Mengingat itu, kedua tangan Ariana langsung naik ke kepala dan mengacak rambut. Pipinya malah bersemu merah seiring ingatan yang kembali memutar jelas mimpi tadi.

Ariana kini mengatur napas, mencoba sekeras mungkin tetap tenang. Puas mengacak rambut, dia lalu melirik ponselnya yang berdering singkat, membuat layar menyala. Saat ituah pandangannya fokus pada dua hal. Pertama, pada isi pesan yang memuat sederet kalimat horor. Kedua, pada angka di layar.

[Ariana Bennett, kutunggu kau di kantor dalam sepuluh menit atau kau akan tahu akibatnya.]

Nama ‘Boss’ teridentifikasi sebagai pengirim pesan tersebut.

Kemudian, pandangan Ariana naik pada sederet angka di pojok layar atas. Pukul 8.45 pagi.

Dia terlambat.

Sontak Ariana setenga melompat turun dari ranjang dalam keadaan acak-acakan. Tak henti dia merutuki dirinya sendiri yang terbuai dalam mimpi sialan dengan sosok yang tengah coba dilupakanya. Namun, sosok itu malah dengan mudah muncul di mimpinya, bahkan enggan membiarkannya tenang barang sedetik saja.

Jarak dari unit apartemen ke kantornya saja sudah lebih dari sepuluh menit, ditambah lagi dengan waktu bersiap secepat mungkin yang tetap saja memakan waktu. Alhasil, setengah jam berikutnya, Ariana baru bisa menginjakkan kaki di lobi. Dia bahkan belum sempat berdandan sampai tangan kanannya langsung sibuk memasang lipstik, sementara tangan kirinya membetulkan sepatu yang hampir copot.

Namun, dia baru menyadari sesuatu. Area itu sepi, alih-alih penuh oleh staf-staf yang berlalu lalang. Dia sempat mengedarkan pandangan untuk memastikan penglihatannya sekali lagi, tetapi di sana benar-benar kosong.

Hingga, seorang berseragam office boy lewat sambil membawa pel dan ember.

“Tungu!” tahan Ariana, sedikit berteriak.

“Ya. Nona?” balas sang office boy seraya mendekat.

“Di mana semua orang?” tanya Ariana cepat, mendesak.

Office boy itu tampak mengerutkan kening, seolah pertanyaan Ariana terasa aneh. “Semua staf hotel sedang berkumpul di ballroom lantai atas khusus ruang seluruh staf karena ada pertemuan penting, Nona,” jawabnya, memberikan informasi.

Kedua mata Ariana seketika membulat lebar. Sementara itu, di dalam tas kecilnya, ponselnya tak henti bergetar-getar. Tanda ada teror pesan sekaligus telepon yang masuk.

“Pertemuan penting?” tanya Ariana kebingungan.

“Benar, Nona. Katanya ada pemilik hotel baru yang akan datang berkunjung.”

“APA?” jerit Ariana, kaget sungguhan. Dia berpikir itu hanyalah gosip candaan, tetapi anggukan pria tersebut dengan wajah serius jelas bukan kebohongan.

Sejujurnya dia ingin bertanya lagi, tetapi sadar waktunya telah terbuang. “Terima kasih.” Ariana berkata cepat sebelum meneruskan larinya menuju lift.

Panik diburu waktu, jemari Ariana dengan tak sabaran memencet tombol hingga lift terbuka dan mulai bergerak naik. Rasanya perjalanan itu memakan waktu seribu tahun karena dia benar-benar panik dan ketakutan.

CEO-nya sendiri sampai mengiriminya pesan, artinya situasi ini benar-benar gawat. Namun, yang lebih gawat adalah, dia telah membuang waktu nyaris satu jam dan belum juga sampai di depan bosnya itu.

Hingga, begitu mendekati ballroom yang dimaksud, Ariana setengah menerobos pintu dan masuk dengan langkah terhuyung. Sontak dia jadi pusat perhatian, membuatnya langsung menutupi wajah dan bergerak cepat mencari posisi. Untunglah Elleanor yang peka segera memberi ruang untuknya masuk.

Ariana masih menunduk untuk waktu yang lama, hingga satu sikutan di pinggang dari Elleanor membuatnya menoleh menatap sahabatnya itu.

“Tidak biasanya kau datang terlambat,” bisik Elleanor.

Ariana memejam menahan kesal. Semua gara-gara pria asing itu. “Aku bangun kesiangan,” jawabnya jujur.

“Kau tidak mungkin sampai lupa pasang alarm, kecuali kalau kau benar-benar tidak mendengarnya berdering seperti kau ini latihan mati,” sindir Elleanor tak bisa menahan kesal. “Kau tahu, sejak tadi Tuan Franco seperti kebakaran menunggu kedatanganmu.”

Ariana langsung celingukan mencari satu sosok, tetapi sosok tersebut belum ada di ruangan ini. Wajar jika atasannya itu marah, mengingat dia memiliki posisi penting di perusahaan ini, dan selama ini dia memang jarang terlambat.

“Ariana Bennett, akhirnya kau muncul setelah satu jam membuang waktuku.”  Suara seseorang terdengar, sekaligus menghentikan bisikan dua sahabat itu.

Ariana sontak mendongak. “Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, Tuan Franco,” katanya, berjanji dengan sungguh-sungguh.

“Kau terlambat. Tumben sekali. Tapi kau terlambat benar-benar di saat yang tidak tepat. Beruntung saja karena pemilik hotel baru belum tiba di sini,” omel Franco Sullivan, sang CEO, sekaligus sosok pria yang disegani Ariana.

Franco bukan sekadar CEO, melainkan pria yang selalu bekerja profesional dan memedulikan bawahan. Selama bertahun-tahun Ariana bekerja di sini, rasa nyamannya timbul karena gaya kepemimpinan pria itu. Meski tetap saja, sisi galak pria itu kadang membuatnya merinding.

 “Pemilik hotel baru?” ulang Ariana sambil menatap penuh pada pria paruh baya itu. “Ini mengejutkan. Aku tidak mendengar desas-desus apa pun sampai aku mendengarnya darimu. Bukankah hotel ini baik-baik saja? Kenapa ... dijual? Dan ... pertemuan ini apa untuk menyambut pemilik hotel baru itu?”

Franco kembali menghela napas, mengerti keterkejutan dan kekecewaan dalam nada bicara Ariana. Sama seperti staf yang lain yang juga bertanya hal serupa.

“Kau benar.” Dia mengangguk pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Hotel memang berjalan normal, tetapi internal sedang menghadapi tekanan sulit. Aku tidak bisa fokus mengurus hotel ini. Kau tahu aku memiliki banyak usaha. Dan aku harus akui bahwa aku kekurangan modal. Menurutku, berpindah tangan lebih baik daripada hotel ini nantinya akan bangkrut.”

Ariana terdiam mendengar jawaban itu. Selama ini, dia hanya fokus bekerja dan bekerja saja di hotel ini, sampai mendapatkan salah satu jabatan. Namun, dia tidak pernah mendengar desas-desus miring tentang internal perusahaan, setidaknya dalam waktu seminggu ini. Seharusnya kalau itu benar-benar serius, desas-desus setidaknya sudah mengudara sejak beberapa hari lalu.

Kabar ini jelas mengejutkan. Tidak hanya untuk Ariana, tetapi juga untuk seluruh staf. Tak heran, saat mereka diminta berkumpul di ballroom ruangan khusus pertemuan, mereka tak bisa menahan kebingungan dan rasa penasaran. Hingga, beberapa saat lalu, Franco memberikan informasi penting terkait alasan kenapa mereka semua dikumpulkan.

“Ini sama buruknya dengan mimpiku tadi,” bisik Ariana pada Elleanor.

Elleanor menyipitkan mata pada sahabatnya itu. “Kau terlambat kesiangan hanya karena mimpi buruk?” tanyanya penuh selidik.

Ariana meringis. “Dalam beda konteks. Soalnya ... mimpi buruk itu ... tidak benar-benar buruk dalam arti sesungguhnya.” Dia melontarkan kalimat ambigu yang membuat sahabatnya tambah kesal saja karena merasa dipermainkan.

Elleanor nyaris ingin protes, tetapi serempak telinga mereka semua mendengar derap kaki yang melangkah tegas di atas lantai marmer mengilap. Serempak semua menduga bahwa itulah rombongan dari orang yang sedang mereka tunggu-tunggu sejak tadi.

Sontak semua orang merapikan sikap dan segera menunduk dengan posisi hormat. Termasuk Ariana dan Elleanor. Ariana merasakan jantungnya berdetak tak karuan saat derap cepat itu makin mendekat.

Hingga, hidungnya mendadak mencium sebuah aroma familier yang selintas saja. Jadi, dia pikir itu hanya perasaannya saja. Namun, pemikiran tersebut malah membuatnya melamun sehingga dia tidak sigap mengikuti yang lain untuk memberikan salam pada pria yang baru saja datang ke ruangan.

“Selamat datang, Tuan Whitmore.”

Pria itu berdiri gagah di sana dalam setelan rapinya yang karismatik. Datang dengan dua orang di belakangnya yang salah satunya adalah tangan kanannya. Sepasang matanya yang melayangkan tatapan setajam elang mengedar dalam gerak dingin mengintimidasi. Hingga, dia melihat salah satu staf yang ... dia rasa wajah itu tidak asing untuknya.

Di saat bersamaan, Ariana juga mendongak, bermaksud mengintip. Namun, pandangannya malah terpaku dan terkunci pada wajah tampan yang jelas tak asing untuknya itu. Wajah yang sampai saat ini menerornya tanpa henti. Wajah yang ingin dilupakannya sampai dia ingin amnesia.

Sosok itu ....

Wajah cantik Ariana yang terhias makeup tipis seketika saja memucat, tubuhnya pun mendadak lemas diserang rasa terkejut luar biasa. Hingga, tangan kanannya refleks mencari pegangan yang adalah tangan Elleanor.

A–Arthur? B–bagaimana mungkin ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 5. Layaknya Mainan Baru yang Tak Bisa Dibuang Mudah

    Ariana terus berjalan cepat, nyaris berlari di sepanjang lorong yang dilalui. Jantungnya berdebar kencang, matanya berlarian cepat mengamati situasi—seakan menunjukkan dia seperti tengah menghindari sesuatu.Apa yang terjadi beberapa saat lalu jelas membuatnya kalang kabut sekarang. Arthur dengan terang-terangan “menyapanya”, bahkan menyatakan jelas bahwa pria itu mengenalnya. Jadi, bagaimana dia bisa berpura-pura sekarang? Dia hanya akan terlihat bodoh jika melakukan itu.Begitu berhasil tiba di ruangannya, Ariana segera menutup pintu dan menguncinya, lalu tubuhnya bersandar lemas di badan pintu. Dia mencoba mengatur napasnya yang berantakan, sekaligus menenangkan debar jantungnya yang menggila. Namun, belum juga dia mendapatkan ketenangan, sebuah suara familier tiba-tiba saja terdengar.“Kau lama sekali menemani Tuan Whitmore,” ucap Elleanor yang ternyata sudah ada di dalam ruangan, tengah duduk santai di kursi kerja milik Ariana. Namun, wanita itu tampak mengerutkan kening, melihat

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 4. Permainan yang Layak Dilanjutkan

    Kaki Ariana tak sanggup menapak ke karpet mahal di ballroom kantornya. Aura wajahnya menunjukkan jelas keterkejutan. Lidahnya mendadak kelu serta wajahnya yang pucat tak bisa banyak berekspresi seperti biasanya.Tatapan mata dingin, tajam, dan memesona itu tak mungkin Ariana lupakan. Aroma parfum maskulin yang begitu kuat seolah menyeruak ke indra penciumannya, benar-benar membuat Ariana yakin bahwa memang pria di hadapannya itu adalah pria asing yang waktu itu dia sangka seorang gigolo.Ariana masih bergeming, dengan raut wajah penuh keterkejutannya tak bisa berkata apa pun. Tangannya sampai berkeringat dingin, padahal ballroom kantornya menggunakan AC central—yang mana jelas sangat dingin. Ya, tatapan Ariana ini jelas bukan hanya sepihak. Sosok pria tampan yang muncul, yang dipanggil ‘Tuan Whitmore’, juga terus menatapnya dengan tatapan penuh arti khusus. Oh, tidak ... tatapan itu bahkan seakan ingin menelanjangi Ariana.“Tuan Whitmore, mari kita ke podium,” ajak Franco sambil men

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 3. Bukan Dia!

    Ariana terbangun dengan napas putus-putus. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dia fokus pada mimpi yang benar-benar membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dia terbangun bukan dari mimpi indah, melainkan dari mimpi yang menurutnya tak perlu muncul.Ya, pria asing yang menghabiskan malam dengannya waktu itu hadir dalam mimpinya. Mengingat itu, kedua tangan Ariana langsung naik ke kepala dan mengacak rambut. Pipinya malah bersemu merah seiring ingatan yang kembali memutar jelas mimpi tadi.Ariana kini mengatur napas, mencoba sekeras mungkin tetap tenang. Puas mengacak rambut, dia lalu melirik ponselnya yang berdering singkat, membuat layar menyala. Saat ituah pandangannya fokus pada dua hal. Pertama, pada isi pesan yang memuat sederet kalimat horor. Kedua, pada angka di layar.[Ariana Bennett, kutunggu kau di kantor dalam sepuluh menit atau kau akan tahu akibatnya.]Nama ‘Boss’ teridentifikasi sebagai pengirim pesan tersebut.Kemudian, pandangan Ari

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 2. Dia adalah Ariana Bennett

    Seorang pria tampan tampak tengah mengenakan kausnya dengan gerakan yang tenang. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan senyuman tipis bertengger di wajahnya. Saat mengancingkan kancing teratas, pandangannya teralih ke samping, pada beberapa lembar uang di atas nakas.Senyum di wajah tampannya makin mengembang dengan sinis, mendukung tatapannya yang dingin sekaligus tajam, menusuk seakan penuh makna khusus.“Jadi, hanya segini bayaran yang kau berikan, Gadis Nakal?” Dia berbicara pada keheningan ruangan.Ya, begitu membuka mata, kamar itu telah sepi. Tempat yang menjadi saksi dari pergumulan panas semalam. Bisa disebut itu one night stand. Namun, jelas baginya itu bukan satu malam yang bisa diakhiri begitu saja dan dilupakan.Tanpa mengambil lembaran uang itu, pria tampan tersebut beranjak. Tubuh tegapnya telah terbungkus pakaian rapi yang menampilkan karimsa sekaligus pesonanya.Kaki yang menjejak lantai bergantian menimbulkan gema berirama memecah keheningan kamar. Derit pintu terdeng

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 1. Sentuhan Erotis Pria Asing

    Tangan putih mulus itu mendorong dada bidang seorang pria tampan yang segera saja terjatuh menimpa empuknya ranjang. Kedua tangan pria itu bertumpu ke ranjang, menopang tubuh. Sementara itu, kedua matanya berusaha dibuka lebar-lebar, mengenali wanita yang tampak samar di pandangannya.“Kau sepertinya bibit unggul. Wajahmu sangat tampan.”Tangan lentik wanita itu kini mulai menyentuh lembut permukaan kulit wajah si pria tampan , mengelus dengan gerakan nakal, hingga turun dan berhenti di sekitar dagunya. Mengangkatnya. Membuatnya menghadap tepat ke wajah wanita yang tahu-tahu sudah ada di dekatnya.Wanita itu ikut naik ke ranjang, duduk di pangkuan pria yang tampak tak berdaya di bawahnya. Baju luarnya sudah tanggal, menyisakan tanktop hitam dan rok selutut yang sedikit tersingkap.“Kuharap performamu bagus. Elle sudah memberikan banyak informasi, dan jelas dia pasti tidak akan mengecewakanku,” lanjut wanita itu.Ariana Bennett melebarkan senyum puas begitu melihat pria tampan itu hany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status