Home / Romansa / Sentuhan Manja Sang CEO Arogan / Bab 2. Perjanjian Pernikahan

Share

Bab 2. Perjanjian Pernikahan

Author: ZeeHyung
last update publish date: 2026-02-04 07:49:33

Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya.

Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri.

Pak Irwandi terduduk dan matanya berkaca-kaca. "apa salahku Tuhan hingga aku memiliki anak seperti dia. Bagaimana nasib anak itu. Apa yang dia lakukan saat ini. Kemana dia perginya?" tanya pak Irwandi yang berdiri kembali untuk mencari Hana.

Namun, Pak Irwandi langsung roboh dia tidak kuat menahan serangan jantung. Perbuatan dari Lintang sudah di luar batas. Berkali-kali Lintang melakukan ini tapi Lintang masih saja tetap tidak berubah dan makin arogan. Dan tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya.

"Kenapa aku disalahkan. Wanita murahan itu yang harusnya disalahkan."

Lintang tidak terima dengan ayahnya. Lintang yang berada di ruangan pribadi untuk berganti pakaian mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir panjang Lintang langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Dan saat di luar Lintang terkejut melihat ayahnya sudah jatuh ke bawah.

"Papa! Bangun, Pa. Papa! Tolong ... Tolong," teriak Lintang dengan cukup kuat.

Lintang memanggil asisten ayahnya dan asisten dirinya untuk membawa ayahnya ke rumah sakit. Keduanya masuk dan terkejut melihat Pak Irwandi sudah jatuh.

"Astaga. Kenapa dengan Pak Irwandi, Pak Lintang?" tanya Asisten Pak Lintang bernama Bowo.

"Bawa saja. Jangan banyak tanya." Lintang kesal dengan asisten ayahnya yang malah bertanya kenapa ayahnya seperti ini.

Para asisten tidak ada yang buka suara. Mereka segera membawa Pak Irwandi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani Pak Irwandi.

Lintang menunggu diluar berharap ayahnya siuman. Namun sayangnya dokter katakan ayahnya koma hingga membuat ibunya Ibu Ami menangis karena suaminya pingsan dan tidak sadarkan diri. Terlebih lagi mendengar dokter mengatakan kalau suaminya koma.

"Lintang, apa yang sudah kamu lakukan dengan ayahmu, Lintang. Kenapa kamu seperti ini. Kamu tidak berubah juga. Kamu ingin membunuh suamiku, ya ?" tanya Ibu Ami kepada Lintang.

Lintang tidak menjawabnya. Dia segera pergi. Ada rasa penyesalan di hati Lintang karena sudah membuat ayahnya seperti ini. Asisten Lintang yang bernama Mario mengikuti Lintang. Hanya Asisten ayahnya Bowo yang stay menemani ayahnya dan ibunya.

"Kamu sudah dapat informasi dimana wanita itu berada sekarang?" tanya Lintang dengan serius kepada Mario.

"Sudah, Pak. Saya sudah mendapatkan keberadaan dia saat ini. Sekarang dia bersembunyi di pinggiran kota. Dia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Apa Anda mau ke sana?" tanya Mario kepada Lintang.

Sangat mudah bagi Lintang untuk mencari Hana dan sekarang dia mendapatkannya. Kalau ditanya apakah dia mau menemui Hana? Tentu saja jawabannya iya. Karena Hana sudah membuat ayahnya seperti ini.

"Aku ingin bertemu dengan wanita itu. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Karena dia ayahku seperti ini," jawab Lintang membuat Mario hanya bisa diam.

Padahal sudah jelas yang bersalah adalah tuannya sendiri tapi malah menyalahkan wanita itu. Akibat putus cinta, mabuk dan kembali ke kantor akhirnya seperti ini.

Mario mengikuti majikannya yang mabuk malah diusir dan dilarang untuk tidak mengikutinya. Dan akhirnya dia pulang. Paginya, dapat kabar kalau tuannya sudah tidur dengan sang sekretaris dan terjadilah hal seperti ini. Dan sekarang tuannya malah menyalahkan sekretaris Hana yang sudah membuat Pak Irwandi mendapatkan serangan jantung dan koma.

Lintang segera masuk ke dalam mobil bersama dengan asistennya. Lintang pergi menuju ke rumah Hana.

Sedangkan, Hana yang berada di rumah ibunya terus menangis dia menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga kesuciannya. Namun saat Hana ingin memejamkan mata terdengar suara ketukan yang cukup kencang dari luar hingga membuat Hana.

"Siapa yang ketuk pintu dengan kencang, ya" tanya Hana.

Hana bergegas keluar untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka Hana terkejut melihat pria yang tadi malam sudah merebut kesuciannya. Dengan wajah yang penuh amarah dan kebencian Hana menutup kembali pintu dengan cukup kencang hingga membuat Lintang terkejut begitu juga dengan Mario.

"Berani-beraninya wanita ini bersikap seperti ini denganku. Hana! Buka pintunya. Jika kamu tidak buka pintu maka aku akan menendang pintu ini. Kamu tinggal pilih mau dipermalukan apa mau bicara baik-baik, HANA," teriak Lintang dengan cukup kencang hingga membuat Hana takut.

Hana segera membuka pintu kamarnya dengan tatapan tajam.

Lintang juga menatap penuh amarah ke arah Hana. Lintang segera masuk dan menutup pintu dengan kencang.

Mario yang berada di luar hanya bisa terpaku dan menghela napas.

"Hah! Aku harap Pak Lintang bisa lebih tenang jika tidak tenang maka Nona Hana tidak akan setuju untuk menerima pertanggungjawaban darinya," ucap Mario pada dirinya sendiri.

Mario segera duduk menunggu Lintang keluar dengan keputusan yang dia pun tidak tahu apa itu.

"Mau apa lagi Anda ke sini. Saya sudah berhenti bekerja dan surat itu sudah saya letakkan di meja sekretaris Anda. Mulai hari ini saya bukan sekretaris Anda lagi. Sekarang, pergi dari sini." Hana mengusir Lintang untuk pergi dari rumahnya.

Karena dirinya sudah benci dengan Lintang. Pria yang sudah membuat hidupnya hancur dan dia yakin kalaupun dia bertemu dengan pria manapun pasti pria itu tidak akan menyukai dirinya karena dia sudah tidak perawan lagi.

"Ck, terlalu sombong kamu Hana. Kamu pikir aku kesini mau mengemis ke kamu begitu? Mimpi. Kalau bukan karena ayahku, aku tidak akan datang ke sini dan kamu harus tahu kontrakmu sebagai sekretaris itu 10 tahun. 5 tahun baru kamu jalani dan 5 tahun lagi masih harus kamu jalani, Hana."

"Jika kamu berhenti secara tiba-tiba maka denda dua kali lipat dari gajimu. Kamu sudah siap untuk membayar gantinya atau masuk penjara?" tanya Lintang yang sontak saja membuat Hana terdiam.

Dia ingat perjanjian kerja antara dirinya dan pak Irwandi waktu itu. Dia baru bekerja selama 5 tahun ada sisa 5 tahun lagi dan kalau dia resign itu artinya dia harus bayar pinalti.

Dari mana dia dapatkan uang itu. Walaupun gajinya besar tapi dia tidak sanggup untuk membayarnya. Akhirnya, Hana menurunkan egonya dan akan tetapi kebenciannya ke Lintang masih ada.

"Apa mau Anda datang ke sini ?" tanya Hana yang akhirnya mulai menurunkan amarahnya ke Lintang.

Lintang tersenyum, akhirnya Hana yang keras kepala menurunkan egonya.

"Ayahku masuk rumah sakit dan dia sekarang koma. Aku kesini ingin bernegoisasi denganmu demi ayahku. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan malam tadi hanya demi ayahku. Tapi, ingat Hana, kamu hanya diakui di keluargaku saja. Sedangkan orang lain tidak. Orang lain tidak akan mengetahui siapa kamu."

"Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun saja setelah itu kamu bisa pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku tidak akan menuntutmu walaupun masih ada sisa 4 tahun lagi. Perusahaanku akan kasih uang untukmu nanti. Kamu harus terima tawaranku itu."

"Uang yang aku kasih cukup banyak untukmu tapi seperti yang aku katakan kamu tidak perlu menganggapku sebagai suamimu. Jangan mengganggu kehidupanku dan aku juga tidak akan mengganggu kehidupanmu."

"Kita jalankan kehidupan kita masing-masing selama 1 tahun dan ingat satu hal Hana, kamu tidak boleh mencintaiku karena aku juga tidak akan mencintaimu. Aku sudah memiliki kekasih yang aku cintai lebih dari kamu. Paham! Jika kamu mencintaiku terlalu jauh maka cintamu itu tidak akan aku terima." perkataan dari Lintang membuat hati Hana sangat sakit.

Hana tidak menyangka kalau Lintang mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya tapi bukan dari hatinya melainkan karena pak Irwandi yang sakit.

Hana juga tidak berharap cinta dari pria ini. Hana masih diam dan menatap arah Lintang, dia bingung harus jawab apa. Jika dia menolak maka dia harus membayar kompensasi kepada Lintang. Sekarang dia tidak mempunyai uang sebanyak itu kalau dia jawab iya maka kehidupannya akan baik-baik saja.

Dia masih bisa bekerja dan mengumpulkan uang untuk masa depannya kelak jika sudah tidak bersama pria ini. Dengan tarikan napas yang panjang akhirnya Hana menganggukkan kepala.

"Baiklah, aku menerimanya. Aku juga tidak ingin kamu menggangguku dan ikut campur dalam urusanku pribadiku. Apapun yang aku lakukan kamu tidak boleh mencampurinya. Apa kamu setuju, Pak Lintang ?" tanya Hana dengan cukup tegas kepada Lintang.

Kalau dia pun sama seperti Lintang. Dirinya tidak ingin lintang ikut campur dalam urusannya.

"Baiklah. Aku juga tidak peduli dengan kehidupanmu seperti apa, Hana. Sekarang ikut denganku kita temui ayahku dan ibuku. Aku ingin ayahku segera bangun dan ingat Hana jangan pernah buka rahasia ini di depan kedua orang tuaku."

"Jika sampai mereka tahu perjanjian ini maka sudah aku pastikan hidupmu akan menderita Hana. Apa kamu paham dengan apa yang aku katakan ini, Hana?" tanya Lintang.

Lintang mengancam Hana untuk tidak buka suara dia tidak ingin sampai ayahnya tahu kalau pernikahan mereka berdasarkan perjanjian dan hanya 1 tahun saja.

Hana mengganggukan kepala dia mengerti dengan apa yang Lintang katakan. Mau tidak mau Hana mengikuti Lintang dia akan ke rumah sakit untuk bertemu dengan atasannya yang juga ayah dari Lintang.

Lintang hanya bisa diam berharap jika Hana datang ke sana dan mengatakan kepada ayahnya dan ayahnya akan bangun dari komanya. Itulah harapan dari Lintang saat ini.

Saat keduanya sudah sampai di rumah sakit Lintang sekali lagi buka suara.

"Hana, aku ada satu lagi permintaan lagi untuk kamu turuti," ucap Lintang kepada Hana.

Hana menghentikan langkah kakinya dan memandang ke arah Lintang menunggu apa yang pria ini ingin katakan kepada dirinya.

"Apalagi permintaanmu, Pak Lintang?" tanya Hana dengan tatapan dingin dan suara yang sangat datar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 84. Kejutan Yang Manis

    Cakra mendengus kesal dia akhirnya ikut. Ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama dan ayahnya terlalu memaksa dirinya hingga dia mau tidak mau ikut dengan kedua orang tuanya. Cakra diminta memakai pakaian yang sudah disiapin oleh orang tuanya. Sekali lagi, Cakra mau tidak mau melakukannya dan dia memakai pakaian batik yang sangat formal. "Kita ini mau kemana sih? Aku ini seperti dijebak oleh kalian. Apa kalian mau jodohkan aku dengan wanita lain?!" Cakra risau dengan tingkah orang tuanya yang ditanya tidak mau jawab malah mereka terlihat tenang. "Dengar ya, aku sudah punya kekasih jadi jangan nikahin aku dengan gadis lain. Jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah." Cakra sekali lagi memperingati orang tuanya untuk tidak ikut campur urusan kehidupan dia. "Kamu bisa diam tidak? Kamu ini berisik sekali. Kamu jalankan saja mobil ini dan ikuti arahanku. Kamu tidak perlu banyak bicara." Lintang kesal dengan anaknya sedari di rumah sampai di jalan selalu saja mengomel dan marah hin

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 83. Hari Yang Dinanti

    "Ma. Kenapa diam? Jawab Ma. Benar tidak yang Papa katakan?" tanya Cakra ke Hana. Hana lagi-lagi tidak bisa menjawabnya. Hana menoleh ke arah Lintang yang memalingkan wajahnya dari dirinya. "Kenapa kamu tidak jawab. Ayo jawab. Anakmu bertanya itu. Kamu benar-benar keterlaluan sekali. Kamu yang sudah buka suara kamu malah diam seribu bahasa. Apa-apaan ini." Hana kesal dengan Lintang lepas tangan. "Cakra, kamu jangan dengarkan papamu itu. Dia asal bicara. Kalau memang asisten kamu itu mau lamaran pasti dia beritahukan ke kamu. Sudah lupakan saja," jawab Pak Irwandi mewakili Lintang menjawab pertanyaan cucunya. Cakra menatap kakeknya lekat. Dia mau tahu apakah benar yang kakeknya katakan. Apakah kakeknya tidak bohong. Dan dari sorot matanya kakeknya benar. "Baiklah. Aku mau ke kamar. Kalian benar-benar mencurigakan sekali." Cakra geleng kepala dengan tingkah ayahnya. Dia tahu betul ayahnya itu jahil dan suka menggoda dia dan ibunya. Tapi, biarpun jahil dia sayang pada ayahnya. Pak

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 82. Rahasia

    Lintang geleng kepala. Dia tidak berani untuk mengatakan penolakannya di depan Hana. Bisa bahaya dia nantinya. "Kita pulang saja. Ayo cepat, " cicit Lintang yang segera bergerak menuju mobil. Hana pun ikut pulang tadi dia pamitan dulu dengan keluarga angkat Arum dan mengatakan akan datang lagi hari sabtu malam minggu. Arya terharu karena anaknya diterima oleh Hana. Dia berpikir Hana tidak mau menerima anaknya. Akan tetapi dia menerimanya. Arya pun pulang dan memberitahukan ke ayah dan ibunya. Tanggapan mereka bahagia. Mendengar keluarga Lintang mau menerima cucu mereka. "Arum harus dibawa ke sini. Kita buat acara mewah. Jangan buat keluarga kita malu. Mama mau cucu mama itu bahagia. Oh ya, mama mau ketemu dengan cucu mama. Kamu kapan baw kami ketemu dia. Ayolah, kenalkan mama dan Papa ke cucu satu-satunya itu. Kamu mau kan?" tanya Ibu kandung Aryaberharap anaknya bisa mengajak dia bertemu dengan cucunya. "Benar itu. Kami juga mau bertemu dia. Dan kami mau dia mengenal kami. Kita

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 81 . Melamar

    "Kita nikah saja baru kita ketemu dengan orang tua kita. Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Cakra membuat Arum melotot. "Tidak. Aku tidak mau. Sudahlah, aku pusing. Kamu jangan buat aku pusing dengan permintaan kamu itu." Arum mengabaikan Cakra yang meminta mereka menikah baru meminta restu dari keluarga. Cakra menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Cakra kembali ke mejanya dan duduk di kursi. Cakra menatap Arum dengan penuh cinta. Dirinya tidak mau kehilangan Arum. Jika orang tuanya tidak suka maka dia akan perjuangkan. Lintang yang sudah mendapatkan alamat dari Arum segera pergi ke rumahnya bersama Hana. "Sayang, kamu yakin mau temui orang tua angkat Arum? Apa kamu sudah setuju dengan mereka?" tanya Hana penasaran dengan Lintang yang tiba-tiba saja ingin ke rumah orang tua angkat Arum yang katanya polisi. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Bukan setuju. Bedakan ya." Lintang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Hana terse

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 80. Ide Apa

    "Kamu setuju dengan dia? Kamu tidak masalah anakmu menikah dengan orang yang sudah mencelakai kita berdua. Kamu tidak ingat, bagaimana kejamnya mereka, Hana?" tanya Lintang tidak percaya jika Hana malah luluh dengan apa yang anaknya lakukan. Hana menghela napas. Dia tahu kedua orang tua Arum seperti apa dengan dirinya. Tapi, dia tidak bisa berkata-kata banyak karena sosok Arum berbeda dengan orang tuanya. Dia tidak sama dan dia terlihat baik dan sopan. "Dia tidak sama dengan ayah dan ibunya. Dia diasuh dengan orang yang benar. Dia tidak jahat. Kamu tidak lihat bagaimana sederhananya dia tadi. Aku suka dengan dia. Dia manis dan lucu. Cocok dengan menantuku. Kamu coba deh resapi dia maksudnya aku lihat sisi positif dari anak itu eh maksudnya Arum. Coba sekali saja kamu lihat dia. Jangan lihat orang tuanya. Anak kita tidak menikah dengan mereka tapi Arum."Hana kembali mengatakan kesukaan dia ke Arum. Dia bisa merasakan kalau Arum itu jauh dari ibu dan ayahnya. Dia memiliki sesuatu yan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 79. Restui Mereka

    "Kita bicarakan di rumah. Jangan di sini," ucap Hana ke Lintang untuk pergi dari tempat tersebut. Hana meninggalkan Lintang seorang diri. Dia tidak mau berdebat dengan Lintang bisa membuat dirinya makin marah dan dia tahu sifat Lintang tidak bisa dikeraskan. Jadi, biarkan luluh dulu. Baru dibicarakan. "Dia merestui mereka. Bagaimana bisa? Aku tidak akan restui mereka tidak akan. Aku akan menentang mereka. Orang yang sudah membuat hidup kita menderita kenapa diberikan ruang lagi," oceh Lintang yang menatap Hana pergi begitu saja. "Pak, kenapa tidak menyusul?" tanya Mario ke Lintang. "Ayo kita pergi. Awasi anak saya. Jangan sampai dia menikah diam-diam. Saya tidak sudi berbesanan dengan dia." Lintang segera pergi menyusul Hana yang marah padanya. Sedangkan Cakra menyusul Arum dia berlari mengejar Arum yang sudah keluar dari tempat tersebut. Sampai akhirnya dia menemukan Arum dan menarik Arum dan memeluknya. Arum yang dipeluk menangis dalam pelukan Cakra. Dia tidak menyan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 7. Jangan Jatuh Cinta

    "Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini. "Lagian kamu kenapa memandang wanita it

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 6. Sensasi Yang Berbeda (21+)

    Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi seka

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 3. Dia Wanita Penggoda

    Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terla

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 1. Kehilangan Kesucian

    "Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status