LOGINSeorang pria tampan tampak tengah mengenakan kausnya dengan gerakan yang tenang. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan senyuman tipis bertengger di wajahnya. Saat mengancingkan kancing teratas, pandangannya teralih ke samping, pada beberapa lembar uang di atas nakas.
Senyum di wajah tampannya makin mengembang dengan sinis, mendukung tatapannya yang dingin sekaligus tajam, menusuk seakan penuh makna khusus.
“Jadi, hanya segini bayaran yang kau berikan, Gadis Nakal?” Dia berbicara pada keheningan ruangan.
Ya, begitu membuka mata, kamar itu telah sepi. Tempat yang menjadi saksi dari pergumulan panas semalam. Bisa disebut itu one night stand. Namun, jelas baginya itu bukan satu malam yang bisa diakhiri begitu saja dan dilupakan.
Tanpa mengambil lembaran uang itu, pria tampan tersebut beranjak. Tubuh tegapnya telah terbungkus pakaian rapi yang menampilkan karimsa sekaligus pesonanya.
Kaki yang menjejak lantai bergantian menimbulkan gema berirama memecah keheningan kamar. Derit pintu terdengar begitu handel ditarik mundur.
Pria itu berjalan tenang, tetapi jelas pikirannya sedang berlarian. Sialnya, hanya wajah wanita itu yang membayangi, menghantui, seolah tengah mengejeknya dengan bahagia.
Dia merasa ... direndahkan? Tidak. Dia hanya merasa tertarik untuk mengikuti permainan wanita itu.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, membuat langkahnya sempat tertahan. Kemudian, sambil menempelkan ponsel ke telinga, dia kembali berjalan.
“Ada apa?” tanya pria itu dingin.
Telepon itu dari asisten sekaligus orang kepercayaannya. Segera saja sang asisten menyampaikan maksudnya dengan kalimat lugas, tanpa basa-basi. Namun, setiap kalimatnya berhasil membuat raut wajah pria itu berubah.
Hingga kemudian, panggilan berakhir dengan menyisakan wajahnya yang mengeras. Pria itu tampak mengembuskan napas, tatapannya menajam. Dia kembali memasukkan ponsel ke saku, menambah laju langkah.
“Tuan Arthur Whitmore?”
Sebuah suara berat menyapa pria tampan yang bernama Arthur saat dia memasuki lobi, terdengar nada gugup bercampur kaget. Jelas saja orang itu tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, tetapi jelas dia mengenali sosok itu.
“Tuan, selamat pagi. Saya tidak menyangka Anda berada di hotel kami. Sungguh sebuah kehormatan. Apakah ada yang membuat Anda tidak nyaman selama di sini? Mohon sampaikan saja, Tuan,” lanjut sang manajer hotel. Dia mengenali siapa sosok tamu istimewa yang tak diduga-duganya ini.
Arthur menatap pria itu dingin. “Kau hanya perlu merahasiakan kedatanganku serta apa yang terjadi malam ini. Kau paham?” tanyanya, dengan nada penuh peringatan dan intimidasi.
Pria yang setengah membungkuk di depannya itu mengangguk cepat. “Saya paham, Tuan. Saya pastikan akan tutup mulut.”
Arthur tidak membalas lagi. Dia hanya terus melanjutkan langkah, menuju sebuah mobil hitam mengilap yang telah terparkir entah sejak kapan. Namun, yang pasti, sang sopir telah menunggunya lebih dulu.
“Tuan Arthur, semalam Nyonya Besar menanyakan keberadaan Anda,” lapor sang sopir dari kursi depan.
Seketika Arthur memicingkan mata, menatap tajam pada sopir pribadinya itu. “Bukannya aku sudah bilang agar kau tidak memberitahukan keberadaanku padanya?” Dia membalas dengan nada dingin yang mengintimidasi, sontak membangkitkan suasana suram di dalam mobil mahal itu.
Sang sopir tampak tidak berani buka mulut, takut salah kata. Hanya fokus menyetir di jalanan yang cukup lengang pagi itu.
“Kenapa kau masih memberikan informasi tentangku padanya?” tanya Arthur lagi. Mengintimidasi sang sopir tanpa ampun.
“S-saya tidak memberikan informasi apa pun, Tuan. Saya hanya mengatakan mungkin Anda sedang sibuk,” kata sang sopir tergagap.
Arthur mengangguk, dan mendengkus pelan. Dia paling tidak menyukai sikap posesif ibunya itu, sesuatu yang mengikat di usianya yang sudah matang. Dia berhak bebas, tetapi ibunya benar-benar posesif bahkan terbilang protektif.
Mobil hitam mengilap itu terus melaju, seiring kedua orang di dalamnya saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga, sang sopir kembali membuka suara, setelah mengumpulkan keberanian cukup lama.
“Tuan, maaf, Nyonya Besar menyampaikan bahwa hari ini beliau akan pergi ke luar negeri. Untuk itu, Anda diminta datang karena harus mengurus beberapa hal,” kata sopir itu.
Arthur menghela napas, membuang pandangan, menatap ke luar jendela. Pemandangan padatnya kota metropolitan di pagi hari itu selalu terasa membosankan baginya.
Tangannya lalu merogoh saku celana, kembali mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Mendadak pikirannya tertuju pada satu sosok.
“Aku ingin kau mencari tahu dengan lengkap data seseorang,” katanya saat panggilan suara terhubung. “Aku akan mengirimkan fotonya, beserta namanya. Kau harus mencari data lengkapnya dalam waktu singkat.”
Perintah tegas itu melayang dengan nada final. Tak ada negosiasi apalagi penolakan. Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari asistennya, Arthur menutup panggilan secara sepihak.
Pikirannya kembali terfokus pada jalanan, seiring jarak yang ditempuh menuju suatu tempat kian sempit.
Sang asisten jelas hafal semua sikap dan sifat bosnya. Jadi, dia benar-benar melakukan pekerjaan dengan cepat. Tepat lima belas menit berikutnya, ponsel Arthur kembali berdering, menandakan bahwa laporan sang asisten telah tiba.
[Wanita yang Anda cari bernama Ariana Bennett, seorang marketing manager di sebuah hotel yang bernama The Empire Haven. Tapi, kabar yang saya dapatkan hotel itu tengah di ambang kebangkrutan.]
Arthur memandang ponselnya dengan tatapan tajam, senyumnya menyungging sinis. Asistennya memang bisa diandalkan. Informasi mengenai gadis nakal itu telah dia dapat, dan dia sudah mendapatkan sebuah ide mengenai satu langkah kecil.
Kau pikir kau bisa bermain denganku, Gadis Nakal? Oh, atau harus kusebut sekarang kau adalah Wanita Nakal.
Arthur menyeringai seiring pikirannya yang mendadak teralih dan hanya terpusat pada Ariana Bennett.
***
Ariana tidak henti mengumpati dirinya sendiri sembari terus melangkah memasuki apartemen milik sahabatnya. Tiba di dekat sofa, dia melepas tas dan melemparnya ke sana. Kemudian, dengan embusan napas kasar, dia mendudukkan dirinya di salah satu sofa, tanpa dipersilakan.
Elleanor, yang baru saja akan menyambut temannya itu, berakhir memandang wajah Ariana dengan kernyitan di dahi. “Ada apa, Ariana?” tanyanya menyelidik.
Bukannya menjawab, Ariana malah mengusak kasar rambutnya, setengah menjambak. Saat ditanya, dia makin frustrasi saja. Tindakan itu benar-benar gila.
“Katakan padaku, pesanmu tadi itu hanya candaan, kan?” tanya Ariana menuntut jawaban Elleanor.
Kening Elleanor mengerut, menatap bingung Ariana. “Heh? Candaan? Apa maksudmu?” balasnya bertanya.
Ariana mendecakkan lidahnya pelan. “Tadi malam, kau mengaturku bertemu dengan pria bayaran. Tapi, kau juga mengirimkan pesan padaku bahwa pria bayaran itu tidak jadi datang. Kau hanya bercanda, kan?”
Elleanor makin tak mengerti. “Ariana, aku tidak bercanda sama sekali. Pria yang aku sewa untuk menemanimu memang berhalangan hadir. Baru sekitar beberapa menit lalu, dia mengatakan apakah kau mau mengatur jadwalmu atau tidak.”
Raut wajah Ariana mendadak frustrasi, dan memancarkan kepanikan. Dalam hati, dia tak henti-hentinya mengumpat. Sungguh, dia benar-benar bingung bagaimana harus menghadapi semuanya.
Ya Tuhan, tadi malam aku tidur dengan siapa? batin Ariana, dengan raut wajah gelisah.
Elleanor memiringkan kepalanya, menatap wajah Ariana yang panik. “Ariana, apa terjadi sesuatu?” tanyanya pelan dan hati-hati.
Ariana menghela napas kasar, dia bingung harus bicara seperti apa. Namun, jika dia cerita pada Ellanor, dia khawatir Elleanor akan berpikiran terlalu jauh. Dia sangat hafal seperti apa sahabatnya itu.
“Tidak terjadi apa pun. Aku hanya pusing karena tadi malam terlalu banyak minum alkohol,” jawab Ariana, mengeluarkan kalimat dusta.
Ariana terus berjalan cepat, nyaris berlari di sepanjang lorong yang dilalui. Jantungnya berdebar kencang, matanya berlarian cepat mengamati situasi—seakan menunjukkan dia seperti tengah menghindari sesuatu.Apa yang terjadi beberapa saat lalu jelas membuatnya kalang kabut sekarang. Arthur dengan terang-terangan “menyapanya”, bahkan menyatakan jelas bahwa pria itu mengenalnya. Jadi, bagaimana dia bisa berpura-pura sekarang? Dia hanya akan terlihat bodoh jika melakukan itu.Begitu berhasil tiba di ruangannya, Ariana segera menutup pintu dan menguncinya, lalu tubuhnya bersandar lemas di badan pintu. Dia mencoba mengatur napasnya yang berantakan, sekaligus menenangkan debar jantungnya yang menggila. Namun, belum juga dia mendapatkan ketenangan, sebuah suara familier tiba-tiba saja terdengar.“Kau lama sekali menemani Tuan Whitmore,” ucap Elleanor yang ternyata sudah ada di dalam ruangan, tengah duduk santai di kursi kerja milik Ariana. Namun, wanita itu tampak mengerutkan kening, melihat
Kaki Ariana tak sanggup menapak ke karpet mahal di ballroom kantornya. Aura wajahnya menunjukkan jelas keterkejutan. Lidahnya mendadak kelu serta wajahnya yang pucat tak bisa banyak berekspresi seperti biasanya.Tatapan mata dingin, tajam, dan memesona itu tak mungkin Ariana lupakan. Aroma parfum maskulin yang begitu kuat seolah menyeruak ke indra penciumannya, benar-benar membuat Ariana yakin bahwa memang pria di hadapannya itu adalah pria asing yang waktu itu dia sangka seorang gigolo.Ariana masih bergeming, dengan raut wajah penuh keterkejutannya tak bisa berkata apa pun. Tangannya sampai berkeringat dingin, padahal ballroom kantornya menggunakan AC central—yang mana jelas sangat dingin. Ya, tatapan Ariana ini jelas bukan hanya sepihak. Sosok pria tampan yang muncul, yang dipanggil ‘Tuan Whitmore’, juga terus menatapnya dengan tatapan penuh arti khusus. Oh, tidak ... tatapan itu bahkan seakan ingin menelanjangi Ariana.“Tuan Whitmore, mari kita ke podium,” ajak Franco sambil men
Ariana terbangun dengan napas putus-putus. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dia fokus pada mimpi yang benar-benar membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dia terbangun bukan dari mimpi indah, melainkan dari mimpi yang menurutnya tak perlu muncul.Ya, pria asing yang menghabiskan malam dengannya waktu itu hadir dalam mimpinya. Mengingat itu, kedua tangan Ariana langsung naik ke kepala dan mengacak rambut. Pipinya malah bersemu merah seiring ingatan yang kembali memutar jelas mimpi tadi.Ariana kini mengatur napas, mencoba sekeras mungkin tetap tenang. Puas mengacak rambut, dia lalu melirik ponselnya yang berdering singkat, membuat layar menyala. Saat ituah pandangannya fokus pada dua hal. Pertama, pada isi pesan yang memuat sederet kalimat horor. Kedua, pada angka di layar.[Ariana Bennett, kutunggu kau di kantor dalam sepuluh menit atau kau akan tahu akibatnya.]Nama ‘Boss’ teridentifikasi sebagai pengirim pesan tersebut.Kemudian, pandangan Ari
Seorang pria tampan tampak tengah mengenakan kausnya dengan gerakan yang tenang. Dia duduk di pinggir ranjang, dengan senyuman tipis bertengger di wajahnya. Saat mengancingkan kancing teratas, pandangannya teralih ke samping, pada beberapa lembar uang di atas nakas.Senyum di wajah tampannya makin mengembang dengan sinis, mendukung tatapannya yang dingin sekaligus tajam, menusuk seakan penuh makna khusus.“Jadi, hanya segini bayaran yang kau berikan, Gadis Nakal?” Dia berbicara pada keheningan ruangan.Ya, begitu membuka mata, kamar itu telah sepi. Tempat yang menjadi saksi dari pergumulan panas semalam. Bisa disebut itu one night stand. Namun, jelas baginya itu bukan satu malam yang bisa diakhiri begitu saja dan dilupakan.Tanpa mengambil lembaran uang itu, pria tampan tersebut beranjak. Tubuh tegapnya telah terbungkus pakaian rapi yang menampilkan karimsa sekaligus pesonanya.Kaki yang menjejak lantai bergantian menimbulkan gema berirama memecah keheningan kamar. Derit pintu terdeng
Tangan putih mulus itu mendorong dada bidang seorang pria tampan yang segera saja terjatuh menimpa empuknya ranjang. Kedua tangan pria itu bertumpu ke ranjang, menopang tubuh. Sementara itu, kedua matanya berusaha dibuka lebar-lebar, mengenali wanita yang tampak samar di pandangannya.“Kau sepertinya bibit unggul. Wajahmu sangat tampan.”Tangan lentik wanita itu kini mulai menyentuh lembut permukaan kulit wajah si pria tampan , mengelus dengan gerakan nakal, hingga turun dan berhenti di sekitar dagunya. Mengangkatnya. Membuatnya menghadap tepat ke wajah wanita yang tahu-tahu sudah ada di dekatnya.Wanita itu ikut naik ke ranjang, duduk di pangkuan pria yang tampak tak berdaya di bawahnya. Baju luarnya sudah tanggal, menyisakan tanktop hitam dan rok selutut yang sedikit tersingkap.“Kuharap performamu bagus. Elle sudah memberikan banyak informasi, dan jelas dia pasti tidak akan mengecewakanku,” lanjut wanita itu.Ariana Bennett melebarkan senyum puas begitu melihat pria tampan itu hany







