Share

BAB 63 BERLIN

Author: Grei Graw
last update publish date: 2026-10-18 21:05:58

Tanah merah yang masih basah itu ditaburi kelopak bunga mawar dan melati. Hujan gerimis menyiram pemakaman umum sore itu, menambah dingin suasana yang sejak awal sudah terasa menyayat hati. Dara berdiri terpaku di samping pusara Vincent. Tangannya menggenggam jemari kecil Claudya yang terus menangis sesenggukan.

Dara memandangi nisan bertuliskan nama Vincent dengan tatapan kosong. Air matanya menetes tanpa henti. Di balik semua sifat Vincent yang arogan dan sering kali menyebalkan, ada kenyataa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 150 JANGAN SOK SUCI!

    Julian membaca pesan itu berulang kali. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menyembunyikan kepanikan luar biasa di dadanya. Ia tahu betul watak ayahnya. Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Jika ia tetap diam di sini, ayahnya benar-benar akan datang membawa Karen dan menciptakan kekacauan di rumah Dara, tepat di saat kondisi Dara dan ayahnya sedang sangat lemah."Ada apa, Julian?" tanya Dara dengan suara pelan. Wanita itu menangkap perubahan drastis pada raut wajah Julian yang mendadak pucat dan tegang.Julian langsung mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menata suaranya agar terdengar setenang mungkin di depan Dara."Tidak ada apa-apa, Dara. Hanya urusan pekerjaan," jawab Julian berbohong, berusaha tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan."Jangan berbohong, Julian," desis Dara tajam. Matanya menyelidik lekat-lekat ke dalam mata pria itu. "Aku melihat pesan masuk itu dari orang tuamu, kan? Mere

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 149 TRAUMA VS ANCAMAN BARU

    Dengan sisa tenaga dan rasa panik yang menyelimutinya, Julian mencari benda di sekitar hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyikut kaca spion samping demi mencari celah, atau mencari batu besar di pinggir jalan untuk memecahkan kaca jendela belakang agar bisa membuka pintu.Julian menyambar batu pembatas jalan yang tergeletak di pinggir trotoar, lalu memukulkannya ke bagian sudut kaca belakang mobil SUV Dara hingga retak dan hancur. Dengan tergesa-gesa, ia memasukkan tangannya melalui celah pecahan kaca untuk meraih pengunci pintu dari dalam. Begitu terdengar bunyi kuncinya terbuka, Julian langsung menyambar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar."Dara! Kamu bisa dengar suara aku?" panggil Julian dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kedua bahu Dara.Dara merintih pelan. Kesadarannya perlahan kembali meski kepalanya masih terasa sangat pening dan berputar. Saat membuka mata, hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah wajah Julian yang dipenuhi peluh,

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 148 BENTURAN KERAS DI JALAN RAYA

    Viktor terpaku di tempatnya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah tangan Julian yang masih menggenggam pergelangan tangan Dara. Suasana basemen parkiran mendadak terasa makin dingin dan sunyi."Dara..." panggil Viktor, suaranya terdengar bergetar karena terkejut.Dara menatap Viktor dengan pandangan dingin. Rasa sedih yang tadinya sempat terselip kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi kekecewaan yang sudah bulat. Ia tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari mulut pria itu.Saat Viktor melangkah maju dan hendak membuka suara untuk membela diri, Julian tiba-tiba bergerak. Tanpa melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Dara, tangan kiri Julian membuka pintu bagian pengemudi sedan hitamnya yang terparkir tepat di samping mereka. Dengan cepat, ia meraih sebuah map cokelat tebal dari dalam kabin."Sebelum kamu sibuk mencari pembelaan atau membalikkan keadaan, lebih baik kamu lihat ini dulu Viktor," ucap Julian tajam, suara dinginnya.Julian membuka map tersebut dan menari

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 147 PERTEMUAN YANG RUMIT

    Dara berbalik melangkah meninggalkan koridor lantai 8 dengan pikiran yang sangat kacau. Kakinya terasa lemas saat berjalan menuju lift. Bayangan Karen yang memeluk dan mencium Viktor di ambang pintu apartemen terus berputar di kepalanya.Ia bersandar pada dinding lift yang perlahan bergerak turun ke lantai 5. Rasa sesak merayap di dadanya, tetapi bersamaan dengan itu, sebuah kesadaran menghantamnya cukup keras. Pantas saja belakangan ini Viktor jarang membalas pesannya, sulit dihubungi, dan tidak pernah lagi mengajaknya bertemu. Ternyata inilah alasan sebenarnya. Pria itu sudah menemukan wanita lain.Dara menghela napas panjang, mencoba menata emosinya. Ia tahu betul ia tidak boleh egois. Jika Viktor memilih wanita lain, itu adalah hak pria itu. Lagipula, hubungan mereka selama ini memang mengambang dan ia belum pernah memberi kepastian atas perasaan Viktor. Di sisi lain, Dara sadar dirinya sendiri tidak sepenuhnya bersih. Ia sudah begitu jauh melangkah bersama Julian, bahkan telah be

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 146 RAHASIA DI APARTEMEN 804

    Keesokan harinya, Dara memutuskan untuk pergi ke toko bunga miliknya untuk mengecek persiapan dan pesanan yang masuk. Di tengah kesibukannya, Grace, mendekatinya dengan membawa catatan pesanan."Bu Dara, ini ada pesanan buket bunga yang cukup besar, yang harus segera diantar ke sebuah apartemen," kata Grace kepada Dara.Melihat Grace tampak kebingungan mengatur jadwal, Dara berinisiatif menawarkan diri. "Sudah, biar saya saja yang antar. Kebetulan jalur saya searah. Sekaligus saya izin pulang lebih awal ya? Saya harus merawat ayah saya yang masih sakit di rumah."Grace mengangguk cepat sambil tersenyum lega. "Iya, tidak apa-apa, Bu Dara. Biar toko bunganya saya yang jaga."Setelah urusan toko beres, Dara bergegas pergi sendiri mengendarai mobil SUV abu-abu miliknya—mobil mewah pemberian Julian yang kini selalu ia pakai untuk beraktivitas. Namun, di tengah perjalanan saat ia hendak memarkirkan kendaraannya di basemen apartemen elit, pandangannya tiba-tiba menangkap sebuah mobil yang sa

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 145 KEDOK YANG TERBONGKAR

    Julian membaca sekilas pesan singkat dari Karen di layar dasbor, lalu mendengus pelan. Ia sama sekali tidak berniat membalas pesan itu. Jari-jarinya mencengkeram kemudi dengan kuat saat ia menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan kota yang mulai ramai menjelang siang hari. Emosinya bergejolak, bercampur antara rasa marah karena dikhianati dan tekad bulat untuk mengakhiri sandiwara busuk ini.Tidak sampai dua puluh menit kemudian, mobil sedan hitam Julian sudah memasuki halaman luas rumah bergaya klasik milik orang tuanya. Di pelataran parkir, beberapa mobil mewah milik kerabat dan keluarga besar sudah berjejer rapi. Acara keluarga yang semula dirancang untuk membahas hari bahagia pernikahannya, hari ini akan berubah menjadi arena pembongkaran kebohongan terbesar dalam hidupnya.Julian melangkah keluar dari mobil dengan langkah tegap. Begitu ia membuka pintu utama rumah, suara riuh obrolan dari ruang tamu langsung menyambut pendengarannya. Puluhan anggota keluarga besar tampak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status