Share

BAB 69 LAYAR STUDIO

Author: Grei Graw
last update publish date: 2026-10-20 14:55:50

Dara sempat terpaku sejenak mendengarkan ajakan Viktor. Tawaran itu terdengar sangat menarik, apalagi selama ini ia tahu betapa kerasnya Viktor bekerja untuk menyelesaikan proyek film terbarunya tersebut.

Di sampingnya, Claudya sedang duduk menyelonjorkan kaki di atas kursi toko. Anak itu tampak memeluk boneka beruang kesayangannya sambil sesekali menguap pelan karena kantuk mulai menyerang.

"Memangnya aku boleh ikut?" tanya Dara ragu. Ia memegang cangkirnya dengan kedua tangan, menikmati sisa-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 147 PERTEMUAN YANG RUMIT

    Dara berbalik melangkah meninggalkan koridor lantai 8 dengan pikiran yang sangat kacau. Kakinya terasa lemas saat berjalan menuju lift. Bayangan Karen yang memeluk dan mencium Viktor di ambang pintu apartemen terus berputar di kepalanya.Ia bersandar pada dinding lift yang perlahan bergerak turun ke lantai 5. Rasa sesak merayap di dadanya, tetapi bersamaan dengan itu, sebuah kesadaran menghantamnya cukup keras. Pantas saja belakangan ini Viktor jarang membalas pesannya, sulit dihubungi, dan tidak pernah lagi mengajaknya bertemu. Ternyata inilah alasan sebenarnya. Pria itu sudah menemukan wanita lain.Dara menghela napas panjang, mencoba menata emosinya. Ia tahu betul ia tidak boleh egois. Jika Viktor memilih wanita lain, itu adalah hak pria itu. Lagipula, hubungan mereka selama ini memang mengambang dan ia belum pernah memberi kepastian atas perasaan Viktor. Di sisi lain, Dara sadar dirinya sendiri tidak sepenuhnya bersih. Ia sudah begitu jauh melangkah bersama Julian, bahkan telah be

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 146 RAHASIA DI APARTEMEN 804

    Keesokan harinya, Dara memutuskan untuk pergi ke toko bunga miliknya untuk mengecek persiapan dan pesanan yang masuk. Di tengah kesibukannya, Grace, mendekatinya dengan membawa catatan pesanan."Bu Dara, ini ada pesanan buket bunga yang cukup besar, yang harus segera diantar ke sebuah apartemen," kata Grace kepada Dara.Melihat Grace tampak kebingungan mengatur jadwal, Dara berinisiatif menawarkan diri. "Sudah, biar saya saja yang antar. Kebetulan jalur saya searah. Sekaligus saya izin pulang lebih awal ya? Saya harus merawat ayah saya yang masih sakit di rumah."Grace mengangguk cepat sambil tersenyum lega. "Iya, tidak apa-apa, Bu Dara. Biar toko bunganya saya yang jaga."Setelah urusan toko beres, Dara bergegas pergi sendiri mengendarai mobil SUV abu-abu miliknya—mobil mewah pemberian Julian yang kini selalu ia pakai untuk beraktivitas. Namun, di tengah perjalanan saat ia hendak memarkirkan kendaraannya di basemen apartemen elit, pandangannya tiba-tiba menangkap sebuah mobil yang sa

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 145 KEDOK YANG TERBONGKAR

    Julian membaca sekilas pesan singkat dari Karen di layar dasbor, lalu mendengus pelan. Ia sama sekali tidak berniat membalas pesan itu. Jari-jarinya mencengkeram kemudi dengan kuat saat ia menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan kota yang mulai ramai menjelang siang hari. Emosinya bergejolak, bercampur antara rasa marah karena dikhianati dan tekad bulat untuk mengakhiri sandiwara busuk ini.Tidak sampai dua puluh menit kemudian, mobil sedan hitam Julian sudah memasuki halaman luas rumah bergaya klasik milik orang tuanya. Di pelataran parkir, beberapa mobil mewah milik kerabat dan keluarga besar sudah berjejer rapi. Acara keluarga yang semula dirancang untuk membahas hari bahagia pernikahannya, hari ini akan berubah menjadi arena pembongkaran kebohongan terbesar dalam hidupnya.Julian melangkah keluar dari mobil dengan langkah tegap. Begitu ia membuka pintu utama rumah, suara riuh obrolan dari ruang tamu langsung menyambut pendengarannya. Puluhan anggota keluarga besar tampak

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 144 SUNTIKAN DANA GELAP

    Pak Felix terdiam. Ia menatap lekat-lekat mata Julian yang memancarkan kesungguhan, mencoba menimbang setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Meskipun keraguan masih jelas membayangi benaknya, kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih membuat Pak Felix tidak memiliki tenaga lebih untuk berdebat panjang.Menjelang siang, dokter yang memeriksa Pak Felix datang dan menyatakan bahwa kondisi pria paruh baya itu sudah stabil dan diperbolehkan pulang ke rumah dengan catatan harus banyak istirahat. Mendengar kabar itu, Dara langsung bergerak cepat. Ia dibantu oleh Julian mengurus segala administrasi rumah sakit dan menyiapkan keperluan ayahnya untuk bersiap pulang.Tidak lama kemudian, mobil Julian sudah terparkir di pelataran rumah sakit. Perjalanan pulang terasa lebih tenang dibandingkan kepanikan malam sebelumnya. Begitu tiba di rumah Pak Felix, Julian dengan sigap membopong Pak Felix sampai ke kamarnya di lantai bawah, sementara Dara membimbing langkah Claudya."Terima kasih sudah

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 143 KEBERANIAN DARA DAN JANJI JULIAN

    Julian membiarkan ponselnya terus berdering di atas dasbor. Matanya sama sekali tidak beralih dari wajah Dara. Lampu layar ponsel yang berkedip-kedip memantulkan nama Karen di antara kegelapan kabin mobil, membuat suasana di antara mereka terasa semakin tegang."Ponselmu bunyi, Julian," bisik Dara lirih. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Julian, merasa tidak nyaman dengan situasi ini.Namun, genggaman Julian justru semakin erat. "Biarkan saja. Aku tidak peduli lagi dengannya."Dara menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berpacu kencang. Pernyataan Julian barusan benar-benar di luar dugaannya. "Julian, jangan gila. Kamu masih tunangan Karen. Kita tidak bisa berpura-pura seolah tidak ada apa-apa di antara kalian. Aku juga tidak bisa memakai namamu begitu saja di depan Ayah.""Aku tidak sedang gila, Dara," potong Julian tegas. Ia akhirnya mematikan dering ponselnya tanpa mengangkat panggilan tersebut, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula. "Aku

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 142 ULTIMATUM AYAH

    Dara terdiam di samping ranjang. Pernyataan sang ayah menghantam dadanya begitu keras, jauh lebih menyakitkan daripada rasa panik yang ia rasakan beberapa jam lalu. Ia menatap wajah pucat Pak Felix, mencari sedikit saja ruang kompromi di sana, tetapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan dan tuntutan yang tidak masuk akal."Dara butuh waktu untuk berpikir, Yah," ucap Dara akhirnya. Ia tidak berani menolak langsung saat ini. Mengingat kondisi jantung ayahnya yang belum stabil, satu bantahan keras saja bisa berakibat fatal.Pak Felix memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat dari hidungnya yang terpasang selang oksigen. "Jangan terlalu lama, Dara. Pihak Viktor menunggu kepastian besok malam."Dara tidak menjawab lagi. Ia berdiri perlahan dari kursi, mengusap bekas air mata di pipinya, lalu melangkah keluar ruangan. Saat pintu kaca itu tertutup di belakangnya, badannya langsung terasa lemas. Ia bersandar pada dinding koridor rumah sakit yang dingin, berusaha mengatur napasnya ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status