MasukSatu hari kemudian, tampak di dalam taxi. Aina, Hans dan Arya sedang berada. Terasa suasana di dalam mobil itu untuk Hans sangatlah hening. Dikarenakan Arya yang sedang tertidur pulas sedangkan Aina melamun entah memikirkan apa. Tak tahan dengan keheningan itu, Hans akhirnya membuka suara. “Aina!“Aina mengalihkan tatapan matanya pada sang suami. Sorot mata penuh tanda tanya tampak jelas di mata nya. Melihat sorot mata penuh tanda tanya itu. Hans mulai menghela napasnya. “Sebenarnya kamu kenapa? Dari kemarin kita di Bali sampai sekarang kita pulang ke Jakarta, kamu kayak orang yang lagi banyak pikiran.“Mendengar pertanyaan itu. Tentu membuat Aina merasa gugup. Tak kunjung mendapat balasan dari Aina. Akhirnya Hans kembali memanggil nama Aina. "Aina!“Aina tersentak. Tatapan terkejut pada Hans tampak jelas di kedua matanya.Melihat tatapan terkejut itu. Hans hanya bisa mengusap wajahnya kasar.Tau Hans kesal. Aina merasakan perasaan bersalah. “Hans...“ panggilnya dengan suara yang
Esok harinya tampak di ranjang luas dua tubuh telanjang bulat sedang tertidur pulas dan hanya ditutupi oleh satu selimut tebal. Tak lama berselang, Aina sebagai salah satu dari sosok itu mulai membuka kedua kelopak matanya dan menatap sekelilingnya. Saat matanya itu menatap sosok Rey yang tidur di sampingnya. Ingatan tentang malam panas kembali muncul di benak Aina. Mengingat hal itu, raut wajah panik mulai tampak di wajahnya. “Aina apa yang sudah kamu lakukan?“ tanyanya pada diri sendiri merutuki apa yang telah ia lakukan tadi malam. Di sisi lain Rey yang merasa terusik oleh pergerakan Aina di sampingnya, mulai membuka kedua kelopak matanya. “Aina!“ sapanya dengan suara yang cerah. Mendapat sapaan itu, Aina mengalihkan tatapan matanya pada Rey. Rey mengernyitkan dahinya heran, saat mendapati tatapan yang dipancarkan Aina begitu tegang. “Ada apa? kenapa raut wajah kamu begitu tegang?”Tanpa membalas ucapan Rey, Aina segera memerintah Rey untuk segera keluar “Sebaiknya kamu kelua
Rey yang tau Aina sedang terkejut, bergegas memanfaatkan situasi itu untuk melumat bibir Aina dengan penuh nafsu.Mendapati lumutan dari Rey, Aina langsung tersadar dari rasa terkejutnya. Dengan sekuat tenaga, saat tersadar itu ia mendorong tubuh Rey agar menjauh darinya. Namun, seberapa keras pun usaha Aina. Karena tenaga Rey yang kuat ditambah lagi pria itu seperti orang yang sedang kesetanan. Tentu membuat usahanya menjadi sia-sia.Walaupun tau usahanya sia-sia. Aina tetap berusaha melepaskan ciuman mereka dengan memukul-mukul dada Rey secara keras.Rey yang mendapati pukulan keras itu, tetap tak gentar. Bahkan tampak sekarang, ia malah semakin memperdalam lagi ciuman mereka. Sampai akhirnya saat lima menit berlalu dengan cepat, Rey yang merasa Aina sudah kehabisan nafas bergegas melepaskan ciumannya. Dengan penuh emosi saat ciuman mereka terlepas, Aina menampar pipi Rey dengan keras. “Brengsek!” umpatnya sambil berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.Bukannya marah, Rey y
Malam harinya. Tampak Rey membereskan kopernya karena memutuskan untuk pulang ke rumah saja, setelah pertengkarannya tadi pagi dengan Aina.Disela membereskan koper, ia mendengar suara ketukan seseorang di depan pintu kamar. Dengan langkah cepat, Rey mulai berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu itu.Saat pintu terbuka, terlihat jelas Dini lah orang yang mengetuk pintunya.Melihat keberadaan Dini, kening Rey mulai berkerut heran. “Ada apa?” tanyanya dengan dingin.Senyum manis yang awalnya terpancar cerah di wajah Dini. Tentu saja langsung menghilang, saat dirinya mendengar ucapan Rey yang tak bersahabat. “Ini Pak, saya bawain kopi buat Bapak.“ Ucapnya yang sekarang mulai mengangkat salah satu tangannya yang memang sedang menenteng satu cup kopi.Tanpa merubah ekspresi dinginnya, Rey berkata. “Bawa lagi aja, saya lagi ga mau minum kopi!”Helaan napas kasar terdengar jelas dari mulut Dini. “Bukannya hari ini, Bapak mau selesain pekerjaan supaya besok bisa
Dua hari Aina beserta suami dan anaknya berlibur di Bali berlalu dengan cepat. Selama dua hari itu, mereka selalu menikmati waktu berliburnya dengan penuh semangat.Namun, walaupun dua hari berlibur itu terasa menyenangkan. Tetapi ada sesuatu yang menyebalkan, khususnya untuk Aina. Dimana selama dua hari itu, Rey yang memang diketahui juga ada di Bali ditambah lagi menginap di hotel yang sama dengan Aina dan sekeluarga. Entah kenapa terasa selalu mendekatinya. Ditambah lagi berusaha berkomunikasi dengan Arya, walaupun satu kali pun tak pernah. Karena Aina dan Hans selalu berhasil mencegat dan mendoktrin Arya untuk tak berbicara dengan Rey dengan alasan pria itu adalah orang asing.Tak terkecuali pun pagi ini. Saat Aina, Hans dan Arya sedang menikmati makan pagi mereka di resort. Tiba-tiba saja Rey yang tampak baru selesai makan, berusaha mengajak mengobrol Arya. Namun seperti hari-hari kemarin, Aina dan Hans mencegatnya dan meminta pria itu untuk pergi secara halus karena ada Arya di
Melihat keberadaan Rey. Hans dengan cepat setelah menyadarkan dirinya sendiri dari rasa terkejut. Mulai mengajak anak beserta istrinya untuk pergi dari bandara. “Aina, ayo kita pergi sekarang!” Tanpa bantahan. Aina segera mengikuti keinginan Hans. Tampak, wanita yang sudah berumur 40-an itu segera berjalan cepat dengan menggenggam tangan putranya dengan erat.Saat Hans, Aina dan Arya pergi dari bandara. Tanpa mereka sadari, Rey yang entah sejak kapan sudah memandang mereka. Mulai bergumam pelan. “Sampai ke ujung dunia pun, aku akan kejar kamu Aina!” Kepalan tangan, tampak ia lakukan saat bergumam itu.***Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Akhirnya keluarga Hans sampai juga di hotel tempat mereka akan menginap. “Bunda! Ayah! Ayo cepetan kita simpan barang-barang di kamar. Karena setelah itu, ayo kita pergi jalan-jalan di pantai!” Dengan penuh semangat, Arya mengajak kedua orang tuanya yang sudah check-in untuk segera ke kamar mereka agar setelahnya mereka bisa cepat-cepat jala
Di dalam bangunan rumah sakit besar. Tampak Rey dengan wajah kusutnya, keluar dari ruangan dan bergegas berjalan menuju kursi yang tak jauh serta segera duduk di sana.Aina yang mengikuti langkah Rey dari belakang. Bergegas menyamakan langkahnya dan saat sampai, ia segera duduk di samping Rey. “Rey
Aina mengepalkan kedua tangannya. “Telat Hans! Mungkin kalo kamu bilang gitu sebelum kehadiran Rey, aku akan merasa sangat senang. Tapi untuk sekarang, jujur aja kata-kata kamu itu terdengar sangatlah memuakan.” Ucapnya tanpa memandang Hans dan setelahnya bergegas berjalan masuk ke dalam kontrakann
Aina tentu saja merasa sangat tak percaya mendengar ucapan Rey itu. “Jangan bercanda Rey.”Rey menatap Aina lebih dalam lagi. “Aku sama sekali ga bercanda!” Jawabnya menggunakan suara yang sangat tegas.Aina yang masih tak percaya atau lebih tepatnya tak mau percaya, hanya bisa menggeleng-gelengka
Tiga hari selepas kepergian Rey berlalu dengan cepat. Selama tiga hari itu, Aina terus-menerus berusaha menghubungi sosok Ayah dari bayi yang sedang dikandungnya itu. Akan tetapi, sosok Rey tak hanya tak mengangkat panggilan Aina, karena nomor dari pria itu pun tiba-tiba sudah tak aktif lagi.Aina







