Masuk“Jangan lupa untuk datang ke pesta awal tahun, Tuan Merphilus,” ucap Jefri, “Hani sudah mengundang anda, kan?”
Merphilus mengangguk. Ia menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di pintu lobi. Mobil jemputannya belum datang.“Saya pasti akan datang. Kalau tidak, kasian Nona Hani jadi sendiri, kan?” ucap Merphilus sambil menatap Hani di sebelah Jefri. Nadanya seperti biasa terdengar mengejek.Jefri tertawa, sementara Hani mengerutkan wajahnya masam. Padahal moodny“Jangan lupa untuk datang ke pesta awal tahun, Tuan Merphilus,” ucap Jefri, “Hani sudah mengundang anda, kan?”Merphilus mengangguk. Ia menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di pintu lobi. Mobil jemputannya belum datang.“Saya pasti akan datang. Kalau tidak, kasian Nona Hani jadi sendiri, kan?” ucap Merphilus sambil menatap Hani di sebelah Jefri. Nadanya seperti biasa terdengar mengejek.Jefri tertawa, sementara Hani mengerutkan wajahnya masam. Padahal moodnya masih belum pulih karena masalah sebelumnya, tapi Merphilus malah membuat moodnya semakin turun!Mobil Merphilus tak lama datang ke depan lobi. Liam yang sedari tadi mengikuti Merphilus dari belakang segera berjalan mendekati mobil untuk membukakan pintu. “Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucap Merphilus sambil mengulurkan tangannya.Jefri membalas jabat tangannya, “Hati-hati di jalan, Tuan. Semoga kita bisa segera makan bersama di lain waktu.”Merphilus meng
“Saya sudah meluruskan masalah om Leo.”Merphilus menoleh ke Hani yang berdiri di sebelahnya. Ia kemudian melirik Leo yang sedang menyiapkan layar proyektor bersama Liam, tidak jauh dari mereka.Merphilus tersenyum miring, “Sepertinya begitu. Melihat dia tidak menatap seram lagi sekarang.”Ia kembali menatap Hani. “Kerjamu bagus.”Hani mendengus. Ia tidak tahu Merphilus beneran memuji atau mengejeknya sekarang. Tapi, setidaknya dia sudah menyampaikannya.Ia bisa benar-benar tenang sekarang. “Apa anda gugup hari ini?”Hani tidak segera menjawab. Ia menatap kesibukan para staf hotel yang sedang mempersiapkan meeting besar hari ini. Sesuai kesepakatan di pertemuan kemarin, Jefri memutuskan untuk mengadakan meeting besar dua hari setelah pertemuan Hani dengan Merphilus. Meeting dilaksanakan di ruang meeting yang berada di hotel Diamon.Ruang meeting itu cukup besar sehingga kemungkinan cukup unt
“Om masih curiga sama Tuan Merphilus?”Leo tidak segera menjawab. Tapi, cengkramannya di kemudi semakin erat. Ia melirik Hani dari kaca spion tengah. “Apa maksud Nona?” tanyanya pelan. Hani menelan ludah. Apa Leo sekarang sedang berpura-pura tidak paham? Hani menarik napas sejenak.“Tadi aku melihat tatapan om menyeramkan saat aku mengobrol dengan Tuan Merphilus,” jawab Hani hati-hati, “Jadi, aku berpikir om masih curiga dan was-was tiap Tuan Merphilus bersamaku karena kejadian aku menangis waktu itu.”Leo menghela napas pelan. Sepertinya ucapan Hani tepat sasaran melihat reaksi Leo seperti ini. “Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar menyesal sudah bersikap tidak sopan,” desah Leo, “Tapi, entah kenapa, saya memang tidak bisa berhenti was-was. Tiap melihat Nona bersama Tuan Merphilus, saya langsung teringat dengan kejadian Nona menangis itu.”“Saya benar-benar minta maaf,” ucap Leo lagi dengan nada menyesal.Ha
“Jadi, tugas utama kita sekarang adalah presentasi di acara pesta itu?” tanya Merphilus yang dijawab anggukan Hani. “Baiklah. Catat itu, Liam,” suruh Merphilus sambil melirik Liam di sampingnya.“Baik, pak,”Merphilus menatap kembali dokumen di tangannya. “Lalu, kapan dilaksanakan meeting besar itu?” tanyanya lagi tanpa mengangkat wajahnya. “Jadwalnya akan menyusul. Tapi, kemungkinan akan dilaksanakan dalam 2-3 hari lagi,” balas Hani. Merphilus mengangguk. Ia lanjut membaca isi dokumen itu. Hani menghela napas pelan. Pertemuan hari ini berjalan lancar lagi. Sepertinya, ia sudah mulai cukup terbiasa melakukan pertemuan seperti ini. Ia bisa menjelaskan lebih baik dari terakhir kali. Meski sesekali masih kebingungan menjelaskan.Mungkin, ini karena Merphilus juga sudah memberikan ruang yang nyaman untuknya. Sama seperti awal pertemuan, pria itu juga sekarang tidak menertawakan atau mengejeknya tiap dia salah bicara. Pria itu bahkan terkesan menghormatinya, seolah mereka adalah rek
“Hah?! Kenapa tiba-tiba begitu?!” seru Hani tak terima, “Lagian, bukannya pesta itu tidak ada?”Jefri mendengus, “Mana mungkin tidak ada. Itu kan pesta penting. Kamu tidak lupa kalau pesta itu juga bertujuan untuk mengetahui proyek setahun ke depannya?”“Tentu saja aku ingat,” dengus Hani.Pertanyaan Hani itu sebenarnya berdasarkan rumor para staf juga. Ia sempat mendengar para staf saling bergosip tentang keberlangsungan pesta itu.Hal yang dimaklumi mengingat sekarang sudah jauh dari agenda pesta awal tahun biasanya.“Pestanya hanya diundur, nona,” jelas Leo yang membuat Hani menoleh padanya, “Pak direktur sengaja mengundurnya karena kemarin ingin fokus dengan pernikahannya bersama Nona Rara.”Hani mendengus. Memang enak ya jadi direktur. Bisa mengatur seenaknya saja. . “Tapi, tetap saja ayah lagi-lagi bicara mendadak seperti ini,” desah Hani. Ia bersedekap. “Tuan Merphilus juga pasti protes kalau tiba-tiba begini.”“Karena itu, sudah jadi tugasmu untuk membuatnya tidak marah,” uca
“Selamat pagi, Rara.” Rara melenguh pelan saat merasakan kecupan di sekujur wajahnya. Ia perlahan membuka mata dan melihat Jefri tersenyum di depannya. “Pagi, mas,” sapanya dengan suara serak. Ia berdehem sejenak karena merasakan tenggorokannya tidak enak. Jefri melebarkan senyumnya. “Biar mas ambilkan minum,” ucapnya lalu mengambil gelas di atas nakas. Pria itu lalu membantu Rara untuk duduk. Tangannya yang lain menopang punggung Rara. Setelah posisi Rara pas, Jefri segera mengarahkan gelas itu ke mulut Rara. Membantunya untuk minum perlahan. “Kamu berteriak terlalu keras semalam,” ucap Jefri geli. Wajah Rara memerah. Kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia menggeleng-geleng. “Jangan dibahas,” ucapnya malu. Jefri tertawa geli. Ia menyenderkan wajahnya ke kepala Rara. “Tapi, semalam kamu memang berteriak lebih kencang dari biasanya,” ucap Jefri melanjutkan, tidak memedulikan peringatan Rara barusan. “Apa semalam lebih enak dari biasanya?” “A-aku nggak mau bahas,”
“Kita memerlukan bukti yang kuat tentang penyerangan Rachel ini,” ucap Lexus membuka percakapan ketika berkumpul bersama Rara, Hani, Jefri, dan Septa setelah sidang selesai. Mereka berlima kini ada di ruang tengah rumah Jefri. “Posisi kita dan Rachel sekarang sama. Sama-sama belum memiliki bukti ku
“Jangan khawatir, nona Rara,” ucap Lexus begitu melihat wajah Rara ketakutan, “Anda lupa kalau kita juga punya kartu AS sekarang?”Rara tersentak. Ia menoleh cepat ke Lexus. “A-anda benar,” ucapnya tidak yakin. Bagaimana pun, Rara belum mengetahui kesaksian yang akan diberikan nanti, jad
Kate menelan ludah. Ia menatap bergantian Rachel dan Jefri yang sedang saling berhadapan. Aura di antara mereka berdua sangat dingin, membuat Kate merinding. Kalau bukan karena tuntutan untuk menjaga Rachel yang baru siuman dari para petinggi agensi, Kate pasti sudah lari ketakutan. “Aku dengar
“Apa, sih,” gerutu Rara, berusaha menutupi jantungnya yang terlalu menggila. “Om kan bukan suka aku yang kayak gitu—”“Suka,” potong Jefri. Ia menatap Rara serius. “Om suka sama kamu, Ra. Dalam artian romantis,”Rara menggigit bibir. Ia menatap Jefri yang kini mengangkat satu tangannya dan menempe







