Home / Romansa / Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan / Bab 4. Permainan yang Layak Dilanjutkan

Share

Bab 4. Permainan yang Layak Dilanjutkan

Author: Michaella Kim
last update Last Updated: 2026-02-03 22:10:26

Kaki Ariana tak sanggup menapak ke karpet mahal di ballroom  kantornya. Aura wajahnya menunjukkan jelas keterkejutan. Lidahnya mendadak kelu serta wajahnya yang pucat tak bisa banyak berekspresi seperti biasanya.

Tatapan mata dingin, tajam, dan memesona itu tak mungkin Ariana lupakan. Aroma parfum maskulin yang begitu kuat seolah menyeruak ke indra penciumannya, benar-benar membuat Ariana yakin bahwa memang pria di hadapannya itu adalah pria asing yang waktu itu dia sangka seorang gigolo.

Ariana masih bergeming, dengan raut wajah penuh keterkejutannya tak bisa berkata apa pun. Tangannya sampai berkeringat dingin, padahal ballroom kantornya menggunakan AC central—yang mana jelas sangat dingin. 

Ya, tatapan Ariana ini jelas bukan hanya sepihak. Sosok pria tampan yang muncul, yang dipanggil ‘Tuan Whitmore’, juga terus menatapnya dengan tatapan penuh arti khusus. Oh, tidak ... tatapan itu bahkan seakan ingin menelanjangi Ariana.

“Tuan Whitmore, mari kita ke podium,” ajak Franco sambil mengulurkan tangannya pada Arthur untuk berjabat tangan.

Arthur menyambut jabatan tangan Franco, lalu melangkah mengikuti Franco menuju podium. Tepat di kala dia melangkah, tatapan Ariana sampai terus menatap Arthur.

Oh, My God! He’s so fucking hot,” bisik Elleanor di telinga Ariana.

Ariana hanya menelan salivanya susah payah mendengar pujian Elleanor untuk Arthur. Tak ada yang bisa dia katakan. Dia hanya diam membeku menatap Arthur yang memang kini sudah berdiri di podium.

“Selamat pagi. Terima kasih kalian semua sudah berkumpul di sini. Tujuan saya meminta kalian semua berkumpul adalah untuk membahas hal penting. Dalam beberapa tahun ini, saya lihat perkembangan Silverswan Hotel sangat baik. Setiap departemen sudah bekerja sangat luar biasa, dan saya jelas kagum akan hal tersebut.

“Tapi, saya sadar bahwa perputaran hotel ini cukup tinggi dari segi operasional. Saya yang memilili banyak usaha rasanya tidak sanggup jika harus mengatasi semuanya. Hal itu yang membuat saya mengambil keputusan, yaitu memindatangankan Silverswan Hotel pada Tuan Arthur Whitmore.

“Saya yakin berada di bawah pimpinan Tuan Arthur Whitmore, hotel ini akan makin berkembang pesat. Jika kalian ingin mengenal dalam tentang sosok Tuan Arthur Whitmore, kalian bisa mencari tahu di internet. Satu hal yang harus kalian tahu, bahwa bos kalian bukan dari kalangan biasa. Oleh karena itu, saya sangat yakin, hotel ini akan berkembang sangat pesat.

“Urusan legalitas semua sudah selesai. Mulai besok, pemilik Silverswan Hotel bukan lagi milik saya, melainkan milik Tuan Arthur Whitmore. Mungkin untuk urusan segala aturan perusahaan akan segera diumumkan sehubungan dengan adanya perubahan yang terjadi. Saya harap, kalian tetap semangat dan terus menunjukkan kinerja terbaik kalian.”

Franco memberikan pengumuman yang tegas dan lugas. Tentu pengumuman ini membuat semua orang di sana ada yang terkejut ada yang bereaksi biasa saja. Sebab, memang gosip perpindahan tangan Silverswan Hotel masih belum bisa dipastikan.

Namun, karena hari ini Franco sudah memberikan pengumuman jelas, semua orang tahu bahwa sekarang Silverswan Hotel sudah bukan lagi milik Franco Sullivan, melainkan sekarang sudah menjadi milik Arthur Whitmore.

“Tuan, apa Anda ingin mengucapkan sepatah kata?” tanya Franco sopan.

Arthur segera mendekat dan mengambil alih mikrofon dari tangan Franco. “Selamat pagi. Saya rasa perkenalan singkat tentang saya sudah disampaikan oleh Tuan Franco Sullivan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa nanti ada beberapa perubahan. Tapi, kalian semua tidak perlu khawatir, karena saya bukan seseorang yang terburu-buru dalam mengubah aturan.”

Semua karyawan di sana tersenyum dan bertepuk tangan di kala Arthur menyudahi sambutan singkat itu. Detik itu juga, Franco mengajak Arthur turun dari podium, membawanya  untuk berkenalan dengan beberapa staf. Namun, karena posisi Ariana paling dekat, dia langsung berhenti tepat di depan wanita itu.

“Tuan Whitmore, di depan Anda adalah Elleanor Donovan, operational manager di sini, dia sosok yang tegas dan bijak dalam memimpin operasional perusahaan. Dan di sampingnya adalah Ariana Bennett, sales and marketing manager terbaik kebanggaanku, Harus kau tahu, Ariana memiliki kinerja yang selalu memuaskan. Ah, ya, keperibadian Ariana mungkin agak menantang, tetapi soal pekerjaan, dia tidak pernah melalaikan tanggung jawab,” ucap Franco yang langsung memperkenalkan Ariana bersamaan dengan Elleanor.

Arthur terseyum, menatap wajah pucat Ariana. “Aku menyukai karyawan yang bisa melakukan hal-hal yang menantang. Itu akan menambah semangatku dalam memimpin perusahaan.”

Ariana menelan salivanya susah payah. Otaknya benar-benar tidak mampu berpikir jernih. Semua pengumuman Franco sangat jelas di otaknya, tetapi itu membuat alirah darah di tubuhnya seakan benar-benar berhenti.

Jelas saja wanita itu kalang kabut diserang rasa panik setelah mengetahui siapa Arthur sebenarnya. Bagaimana nasibnya setelah ini? Berada dalam satu perusahaan, dengan status jabatan berbeda jauh, Ariana rasanya ingin resign hari itu juga, seandainya tak ingat bahwa dia masih membutuhkan pekerjaan ini.

Hingga, dengan gerakan kaku Ariana memberikan salam hormat yang tampak tak sempurna. “Selamat datang di Silverswan Hotel, Tuan Ar—Whitmore,” sapanya dengan suara gemetar. Nyaris saja tadi dia salah sebut, dan itu membuatnya sangat panik sekaligus malu.

“Selamat datang, Tuan Whitmore. Saya yakin hotel ini akan makin berkembang pesat di bawah kepemimpinan Anda,” ucap Elleanor sopan, memberikan sambutan.

Arthur hanya membalas dengan anggukan singkat, dengan tatapan yang sejak tadi terus terarah pada Ariana. Detik itu, Franco mengajak Arthur pergi untuk berkenalan dengan beberapa staf penting yang wajib untuk dikenalkan. 

“Ariana, pemilik baru hotel ini sangat seksi dan tampan. Oh, lihat lengannya kekar sangat seksi dan menggoda. Jemarinya juga gagah dan sangat terlihat urat maskulinnya,” bisik Elleanor di telinga Ariana.

Ariana mengumpat pelan mendengar bisikan setan sahabatnya itu. “Diamlah, Ellanor. Kau itu jangan bicara sembarangan!”

Elleanor mendengkus kasar. “Aku hanya bicara fakta saja.”

Ariana mengembuskan napas kasar dan memejamkan mata penuh rasa lelah. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Dia seperti berada di dalam mimpi buruk, tetapi sialnya di kala dirinya mencubit tangannya, dia disadarkan bahwa dirinya berada di dunia nyata.

Lebih aman untukku kalau aku tidak mengenalnya. Ah! Sepertinya pura-pura tidak mengenal dan mengingat kejadian itu adalah pilihan yang baik. Ariana membatin sendiri, memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan hidupnya.

Sesi perkenalan berakhir. Franco segera membubarkan semuanya setelah memastikan sesi perkenalan benar-benar selesai. Detik di mana Franco membubarkan, Ariana menghela napas lega, segera saja menggenggam erat tangan Elleanor—dengan tangannya yang dingin—untuk segera pergi dari sana. Namun, baru tiga langkah diambil, suara Franco mendadak terdengar.

“Ariana, tunggu!”

Mau pura-pura tuli, tetapi tidak bisa. Akhirnya, dengan cengiran kaku dan tatapan waspada, dia membalikkan badan dan menatap penuh pada Franco.

“Ya, Tuan Franco?” tanya Ariana. Dalam hati, berharap penuh bahwa pria itu tidak akan membuatnya terseret lebih jauh dengan Arthur di hari pertama pertemuan mereka.

“Tuan Whitmore perlu mengenal tempat ini, jadi tolong kau temani dia berkeliling,” kata Franco dengan nada serius.

“S-saya, Tuan?” tanya Ariana menunjuk dirinya sendiri.

Franco mengangguk. “Ya, kau.”

Ariana tampak panik, tetapi dia mencoba bersikap tenang. “M-mungkin lebih baik Elleanor saja yang mengantar Tuan Whitmore. Dia lebih pintar dariku.”

Kening Elleanor mengerut, menatap terkejut akan apa yang diucapkan oleh Ariana.

“Elleanor mengurus operasional. Yang lebih banyak berkeliling hotel ini, kan, kau, Ariana. Kau ada di departemen pemasaran dan penjualan. Jadi, aku yakin kau yang paling paham dan aku yakin kau bisa tahu mana letak kelebihan dan kekurangan hotel ini,” kata Franco tenang, terdengar tegas. 

Ariana dibuat skakmat. Wanita cantik itu nyaris menjeritkan penolakannya di depan Franco. Namun, dia sadar betul, dia tidak bisa untuk menolak. Takdir seperti sedang meledeknya. Apa yang dia takutkan malah terjadi.

“Bagaimana, Tuan Whitmore, apa kau tidak keberatan jika berkeliling hotel ini ditemani Ariana?” Sekarang Franco bertanya pada Arthur.

Arthur menerbitkan senyum misterius saat menggeleng pelan. “Tidak. Justru aku penasaran dengan karyawan yang kau banggakan dengan terang-terangan. Sepertinya dia memang memiliki kinerja yang baik,” jawabnya, setengah menyindir secara halus.

Alarm dalam kepala Ariana serasa berdering kencang saat ini. Entah mengapa, dia justru menangkap makna lain dari kalimat Arthur. Membuat jantungnya berdetak cepat dengan tubuh mendadak terasa dingin diserang panik.

“Baiklah. Ariana, tolong pandu Tuan Whitmore dengan baik.” Franco mengangkat tangan kanan sepinggang, mempersilakan dua orang itu untuk pamit meninggalkan ruangan.

Ternyata, mempertahankan sikap profesional di saat seperti ini lebih sulit dari saat dirinya mencari pekerjaan. Berpura-pura bersikap formal padahal jelas dirinya dan pria di belakangnya ini sudah pernah buka-bukaan. Demi apa pun, Ariana ingin mengolok-olok dirinya sendiri sampai habis.

Menit demi menit berlalu, Ariana bisa bertahan dengan baik dengan hanya berjalan pelan di depan Arthur. Pria itu mengekorinya tanpa suara, entah sedang berbuat apa. Ariana sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengintip. Hingga, beberapa menit yang berlalu dengan kebisuan itu akhirnya pecah ketika Arthur membuka suara.

“Kenapa pria itu memujimu padahal kau tampak seperti amatir yang hanya memandu pemilik baru hotel tanpa berbasa-basi. Minimal kau memperkenalkan tempat ini dengan baik sebagai tanda bahwa kau menguasai hotel ini,” sindir Arthur, sengaja menegur pedas Ariana karena ingin menguji wanita itu.

Ariana bersikap pura-pura tidak mengenalnya? Arthur tidak akan membiarkan itu berlangsung lama.

Ariana berdeham kaku, pipinya memanas dengan cepat. “Maaf, Tuan. Saya terlalu tenggelam dalam pikiran,” kilahnya, mencoba menyelamatkan diri.

“Jadi, kau lebih mementingkan pikiranmu daripada keberadaanku?” tanya Arthur lagi.

“B–bukan begitu, Tuan.” Ariana menyangkal dengan cepat, tetapi langsung panik saat tak menemukan satu pun kata di benaknya.

Hingga, tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya terdorong cepat, terseret ke satu sudut sepi yang tersembunyi. Tubuh tinggi besar kemudian mengimpit tubuhnya di dinding yang dingin itu. Ariana menempel erat pada dinding, sementara tak ada jarak lagi dari tubuh yang merapat di belakangnya itu.

Dari jarak sedekat itu, hidung Ariana bisa mengendus aroma familier yang seketika membangkitkan kenangan panas, pun kulit tengkuknya yang terbuka dapat merasakan embusan napas panas.

Nice to see you again, Ariana,” bisik Arthur serak, tepat di belakang telinga Ariana.

Tangan kanannya merayap naik, menyentuh leher jenjang Ariana, lalu menggenggamnya dalam kepalan longgar. Hanya untuk mengarahkan agar wanita itu mendongak ke arahnya.

Tubuh Ariana membeku kaku. Dengan posisi seintim ini, dia benar-benar terkunci, sementara dia merasakan tangan kiri Arthur pun mulai ikut merayap. Meraba pinggangnya, memberi remasan posesif di sekitar perut ratanya. Membuatnya mati-matian menahan napas.

“Aku menyukai perut rampingmu,” bisik Arthur lagi dengan suara beratnya yang berhasil membuat sekujur tubuh Ariana meremang.

Namun, entah muncul kekuatan dari mana, Ariana mendadak kembali mendapatkan nyawanya. Dia menepis kasar kedua tangan Arthur, lalu berbalik dalam gerakan kilat. Sialnya, begitu berbalik, dia malah menemukan pria itu tengah berada tepat di depannya. Nyaris saja jidatnya tercium oleh bibir Arthur—yang pernah dinikmatinya itu.

Ariana menahan napas lagi, panik menyergapnya sampai dia kebingungan harus melakukan apa. “M–maaf, a–aku harus pergi,” katanya tergagap, suaranya bahkan sumbang.

Kemudian, Ariana mendorong kasar Arthur sekuat mungkin. Arthur pun mengalah, membiarkan wanita itu bebas. Untuk kali ini sepertinya sudah cukup sebagai “salam pertemuan”.

Arthur memandangi kepergian Ariana yang lari terbirit-birit sampai setiap ketukan heels-nya menimbulkan suara ribut di lorong sepi itu. Satu senyuman sinis terbit dengan miring di wajah tampan Arthur, sementara kedua matanya terus menatap tajam dan dalam pada sosok yang sudah hilang di balik tikungan lorong itu.

Well, permainan yang menarik, batin Arthur dengan seringai di wajahnya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 5. Layaknya Mainan Baru yang Tak Bisa Dibuang Mudah

    Ariana terus berjalan cepat, nyaris berlari di sepanjang lorong yang dilalui. Jantungnya berdebar kencang, matanya berlarian cepat mengamati situasi—seakan menunjukkan dia seperti tengah menghindari sesuatu.Apa yang terjadi beberapa saat lalu jelas membuatnya kalang kabut sekarang. Arthur dengan terang-terangan “menyapanya”, bahkan menyatakan jelas bahwa pria itu mengenalnya. Jadi, bagaimana dia bisa berpura-pura sekarang? Dia hanya akan terlihat bodoh jika melakukan itu.Begitu berhasil tiba di ruangannya, Ariana segera menutup pintu dan menguncinya, lalu tubuhnya bersandar lemas di badan pintu. Dia mencoba mengatur napasnya yang berantakan, sekaligus menenangkan debar jantungnya yang menggila. Namun, belum juga dia mendapatkan ketenangan, sebuah suara familier tiba-tiba saja terdengar.“Kau lama sekali menemani Tuan Whitmore,” ucap Elleanor yang ternyata sudah ada di dalam ruangan, tengah duduk santai di kursi kerja milik Ariana. Namun, wanita itu tampak mengerutkan kening, melihat

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 4. Permainan yang Layak Dilanjutkan

    Kaki Ariana tak sanggup menapak ke karpet mahal di ballroom kantornya. Aura wajahnya menunjukkan jelas keterkejutan. Lidahnya mendadak kelu serta wajahnya yang pucat tak bisa banyak berekspresi seperti biasanya.Tatapan mata dingin, tajam, dan memesona itu tak mungkin Ariana lupakan. Aroma parfum maskulin yang begitu kuat seolah menyeruak ke indra penciumannya, benar-benar membuat Ariana yakin bahwa memang pria di hadapannya itu adalah pria asing yang waktu itu dia sangka seorang gigolo.Ariana masih bergeming, dengan raut wajah penuh keterkejutannya tak bisa berkata apa pun. Tangannya sampai berkeringat dingin, padahal ballroom kantornya menggunakan AC central—yang mana jelas sangat dingin. Ya, tatapan Ariana ini jelas bukan hanya sepihak. Sosok pria tampan yang muncul, yang dipanggil ‘Tuan Whitmore’, juga terus menatapnya dengan tatapan penuh arti khusus. Oh, tidak ... tatapan itu bahkan seakan ingin menelanjangi Ariana.“Tuan Whitmore, mari kita ke podium,” ajak Franco sambil men

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 3. Bukan Dia!

    Ariana terbangun dengan napas putus-putus. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dia fokus pada mimpi yang benar-benar membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dia terbangun bukan dari mimpi indah, melainkan dari mimpi yang menurutnya tak perlu muncul.Ya, pria asing yang menghabiskan malam dengannya waktu itu hadir dalam mimpinya. Mengingat itu, kedua tangan Ariana langsung naik ke kepala dan mengacak rambut. Pipinya malah bersemu merah seiring ingatan yang kembali memutar jelas mimpi tadi.Ariana kini mengatur napas, mencoba sekeras mungkin tetap tenang. Puas mengacak rambut, dia lalu melirik ponselnya yang berdering singkat, membuat layar menyala. Saat ituah pandangannya fokus pada dua hal. Pertama, pada isi pesan yang memuat sederet kalimat horor. Kedua, pada angka di layar.[Ariana Bennett, kutunggu kau di kantor dalam sepuluh menit atau kau akan tahu akibatnya.]Nama ‘Boss’ teridentifikasi sebagai pengirim pesan tersebut.Kemudian, pandangan Ari

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 2. Dia adalah Ariana Bennett

    Seorang pria tampan tampak tengah mengenakan kausnya dengan gerakan yang tenang. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan senyuman tipis bertengger di wajahnya. Saat mengancingkan kancing teratas, pandangannya teralih ke samping, pada beberapa lembar uang di atas nakas.Senyum di wajah tampannya makin mengembang dengan sinis, mendukung tatapannya yang dingin sekaligus tajam, menusuk seakan penuh makna khusus.“Jadi, hanya segini bayaran yang kau berikan, Gadis Nakal?” Dia berbicara pada keheningan ruangan.Ya, begitu membuka mata, kamar itu telah sepi. Tempat yang menjadi saksi dari pergumulan panas semalam. Bisa disebut itu one night stand. Namun, jelas baginya itu bukan satu malam yang bisa diakhiri begitu saja dan dilupakan.Tanpa mengambil lembaran uang itu, pria tampan tersebut beranjak. Tubuh tegapnya telah terbungkus pakaian rapi yang menampilkan karimsa sekaligus pesonanya.Kaki yang menjejak lantai bergantian menimbulkan gema berirama memecah keheningan kamar. Derit pintu terdeng

  • Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan   Bab 1. Sentuhan Erotis Pria Asing

    Tangan putih mulus itu mendorong dada bidang seorang pria tampan yang segera saja terjatuh menimpa empuknya ranjang. Kedua tangan pria itu bertumpu ke ranjang, menopang tubuh. Sementara itu, kedua matanya berusaha dibuka lebar-lebar, mengenali wanita yang tampak samar di pandangannya.“Kau sepertinya bibit unggul. Wajahmu sangat tampan.”Tangan lentik wanita itu kini mulai menyentuh lembut permukaan kulit wajah si pria tampan , mengelus dengan gerakan nakal, hingga turun dan berhenti di sekitar dagunya. Mengangkatnya. Membuatnya menghadap tepat ke wajah wanita yang tahu-tahu sudah ada di dekatnya.Wanita itu ikut naik ke ranjang, duduk di pangkuan pria yang tampak tak berdaya di bawahnya. Baju luarnya sudah tanggal, menyisakan tanktop hitam dan rok selutut yang sedikit tersingkap.“Kuharap performamu bagus. Elle sudah memberikan banyak informasi, dan jelas dia pasti tidak akan mengecewakanku,” lanjut wanita itu.Ariana Bennett melebarkan senyum puas begitu melihat pria tampan itu hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status