Home / Romansa / Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan / Bab 5. Layaknya Mainan Baru yang Tak Bisa Dibuang Mudah

Share

Bab 5. Layaknya Mainan Baru yang Tak Bisa Dibuang Mudah

Author: Michaella Kim
last update Last Updated: 2026-02-03 22:11:06

Ariana terus berjalan cepat, nyaris berlari di sepanjang lorong yang dilalui. Jantungnya berdebar kencang, matanya berlarian cepat mengamati situasi—seakan menunjukkan dia seperti tengah menghindari sesuatu.

Apa yang terjadi beberapa saat lalu jelas membuatnya kalang kabut sekarang. Arthur dengan terang-terangan “menyapanya”, bahkan menyatakan jelas bahwa pria itu mengenalnya. Jadi, bagaimana dia bisa berpura-pura sekarang? Dia hanya akan terlihat bodoh jika melakukan itu.

Begitu berhasil tiba di ruangannya, Ariana segera menutup pintu dan menguncinya, lalu tubuhnya bersandar lemas di badan pintu. Dia mencoba mengatur napasnya yang berantakan, sekaligus menenangkan debar jantungnya yang menggila. Namun, belum juga dia mendapatkan ketenangan, sebuah suara familier tiba-tiba saja terdengar.

“Kau lama sekali menemani Tuan Whitmore,” ucap Elleanor yang ternyata sudah ada di dalam ruangan, tengah duduk santai di kursi kerja milik Ariana. Namun, wanita itu tampak mengerutkan kening, melihat wajah panik teman dekatnya. “Wait, ada apa denganmu? Wajahmu terlihat panik seperti baru bertemu hantu. Apa terjadi masalah?” tanyanya menjadi penasaran.

Dia sudah datang ke ruangan ini sejak lima menit lalu dan menemukan keadaan masih sepi, tanda sahabatnya belum kembali dari menemani bos baru mereka berkeliling. Ada dokumen penting yang harus diserahkan langsung pada temannya itu, jadi mau tidak mau dia menunggu di dalam ruangan.

Ariana yang melihat Elleanor duduk di kursinya, sontak tubuhnya nyaris melompat secara spontan. “Elleanor! Kau mengagetkanku! Kau nyaris membuatku mati jantungan!” gerutunya yang kini berjalan mendekati meja.

Elleanor bangkit dari duduk, tangan kanannya terulur menyentuh map tipis di atas meja mengilap itu. “Aku mau menyerahkan berkas penting yang harus kau cek hari ini juga. Tapi, kedatanganku ke sini jelas karena ada hal lain yang ingin kubahas,” katanya, berbicara dengan nada serius.

“Kau ingin membahas apa?” Ariana bertanya cuek, matanya mulai sibuk membaca berkas di tangan. Napasnya yang agak tak beraturan tadi, dia coba untuk atur agar Elleanor tidak curiga. 

“Sebelum aku masuk ke inti yang ingin aku bahas, kenapa kau terlihat seperti dikejar hantu? Apa ada masalah?” tanya Elleanor lagi penasaran.

Ariana tetap mencoba untuk tenang. “Tadi heels-ku tersangkut dan hampir jatuh. Aku panik, jadi buru-buru ke ruangan agar tidak ada yang melihat. Aku malu kalau sampai ada yang melihat aku hampir jatuh. Itu sangat memalukan.”

Elleanor agak mengerutkan keningnya, menatap bingung Ariana. Dia tampak merasa ada yang aneh, tetapi penjelasan teman dekatnya ini menurutnya sangat masuk akal. Jadi, tidak ada alasan untuk melontarkan tuduhan.

“Bagaimana tadi? Kau mendapatkan kesempatan emas pertama untuk mengobrol lebih banyak dengan pemilik hotel baru kita?” celetuk Elleanor dengan senyuman di wajahnya.

“Apa yang aku lakukan hanya menjalankan tugas saja. Tidak lebih,” jawab Ariana dingin dan datar.

Elleanor manggut-manggut, lalu dia berjalan mengitari sahabatnya itu dengan senyuman merekah di wajah cantiknya. “Sepertinya nanti sepulang kerja kau harus menemaniku ke mal atau butik. Aku perlu baju-baju atau makeup baru untuk penampilanku ke depannya.”

Ariana memicing curiga pada sahabatnya itu, membuat berkas di tangan terlupakan begitu saja. “Kau selalu berdandan cantik setiap hari, apa yang perlu kau perbaiki dari tampilanmu itu?” tanyanya penuh selidik.

Senyum Elleanor merekah penuh misteri. “Bos baru kita adalah pria yang tampan dan menggoda. Dia penuh pesona. Jadi, menurutku, kita sebagai karyawan harus bisa berpenampilan makin menarik.”

Ariana memutar bola mata malas, sudah tidak heran dengan tingkah sahabatnya itu. Meski di lingkup tempat kerja Elleanor adalah orang yang tegas dan serius, tetapi dia tahu sahabatnya itu sangat suka setiap kali melihat pria tampan dan gagah.

“Kau jangan genit, Elleanor,” ucap Ariana ketus.

Elleanor mengerutkan kening, menatap kesal pada sahabatnya itu. “Ck! Anggap saja cuci mata, Ariana. Lagi pula, kau pasti mengakui juga, kan, kalau bos baru kita itu tampan dan gagah?”

“Tidak. Dia kurus, jelek, dan dekil,” sangkal Ariana lagi ketus.

Elleanor tampak bingung. “Wait, apa kau bilang? Kurus, jelek, dan dekil? Sepertinya minus di matamu makin bertambah, Ariana. Tuan Whitmore memiliki kulit yang bersih dan putih. Tubuhnya tinggi dan gagah. Parasnya tampan seperti model ternama. Pakaian rapi dan bersih menunjukkan auranya. Dia bahkan aku lihat memakai pakaian dari brand-brand ternama. Oh, satu lagi, aroma parfum mahalnya sangat melekat. Tapi, kenapa sudut pandangmu dan sudut pandangku tentang Tuan Whitmore berbeda? Aku yakin, minus di matamu bertambah, dan mungkin saja kau mendekati kebutaan.”

Ariana terdiam sebentar, dan sialnya, dia malah membayangkan semua kata yang disebutkan Elleanor tentang Arthur dengan nyata.

Oh, shit!” Dia mengumpat dengan nada pelan, segera mengusap wajah. “Kalau kau di sini masih ingin melanjutkan pembahasanmu soal bos tampanmu itu, sebaiknya kau keluar. Aku harus fokus bekerja,” usirnya sambil mendengkus kasar.

Namun, Elleanor tak segera beranjak. Sebaliknya, dia merasa ada yang tidak beres. “Kau tampak tidak menyukai pria itu. Tapi, kalau kau tidak suka, pasti ada alasan. Atau, jangan-jangan sebelumnya kau sudah kenal Tuan Whitmore?” tanyanya mulai penasaran.

Skakmat. Ariana merasa seperti dilempari granat mendengar pertanyaan itu.

“Mana ada!” sangkalnya cepat. “Kau itu bicara sembarangan saja! Kau, kan, tahu aku baru saja berpisah dari mantan sialanku. Tidak ada waktu bagiku untuk mengenal pria asing.”

Jelas saja dia berbohong, dan dia merasa sedikit berdosa karena telah membohongi sahabat baiknya itu. Apa jadinya kalau nanti Elleanor tahu apa yang telah terjadi antara dirinya dan Arthur?

Okay, sorry. But, ... kau serius tidak tertarik pada Tuan Whitmore?” selidik Elleanor, bertanya dengan serius. Matanya sampai kembali menyipit. “Aku tidak yakin kalau kau tidak tertarik selamanya. Kita akan sering bertemu Tuan Whitmore karena sekarang dia adalah atasan kita. Kapan hari itu tiba, saat kau akhirnya bergabung bersamaku ke dalam klub?”

“Klub?” ulang Ariana tak paham.

“Klub pengagum Tuan Whitmore.” Ellenaor tertawa, puas melihat tatapan datar sahabatnya.

“Sebaiknya kau segera pergi.” Ariana kembali mengusir. Nadanya kali ini benar-benar ketus.

“Tapi, aku belum puas membahas Tuan Whitmore denganmu.” Elleanor malah kembali duduk, kali ini di sisi meja kerja Ariana. “Dia itu tampan, punya kekuasaan dan kekayaan, dan kau tahu apa saja pesonanya? Tatapannya yang tajam dan mengintimidasi, wajah dingin yang memesona, pahatan tubuh yang kekar, karisma yang kuat dan dominan, dan kau tahu ... bibirnya itu ....”

Elleanor belum selesai bicara saat Ariana tiba-tiba saja mengempaskan map berkas di tangan ke atas meja, sebelum berbalik dan melangkah pergi dengan cepat keluar dari ruangan.

“Ariana Bennett, kau mau ke mana?” teriak Elleanor.

Namun, tak ada jawaban. Ariana hanya terus berjalan cepat dengan hati dongkol tak henti mengumpati sahabatnya itu. Bisa-bisanya Elleanor malah tertarik pada Arthur dan memamerkan pesona pria itu, yang jelas tanpa diberitahukan pun Ariana sudah tahu semuanya.

Untuk sekarang, kepalanya terasa penuh sampai nyaris meledak. Ariana hanya butuh jeda sesaat. Jadi, dia memutuskan berlari ke kafe terdekat yang ada di sekitar hotel itu.

Untung saja suasana di sana sedang sepi. Begitu tiba di sana, dia bisa menarik napas lega dan sedikit merelakskan diri. Segera saja dia menuju salah satu meja yang kosong lalu memesan secangkir espreso. Rasa pahit sepertinya cocok untuknya yang sekarang tengah butuh kesadaran penuh. Dia juga memesan menu tambahan, sebuah menu kecil pengganjal perut. Dia hanya memesan menu yang bisa memenuhi waktunya selama di sana.

Cara itu berhasil. Setidaknya setiap espreso diteguk, kedamaian dirinya perlahan-lahan kembali, meski gantinya dia harus terus mengernyit tiap menikmati rasa pahit yang kuat itu. Hingga, setelah espreso dan kue di piring habis, suasana hatinya sedikit membaik. Dia pun bangkit berdiri, berjalan ke kasir untuk membayar. Namun, tiba-tiba saja terjadi sesuatu.

Ariana meraba saku di bajunya, tetapi tidak ada dompet. Meraba lagi, tidak ada ponsel. Tidak ada tas. Dia baru sadar bahwa dirinya datang ke sana dengan tangan kosong, sementara dia sudah memesan bahkan menghabiskan makanan di kafe itu.

Seketika panik menyergap, membuat wajahnya memucat dengan cepat. Kebingungan membuatnya mulai bersikap gelagapan. Sang kasir tampak menunggu dengan menatap penuh selidik padanya.

Ariana masih mencoba mencari dompet atau selembar uang yang terselip, tetapi segala usahanya sia-sia. Terlalu fokus mencari, dia tidak menyadari kehadiran seorang pria tinggi gagah tepat di belakangnya.

Pria itu menyodorkan black card-nya pada sang kasir.

“Biar aku yang membayar,” kata sebuah suara berat. Segera melakukan pembayaran via black card.

Ariana terkejut sampai memekik kecil. Dalam gerakan cepat, dia berbalik dan menatap dengan mata membulat penuh pada sosok Arthur yang berdiri tenang tanpa dosa. “Kenapa kau tiba-tiba muncul? Kau sudah seperti hantu yang tiba-tiba muncul tanpa diundang!” bentaknya refleks.

Namun, Arthur tidak memberikan respons apa pun. Pria tampan itu hanya fokus menyelesaikan pembayaran. “Aku sudah membantumu membayar, harusnya kau bisa mengucapkan kosa kata yang lebih baik dari itu,” sindirnya dengan nada datar.

Ariana memejamkan mata dengan mulut merapat membentuk segaris lurus, tanda sedang menahan gejolak emosi. “Berikan nomor rekeningmu. Aku akan melunasinya segera saat aku berhasil mendapatkan dompet atau ponselku yang tertinggal,” katanya serius.

Arthur tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berbalik dan mulai melangkah pergi. Sesuai tebakannya, Ariana langsung mengejarnya dan berusaha menyamai langkahnya.

“Apa kau tuli?” tanya Ariana pedas, sudah habis kesabaran.

Arthur hanya melirik dengan ekor mata. “Begitukah cara kau berbicara dengan atasanmu?”

Astaga. Pria itu menegaskan status di antara mereka, membuat rasa kesal Ariana makin meledak-ledak.

“Kalau begitu, berikan rekeningmu, tolong. Aku harus membayar kembali sejumlah uang yang kau keluarkan untuk membayar minumanku tadi,” kata Ariana, berbicara dengan lebih sabar.

Lagi dan lagi, Arthur mengabaikannya, padahal dia sudah berbicara baik-baik. Pria itu hanya terus berjalan sampai keluar dari kafe. Ariana masih terus mengikutinya.

“Jangan bilang bahwa kau tidak perlu uangku.” Ariana berkata lagi, muak didiamkan pria itu.

Arthur mengedarkan pandangan seraya terus melangkah. Dia sengaja memperlambat langkah agar Ariana tetap bisa mengejarnya. “Kalau ya, bagaimana?” balasnya tenang.

Mulut Ariana terbuka lalu tertutup lagi, seiring kepala yang mendadak ingin meledak karena tidak kuat lagi menghadapi pria itu. “Aku tidak bisa menerima pemberian tanpa alasan apa pun dari pria mana pun, sekalipun itu atasanku sendiri,” katanya bersungguh-sungguh.

Arthur menerbitkan senyum tipis yang menyungging miring, sementara matanya menatap tajam tepat pada kedua mata Ariana. “Tapi, aku bukan sekadar atasanmu, kau tahu itu, Nona Bennett.”

Kalimat itu sukses menampar keras Ariana. Sial. Lagi-lagi kejadian memalukan itu bisa dengan mudah diungkit oleh Arthur. Apa pria itu tidak punya malu?

“Bagaimana kalau kau kembalikan uangku dengan hal lain saja, seandainya kau memang memaksa ingin mengembalikannya,” kata Arthur lagi.

Sebuah mobil mewah dengan warna hitam mengilap merapat ke dekat Arthur yang sudah berdiri di pinggir jalan. Dia segera saja membuka pintu belakang dan masuk.

Ariana mendekat ke badan mobil, obrolan mereka belum selesai. “Jelas aku akan membayarnya. Jadi, apa itu?” tanyanya tidak sabar.

“Sebuah makan malam.” Arthur berkata dengan enteng dan tenang, seolah itu bukan masalah.

What? Are you fucking crazy?” jerit Ariana seraya berkacak pinggang. “Kau meminta bayaran yang lebih dari harga yang kau keluarkan untuk membayar minumanku?”

Arthur mengangguk. Lagi-lagi bereaksi santai.

No! Big no!” pungkas Ariana garang, sebelum berbalik dan melangkah cepat ke arah berlawanan. Tak menoleh lagi ke belakang karena dia sudah benar-benar muak melihat wajah itu. Wanita itu benar-benar pergi, tidak mau melihat wajah Arthur.

Sementara itu, di dalam mobil, Arthur hanya tersenyum kecil dengan tangan bersedekap di dada melihat Ariana yang mulai lenyap dari pandangannya. Tepat di kala Ariana sudah menghilang, dia memberikan isyarat pada sang asisten yang duduk di kursi kemudi untuk melajukan mobil. Pun tak lama kemudian, mobil mulai berjalan, membawa Arthur ke tujuan berikutnya.

“Tuan.” Cole Cooper, asisten pribadi Arthur, tiba-tiba bersuara.

Arthur yang sekarang sibuk dengan iPad di tangan hanya menatap singkat ke depan, menunggu asistennya itu lanjut bicara.

“Tuan, maaf jika saya lancang. Saya hanya ingin memberi saran. Sebaiknya Anda tidak terlalu dekat dengan staf Anda di hotel yang baru Anda beli. Saya khawatir, akan ada rumor buruk yang tersebar kalau Anda dan staf itu terlalu dekat,” kata sang asisten sopan dan penuh kehati-hatian, mengingatkan tuannya.

Arthur tersenyum miring. Tatapannya diselimuti kabut misterius yang mulai bergulung pekat. “Kau tidak usah khawatir, Cole. Tidak ada hal serius. Aku hanya menemukan benda menarik untuk kupermainkan. Anggap saja ini penghilang rasa bosanku,” balasnya penuh arogansi dan sorot mata dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 5. Layaknya Mainan Baru yang Tak Bisa Dibuang Mudah

    Ariana terus berjalan cepat, nyaris berlari di sepanjang lorong yang dilalui. Jantungnya berdebar kencang, matanya berlarian cepat mengamati situasi—seakan menunjukkan dia seperti tengah menghindari sesuatu.Apa yang terjadi beberapa saat lalu jelas membuatnya kalang kabut sekarang. Arthur dengan terang-terangan “menyapanya”, bahkan menyatakan jelas bahwa pria itu mengenalnya. Jadi, bagaimana dia bisa berpura-pura sekarang? Dia hanya akan terlihat bodoh jika melakukan itu.Begitu berhasil tiba di ruangannya, Ariana segera menutup pintu dan menguncinya, lalu tubuhnya bersandar lemas di badan pintu. Dia mencoba mengatur napasnya yang berantakan, sekaligus menenangkan debar jantungnya yang menggila. Namun, belum juga dia mendapatkan ketenangan, sebuah suara familier tiba-tiba saja terdengar.“Kau lama sekali menemani Tuan Whitmore,” ucap Elleanor yang ternyata sudah ada di dalam ruangan, tengah duduk santai di kursi kerja milik Ariana. Namun, wanita itu tampak mengerutkan kening, melihat

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 4. Permainan yang Layak Dilanjutkan

    Kaki Ariana tak sanggup menapak ke karpet mahal di ballroom kantornya. Aura wajahnya menunjukkan jelas keterkejutan. Lidahnya mendadak kelu serta wajahnya yang pucat tak bisa banyak berekspresi seperti biasanya.Tatapan mata dingin, tajam, dan memesona itu tak mungkin Ariana lupakan. Aroma parfum maskulin yang begitu kuat seolah menyeruak ke indra penciumannya, benar-benar membuat Ariana yakin bahwa memang pria di hadapannya itu adalah pria asing yang waktu itu dia sangka seorang gigolo.Ariana masih bergeming, dengan raut wajah penuh keterkejutannya tak bisa berkata apa pun. Tangannya sampai berkeringat dingin, padahal ballroom kantornya menggunakan AC central—yang mana jelas sangat dingin. Ya, tatapan Ariana ini jelas bukan hanya sepihak. Sosok pria tampan yang muncul, yang dipanggil ‘Tuan Whitmore’, juga terus menatapnya dengan tatapan penuh arti khusus. Oh, tidak ... tatapan itu bahkan seakan ingin menelanjangi Ariana.“Tuan Whitmore, mari kita ke podium,” ajak Franco sambil men

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 3. Bukan Dia!

    Ariana terbangun dengan napas putus-putus. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dia fokus pada mimpi yang benar-benar membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dia terbangun bukan dari mimpi indah, melainkan dari mimpi yang menurutnya tak perlu muncul.Ya, pria asing yang menghabiskan malam dengannya waktu itu hadir dalam mimpinya. Mengingat itu, kedua tangan Ariana langsung naik ke kepala dan mengacak rambut. Pipinya malah bersemu merah seiring ingatan yang kembali memutar jelas mimpi tadi.Ariana kini mengatur napas, mencoba sekeras mungkin tetap tenang. Puas mengacak rambut, dia lalu melirik ponselnya yang berdering singkat, membuat layar menyala. Saat ituah pandangannya fokus pada dua hal. Pertama, pada isi pesan yang memuat sederet kalimat horor. Kedua, pada angka di layar.[Ariana Bennett, kutunggu kau di kantor dalam sepuluh menit atau kau akan tahu akibatnya.]Nama ‘Boss’ teridentifikasi sebagai pengirim pesan tersebut.Kemudian, pandangan Ari

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 2. Dia adalah Ariana Bennett

    Seorang pria tampan tampak tengah mengenakan kausnya dengan gerakan yang tenang. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan senyuman tipis bertengger di wajahnya. Saat mengancingkan kancing teratas, pandangannya teralih ke samping, pada beberapa lembar uang di atas nakas.Senyum di wajah tampannya makin mengembang dengan sinis, mendukung tatapannya yang dingin sekaligus tajam, menusuk seakan penuh makna khusus.“Jadi, hanya segini bayaran yang kau berikan, Gadis Nakal?” Dia berbicara pada keheningan ruangan.Ya, begitu membuka mata, kamar itu telah sepi. Tempat yang menjadi saksi dari pergumulan panas semalam. Bisa disebut itu one night stand. Namun, jelas baginya itu bukan satu malam yang bisa diakhiri begitu saja dan dilupakan.Tanpa mengambil lembaran uang itu, pria tampan tersebut beranjak. Tubuh tegapnya telah terbungkus pakaian rapi yang menampilkan karimsa sekaligus pesonanya.Kaki yang menjejak lantai bergantian menimbulkan gema berirama memecah keheningan kamar. Derit pintu terdeng

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 1. Sentuhan Erotis Pria Asing

    Tangan putih mulus itu mendorong dada bidang seorang pria tampan yang segera saja terjatuh menimpa empuknya ranjang. Kedua tangan pria itu bertumpu ke ranjang, menopang tubuh. Sementara itu, kedua matanya berusaha dibuka lebar-lebar, mengenali wanita yang tampak samar di pandangannya.“Kau sepertinya bibit unggul. Wajahmu sangat tampan.”Tangan lentik wanita itu kini mulai menyentuh lembut permukaan kulit wajah si pria tampan , mengelus dengan gerakan nakal, hingga turun dan berhenti di sekitar dagunya. Mengangkatnya. Membuatnya menghadap tepat ke wajah wanita yang tahu-tahu sudah ada di dekatnya.Wanita itu ikut naik ke ranjang, duduk di pangkuan pria yang tampak tak berdaya di bawahnya. Baju luarnya sudah tanggal, menyisakan tanktop hitam dan rok selutut yang sedikit tersingkap.“Kuharap performamu bagus. Elle sudah memberikan banyak informasi, dan jelas dia pasti tidak akan mengecewakanku,” lanjut wanita itu.Ariana Bennett melebarkan senyum puas begitu melihat pria tampan itu hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status