LOGINHani menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha untuk tetap tenang meski kepanikan kini menggedor-gedor dirinya.
“B-bicara? Apa yang perlu kita bicarakan, Tuan?” balas Hani jenaka.
Ia berusaha memundurkan langkahnya pelan-pelan menuju ujung lorong.Tapi, Merphilus sepertinya bisa membaca rencananya karena pria itu ikut berj
“.... Leo? Apa kamu mendengar saya? Leo, jawab!”Leo tersentak. Ia menatap Jefri yang mengerutkan alisnya dan Rara yang menatapnya khawatir. Kesadaran segera masuk dalam kepalanya.“Ma-maafkan saya, Pak Direktur! Saya tidak sengaja melamun!” serunya gelagapan. Bagaimana bisa ia bengong ketika berada di hadapan bosnya?!Jefri mendengus pelan. Sementara Rara masih menatapnya khawatir. “Om tidak apa-apa?” tanyanya.Leo mengangguk. “Saya tidak apa-apa. Maafkan saya, Nyonya,” ucapnya.“Jadi, di mana Hani?” tanya Jefri, mengembalikan percakapan mereka ke topik awal. “Tadi kamu bilang dia di toilet.
Hani menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha untuk tetap tenang meski kepanikan kini menggedor-gedor dirinya.“B-bicara? Apa yang perlu kita bicarakan, Tuan?” balas Hani jenaka.Ia berusaha memundurkan langkahnya pelan-pelan menuju ujung lorong.Tapi, Merphilus sepertinya bisa membaca rencananya karena pria itu ikut berjalan maju. Menambah kepanikan Hani.“Banyak hal. Tentang kamu yang sulit dihubungi, hubungan kita yang putus mendadak, dan,” mata Merphilus berubah menajam.“Ucapanmu tentang Rara waktu itu.”Hani tersentak melihat sorot wajah Merphilus menggelap. Ia akhirnya buru-buru berbalik, hendak ber
Suasana itu terhenti karena tawa pelan Jefri.“Saya rasa itu cukup membantu, Tuan,” kekeh Jefri, mengundang pelototan Hani dan seringai lebih lebar Merphilus.“Bagaimana menurutmu, Hani? Tuan Merphilus tidak buruk, kan?”Hani tercekat. Lagi-lagi, ia berada dalam situasi seperti ini!Hani harap wajahnya terlihat normal sekarang. Apalagi karena Rara kini menatapnya lekat.“O-oh ya, itu—”“Tuan Jefri.”Seseorang menginterupsi lebih dulu sebelum Hani menjawab. Perempuan itu sege
Jawaban Hani itu menimbulkan berbagai reaksi.Jefri menyeringai puas. Rara meringis, sudah menyangka jawaban itu yang akan keluar. Tiara memelototkan matanya.Sementara Alexander, wajahnya seketika memerah. Terlihat kesal. “Berhenti bercanda seperti itu, Hani! Umurmu sudah 22 tahun!” seru Alexander membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka. “Sebentar lagi kamu menjadi pewaris. Jadi, sudah waktunya untukmu memikirkan keluarga agar ada pewaris selanjutnya!”Hani berdecak pelan. Orang ini benar-benar menyebalkan. Ia lebih tidak menyukainya dibanding Tiara. “Aku pasti akan memikirkannya nanti. Lagipula, ayah juga belum mewariskan jabatannya padaku, jadi aku masih bisa memikirkannya belakangan, kan?” sungut Hani, menambah kesal Alexander.“Kamu ini–!”“Paman, cukup,” Jefri menginterupsi. Melirik tajam ke Alexander. “Saya sudah bilang berkali-kali kalau ini adalah urusan keluarga saya. Jadi, paman tidak berhak untuk mencampurinya.”Alexander menggeram pelan. Tapi, keringat dingin meng
“Selamat malam, Tuan Merphilus. Anda datang cepat, ya?”Senyuman Merphilus berubah dingin. Begitu juga dengan sorot matanya yang tadi sempat hangat.Hani merinding melihatnya. Ia tanpa sengaja meremas lengan Leo lebih erat, membuat mata Merphilus menyipit.“Ini acara saya. Tentu saja saya harus datang lebih cepat,” balas Merphilus ringan, “Bukan begitu, Nona Hani?”Hani tersentak. Kaget karena tiba-tiba Merphilus kembali mengarahkan percakapan padanya.Pria itu memang sepertinya sengaja menargetkan dirinya.Menarik napas pelan, Hani lalu membuka
Hani tertegun. Bibirnya bergerak-gerak, kesulitan untuk merangkai jawaban atas perkataan Leo barusan. Jantungnya berdebar kencang.Dengan gugup, ia akhirnya berkata pelan, “Om tadi bilang apa?”Leo menghela napas pelan, “Tuan Merphilus bilang ia sudah tidak sabar bertemu Nona lagi di acara Grand Opening nanti.”Ternyata ia tidak salah dengar.Tubuh Hani seketika meremang. Kepanikan melanda dirinya.Ternyata hari seperti ini memang akan datang.Sejak Hani mengungkapkan perasaannya ke Merphilus, ia langsung menutup kontaknya dengan pria itu. Pesan-pesan pria itu tak dibalas. Panggilannya juga.Hani tahu Merphilus pasti akan bertindak karena hal ini. Ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari. Mewanti-wanti kalau Merphilus datang tiba-tiba ke rumahnya.Tapi, hari demi hari berlalu. Merphilus tidak menunjukkan batang hidungnya sekali pun. Dan seolah mendukungnya, semesta juga tidak mempertemukan mereka sama sekali.Hani sudah merasa lega. Mungkin Merphilus akhirnya memutuskan untuk
“Rara!” seru Sandra begitu Rara memasuki kantor. Wanita itu segera berjalan mendekatinya. Ia tersentak saat melihat tubuh Rara basah kuyup.“Dasar nakal! Kamu menerobos hujan?!” seru Sandra sambil memelototkan matanya. Rara meringis. Baru saja ia tadi dimarahi Jefri, tapi sekar
“Apakah om mau menjadi pasanganku di acara dansa nanti?”“Apa?”Perasaan Hani berubah resah ketika melihat Leo terkejut. Apa pria itu akan menolaknya? Atau ucapannya kurang jelas?Ragu-ragu, Hani kembali berkata, “Aku pingin om jadi pasangan dansaku di acara nanti,”Kali ini, Leo harusnya mendengar
Sandra mengerutkan alis bingung, “Tunggu, Ra. Biar aku cek dulu–”“Tidak usah! Sebaiknya tetap beli untuk jaga-jaga, kan?” potong Rara lagi, “Mencegah itu lebih baik, kan?”Rara lalu menoleh ke Jefri. “Om, tolong bantu kak Sandra benerin atap, ya!”“Apa?” tany
[Aku sudah menemukan informasi kalau om Leo tidak memberitahukan pertemuan kalian ke ayah. Jadi, tidak usah khawatir!]Rara menghela napas lega usai membaca pesan Hani. Tapi, di sisi lain, ia juga merasa penasaran dengan cara Hani mencari tahunya. Sahabatnya itu tidak bertanya langsung, kan?Rara







