홈 / Romansa / Sentuhan Kedua yang Mematikan / BAB 142 ULTIMATUM AYAH

공유

BAB 142 ULTIMATUM AYAH

작가: Grei Graw
last update 게시일: 2026-11-06 11:24:23

Dara terdiam di samping ranjang. Pernyataan sang ayah menghantam dadanya begitu keras, jauh lebih menyakitkan daripada rasa panik yang ia rasakan beberapa jam lalu. Ia menatap wajah pucat Pak Felix, mencari sedikit saja ruang kompromi di sana, tetapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan dan tuntutan yang tidak masuk akal.

"Dara butuh waktu untuk berpikir, Yah," ucap Dara akhirnya. Ia tidak berani menolak langsung saat ini. Mengingat kondisi jantung ayahnya yang belum stabil, satu bantahan kera
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 158 BINGUNG

    Stefan mendongak tajam ke arah pintu masuk. Sosok yang berdiri di ambang pintu itu perlahan melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Di bawah temaram lampu ruangan, wajah itu terlihat jelas.Dara.Wanita itu berdiri dengan napas tersengal dan raut wajah yang diliputi kepanikan luar biasa. Di tangannya, sebuah kantong plastik kecil berisi obat penurun panas dan bubur hangat tampak tergenggam erat."Dara...?" gumam Stefan, kaget setengah mati melihat kehadiran wanita itu di tempat ini.Dara tidak memedulikan keterkejutan Stefan. Begitu melihat Julian tergeletak lemas di lantai, ia langsung menjatuhkan kantong yang dibawanya dan bergegas menghampiri. Dara segera mengambil alih posisi Stefan, memangku kepala Julian dengan lembut ke atas pahanya."Julian... hei, buka mata kamu," bisik Dara dengan suara bergetar hebat, air matanya nyaris tumpah melihat kondisi pria itu yang begitu menyedihkan.Stefan yang masih terduduk di sebelah mereka buru-buru menjelaskan, "Tadi pagi badannya memang sudah

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 157 ORANG SURUHAN?

    Taksi yang ditumpangi Stefan berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa modern. Dari luar kaca bangunan tersebut, Stefan sudah bisa melihat Viktor duduk santai di sudut ruangan sambil menyesap kopinya. Pria itu tampak percaya diri, seolah yakin kesepakatan besar akan segera masuk ke dalam kantongnya.Stefan menghela napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah masuk. Ia berjalan lurus menghampiri meja Viktor tanpa mengumbar senyum sedikit pun.Viktor menegakkan duduknya begitu melihat Stefan mendekat. "Akhirnya datang juga kamu, Stef. Gimana? Julian sudah menandatangani berkas pencairan dana untuk proyek film kita?" tanya Viktor langsung tanpa basa-basi.Stefan memundurkan kursi di hadapan Viktor lalu duduk dengan tenang. Ia meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja tepat di depan pria itu."Tidak ada pencairan dana, Viktor," ujar Stefan dengan suara datar namun sarat penegasan. "Aku ke sini untuk menyampaikan keputusan resmi dari Julian. Zeroun Media membatalkan s

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 156 RENCANA BARU

    Stefan mengamati ponsel Julian yang terus berdering. Setelah menghela napas panjang, Julian mengangkat panggilan video tersebut dan menyalakan mode pengeras suara. Layar langsung menampilkan wajah Karen dengan senyum miring yang menyebalkan. Nomor ponsel Karen ganti lagi.Sebelum Karen sempat membuka suara untuk memprovokasi lebih jauh, Julian menatap layar dengan pandangan dingin dan berbicara dengan nada sangat datar."Tidak usah ganggu Dara lagi," kata Julian tegas. "Aku akan menikah denganmu. Tapi beri aku waktu enam bulan untuk mempersiapkan segalanya."Karen tampak terkejut mendengar ucapan itu, namun senyum kemenangannya perlahan kembali mengembang di wajah liciknya. Tanpa menunggu balasan dari Karen, Julian langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.Stefan berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap Julian dengan mata melotot, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya."Kamu gila, Julian?" cetus Stefan sponta

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 155 SIAPA DALANGNYA?

    Julian menatap tajam ke arah Karen, tetapi ia sadar malam ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni perdebatan panjang. Emosinya sedang di ujung tanduk, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sama dengan wanita itu hanya akan memicu pertengkaran yang tidak ada habisnya.Tanpa menjawab sepatah kata pun, Julian berbalik badan begitu saja. Ia kembali melangkah keluar meninggalkan teras mewah tersebut, mengabaikan suara Karen yang memanggilnya dengan nada tinggi dari belakang.Julian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan langsung menginjak pedal gas meninggalkan halaman rumah orang tuanya. Daripada harus menghadapi tekanan keluarganya dan provokasi Karen malam ini, ia memilih memutar arah menuju penthouse pribadinya di pusat kota. Suasana tempat itu jauh lebih tenang dan memberikannya ruang untuk berpikir jernih.Sesampainya di penthouse, Julian langsung merebahkan diri sejenak di sofa ruang tamu dengan mantel yang masih melekat di tubuhnya. Kepalanya terasa pening. Tak lama kemudi

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 154 WANITA MEDUSA

    Suasana di dapur terasa begitu kaku, setelah Pak Felix menyampaikan keputusannya. Julian menarik napas panjang, berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan ayah Dara. Meski dadanya terasa sesak, ia sadar tak punya alasan untuk marah. Pak Felix hanya seorang ayah yang sedang berusaha melindungi anaknya.Julian menatap Pak Felix yang masih duduk terkulai di kursi. Wajah pria paruh baya itu tampak makin lesu setelah menguras tenaganya dengan bicara panjang lebar."Baik, Pak Felix," ujar Julian dengan suara pelan namun terdengar tegas. "Saya menghormati keputusan Bapak. Saya paham Bapak hanya ingin yang terbaik untuk Dara dan Claudya."Julian memalingkan pandangannya ke arah Dara. Wanita itu masih berdiri di belakang kursi ayahnya dengan kepala tertunduk."Dara," panggil Julian pelan.Dara mendongak, mempertemukan pandangannya dengan mata Julian. Ada kelelahan yang luar biasa terpancar dari sana, namun juga ada sedikit rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan."Aku pamit dulu," kat

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 153 SEBUAH ULTIMATUM

    Dara menggelengkan kepala perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Kalau begitu, masalahnya jauh lebih besar dari yang kita kira, Julian. Kamu tidak bisa melawan mereka sendirian.""Aku tidak sendirian, Dara," potong Julian cepat. Pria itu menatap lurus ke mata Dara dengan sorot penuh keyakinan. "Aku sudah memutuskan sejak semalam. Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur oleh perjanjian bisnis yang kotor itu, apalagi sampai mengorbankan kamu dan Claudya.""Tapi risikonya terlalu besar," balas Dara dengan suara bergetar. "Keluargamu bisa kehilangan segalanya. Dan Karen... perempuan itu tidak akan tinggal diam melihat posisinya terancam."Julian bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati Dara yang masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Tanpa ragu, pria itu meraih kedua tangan Dara dan menggenggamnya erat. Hangat telapak tangan Julian sedikit meredakan gemetar di jemari Dara."Biarkan aku mengurus semuanya. Aku akan cari cara lain untuk menyelamatkan pe

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status