MasukLintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya.
Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terduduk dan matanya berkaca-kaca. "apa salahku Tuhan hingga aku memiliki anak seperti dia. Bagaimana nasib anak itu. Apa yang dia lakukan saat ini. Kemana dia perginya?" tanya pak Irwandi yang berdiri kembali untuk mencari Hana. Namun, Pak Irwandi langsung roboh dia tidak kuat menahan serangan jantung. Perbuatan dari Lintang sudah di luar batas. Berkali-kali Lintang melakukan ini tapi Lintang masih saja tetap tidak berubah dan makin arogan. Dan tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya. "Kenapa aku disalahkan. Wanita murahan itu yang harusnya disalahkan." Lintang tidak terima dengan ayahnya. Lintang yang berada di ruangan pribadi untuk berganti pakaian mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir panjang Lintang langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan saat di luar Lintang terkejut melihat ayahnya sudah jatuh ke bawah. "Papa! Bangun, Pa. Papa! Tolong ... Tolong," teriak Lintang dengan cukup kuat. Lintang memanggil asisten ayahnya dan asisten dirinya untuk membawa ayahnya ke rumah sakit. Keduanya masuk dan terkejut melihat Pak Irwandi sudah jatuh. "Astaga. Kenapa dengan Pak Irwandi, Pak Lintang?" tanya Asisten Pak Lintang bernama Bowo. "Bawa saja. Jangan banyak tanya." Lintang kesal dengan asisten ayahnya yang malah bertanya kenapa ayahnya seperti ini. Para asisten tidak ada yang buka suara. Mereka segera membawa Pak Irwandi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani Pak Irwandi. Lintang menunggu diluar berharap ayahnya siuman. Namun sayangnya dokter katakan ayahnya koma hingga membuat ibunya Ibu Ami menangis karena suaminya pingsan dan tidak sadarkan diri. Terlebih lagi mendengar dokter mengatakan kalau suaminya koma. "Lintang, apa yang sudah kamu lakukan dengan ayahmu, Lintang. Kenapa kamu seperti ini. Kamu tidak berubah juga. Kamu ingin membunuh suamiku, ya ?" tanya Ibu Ami kepada Lintang. Lintang tidak menjawabnya. Dia segera pergi. Ada rasa penyesalan di hati Lintang karena sudah membuat ayahnya seperti ini. Asisten Lintang yang bernama Mario mengikuti Lintang. Hanya Asisten ayahnya Bowo yang stay menemani ayahnya dan ibunya. "Kamu sudah dapat informasi dimana wanita itu berada sekarang?" tanya Lintang dengan serius kepada Mario. "Sudah, Pak. Saya sudah mendapatkan keberadaan dia saat ini. Sekarang dia bersembunyi di pinggiran kota. Dia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Apa Anda mau ke sana?" tanya Mario kepada Lintang. Sangat mudah bagi Lintang untuk mencari Hana dan sekarang dia mendapatkannya. Kalau ditanya apakah dia mau menemui Hana? Tentu saja jawabannya iya. Karena Hana sudah membuat ayahnya seperti ini. "Aku ingin bertemu dengan wanita itu. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Karena dia ayahku seperti ini," jawab Lintang membuat Mario hanya bisa diam. Padahal sudah jelas yang bersalah adalah tuannya sendiri tapi malah menyalahkan wanita itu. Akibat putus cinta, mabuk dan kembali ke kantor akhirnya seperti ini. Mario mengikuti majikannya yang mabuk malah diusir dan dilarang untuk tidak mengikutinya. Dan akhirnya dia pulang. Paginya, dapat kabar kalau tuannya sudah tidur dengan sang sekretaris dan terjadilah hal seperti ini. Dan sekarang tuannya malah menyalahkan sekretaris Hana yang sudah membuat Pak Irwandi mendapatkan serangan jantung dan koma. Lintang segera masuk ke dalam mobil bersama dengan asistennya. Lintang pergi menuju ke rumah Hana. Sedangkan, Hana yang berada di rumah ibunya terus menangis dia menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga kesuciannya. Namun saat Hana ingin memejamkan mata terdengar suara ketukan yang cukup kencang dari luar hingga membuat Hana. "Siapa yang ketuk pintu dengan kencang, ya" tanya Hana. Hana bergegas keluar untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka Hana terkejut melihat pria yang tadi malam sudah merebut kesuciannya. Dengan wajah yang penuh amarah dan kebencian Hana menutup kembali pintu dengan cukup kencang hingga membuat Lintang terkejut begitu juga dengan Mario. "Berani-beraninya wanita ini bersikap seperti ini denganku. Hana! Buka pintunya. Jika kamu tidak buka pintu maka aku akan menendang pintu ini. Kamu tinggal pilih mau dipermalukan apa mau bicara baik-baik, HANA," teriak Lintang dengan cukup kencang hingga membuat Hana takut. Hana segera membuka pintu kamarnya dengan tatapan tajam. Lintang juga menatap penuh amarah ke arah Hana. Lintang segera masuk dan menutup pintu dengan kencang. Mario yang berada di luar hanya bisa terpaku dan menghela napas. "Hah! Aku harap Pak Lintang bisa lebih tenang jika tidak tenang maka Nona Hana tidak akan setuju untuk menerima pertanggungjawaban darinya," ucap Mario pada dirinya sendiri. Mario segera duduk menunggu Lintang keluar dengan keputusan yang dia pun tidak tahu apa itu. "Mau apa lagi Anda ke sini. Saya sudah berhenti bekerja dan surat itu sudah saya letakkan di meja sekretaris Anda. Mulai hari ini saya bukan sekretaris Anda lagi. Sekarang, pergi dari sini." Hana mengusir Lintang untuk pergi dari rumahnya. Karena dirinya sudah benci dengan Lintang. Pria yang sudah membuat hidupnya hancur dan dia yakin kalaupun dia bertemu dengan pria manapun pasti pria itu tidak akan menyukai dirinya karena dia sudah tidak perawan lagi. "Ck, terlalu sombong kamu Hana. Kamu pikir aku kesini mau mengemis ke kamu begitu? Mimpi. Kalau bukan karena ayahku, aku tidak akan datang ke sini dan kamu harus tahu kontrakmu sebagai sekretaris itu 10 tahun. 5 tahun baru kamu jalani dan 5 tahun lagi masih harus kamu jalani, Hana." "Jika kamu berhenti secara tiba-tiba maka denda dua kali lipat dari gajimu. Kamu sudah siap untuk membayar gantinya atau masuk penjara?" tanya Lintang yang sontak saja membuat Hana terdiam. Dia ingat perjanjian kerja antara dirinya dan pak Irwandi waktu itu. Dia baru bekerja selama 5 tahun ada sisa 5 tahun lagi dan kalau dia resign itu artinya dia harus bayar pinalti. Dari mana dia dapatkan uang itu. Walaupun gajinya besar tapi dia tidak sanggup untuk membayarnya. Akhirnya, Hana menurunkan egonya dan akan tetapi kebenciannya ke Lintang masih ada. "Apa mau Anda datang ke sini ?" tanya Hana yang akhirnya mulai menurunkan amarahnya ke Lintang. Lintang tersenyum, akhirnya Hana yang keras kepala menurunkan egonya. "Ayahku masuk rumah sakit dan dia sekarang koma. Aku kesini ingin bernegoisasi denganmu demi ayahku. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan malam tadi hanya demi ayahku. Tapi, ingat Hana, kamu hanya diakui di keluargaku saja. Sedangkan orang lain tidak. Orang lain tidak akan mengetahui siapa kamu." "Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun saja setelah itu kamu bisa pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku tidak akan menuntutmu walaupun masih ada sisa 4 tahun lagi. Perusahaanku akan kasih uang untukmu nanti. Kamu harus terima tawaranku itu." "Uang yang aku kasih cukup banyak untukmu tapi seperti yang aku katakan kamu tidak perlu menganggapku sebagai suamimu. Jangan mengganggu kehidupanku dan aku juga tidak akan mengganggu kehidupanmu." "Kita jalankan kehidupan kita masing-masing selama 1 tahun dan ingat satu hal Hana, kamu tidak boleh mencintaiku karena aku juga tidak akan mencintaimu. Aku sudah memiliki kekasih yang aku cintai lebih dari kamu. Paham! Jika kamu mencintaiku terlalu jauh maka cintamu itu tidak akan aku terima." perkataan dari Lintang membuat hati Hana sangat sakit. Hana tidak menyangka kalau Lintang mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya tapi bukan dari hatinya melainkan karena pak Irwandi yang sakit. Hana juga tidak berharap cinta dari pria ini. Hana masih diam dan menatap arah Lintang, dia bingung harus jawab apa. Jika dia menolak maka dia harus membayar kompensasi kepada Lintang. Sekarang dia tidak mempunyai uang sebanyak itu kalau dia jawab iya maka kehidupannya akan baik-baik saja. Dia masih bisa bekerja dan mengumpulkan uang untuk masa depannya kelak jika sudah tidak bersama pria ini. Dengan tarikan napas yang panjang akhirnya Hana menganggukkan kepala. "Baiklah, aku menerimanya. Aku juga tidak ingin kamu menggangguku dan ikut campur dalam urusanku pribadiku. Apapun yang aku lakukan kamu tidak boleh mencampurinya. Apa kamu setuju, Pak Lintang ?" tanya Hana dengan cukup tegas kepada Lintang. Kalau dia pun sama seperti Lintang. Dirinya tidak ingin lintang ikut campur dalam urusannya. "Baiklah. Aku juga tidak peduli dengan kehidupanmu seperti apa, Hana. Sekarang ikut denganku kita temui ayahku dan ibuku. Aku ingin ayahku segera bangun dan ingat Hana jangan pernah buka rahasia ini di depan kedua orang tuaku." "Jika sampai mereka tahu perjanjian ini maka sudah aku pastikan hidupmu akan menderita Hana. Apa kamu paham dengan apa yang aku katakan ini, Hana?" tanya Lintang. Lintang mengancam Hana untuk tidak buka suara dia tidak ingin sampai ayahnya tahu kalau pernikahan mereka berdasarkan perjanjian dan hanya 1 tahun saja. Hana mengganggukan kepala dia mengerti dengan apa yang Lintang katakan. Mau tidak mau Hana mengikuti Lintang dia akan ke rumah sakit untuk bertemu dengan atasannya yang juga ayah dari Lintang. Lintang hanya bisa diam berharap jika Hana datang ke sana dan mengatakan kepada ayahnya dan ayahnya akan bangun dari komanya. Itulah harapan dari Lintang saat ini. Saat keduanya sudah sampai di rumah sakit Lintang sekali lagi buka suara. "Hana, aku ada satu lagi permintaan lagi untuk kamu turuti," ucap Lintang kepada Hana. Hana menghentikan langkah kakinya dan memandang ke arah Lintang menunggu apa yang pria ini ingin katakan kepada dirinya. "Apalagi permintaanmu, Pak Lintang?" tanya Hana dengan tatapan dingin dan suara yang sangat datar.Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi sekarang dia mau berhubungan suami istri dengan Hana. Mana mungkin dia menganggap Hana istrinya. Yang ada Hana akan marah dan menuduhnya tidak menepati janji.Lintang ingin turun namun kaki Hana menyentuh pusaka milik Lintang dan secara tidak langsung pusaka tersebut langsung berdiri. Lintang langsung terdiam dia memandang ke arah Hana begitu sebaliknya Hana juga memandang ke arah dirinya. "Ma-maaf aku tidak sengaja," jawab Hana dengan suara pelan dan bergetar takut jika Lintang melakukannya lagi. Namun perbuatan Hana tadi sudah membuat gairahnya kembali naik dan dia tidak peduli Hana marah atau tidak dengan dirinya. Lintang langsung merobek baju Hana. Hana mencoba untuk memberontak namun sek
Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya."Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu aku akan memberikan nomorku dan ingat beritahukan aku di mana kamu tinggal dan juga kalau kamu sudah sampai rumah kabari aku," jawab Arya yang dianggukan oleh Hana. Hana memberikan ponselnya kepada Arya dan Arya segera memberikan nomornya sekaligus menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Hana. Setelah masuk barulah dia berikan ponsel Hana kembali. "Arya, aku pergi dulu ya salam dari aku untuk orang tuamu sampai ketemu lagi," ucap Hana. Hana melambaikan tangan ke arah Arya sambil tersenyum. Hana berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mario berjalan di belakangnya sambil memandang ke arah Arya. Terlihat Mario tidak menyukai Arya begitu sebaliknya. Arya juga tidak menyukai Mario. Keduanya sa
Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya apakah dari hati tentu jawabannya tidak. Tapi saya bersyukur karena Pak Lintang mau bertanggung jawab dengan saya. Saya ini sudah kotor, Bu.""Dan mungkin para pria lain tidak mau menikahi saya karena saya tidak perawan lagi. Tapi, untungnya Pak Lintang mau menikahi saya. Anggap saja saya bisa mengangkat kepala saya di depan semua orang," jawab Hana dengan suara yang lirih dan bergetar menahan air matanya yang hampir jatuh. Ibu Ami memeluk Hana dia tahu bagaimana sedihnya Hana dan dia tidak menyalahkan Hana sama sekali."Maafkanlah Ibu karena tidak bisa membuat Lintang menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Dia sudah melukaimu dan menghancurkan masa depanmu dan ibu yakin kata-kata Lint
Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terlalu sombong nanti kamu jatuh dan ingat baik-baik satu hal yang harus kamu lakukan bersikaplah baik di depan orang tuaku. Aku tidak ingin sampai orang tuaku curiga dengan apa yang kita lakukan dan juga kalau kamu hamil itu bukan anakku.""Aku tidak akan mengakuinya. Kamu dengar itu jangan menyusahkanku kalau perlu menjauh dariku jangan tinggal satu atap denganku. Aku tidak mau sampai ada orang yang mengetahui di rumahku ada wanita hamil dengar itu," tegas Lintang yang membuat Hana makin sakit hati dengan Lintang.Akan tetapi, dia bisa apa. Saat ini dia hanya bisa patuh jika tidak patuh maka penjara akan menantinya. Walaupun hatinya terluka dengan perkataan Lintang dia harus menerimanya. Hana m
Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terduduk dan matanya berkaca-kaca. "apa salahku Tuhan hingga aku memiliki anak seperti dia. Bagaimana nasib anak itu. Apa yang dia lakukan saat ini. Kemana dia perginya?" tanya pak Irwandi yang berdiri kembali untuk mencari Hana.Namun, Pak Irwandi langsung roboh dia tidak kuat menahan serangan jantung. Perbuatan dari Lintang sudah di luar batas. Berkali-kali Lintang melakukan ini tapi Lintang masih saja tetap tidak berubah dan makin arogan. Dan tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya. "Kenapa aku disalahkan. Wanita murahan itu yang harusnya disalahkan." Lintang tidak terima dengan ayahnya. Lintang yang berada di ruangan pribadi untuk berganti pakaian mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir p
"Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seorang CEO yang sangat kejam, dingin arogan dan juga perfectonis. Hana yang baru pertama kali bekerja dengan anak pak Irwandi sedikit merasa canggung terlebih lagi dia belum melihat wajahnya. Sebulan Hana bekerja akan tetapi tidak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga dia harus bekerja sendirian. Karena pekerjaan yang cukup banyak membuat dirinya harus lembur. "Lelah," cicit Hana. Karena kelelahan Hana tertidur di meja kerjanya saat tengah terlelap Hana merasakan ada sentuhan di kepalanya, bibirnya. Dan sontak saja Hana terbangun dan melihat siapa yang sudah menyentuhnya. "Eh, siapa kamu? Berani-beraninya kamu sentuh aku." Hana tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh pria







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)