Masuk“Terburu-buru sekali. Anda bahkan belum beristirahat dengan benar.”Hani tidak segera menjawab. Lanjut memakaikan kancing kemejanya sambil masih membelakangi Merphilus. Setelah selesai, ia lalu menatap Merphilus yang masih merebahkan badannya di atas kasur dengan posisi menyamping. Tangannya yang berurat menopang kepalanya. “Saya harus kembali sebelum ayah saya pulang,” balas Hani akhirnya.Merphilus ber-hm pelan. Meski tatapannya seolah berkata, ‘untuk apa kamu mengkhawatirkan itu?’Hani mendengus pelan.“Pokoknya saya akan pergi sekarang,” tegas Hani, “Saya akan pergi sendiri ke rumah. Jadi, anda tidak perlu mengantarkan saya.”“Baiklah, saya juga tidak akan menghalangi,” balas Merphilus sambil mengangkat kedua bahunya santai. Membuat Hani menatapnya kesal. Hani kembali mengalihkan pandangannya ke cermin. Merapihkan dirinya sejenak. Setelah dirasa rapih, ia kemudian beranjak pergi. “Apa kita perlu
“Jadi anda sudah memutuskan, ya?”Hani hanya mendengus pelan melihat Merphilus menyeringai. Ia lalu melengang masuk ke dalam kamar. Pintu segera ditutup Merphilus. Ia kemudian mengikuti langkah Hani ke arah kasur. Keduanya kemudian bertatapan.“Apa anda perlu bersiap lagi?” tanya Merphilus.“Tidak. Kita langsung saja,” balas Hani datar. Tangannya sudah berada di kancing atas kemeja. “Saya akan membuka baju sekarang.”Merphilus menaikkan satu alisnya. Ia berjalan mendekat ke Hani lalu menahan tangannya yang hendak melepas kancing.“Jangan terburu-buru.”Tangannya yang lain menggamit dagu Hani dan menaikkannya. “Biarkan mengalir saja,” bisik Merphilus sebelum menyatukan bibirnya dengan Hani. Hani memejamkan matanya. Mengernyit pelan ketika lidah Merphilus mulai menerobos ke mulutnya. Mengingatkannya dengan ciuman mereka di malam sebelumnya. Tapi, berbeda dengan malam sebelumnya, ing
Mata Hani membesar. Ia segera menepis tangan Merphilus dan menjauhinya. Tapi, tidak ada bantahan dari Hani. Perempuan itu justru menundukkan kepalanya. Mengalihkan pandangannya dari Merphilus.Merphilus mengangkat satu alisnya. Tersenyum puas.“Sepertinya tebakan saya benar,” celetuknya yang segera ditatap tajam Hani. “Tapi itu hanya sementara,” sergah Hani, “Buktinya saya masih mengingat tentang mereka lagi sekarang.”“Mungkin karena kita tidak melakukannya lagi,” Merphilus mengangkat bahunya ringan, “Kalau kita melakukannya dengan sering, anda mungkin bisa melupakannya.”Mata Hani kembali membesar. Ia menatap Merphilus tidak percaya.“Apa anda …. Baru saja mengajak saya sebagai pasangan ranjang anda?” tanya Hani, “Jadi, memang itu permintaan anda sebenarnya?”“Tidak. Ini hanya tawaran bantuan biasa,” bantah Merphilus, “Lagipula, saya sendiri juga sudah bilang akan memberitahukan permintaan itu ketika di waktu yang tepat, kan?”“Kalau begitu, kenapa anda menawarkan bantuan ini?”“Te
“Kita sudah sampai, Pak Merphilus.”Merphilus mengangguk. Ia melangkah keluar dari mobil. Liam lanjut membawa mobil hingga ke parkiran.Mata Merphilus langsung menangkap sosok Hani di depan pintu masuk restoran. Senyum miring terukir di wajahnya. Ia berjalan mendekat.“Nona Hani, selamat pagi,” sapanya setelah sampai di samping Hani.Hani tersentak dan segera menoleh. Merphilus mengangkat satu alisnya melihat wajah pucat Hani. Ia seolah habis melihat hantu.“Tuan Merphilus, selamat pagi,” Merphilus segera mengalihkan pandangannya ke Leo dan tersenyum tipis.
[Selamat pagi, Nona Hani. Hari ini agenda kita adalah meeting dengan tim IT dan kepala manajer dari tiap cabang hotel. Tuan Merphilus dan timnya juga akan ikut bersama kita. Saya akan menjemput anda sebentar lagi.]Hani hampir tersedak makanannya begitu membaca nama Merphilus di pesan Leo. Ia buru-buru menelan makanannya dan meminum air sebanyak mungkin. Hal itu membuat Rara menoleh heran padanya.“Kenapa, Han?”“Nggak apa-apa,” balas Hani cepat. Ia kembali membaca pesan Leo.Nama Merphilus benar ada di sana. Tubuh Hani seketika melemas.Kalau begini, bagaimana caranya ia menghadapi hari ini?
“Ayo lakukan, Ra. Tadi kamu yang ingin, kan?”Dasar licik!Rara menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dari biasanya. Ia menatap Jefri yang memerhatikannya dengan seringai lebar dan alis terangkat satu. Pria itu benar-benar terlihat puas. Rara mengeratkan pegangannya di pundak Jefri. Ia lalu membungkukkan badannya dan mulai menciumi rahang Jefri. Membuat pria itu tersenyum semakin lebar. Rara bisa merasakan gerakannya begitu kaku. Ia yakin Jefri juga bisa merasakannya. Kalau diingat-ingat lagi, ini memang kali pertama Rara melakukan hal ini. Selama ini, dia selalu membiarkan Jefri yang memimpin. Ciuman Rara terus turun ke bawah. Ia berhenti ketika mencapai leher Jefri. Wanita itu menelan ludah sejenak. Biasanya bagaimana Jefri melakukannya?Rara mencoba mengingat-ingat, tapi hal itu justru membuatnya malu. Apalagi, Jefri tengah menatapnya penuh godaan sekarang. “Ada apa? Sedang berpikir titik yang tempat untuk meninggalkan bekasnya?” kekeh Jefri, “Kamu hanya perlu melakukann
“Salam kenal, saya Septa Hermawan. Mulai sekarang saya partner anda,”Rara tersenyum canggung kemudian menerima uluran tangan dari pria di hadapannya. Meskipun ia memang tidak takut dengan lelaki seumurannya, tapi rasanya cukup canggung juga karena ia sedikit terbayang dengan Satrio. “Saya Rara He
Pikiran Rara masih terus terngiang dengan ucapan pria itu pada keesokan harinya. Padahal, itu hanya ucapan biasa yang mungkin juga doa Jefri agar Rara bisa dekat dengan lelaki seumurannya, setelah kejadian dengan Satrio. Tapi, entah kenapa rasanya aneh. Seolah terasa ada … makna lain di dalamnya.
“Kok lama dibuka sih, Ra?” sungut Hani sambil memayunkan bibirnya.Rara meringis, “Maaf. Tadi habis beres-beres di kamar,”
Rara tidak bisa fokus. Pagi ini, dia akhirnya datang ke sidang Satrio dan Maya bersama Hani. Meski begitu, sejak awal masuk, pikirannya tidak terpusat pada mantan pacar dan sahabatnya itu. Pikirannya justru terngiang-ngiang pada percakapannya dengan Jefri semalam. Entah kenapa, ia jadi memiliki b







