Share

Sentuhan Berondong Sewaanku
Sentuhan Berondong Sewaanku
Author: Sal.Sal

1. Sewa Aja Gigolo!

Author: Sal.Sal
last update Last Updated: 2025-11-07 10:33:18

“Hans, malam ini bisa gak kita lakuin itu?” suara Aina pelan tapi tegas. Ia duduk di ujung ranjang, hanya mengenakan lingerie tipis, rambutnya tergerai menutupi sebagian bahu.

Hans yang baru masuk kamar hanya melirik sekilas sebelum melepas jasnya. “Aku capek, Aina. Lain kali.”

“Lain kali?” Aina berdiri, menahan nada kesal. “Udah lima tahun menikah, ‘lain kali’-mu itu gak pernah datang. Kita gak pernah berhubungan, terus gimana bisa punya anak?”

Hans mendengus. “Bilang aja belum rezekinya. Apa susahnya?”

Aina membulatkan mata, nadanya meninggi. “Susah karena semua orang nyalahin aku! Ibu kamu terus ngomel, bilang aku mandul, padahal kamu yang gak pernah mau nyentuh aku!”

Hans berhenti, tapi tak menoleh.

Aina melangkah mendekat, suaranya bergetar antara marah dan sedih. “Aku tahu pernikahan ini karena Ibu kamu. Tapi itu bukan alasan buat kamu memperlakukan aku kayak gini. Aku istri kamu, Hans. Aku punya hak buat diperlakukan layaknya seorang istri.”

Ia menatap punggung suaminya yang tetap membisu. “Aku gak minta banyak. Gak tiap hari, gak lama. Tapi setidaknya kamu berusaha. Seminggu dua atau tiga kali aja. Aku cuma pengen ngerasa masih punya suami, bukan patung di rumah sendiri.”

Hans berbalik, menatapnya dengan wajah lelah. “Aku gak mau maksa diri buat sesuatu yang aku gak pengen.”

Aina terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. “Berarti cuma aku yang peduli, ya? Cuma aku yang masih mau nyelamatin rumah tangga ini.”

Hans menghela napas keras, menatapnya dengan dingin. “Kamu tuh kenapa sih, Aina? Semua hal gak harus tentang itu. Aku udah cukup capek di luar, jangan bikin tambah sesak di rumah.”

Aina melangkah lebih dekat. “Aku juga capek, Hans. Tiap kali ke rumah Ibu kamu, aku disindir karena belum punya anak. Aku dituduh gak bisa ngasih cucu, sementara alasan aku juga belum hamil itu karena  kamu gak pernah mau nyentuh aku!”

Hans mengambil bantal dari ranjang, nada suaranya naik. “Kalau kamu malu, ya udah. Gak usah ke sana lagi!”

Aina menatapnya tajam. “Kamu cuma bisa lari dari semuanya, ya? Dari tanggung jawab, dari aku?”

Hans membalik tubuhnya, matanya menusuk. “Aku gak mau bahas hal gak penting tiap malam! Aku kerja buat rumah ini, buat hidup kamu! Gak cukup?”

Aina menatapnya dengan mata basah, suaranya pecah. “Yang aku mau bukan uangmu, Hans! Aku cuma pengen kamu... nyentuh aku.”

Hans terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Kalau cuma itu yang kamu mau, gampang, Aina.” Hans mendekat sedikit, suaranya dingin dan menusuk. “Sewa aja gigolo. Banyak di luar sana yang bisa nyenengin kamu.”

Dunia Aina seketika hening. Nafasnya tercekat, tubuhnya kaku.

“Kamu… barusan ngomong apa?” suaranya gemetar, nyaris tak percaya.

Hans menatapnya datar, tak ada penyesalan sedikit pun di wajahnya. “Kamu denger, kan? Aku serius. Kalau cuma butuh itu, sewa aja. Aku gak akan larang.”

Aina melangkah mendekat, matanya membulat tak percaya. “Kamu sadar gak kamu ngomong apa, Hans?! Aku istri kamu! Istri yang kamu nikahin di depan keluargamu!”

Hans mendengus pendek. “Justru karena itu. Aku tahu kamu gak akan bisa terus hidup kayak gini. Tapi kalau kamu terus nuntut ke aku, kamu cuma bakal kecewa. Jadi, ya udah ambil jalan lain.”

Aina memelototinya, air mata jatuh deras. “Kamu pikir aku perempuan macam apa, hah? Kamu pikir aku segitu rendahnya sampai harus—”

“Bukannya aku suruh kamu selingkuh,” potong Hans datar. “Cuma sewa. Simple. Kamu gak perlu ngerasa bersalah, gak perlu ngemis-ngemis perhatian aku tiap malam. Aku juga gak akan ngadu ke Ibu, gak akan ganggu. Bahkan kalau kamu sampai punya anak pun, aku gak keberatan ngakuin itu anakku. Dunia luar gak perlu tahu, kan?”

Aina terpaku. “Kamu... gila?” suaranya nyaris berbisik. “Kamu tega ngomong kayak gitu ke istri kamu sendiri?”

Hans melengos, mengambil jaket yang tadi ia lempar ke kursi. “Aku cuma realistis, Aina. Kita nikah karena Ibu.”

Aina menatapnya dengan wajah hancur. Sementara itu, Hans sudah berbalik, berjalan keluar kamar tanpa ekspresi.

***

“Kalau emang suami lo nyuruh sewa gigolo, yaudah, sewa aja sekalian,” kata Amel santai sambil menyerahkan segelas teh.

Sejak beberapa jam yang lalu, Aina memang sudah ada di kosan sempit milik Amel, sahabatnya untuk curhat tentang suamina yang semalam menyuruhnya menyewa gigolo.

Aina langsung menatapnya tak percaya. “Lo gila, Mel? Masa gue beneran nurutin omongan begituan?”

Amel bersandar ke dinding. “Lah, terus mau lo apain? Lo udah lima tahun digituin, Na. Lima tahun gak pernah disentuh. Kalau itu bukan penelantaran, gue gak tau lagi apa.”

Aina terdiam, menunduk. “Gue cuma… gak habis pikir aja. Gue pikir setelah nikah hidup gue bakal tenang. Gue udah gak punya siapa-siapa, Mel. Nyokap pergi waktu gue SMP, bokap mabuk tiap hari, terus meninggall pas gue kuliah. Gue cuma pengen punya keluarga yang bener.”

Amel menatapnya iba. “Tapi lo nikah sama orang yang bahkan gak nganggap lo istri.”

Beberapa detik hening. Aina seolah memikirkan tiap perkataan sahabatnya yang hampir tak bisa disangkal.

“Na, gue boleh jujur gak?” kata Amel akhirnya.

 Aina mengangkat kepala. “Apa lagi?”

“Jujur, liat Hans yang kayak gitu, gue jadi mikir dia itu gay.”

Aina refleks tertawa pendek, tapi getir. “Ngaco lo.”

“Ngaco apanya? Coba pikir dengan logis deh. Cowok mana yang lima tahun tidur serumah sama istrinya tanpa pernah nyentuh? Bahkan nyuruh lo nyari laki-laki lain? Itu bukan dingin lagi, Na. Itu aneh,” potong Amel langsung, ia membenarkan posisi duduknya karena rasa antusiasnya.

Aina terdiam lama. Ia ingin menyangkal, tapi kalimat itu terlanjur menancap. Bahkan, rasanya cukup masuk akal.

Lelaki normal, mungkin tak akan setahan itu tidur satu kamar dengan seorang wanita selama lima tahun tanpa menyentuhnya sama sekali.

Amel menatapnya lekat. “Udah jelas banget, Na. Hans itu gay. Makanya lo gak bakal dapet apa-apa kalo terus nunggu dia berubah. Lagian, yang nyuruh lo sewa gigolo juga dia, kan? Yaudah, lakuin aja.”

Aina menatap Amel, ragu. “Lo serius?”

“Serius lah. Toh bukan lo yang mulai. Dia yang nyuruh. Anggap aja lo cuma nurutin perintah suami sendiri,” jawab Amel santai, tapi suaranya mantap.

Aina kembali diam. Pikirannya berputar, antara malu, marah, dan… penasaran. Lama kemudian, ia menghembuskan napas pelan. “Emang… caranya gimana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Akan Menerima Tawaran Anda

    Aina tentu saja merasa sangat tak percaya mendengar ucapan Rey itu. “Jangan bercanda Rey.”Rey menatap Aina lebih dalam lagi. “Aku sama sekali ga bercanda!” Jawabnya menggunakan suara yang sangat tegas.Aina yang masih tak percaya atau lebih tepatnya tak mau percaya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Rey yang tau Aina tak akan mudah menerima kata-katanya barusan. Berusaha kembali menggenggam lembut tangan Aina. Namun, Aina yang terlalu shock hanya bisa menghindari genggaman lembur tangan Rey dan melangkahkan kakinya beberapa langkah ke belakang.Mendapati penolakan itu, Rey kembali menghela napas. “Aina!” panggilnya dengan lirih.Tanpa berniat menyahut panggilan Rey, Aina hanya memperlihatkan raut wajahnya yang tajam.Rey memejamkan matanya sebentar. Lalu saat membukanya kembali, ia berkata. “Kalo kamu memang suatu saat menyesal, lebih baik—”“Cukup Rey!” Aina dengan cepat memotong ucapan Rey dengan marah.Rey yang tau Aina marah. Lagi-lagi hanya bisa menghela napasn

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Kembali Menjadi Seorang Gigolo

    Aina yang duduk kursi luar ruangan, tampak memperlihatkan raut wajah yang sangat resah sambil memegang ponsel yang ia tempelkan pada daun telinga. “Rey, angkat!” ucapnya dengan nada suara yang sangat khawatir.Disela rasa khawatir Aina. Tba-tiba saja dari kejauhan, Rey pria yang membuatnya resah selama berjam-jam muncul juga.“Rey!” Panggil Aina yang mulai berdiri dan menghampiri Rey. “Kamu dari mana? Kenapa lama banget pergi ke toilet nya? Terus kenapa juga, kamu ga angkat telepon aku?” tanyanya secara berbondong-bondong setelah sampai di hadapan Rey.Rey tak menjawab. Nampak, pria yang bertubuh tinggi itu hanya menatap Aina dengan tatapannya yang kosong.Kesal karena merasa diacuhkan, Aina segera berteriak memanggil nama kekasihnya itu. “Rey!”Rey yang tersentak akibat teriakan Aina, segera menjawab. “Ah.. iya kenapa?”Aina menghela napasnya kasar. Lalu menatap Rey dengan tatapan yang sangat kesal. “Kamu kenapa si?”Rey menggelengkan kepalanya. “Gapapa.” Bohongnya dengan ekspresi

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Bisa Kasih Aina Kehidupan Seribu Kali Lipat Lebih Baik

    Rey membalikan badannya. Tampak raut wajah terkejut, terpampang jelas di wajah tampannya. “Apa maksud anda?” Hans kembali memperlihatkan senyum menyebalkannya. Tanpa mengeluarkan suara, ia mengisyaratkan Rey lewat matanya untuk kembali duduk. Mengerti atas isyarat yang digunakan Hans. Rey yang penasaran, dengan terpaksa kembali duduk di depan pria menyebalkan itu. “Jadi, bisa jelaskan apa maksud anda?” tanyanya cepat karena merasa tak sabar.Hans menatap Rey dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Maksud saya, apa kamu tau berapa tabungan yang Aina punya?” Rey menggelengkan kepalanya pelan.Mendapati gelengan kepala Rey, Hans tersenyum menyeringai. “Kalo begitu percaya pada saya, uang yang Aina punya di tabungannya itu tidak seberapa!”Tak paham mengapa Hans mengatakan hal tersebut dengan percaya diri, Rey mengernyitkan dahinya heran. “Kenapa saya harus percaya pada anda?” Seperti tak gentar, Hans sekarang menatap Rey dengan tatapan yang tajam. “Karena bagaimanapun saya suaminy

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Apa Kamu Percaya?

    Di dalam bangunan rumah sakit besar. Tampak Rey dengan wajah kusutnya, keluar dari ruangan dan bergegas berjalan menuju kursi yang tak jauh serta segera duduk di sana.Aina yang mengikuti langkah Rey dari belakang. Bergegas menyamakan langkahnya dan saat sampai, ia segera duduk di samping Rey. “Rey!” panggilnya dengan lembut sambil mengusap punggung tegap pria du sampingnya itu.Rey dengan wajah sendunya mengalihkan pandangan pada Aina. “Harusnya dari awal saat Key minta buat sekolah normal, aku ga izinin. Kalo aja aku ga izinin, mungkin aja kondisinya sekarang ga bakal parah lagi.” Ucapnya dengan putus asa.Aina menghela napas. Dengan lembut, ia menangkup kedua pipi Rey menggunakan tangannya. “ Rey denger. Itu bukan salah kamu. Aku tau pasti, kamu ngelakuin itu buat bikin Key bahagia.”“Tapi—”“Udah ga baik terus menyalahkan diri sendiri dan menyesali apa yang telah terjadi.” Aina dengan cepat memotong sanggahan Rey yang belum selesai Rey mengalihkan pandangannya ke segala arah. Tat

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Ga Bakal Paksa

    Di dalam ruangan sederhana, tampak Rey yang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang amat gusar. Disela kegusaran Rey, mata pria itu terus-terusan melirik jam dinding seperti orang yang tak tenang. “Kenapa Aina belum selesai juga bicaranya?” gumamnya yang merasa resah karena wanitanya yang sedang berbicara dengan calon mantan suaminya, sudah satu jam lebih belum selesai dan masuk juga ke dalam kontrakan mereka. “Apa aku intip aja ya?” ucapnya lagi yang mulai menghentikan langkahnya.Namun tak lama, Rey menggelengkan kepalanya tegas. “Kamu harus percaya sama Aina Rey!” tambahnya yang setelahnya kembali berjalan gusar.Di saat Rey merasa gusar menunggu Aina. Tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu dari luar dan tentunya membuat pria yang merasa gusar itu mengalihkan tatapannya. “Aina!” panggilnya denga suara yang amat terdengar senang saat mendapati orang yang masuk adalah kekasihnya.Aina yang berwajah lesu, berjalan cepat menghampiri Rey. Lalu saat sampai, tanpa aba-aba, ia bergega

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Merasa Ga Tahan

    Hans semakin terkejut. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Bola matanya membulat sempurna. Mulutnya tak bisa ia gerakan untuk berkata. Di pikirannya sekarang hanya ada satu hal, ‘Aina tau rahasianya.’Melihat keterdiaman Hans. Aina mengartikannya sebagai pembenaran. Karena hal itu, seketika wajah lesu tampak jelas. Tatapan tajam, ia pancarkan pada pria di depannya. “Udahlah, sekarang kita ga usah lanjutun pembahasan ini dan lebih baik kamu pulang!” usirnya secara halus karena sudah sangat merasa lelah.Hans menggelengkan kepalanya tegas, sorot mata yang dalam ia perlihatkan pada istrinya. “Aku bakal pulang, kalo kamu juga ikut aku buat pulang.”Aina memperlihatkan senyum sinis di bibirnya. Tatapan tajam masih sangat jelas di matanya. “Aku ga mau!” suaranya terdengar sangat dingin dan tajam.Raut wajah Hans seketika memerah, amarah tampak jelas mulai menguasai tubuhnya. Sorot mata tak kalah tajam dari Aina, ia perlihatkan. “Kenapa? Apa itu karena kamu tau rahasia aku?” Aina menghela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status