Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 217: Sekali Saja

Share

CHAPTER 217: Sekali Saja

Author: Heiho
last update publish date: 2026-05-05 19:01:41

“Selamat pagi, Rara.”

Rara melenguh pelan saat merasakan kecupan di sekujur wajahnya. Ia perlahan membuka mata dan melihat Jefri tersenyum di depannya.

“Pagi, mas,” sapanya dengan suara serak. Ia berdehem sejenak karena merasakan tenggorokannya tidak enak.

Jefri melebarkan senyumnya. “Biar mas ambilkan minum,” ucapnya lalu mengambil gelas di atas nakas.

Pria itu lalu membantu Rara untuk duduk. Tangannya yang lain menopang punggung Rara. Setelah posisi Rara pas, Jefri segera mengarahkan g
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 264: Suasana Janggal

    Jawaban Hani itu menimbulkan berbagai reaksi.Jefri menyeringai puas. Rara meringis, sudah menyangka jawaban itu yang akan keluar. Tiara memelototkan matanya.Sementara Alexander, wajahnya seketika memerah. Terlihat kesal.“Berhenti bercanda seperti itu, Hani! Umurmu sudah 22 tahun!” seru Alexander membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka.“Sebentar lagi kamu menjadi pewaris. Jadi, sudah waktunya untukmu memikirkan keluarga agar ada pewaris selanjutnya!”Hani berdecak pelan. Orang ini benar-benar menyebalkan. Ia lebih tidak menyukainya dibanding Tiara.

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 263: Tiga Situasi

    “Selamat malam, Tuan Merphilus. Anda datang cepat, ya?”Senyuman Merphilus berubah dingin. Begitu juga dengan sorot matanya yang tadi sempat hangat.Hani merinding melihatnya. Ia tanpa sengaja meremas lengan Leo lebih erat, membuat mata Merphilus menyipit.“Ini acara saya. Tentu saja saya harus datang lebih cepat,” balas Merphilus ringan, “Bukan begitu, Nona Hani?”Hani tersentak. Kaget karena tiba-tiba Merphilus kembali mengarahkan percakapan padanya.Pria itu memang sepertinya sengaja menargetkan dirinya.Menarik napas pelan, Hani lalu membuka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 262: Melindungi Hani

    Hani tertegun. Bibirnya bergerak-gerak, kesulitan untuk merangkai jawaban atas perkataan Leo barusan. Jantungnya berdebar kencang.Dengan gugup, ia akhirnya berkata pelan, “Om tadi bilang apa?”Leo menghela napas pelan, “Tuan Merphilus bilang ia sudah tidak sabar bertemu Nona lagi di acara Grand Opening nanti.”Ternyata ia tidak salah dengar.Tubuh Hani seketika meremang. Kepanikan melanda dirinya.Ternyata hari seperti ini memang akan datang.Sejak Hani mengungkapkan perasaannya ke Merphilus, ia langsung menutup kontaknya dengan pria itu. Pesan-pesan pria itu tak dibalas. Panggilannya juga.Hani tahu Merphilus pasti akan bertindak karena hal ini. Ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari. Mewanti-wanti kalau Merphilus datang tiba-tiba ke rumahnya.Tapi, hari demi hari berlalu. Merphilus tidak menunjukkan batang hidungnya sekali pun. Dan seolah mendukungnya, semesta juga tidak mempertemukan mereka sama sekali.Hani sudah merasa lega. Mungkin Merphilus akhirnya memutuskan untuk

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 261: Pertanyaan Leo

    “Anda belum pulang, Tuan Leo?” tanya Merphilus, memecah pembicaraan. Ucapannya terdengar ramah, tapi nada suaranya tidak mengenakkan di telinga Leo.“Saya habis dari toilet,” balas Leo tenang.“Ah, kalau begitu, Nona Hani juga di sana?”“Tidak. Beliau sudah menunggu di mobil.”Merphilus hanya ber-hm pelan untuk menanggapi. Ia melangkahkan kakinya lagi, hendak masuk ke toilet. Sebelum suara Leo kembali menghentikannya.“Apa yang terjadi antara anda dan Nona Hani?”Merphilus kembali menoleh padanya. Tatapannya menajam.“Apa maksud anda?” tanyanya rendah.Leo menarik napas sejenak. Ia menatap lurus Merphilus dengan tatapan yang tak kalah sengitnya.Dipikirkan bagaimana pun, ucapan Liam tadi terasa mengganjal baginya. Merphilus mengalami mood buruk sehari setelah meeting besar. Sama seperti Hani yang muram di waktu yang sama. Hani tidak muram sampai meeting selesai dan melakuka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 260: Kejanggalan

    “Pak direktur, Nona Hani dan Tuan Leo datang ke kantor.”Merphilus sontak mendongakkan kepalanya. Menghentikan aktivitas men-scroll ponselnya yang sedari tadi ia lakukan.Sudah beberapa hari ini, Liam mendapati bosnya itu suka bermain ponsel. Sebenarnya bukan hal yang aneh, mengingat Merphilus memang orang yang sibuk jadi sudah pasti banyak yang menghubunginya.Tapi, intensitasnya lebih tinggi dari biasanya. Dan ia hanya terlihat menscroll ponselnya sambil memasang wajah masam.Sekali waktu, Liam pernah tidak sengaja melihat layar ponselnya dan menemukan kolom pesan terpampang di sana. Itulah yang Merphilus sering lihat selama ini.Dengan kata lain, bosnya itu mungkin sedang menunggu pesan dari seseorang?Orang seperti apa yang membuat Merphilus begitu menantikan pesannya?Meski ia penasaran, tentu saja Liam tidak bisa menanyakannya. Pekerjaannya bisa langsung terancam.“Kenapa mereka tiba-tiba datang?” tanya Me

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 259: Merphilus dan Hani

    Hani bertambah muram. Itu yang Rara tangkap ketika melihatnya sekarang.Tapi … kenapa? Setelah meeting kemarin, dia masih terlihat baik-baik saja. Atau dia yang tidak memerhatikannya saja karena sibuk bertengkar dengan Jefri kemarin?‘Tidak. Aku yakin dia kemarin masih biasa saja,’ batin Rara meyakinkan dirinya. Ia menatap lamat-lamat Hani yang tengah berdiskusi dengan Jefri. Membahas kelanjutan programnya.Kemuraman itu sebenarnya tidak terlihat jelas di wajahnya. Hani berhasil menyembunyikannya dengan baik.Insting Rara lah yang mengatakan hal itu. Insting persahabatan selama bertahun-tahun. Haruskah ia mulai menanyakannya ke Hani? “Ada apa, nyonya Rara?”Rara tersentak. Kaget karena seseorang tiba-tiba menginterupsinya. Wanita itu segera menoleh dan melihat Leo menatapnya penasaran.“O-oh, kenapa tiba-tiba bertanya, om?” tanyanya tergagap. Masih dipenuhi rasa kaget.“Anda menatap nona Hani sangat serius,” balas Leo, “Apa ada sesuatu yang salah?”“Oh, tidak! Itu cuma—”Rara menela

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 31: Antara Jefri dan Rachel

    “Ra, aku minta seprai dan selimut buat kamar VIP 311, ya. Malam ini mereka check in,” ucap salah satu senior kerja Rara yang datang ke tempat laundry. Rara mengangguk. Ia dengan sigap mengambil bungkusan plastik yang diminta rekannya dan menaruhnya di meja counter. Perempuan itu kemudian mencatatny

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 36: Melihatnya Bahagia

    ‘Harusnya aku tidak menolaknya malam itu,’ batin Rara frustrasi. Beberapa hari kembali berlalu sejak penolakan Jefri dan mereka masih belum menemukan jadwal untuk ‘kelas’.Padahal, Rara sekarang sudah lebih senggang karena Septa tidak mengajaknya bermain lagi. Alasannya sih karena ia sibuk mempersia

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 33: Aku Capek

    “N-nyonya Rachel Sillvian! Selamat datang!”Seorang petugas resepsionis segera mendekati Rachel, “Maaf atas keributan ini. Bukankah anda akan check in nanti malam?”Rara tersentak. Jadi, tamu VIP yang dimaksud seniornya tadi adalah Rachel?“Jam penerbanganku jadi lebih awal, makanya aku cepat sampai

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 37: Apa Maksudnya?

    “Ini,” ucap Jefri sambil menyodorkan segelas air ke Rara. Rara segera menerima gelas tersebut, “Terima kasih,” ucapnya dengan senyum kecil kemudian meminumnya dalam sekali tegak. Jefri tertawa pelan, “Sehaus itu?”Rara mengangguk malu-malu. Bagaimana tidak haus? Daritadi ia terus-menerus mendesah

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status