MasukLintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh.
"Jangan terlalu sombong nanti kamu jatuh dan ingat baik-baik satu hal yang harus kamu lakukan bersikaplah baik di depan orang tuaku. Aku tidak ingin sampai orang tuaku curiga dengan apa yang kita lakukan dan juga kalau kamu hamil itu bukan anakku." "Aku tidak akan mengakuinya. Kamu dengar itu jangan menyusahkanku kalau perlu menjauh dariku jangan tinggal satu atap denganku. Aku tidak mau sampai ada orang yang mengetahui di rumahku ada wanita hamil dengar itu," tegas Lintang yang membuat Hana makin sakit hati dengan Lintang. Akan tetapi, dia bisa apa. Saat ini dia hanya bisa patuh jika tidak patuh maka penjara akan menantinya. Walaupun hatinya terluka dengan perkataan Lintang dia harus menerimanya. Hana menganggukkan kepala. Apa yang dikatakan oleh Lintang benar. Dia harus pergi jika hamil nanti. "Aku akan pergi dari rumah jika aku hamil dan aku juga tidak akan meminta pertanggung jawabanmu atas kehamilanku dan aku tidak akan pernah mengatakan kepada anak yang aku kandung dan aku lahirkan nanti siapa ayahnya. Aku yakin anakku tidak akan akui kamu Pak Lintang yang terhormat sebagai ayahnya." "Jangan pernah mengakuinya juga atau menemuinya. Aku juga tidak ingin anakku mengetahui siapa ayahnya. Ayah yang tidak punya hati dan juga perasaan. Dan aku harap aku tidak hamil anakmu." perkataan dari Hana membuat Lintang terdiam. Dia bisa melihat amarah yang terpendam di kedua bola mata Hana. Bukan hanya amarah tapi kesedihan yang dia lihat. Akan tetapi, Lintang yang tidak punya perasaan sama sekali mengabaikan semua itu. Dia pergi meninggalkan Hana begitu saja. Mario yang mendengar semuanya hanya bisa diam dia takut jika tuannya akan termakan omongan. "Ayo Nona. Silahkan masuk." Mario dengan sopan mempersilahkan Hana jalan. Dia sedih karena Hana diperlakukan seperti ini. Mario tahu Hana bersedih dengan keputusan yang diambil oleh tuannya itu. Tapi, dia bisa apa. Hana pun menganggukkan kepala dan melangkahkan kaki menuju ke ruangan di mana Pak Irwandi berada. Tidak ada percakapan di antara keduanya saat di dalam lift. Sesampainya di lantai di mana Pak Irwandi dirawat ketiganya segera keluar berjalan menuju ruangan rawat inap Pak Irwandi. Lintang berdiri tepat di depan ruangan ayahnya dia menoleh ke arah belakang. "Saya peringatkan sekali lagi kepada kamu jangan buka suara. Katakan kalau kamu yang mengemis kepada saya untuk menikahi kamu. Apa kamu mengerti?" tanya Lintang yang malah memutar balikan fakta kalau Hana lah yang meminta kepada dirinya untuk menikahi dirinya. Hana mengepalkan tangannya, dia benar-benar muak dengan Lintang terlalu banyak drama padahal dia yang sudah datang meminta sendiri malah dia yang dikatakan mengemis. Lintang masih menunggu jawaban dari Hana namun Hana tidak menjawab apa-apa. Dia hanya diam dan menatap ke arah Lintang. Lintang yang melihat reaksi datar Hana hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia benci dengan Hana yang terlalu keras kepala dan egonya juga sangat tinggi. Akhirnya, dia pun masuk tanpa sedikitpun mengeluarkan kata. Terlihat ibunya tengah duduk menatap ke arah ayahnya yang masih belum sadar. "Dari mana kamu. Kenapa kamu pergi. Lihat suamiku. Ini semua karenamu apa yang sudah kamu buat dengan suamiku, Lintang. Berapa kali kamu ingin membunuh suamiku." "Perbuatanmu benar-benar keterlaluan. Kali ini kesalahan apa yang sudah kamu perbuat hingga suamiku seperti ini. Katakan Lintang. Katakan apa kamu ingin aku juga sama seperti suamiku ini?" tanya ibu Ami dengan wajah penuh amarah. Dia tidak terima dengan apa yang sudah Lintang lakukan kepada suaminya. Ibu Ami berdiri dan mendekati Lintang satu tamparan mengenai pipi Lintang membuat Lintang hanya bisa diam. Hana dan juga Mario mundur ke belakang mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan keduanya. Ibu Ami melihat ke arah Hana dia bingung kenapa ada Hana di sini. "Hana, kamu kenapa ada di sini?" tanya Ibu Ami yang curiga kenapa Hana ada di sini. Padahal dia sekretaris suaminya tapi kenapa mengikuti anaknya dan terlihat wajah Hana sangat sembab, matanya bengkak. Dia yakin pasti anaknya lah yang sudah membuat Hana seperti ini dia tahu betul Hana adalah wanita baik-baik sejak bekerja dengan suaminya Hana tidak pernah berbuat macam-macam. Ibu Ami memandang ke arah Lintang yang masih diam tanpa banyak kata yang keluar dari mulutnya. "Ada apa? Cepat katakan kenapa sekretaris Hana ada di sini. Kamu berbuat sesuatu dengan dia?" tanya ibu Ami yang masih menatap ke arah Lintang. "Aku tidur dengan dia," jawab Lintang dengan tegas hingga membuat Ibu Ami sedikit terhuyung mendengar jawaban dari Lintang. Dia tidak percaya kalau Lintang berkata seperti itu. "apa maksudmu kamu tidur dengan sekretaris ayahmu sendiri, Lintang. Kamu tidak salah?" tanya ibu Ami yang dijawab Lintang dengan menggelengkan kepala. Ibu Ami hanya bisa diam dan terpaku dia tahu betul Hana ini anak yatim piatu tidak pernah sedikitpun berinteraksi dengan pria manapun dan Hana sosok wanita yang sangat religius dan dia juga ingin menjodohkan Lintang dan Hana tapi bukan seperti ini caranya. Ibu Ami memukul Lintang bertubi-tubi. "Keterlaluan kamu. Anak tidak tahu diri. Kamu benar-benar jahat, Lintang. Pantas saja ayahmu seperti ini keterlaluan kamu," teriak Ibu Ami yang histeris memukul Lintang. Lintang hanya bisa diam dipukul oleh ibu Ami. Dia pasrah. "Apa mau kamu Lintang. Keterlaluan kamu Lintang. Keterlaluan. Kenapa kamu lakukan ini kepada Hana. Apa salah dia, apa. Di mana hati nuranimu kamu. Kamu benar-benar tidak tahu diri kamu sudah mencoreng wajah kami berdua." Ibu Ani menghentikan ucapannya. Dia memegang dadanya. Sontak saja Lintang panik melihat ibu Ami memegang jantungnya. Dia takut seperti ayahnya. Hana segera membantu Lintang dia membawa Ibu Ami duduk dan mencoba menenangkan ibu Ami. Terlihat jelas air mata yang mengalir di pipi Ibu Ami. Ibu Ami menatap ke arah Hana sambil mengangkat tangan dan mengatupkan kedua tangannya ke arah Hana. Lintang yang melihatnya hanya bisa diam dan terpaku. Kenapa kedua orang tuanya malah menyukai Hana. Apa istimewanya Hana hingga keduanya seperti ini. "Maafkan atas semua kesalahan anak saya, Hana. Saya sebagai ibu sudah lalai untuk mendidiknya hingga dia menodaimu. Maafkan atas kesalahanku dan suamiku yang sudah membuatmu terluka seperti ini. Kami akan bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan tapi saya mohon maafkan dan jangan tuntut kami," ucap Ibu Ami dengan berderai air mata hingga membuat Lintang semakin marah dengan Hana karena ibunya memohon kepada Hana. "Dia yang menggodaku kenapa Mama harus meminta maaf ke dia. Mama tidak salah dia yang salah dia wanita penggoda dan mungkin saja Papa juga sudah digoda olehnya," ucap Lintang yang langsung membuat Hana berdiri dan langsung menampar Lintang. Dia tidak terima tuduhan Lintang ke dirinya. Dan dia tidak pernah sedikitpun menggoda Pak Irwandi malah dia sudah menganggap Pak Irwandi sebagai ayahnya sendiri begitu juga dengan ibu Ami. 5 tahun bekerja dengan Pak Irwandi Hana merasakan kasih sayang orang tua yang tidak pernah dia dapatkan. "Jahat kamu. Aku sudah anggap mereka orang tuaku. Jadi, mana mungkin aku menggoda orang tuaku. Kamu itu sudah tidak punya hati dan sekarang kamu juga picik. Sadar kamu Pak Lintang tidak semua wanita itu seperti yang kamu pikirkan. Kami punya harga diri," jawab Hana dengan tegas membela dirinya. Lintang yang dipukul oleh Hana dan mendengar apa yang Hana katakan tidak terima. Dia ingin membalasnya namun tatapan mata Hana membuat Lintang mengurungkan niatnya. "Kenapa? Mau pukul? Ayo pukul aku. Kamu benar-benar tidak tahu diri. Harusnya kamu mengakui kesalahanmu bukan malah egois seperti ini," ucap Hana yang membuat Lintang terdiam. Lintang menatap ke arah ibunya yang terus menangis perasaannya sakit saat melihat wanita yang dia sayanginya dan yang dia cintai menangis. Lintang segera pergi dia tidak ingin hatinya semakin sakit melihat air mata ibunya. Hana melihat kepergian Lintang dengan wajah datarnya. Dia menghela nafas dan mendekati Ibu Ami. "Ibu. Jangan sedih Ibu. Jangan meminta maaf seperti ini. Ibu tidak salah. Ibu sudah menjadi Ibu yang terbaik hanya saja Pak Lintang belum bisa mengerti semua kasih sayang yang Ibu berikan kepada dia," ucap Hana dengan senyuman lembut. "Terbuat dari apa hatimu Hana. Anakku sudah menyakitimu dia sudah menghancurkan masa depanmu tapi kamu masih bersikap baik dengan kami. Aku ingin tanya denganmu. Apakah dia tulus bertanggung jawab atas semua perbuatannya kepadamu?" tanya ibu Ami dijawab Hana dengan menganggukkan kepala. "Dia tulus bertanggung jawab kepada saya dan saya menerima pertanggung jawabnya, Bu," jawab Hana. "Sekarang aku tanya lagi apakah kamu menerimanya dari hati, Hana ?" tanya ibu Ami dengan serius sambil mengusap wajah Hana yang dia tahu kalau Hana pasti berat menerima semua yang sudah terjadi dalam kehidupannya dan sekarang dia ingin tahu apakah Hana benar-benar menerima anaknya dari hati atau tidak.Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi sekarang dia mau berhubungan suami istri dengan Hana. Mana mungkin dia menganggap Hana istrinya. Yang ada Hana akan marah dan menuduhnya tidak menepati janji.Lintang ingin turun namun kaki Hana menyentuh pusaka milik Lintang dan secara tidak langsung pusaka tersebut langsung berdiri. Lintang langsung terdiam dia memandang ke arah Hana begitu sebaliknya Hana juga memandang ke arah dirinya. "Ma-maaf aku tidak sengaja," jawab Hana dengan suara pelan dan bergetar takut jika Lintang melakukannya lagi. Namun perbuatan Hana tadi sudah membuat gairahnya kembali naik dan dia tidak peduli Hana marah atau tidak dengan dirinya. Lintang langsung merobek baju Hana. Hana mencoba untuk memberontak namun sek
Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya."Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu aku akan memberikan nomorku dan ingat beritahukan aku di mana kamu tinggal dan juga kalau kamu sudah sampai rumah kabari aku," jawab Arya yang dianggukan oleh Hana. Hana memberikan ponselnya kepada Arya dan Arya segera memberikan nomornya sekaligus menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Hana. Setelah masuk barulah dia berikan ponsel Hana kembali. "Arya, aku pergi dulu ya salam dari aku untuk orang tuamu sampai ketemu lagi," ucap Hana. Hana melambaikan tangan ke arah Arya sambil tersenyum. Hana berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mario berjalan di belakangnya sambil memandang ke arah Arya. Terlihat Mario tidak menyukai Arya begitu sebaliknya. Arya juga tidak menyukai Mario. Keduanya sa
Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya apakah dari hati tentu jawabannya tidak. Tapi saya bersyukur karena Pak Lintang mau bertanggung jawab dengan saya. Saya ini sudah kotor, Bu.""Dan mungkin para pria lain tidak mau menikahi saya karena saya tidak perawan lagi. Tapi, untungnya Pak Lintang mau menikahi saya. Anggap saja saya bisa mengangkat kepala saya di depan semua orang," jawab Hana dengan suara yang lirih dan bergetar menahan air matanya yang hampir jatuh. Ibu Ami memeluk Hana dia tahu bagaimana sedihnya Hana dan dia tidak menyalahkan Hana sama sekali."Maafkanlah Ibu karena tidak bisa membuat Lintang menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Dia sudah melukaimu dan menghancurkan masa depanmu dan ibu yakin kata-kata Lint
Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terlalu sombong nanti kamu jatuh dan ingat baik-baik satu hal yang harus kamu lakukan bersikaplah baik di depan orang tuaku. Aku tidak ingin sampai orang tuaku curiga dengan apa yang kita lakukan dan juga kalau kamu hamil itu bukan anakku.""Aku tidak akan mengakuinya. Kamu dengar itu jangan menyusahkanku kalau perlu menjauh dariku jangan tinggal satu atap denganku. Aku tidak mau sampai ada orang yang mengetahui di rumahku ada wanita hamil dengar itu," tegas Lintang yang membuat Hana makin sakit hati dengan Lintang.Akan tetapi, dia bisa apa. Saat ini dia hanya bisa patuh jika tidak patuh maka penjara akan menantinya. Walaupun hatinya terluka dengan perkataan Lintang dia harus menerimanya. Hana m
Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terduduk dan matanya berkaca-kaca. "apa salahku Tuhan hingga aku memiliki anak seperti dia. Bagaimana nasib anak itu. Apa yang dia lakukan saat ini. Kemana dia perginya?" tanya pak Irwandi yang berdiri kembali untuk mencari Hana.Namun, Pak Irwandi langsung roboh dia tidak kuat menahan serangan jantung. Perbuatan dari Lintang sudah di luar batas. Berkali-kali Lintang melakukan ini tapi Lintang masih saja tetap tidak berubah dan makin arogan. Dan tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya. "Kenapa aku disalahkan. Wanita murahan itu yang harusnya disalahkan." Lintang tidak terima dengan ayahnya. Lintang yang berada di ruangan pribadi untuk berganti pakaian mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir p
"Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seorang CEO yang sangat kejam, dingin arogan dan juga perfectonis. Hana yang baru pertama kali bekerja dengan anak pak Irwandi sedikit merasa canggung terlebih lagi dia belum melihat wajahnya. Sebulan Hana bekerja akan tetapi tidak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga dia harus bekerja sendirian. Karena pekerjaan yang cukup banyak membuat dirinya harus lembur. "Lelah," cicit Hana. Karena kelelahan Hana tertidur di meja kerjanya saat tengah terlelap Hana merasakan ada sentuhan di kepalanya, bibirnya. Dan sontak saja Hana terbangun dan melihat siapa yang sudah menyentuhnya. "Eh, siapa kamu? Berani-beraninya kamu sentuh aku." Hana tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh pria







