Share

2. Mulai Langsung?

Author: Sal.Sal
last update Last Updated: 2025-11-07 10:46:36

Kini, Aina telah duduk di tepi ranjang hotel, jari-jarinya gelisah memintal ujung selimut putih. Udara pendingin ruangan terasa terlalu dingin di kulitnya, padahal dari tadi ia bahkan belum menyalakan AC.

Perutnya mulas karena gugup.

Setelah ragu hampir sepuluh menit, Aina akhirnya menekan nama “Amel” di layar ponsel.

“Mel…” suaranya lirih begitu sambungan tersambung. “Gue kayaknya nggak jadi, deh.”

Dari seberang terdengar helaan napas panjang. “Na, jangan mulai lagi.”

“Serius, Mel. Ini gila. Gue duduk aja udah deg-degan, apalagi kalau beneran ketemu orangnya. Gue nggak bisa.” Suara Aina terdengar semakin bergetar.

“Na.” Nada Amel mengeras. “Lo udah di situ, kan?”

“Iya. Tapi gue mau balik aja lah ya.”

“Balik ke mana? Ke rumah yang bahkan udah gak lo anggap rumah?” sergah Amel cepat. “Ke laki-laki yang nyuruh lo sewa gigolo karena dia sendiri gak bisa nyentuh lo?”

Aina menggigit bibirnya. “Jangan ngomong gitu…”

“Terus gue harus ngomong apa, Na?” suara Amel meninggi. “Lo lima tahun nunggu keajaiban dari cowok yang jelas-jelas gak mau nyentuh lo. Gue bilang dari awal, itu bukan normal, Na. Udah pasti dia gay, dan lo cuma jadi kamuflase di depan keluarganya.”

Aina diam. Pandangannya kosong ke arah jendela besar yang memantulkan cahaya sore. Kata “gay” itu seperti menghantam keras di kepalanya.

Amel melanjutkan, kali ini suaranya lebih pelan tapi menekan, “Lo gak kasihan sama diri lo sendiri? Lo terus disalahin karena belum punya anak, tapi gak ada yang tau lo bahkan gak pernah disentuh. Dan sekarang lo punya kesempatan buat keluar dari lingkaran itu. Buat nunjukin lo bukan masalahnya.”

Aina menelan ludah, matanya berkaca. “Tapi Mel… gue takut.”

“Takut apa? Hans sendiri yang nyuruh lo, bahkan bilang kalo lo hamil juga dia bakal ngakuin. Jadi kenapa lo harus ngerasa salah? Dari pada lo terus disiksa perasaan, mending lo lakuin ini buat diri lo sendiri.” Amel terdengar semakin frustrasi.

Hening sejenak. Aina memejamkan mata, napasnya berat.

“Lo gak harus ngelakuin apa-apa kalau gak mau,” tambah Amel lebih lembut. “Tapi seenggaknya ketemu dulu aja. Udah gue bilang, cowoknya sopan, gak bakal maksa. Kalau lo ngerasa gak nyaman, tinggal pergi.”

Aina diam lama, sebelum akhirnya berkata pelan, “Gue cuma ketemu aja, ya.”

“Iya,” sahut Amel cepat. “Cuma ketemu. Siapa tahu kalau udah lihat orangnya nanti lo berubah pikiran.”

Tapi bahkan setelah telepon ditutup, Aina masih duduk di tepi ranjang yang sama, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.

Detik demi detik terasa panjang. Sampai akhirnya, suara ketukan pelan terdengar dari luar.

Tok. Tok. Tok.

Dan jantung Aina berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia langsung berdiri dan membuka pintu, tak lupa ia memasang senyum samar yang terasa terpaksa.

Namun, begitu pintu terbuka, Aina spontan menegakkan tubuhnya. Tapi senyum di bibirnya langsung memudar.

Pria yang masuk bukan seperti bayangan di kepalanya, bukan lelaki paruh baya berpenampilan matang seperti yang ia kira. Yang berdiri di depan pintu justru seorang pria muda, tinggi, berwajah tenang, dengan senyum tipis yang entah kenapa justru membuat jantung Aina berdetak lebih cepat.

Umurnya… mungkin dua puluh empat atau bahkan dua puluh tiga. Tujuh tahun lebih muda darinya. Masih terlalu muda. Tapi tatapannya tajam dan penuh percaya diri.

Aina terdiam, tangannya refleks meremas sisi gaunnya. “Kamu… yang dari aplikasi itu?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.

Pria itu melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya.

“Kenapa? Gak sesuai ekspektasi?” suaranya rendah, tenang, tapi ada nada menggoda di ujungnya.

Aina menggelengkan kepala pelan, tapi tubuhnya masih terpaku. “Nggak … bukan itu.”

Aina menatap pria itu beberapa detik tanpa suara. Masih sulit membayangkan kalau malam ini dia akan berhubungan dengan pria semuda itu, bukan suaminya, bukan siapa-siapa, hanya orang asing dari aplikasi.

Ia menelan ludah, lalu memalingkan pandangan sebentar, mencoba menenangkan diri.

Apa aku benar-benar akan melakukan ini? Dengan pria yang bahkan bisa kupanggil adik?

Tapi bayangan wajah Hans yang dingin dan kata-katanya semalam kembali terngiang. Rasa marah dan kecewa itu menekan rasa ragu yang tersisa.

Aina menghela napas, lalu menatap Rey lagi.

“Masuk aja. Duduk dulu,” katanya datar tapi tegas.

“Kamu Amel ya?” tanya pria itu sambil berjalan masuk di belakang Aina. “Aku Rey.”

Aina menoleh sekilas. Yang memesan memang Amel, jadi wajar saja nama Amel yang disebut. Ia kembali menggelengkan kepalanya.

“Aku Aina, Amel itu temanku yang memesankan lewat aplikasi itu,” jelas Aina singkat.

Aina berusaha terdengar tenang, meski jantungnya berdebar tak beraturan. Ia duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Napasnya terasa berat, udara di kamar hotel itu seolah menipis.

Perlahan, Aina mengeratkan genggamannya pada jaket yang ia pakai untuk menutupi gaun tipis yang ia pakai. Ia menarik ujung jaketnya rapat-rapat di dada, berusaha menutupi kegugupannya.

Rey berdiri beberapa langkah di depannya, tubuhnya tinggi, tegap, dengan sorot mata yang tajam tapi tak mengintimidasi.

Gerakannya tenang, nyaris terlalu percaya diri. Ia tidak banyak bicara, hanya memandangi Aina sesaat sebelum menurunkan pandangannya sebentar.

Rey mengangguk pelan. “Oke.”

Suasana hening beberapa detik.

Lalu, tanpa banyak basa-basi, ia melepaskan jaket hitam yang dikenakannya dan meletakkannya di kursi dekat meja rias. Setelah itu, jemarinya dengan tenang mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

Aina sontak menegakkan tubuhnya, matanya membulat. “Eh—tunggu, kamu ngapain?”

Rey berhenti sejenak, menatapnya lurus. “Kita bisa mulai langsung, kan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Akan Menerima Tawaran Anda

    Aina tentu saja merasa sangat tak percaya mendengar ucapan Rey itu. “Jangan bercanda Rey.”Rey menatap Aina lebih dalam lagi. “Aku sama sekali ga bercanda!” Jawabnya menggunakan suara yang sangat tegas.Aina yang masih tak percaya atau lebih tepatnya tak mau percaya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Rey yang tau Aina tak akan mudah menerima kata-katanya barusan. Berusaha kembali menggenggam lembut tangan Aina. Namun, Aina yang terlalu shock hanya bisa menghindari genggaman lembur tangan Rey dan melangkahkan kakinya beberapa langkah ke belakang.Mendapati penolakan itu, Rey kembali menghela napas. “Aina!” panggilnya dengan lirih.Tanpa berniat menyahut panggilan Rey, Aina hanya memperlihatkan raut wajahnya yang tajam.Rey memejamkan matanya sebentar. Lalu saat membukanya kembali, ia berkata. “Kalo kamu memang suatu saat menyesal, lebih baik—”“Cukup Rey!” Aina dengan cepat memotong ucapan Rey dengan marah.Rey yang tau Aina marah. Lagi-lagi hanya bisa menghela napasn

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Kembali Menjadi Seorang Gigolo

    Aina yang duduk kursi luar ruangan, tampak memperlihatkan raut wajah yang sangat resah sambil memegang ponsel yang ia tempelkan pada daun telinga. “Rey, angkat!” ucapnya dengan nada suara yang sangat khawatir.Disela rasa khawatir Aina. Tba-tiba saja dari kejauhan, Rey pria yang membuatnya resah selama berjam-jam muncul juga.“Rey!” Panggil Aina yang mulai berdiri dan menghampiri Rey. “Kamu dari mana? Kenapa lama banget pergi ke toilet nya? Terus kenapa juga, kamu ga angkat telepon aku?” tanyanya secara berbondong-bondong setelah sampai di hadapan Rey.Rey tak menjawab. Nampak, pria yang bertubuh tinggi itu hanya menatap Aina dengan tatapannya yang kosong.Kesal karena merasa diacuhkan, Aina segera berteriak memanggil nama kekasihnya itu. “Rey!”Rey yang tersentak akibat teriakan Aina, segera menjawab. “Ah.. iya kenapa?”Aina menghela napasnya kasar. Lalu menatap Rey dengan tatapan yang sangat kesal. “Kamu kenapa si?”Rey menggelengkan kepalanya. “Gapapa.” Bohongnya dengan ekspresi

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Bisa Kasih Aina Kehidupan Seribu Kali Lipat Lebih Baik

    Rey membalikan badannya. Tampak raut wajah terkejut, terpampang jelas di wajah tampannya. “Apa maksud anda?” Hans kembali memperlihatkan senyum menyebalkannya. Tanpa mengeluarkan suara, ia mengisyaratkan Rey lewat matanya untuk kembali duduk. Mengerti atas isyarat yang digunakan Hans. Rey yang penasaran, dengan terpaksa kembali duduk di depan pria menyebalkan itu. “Jadi, bisa jelaskan apa maksud anda?” tanyanya cepat karena merasa tak sabar.Hans menatap Rey dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Maksud saya, apa kamu tau berapa tabungan yang Aina punya?” Rey menggelengkan kepalanya pelan.Mendapati gelengan kepala Rey, Hans tersenyum menyeringai. “Kalo begitu percaya pada saya, uang yang Aina punya di tabungannya itu tidak seberapa!”Tak paham mengapa Hans mengatakan hal tersebut dengan percaya diri, Rey mengernyitkan dahinya heran. “Kenapa saya harus percaya pada anda?” Seperti tak gentar, Hans sekarang menatap Rey dengan tatapan yang tajam. “Karena bagaimanapun saya suaminy

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Apa Kamu Percaya?

    Di dalam bangunan rumah sakit besar. Tampak Rey dengan wajah kusutnya, keluar dari ruangan dan bergegas berjalan menuju kursi yang tak jauh serta segera duduk di sana.Aina yang mengikuti langkah Rey dari belakang. Bergegas menyamakan langkahnya dan saat sampai, ia segera duduk di samping Rey. “Rey!” panggilnya dengan lembut sambil mengusap punggung tegap pria du sampingnya itu.Rey dengan wajah sendunya mengalihkan pandangan pada Aina. “Harusnya dari awal saat Key minta buat sekolah normal, aku ga izinin. Kalo aja aku ga izinin, mungkin aja kondisinya sekarang ga bakal parah lagi.” Ucapnya dengan putus asa.Aina menghela napas. Dengan lembut, ia menangkup kedua pipi Rey menggunakan tangannya. “ Rey denger. Itu bukan salah kamu. Aku tau pasti, kamu ngelakuin itu buat bikin Key bahagia.”“Tapi—”“Udah ga baik terus menyalahkan diri sendiri dan menyesali apa yang telah terjadi.” Aina dengan cepat memotong sanggahan Rey yang belum selesai Rey mengalihkan pandangannya ke segala arah. Tat

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Ga Bakal Paksa

    Di dalam ruangan sederhana, tampak Rey yang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang amat gusar. Disela kegusaran Rey, mata pria itu terus-terusan melirik jam dinding seperti orang yang tak tenang. “Kenapa Aina belum selesai juga bicaranya?” gumamnya yang merasa resah karena wanitanya yang sedang berbicara dengan calon mantan suaminya, sudah satu jam lebih belum selesai dan masuk juga ke dalam kontrakan mereka. “Apa aku intip aja ya?” ucapnya lagi yang mulai menghentikan langkahnya.Namun tak lama, Rey menggelengkan kepalanya tegas. “Kamu harus percaya sama Aina Rey!” tambahnya yang setelahnya kembali berjalan gusar.Di saat Rey merasa gusar menunggu Aina. Tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu dari luar dan tentunya membuat pria yang merasa gusar itu mengalihkan tatapannya. “Aina!” panggilnya denga suara yang amat terdengar senang saat mendapati orang yang masuk adalah kekasihnya.Aina yang berwajah lesu, berjalan cepat menghampiri Rey. Lalu saat sampai, tanpa aba-aba, ia bergega

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Merasa Ga Tahan

    Hans semakin terkejut. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Bola matanya membulat sempurna. Mulutnya tak bisa ia gerakan untuk berkata. Di pikirannya sekarang hanya ada satu hal, ‘Aina tau rahasianya.’Melihat keterdiaman Hans. Aina mengartikannya sebagai pembenaran. Karena hal itu, seketika wajah lesu tampak jelas. Tatapan tajam, ia pancarkan pada pria di depannya. “Udahlah, sekarang kita ga usah lanjutun pembahasan ini dan lebih baik kamu pulang!” usirnya secara halus karena sudah sangat merasa lelah.Hans menggelengkan kepalanya tegas, sorot mata yang dalam ia perlihatkan pada istrinya. “Aku bakal pulang, kalo kamu juga ikut aku buat pulang.”Aina memperlihatkan senyum sinis di bibirnya. Tatapan tajam masih sangat jelas di matanya. “Aku ga mau!” suaranya terdengar sangat dingin dan tajam.Raut wajah Hans seketika memerah, amarah tampak jelas mulai menguasai tubuhnya. Sorot mata tak kalah tajam dari Aina, ia perlihatkan. “Kenapa? Apa itu karena kamu tau rahasia aku?” Aina menghela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status