登入Akhirnya terbongkar juga Lintang baru tahu kalau sekretaris anaknya adalah anak dari Adi yang diawanti-wanti untuk tidak dekat dengan anaknya dan sekarang anaknya malah menyukai anak dari Adi. Sedangkan Hana hanya terdiam dan terpaku dia tidak bisa berkata apa-apa. Karena kalau soal cinta pasti semua orang akan mengalah tapi apakah Lintang menerimanya. "Dia anakmu Adi? Tapi, anak dengan siapa ?" tanya Hana dengan hati-hati.Dia takut kalau Adi menikah dengan mantan kekasih suaminya dan memiliki anak. Karena mantan Lintang lah yang sudah membuatnya menderita. "Dia anak Mala. Ceritanya panjang Hana dan aku ingin membawa anakku pulang. Dan tolong minta kepada anakmu untuk tidak mendekati anakku lagu. Ayo Arum kita pulang," jawab Adi membuat Hana dan Lintang terdiam begitu juga Cakra dan Arum. Namun saat suasana hening, terdengar tawa dari Lintang hingga mereka memandang Lintang. "kamu katakan apa tadi? Kamu minta kepadaku untuk melarang anakku mendekati anakmu begitu? Hei, Adi. Kamu
"Kamu kenapa?" tanya Hana kepada suaminya Lintang."Aku? Tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja. Ada apa, Sayang?" tanya Lintang yang penasaran kenapa istrinya Hana menghubunginya. "Tadi aku mendapatkan kabar katanya Cakra bersama dengan seorang wanita. Siapa dia? Dari yang aku tahu katanya dia sekretarisnya. Apakah hanya sekretaris atau kekasihnya. Apa kamu tahu itu?" tanya Hana kepada Lintang.Lintang menghela napas ternyata istrinya masih saja mengetahui apa yang terjadi di perusahaan itu. "Oh, itu sekretarisnya. Mungkin mereka ingin keluar bertemu dengan klien. Kamu tidak perlu pikirkan apa-apa kalau memang dia kekasihnya pasti akan dia beritahukan kepada kita. Kamu tenang saja ya. Sebentar lagi aku akan pulang kamu mau sesuatu?" tanya Lintang mengalihkan pembicaraan agar Hana tidak bertanya lebih lanjut. "Belikan saja kue yang biasa. Belinya di toko biasa ya. Sudah itu saja. Kamu hati-hati, ya," ucap Hana yang dianggukan oleh Lintang."Iya, i love you, Sayang." Ucapan romantis Li
"Kenapa datang ke sini?" tanya Cakra yang kesal dengan sahabatnya datang menemui dia. "Jangan tanyakan kami datang Cakra. Jawab saja siapa dia? Dan Marcel, kenapa duduk di bawah? Apa kamu disiksa oleh dia?" tanya Deon ke Cakra. Sahabat Cakra datang ke kantor untuk membicarakan sesuatu. tapi, saat masuk mereka terkejut saat mendengar Cakra berkata seperti itu. Arman teriak mendengar apa yang Cakra katakan. Arum menundukkan kepala ke bawah dia malu karena ulah Cakra. Arum tidak berani untuk berkata-kata dia memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. "Kalian itu membuat calonku malu. Sana pergi. Marcel usir mereka. Ayo cepat usir mereka. Aku kesal lihat mereka," jawab Cakra meminta kepada Marcel untuk mengusir ketiga sahabatnya. "Kamu jangan seperti itu. Tidak baik kamu usir kami bertiga. Kami dapat undangan aku yakin kamu dapat juga." Rio meletakkan undangan miliknya di meja. "Ada juga elektrik. Jadi ada dua undangan satu itu satu elektrik. Jika tidak bawa itu ada u
Cakra akhirnya ke kantor dia ada meeting jadi harus tiba di kantor dengan cepat jika tidak ayahnya marah padanya. Sampai di kantor Cakra menunjukan mode seperti biasanya. Datar dan wajahnya dingin. Cakra naik ke lantai atas sampai di lantai atas dia tepat di lantai di mana ruangannya berada Cakra terkejut karena melihat Arum duduk di mejanya. "Kamu datang, Sayang?" tanya Cakra tiba-tiba menyebut nama sayang ke Arum hingga membuat Arum melotot karena mendengar Cakra memanggil dia sayang di depan orang tua Cakra. Lintang dan ayahnya duduk menunggu Cakra mereka ingin mengadakan rapat tapi Cakra datang malah memanggil sekretarisnya dengan sebutan sayang. "Dia pacarmu, Nak?" tanya Lintang kepada Cakra hingga membuat Cakra terdiam dan menoleh ke arah sofa di mana ayah dan kakeknya duduk menatap ke arah dia. Cakra terdiam karena melihat ayah dan kakeknya ada di ruangan. "Kenapa kalian ada ke sini?" tanya Cakra ke ayah dan kakeknya. "Kamu tanya kenapa kami di sini?" tanya Lintang dengan
"Saya tahu. Saya akan menjaga Arum. Baiklah, saya permisi dulu. Arum saya pulang besok ke kantor saya tunggu," ucap Cakra yang pulang. Arum ingin protes tapi sorot mata Cakra terlalu tajam hingga dia tidak berani untuk menatap Cakra. Arum menghela napas dan membuangnya panjang. "Pria ini terlalu arogan. Sudah memecatku kini dia malah memintaku untuk kembali. Apa mau dia," bathin Arum. Cakra pulang dengan hati gembira. Besok dia akan bertemu Arum lagi. Marcel yang melihat kelakuan sahabatnya berdecih. Bisa-bisanya dia sebahagia ini. "Kenapa bahagia sekali? Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu tahu Cakra kalau kamu seperti ini kamu menyeramkan. Lebih baik seperti biasanya saja. Itu lebih baik daripada seperti ini," ucap Marcel yang masuk ke mobil disusul Cakra. "Kamu cerewet. Aku akan potong gaji kamu," balas Cakra yang segera menutup matanya. Marcel merenggut dia melajukan mobil menuju rumah Cakra tanpa banyak bicara. Sesampainya di rumah Cakra turun dengan raut wajah seperti bia
"Ayo, aku tidak mau mengatakan iya. Karena jika aku katakan iya maka aku akan melakukan itu di depan dia, " ucap Cakra menunjuk ke arah Marcel yang menatapnya. Arum menghela napas dan pergi begitu saja meninggalkan Cakra. Dia tidak mau memperpanjang pembicaraan dengan Cakra yang dia nilai menyebalkan.Akhirnya ketiga pergi dari apartemen dan kembali ke rumah Arum. Cakra mengantar Arum sampai di rumah. "Kamu pulang saja, Pak. Jangan antar saya sampai di depan pintu. Saya bisa masuk sendiri," usir Arum dan mendorong Cakra untuk mengikuti dia sampai depan pintu. Cakra menepis tangan Arum. "Jangan goda saya. Kamu mau saya dorong juga dadanya?" tanya Cakra yang langsung mendapatkan gerakkan dari Arum dengan menutup dadanya. "Anda jangan macam-macam ya. Enak saja Anda mau menyentuh saya lagi," jawab Arum dengan wajah kesal. "Sudah ayo masuk. Lagian saya juga tidak mau sentuh kamu lagi. Kamu rata tidak ada yang menarik sama sekali." Balas Cakra yang segera melewati Arum begitu saja tanp
"Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini. "Lagian kamu kenapa memandang wanita it
Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terla
Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terdudu
"Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seo







