Home / Romansa / Sentuhan Manja Sang CEO Arogan / Bab 7. Jangan Jatuh Cinta

Share

Bab 7. Jangan Jatuh Cinta

Author: ZeeHyung
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 06:52:46

"Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini.

"Lagian kamu kenapa memandang wanita itu seperti memandang sesuatu yang tidak baik. Apa kamu ingin tidur juga dengan dia sama seperti bosmu itu, ya?" tanya Pak Irwandi yang membuat Mario melotot dan menggelengkan kepala.

"Saya tidak seperti itu, Pak. Saya ini pria baik-baik," jawab Mario yang menundukkan kepala dia takut jika sampai Pak Irwandi marah kepada dirinya karena menyindir anaknya.

"Ya sudah. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Pak Irwandi mendekati Mario.

"Saya nunggu Pak Lintang," jawab Mario.

"Memangnya dia di mana. Dan, itu bukannya itu tas milik Hana. Ke mana mereka?" tanya Pak Irwandi kepada Mario.

"Di dalam Pak, mungkin," jawab Mario.

Pak Irwandi melihat ke arah ruangan anaknya dia mengerti apa yang anaknya itu lakukan di dalam dan dia tersenyum kecil karena dia yakin kalau anaknya pasti sedang melakukan itu dengan menantunya.

"Ya sudah. Kamu duduk di sini saja. Saya pergi dulu. Nanti kalau Hana datang atau kamu bertemu dengan Hana beritahukan kepada dia kalau saya ingin menemui dia dan minta dia datang ke rumah besar. Begitu juga dengan Lintang. Apa kamu mengerti ?" tanya Pak Irwandi kepada Mario dijawab Mario dengan menganggukkan kepala.

"Baik, Pak. Saya akan sampaikan kepada keduanya kalau mereka keluar," jawab Mario.

Pak Irwandi mengganggukkan kepala dan dia segera pergi meninggalkan Mario seorang diri karena saat ini keduanya belum juga menunjukkan tanda-tanda keluar dari ruangan tersebut.

Mario menunggu dengan sangat sabar hingga dirinya tertidur. Di dalam ruangan Hana membuka matanya perlahan dia melihat Lintang yang masih memeluknya dan posisinya menghadap ke arah dirinya begitu juga sebaliknya.

Hana melihat jelas wajah Lintang secara dekat dia benar-benar tampan. Jantung Hana berdegup kencang melihat Lintang secara langsung dan dekat.

"Kenapa dia tampan sekali dan dia juga menawan. Banyak yang mengatakan kalau dia pria idaman setiap wanita dan itu memang benar. Tapi kelakuannya tidak mencerminkan apa yang orang-orang lihat."

"Dia terlalu arogan dan dingin sulit untuk menyentuhnya tapi sekarang aku bisa menyentuhnya malah aku bisa tidur dengan dia mungkin lebih dari itu." Hana masih terus memandang ke arah Lintang.

Dia ingin memegang wajah Lintang namun diurungkan karena Lintang bergerak. Hana memenjamkan mata dia berpura-pura tidur takut jika Lintang mengetahui kalau dia mulai menaruh perasaan dengan Lintang.

"Hana, kamu sudah bangun. Hana bangunlah, kamu jangan pura-pura tidur aku tahu kalau kamu sudah bangun." Lintang segera duduk melepaskan pelukannya.

Lintang bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi dalam keadaan polos. Tidak ada rasa malu di dalam diri Lintang.

Sedangkan Hana hanya bisa menundukkan kepala wajahnya bersemu saat melihat Lintang dalam keadaan polos berjalan begitu saja ke arah kamar mandi. Hana menutup tubuhnya sampai ke kepala dia tidak ingin melihat Lintang. Cukup lama Hana bersembunyi di balik selimut.

"Hana, kamu masih bersembunyi di sana apa kamu ingin melakukannya lagi. Baiklah, aku akan melakukannya," ucap Lintang yang mendekati Hana.

Takut melakukan lagi, Hana segera membuka selimutnya. Dan saat selimut terbuka, posisi mereka saling berhadapan. Hana bisa mencium aroma sabun Lintang yang lembut dan juga nafas Lintang yang sangat wangi.

Wajah Lintang yang segar semakin membuat Hana tidak karuan. Hana ingin menepis semua cinta di dalam dirinya tapi dia tidak bisa. Lintang terlalu tampan menurutnya. Di hati Hana ingin memeluk Lintang dan menciumnya tapi kembali lagi dia mengingat tidak boleh ada cinta jika ada cinta maka dia akan ditolak mentah-mentah tapi hatinya tidak bisa berbohong.

Hana mulai mencintai Lintang terlebih lagi bola mata Lintang yang tajam, hitam pekat menusuk ke hatinya langsung. Tanpa diduga Hana, Lintang langsung mendekati wajahnya dan mencium bibirnya cukup lama. Keduanya saling berciuman Hana dengan berani mengalungkan tangannya ke leher Lintang.

Lintang tersenyum melihat Hana merespon ciumannya. Dan dia melepaskan ciuman tersebut hingga membuat Hana sedikit merenggut.

"Aku ada meeting hari ini, apa kamu lupa sekretaris Hana? Lagi pula pekerjaanmu cukup banyak aku sudah menandatangani semuanya dan sudah memeriksa laporan jadi tugasmu mengirimkan kepada seluruh divisi."

"Aku tidak ingin pak Irwandi marah denganku begitu juga denganmu. Apa kamu mau dipotong gajinya karena menggoda atasanmu?" tanya Lintang yang membuat Hana terdiam.

Hana malu karena kelakuannya yang seperti wanita malam menggoda Lintang demi gairah yang belum tersalurkan.

"Maafkan saya, pak Lintang," jawab Hana yang melepaskan tangannya dari leher Lintang dan segera berdiri menutup tubuhnya dengan selimut berjalan ke arah kamar mandi.

Lintang memandang ke arah Hana yang masuk ke kamar mandi dia menghela nafas. Bibirnya kembali basah karena saliva Hana. Lintang mengusap dengan jempol sambil tersenyum.

"Pak Lintang. Kenapa Bapak menggoda sekretaris bapak. Apa bapak tidak ingat apa yang pernah Bapak katakan kepada sekretaris bapak itu ?" tanya Lintang pada dirinya sendiri dan tersenyum.

Lintang segera memakai pakaian lengkap setelah itu keluar dari ruangan berjalan menuju pintu untuk mengambil pakaian dari Hana yang sudah lebih dulu dia pesan kepada Mario untuk dibawa.

Lintang merasa bersalah karena dia pakaian Ana sudah tidak berbentuk lagi. Sebelum membuka pintu Lintang mengambil semua pakaian yang tadi malam berserakan dan membawanya masuk ke dalam ruangan pribadinya baru dia keluar lagi bertemu dengan Mario yang tertidur pulas.

Lintang menggelengkan kepala dia tahu kalau saat ini Mario lelah menunggunya. Lintang mengambil paper bag dan membawanya masuk ke ruang pribadi.

"Hana, pakaianmu aku taruh di meja. Aku tidak tahu ukuranmu. Tapi, aku harap ini benar. Aku pergi dulu," teriak Lintang memanggil Hana dengan mengatakan ini pakaiannya.

Dan Hana yang di dalam hanya bisa tersenyum ternyata Lintang masih peduli tapi wajar kalau Lintang peduli karena memang pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi. Selesai mandi Hana keluar memakai pakaian dan mulai melakukan aktivitas.

Lintang memang tidak ada di ruangannya. Mario juga sudah bangun dia bergegas mengikut Lintang meeting karena banyak klien yang menunggu Lintang untuk melakukan kerjasama. Berkas-berkas yang sudah ditandatangani oleh Lintang segera diberikan Hana kepada manajer divisi yang sudah menunggu persetujuan dari Lintang.

Pekerjaan Hana selesai dan sekarang dia menikmati makanan yang dibawa oleh sahabatnya tadi.

"Azizah.Kenapa kamu lama sekali membawa rujak ini aku sudah ingin memakannya dari tadi tapi kamu sedikitpun tidak datang ke mana kamu, hah?" tanya Hana yang duduk berhadapan dengan Azizah di pantry.

"Bukannya aku tidak mau datang. Aku sudah datang, tapi kamu tidak ada. Hah! Kamu tahu tidak siapa yang ada di mejamu itu. Asistennya Pak Lintang yang wajahnya seperti kulkas 8 pintu dan kamu tahu apa yang terjadi?"

"Dia melihat dadaku dan matanya melotot. Aku takut sekali saat itu. Dia seperti orang yang ingin memangsa wanita makanya aku lari membawa makananmu untungnya makananmu tidak tumpah walaupun hanya berantakan sedikit tidak apa-apa yang penting tidak tumpah dan bisa kamu memakannya," jawab Azizah yang ikut makan rujak milik Hana.

"Masak sih dia seperti itu. Kamu tidak salah kalau dia memandang dadamu. Mungkin saja dia ingin melihat namamu bukannya namamu ada di dada itu jadi jelas dia melihat namamu dari situ."

"Lagi pula salahmu kenapa tidak berkenalan dengan dia harusnya kenalan jadi tidak seperti ini jadinya," jawab Hana yang menggelengkan kepala mendengar jawaban dari sahabatnya ini. Walaupun Azizah OG tapi mereka sangat akrab.

"Aku tidak mau dekat-dekat dengan dia lagi. Kalau dia ada aku akan menjauh jangan memintaku untuk membawa apapun kalau kamu mau aku akan letakkan di pantri aku tidak akan menghampiri kmu. Bagaimana kalau dia menggodaku dan mengambil kesucianku nanti yang ada Mas Bejo lari dan meninggalkanku," jawab Azizah yang membuat Hana menggelengkan kepala melihat tingkah dari sahabatnya ini.

"Iya ... iya, aku tidak akan memintamu untuk membelikan aku makanan kalaupun aku memintanya kamu letakkan saja di sini. Itu kan ada kulkas masukkan saja di situ kamu tinggal kirimkan pesan kalau makananku ada di sana."

"Tapi, ngomong-ngomong pak Mario itu sangat tampan dan juga wibawa. Dia mapan juga. Apa kamu tidak menyukai dia?" tanya Hana dengan serius ke arah Azizah.

Hana menatap ke arah Azizah yang tadinya terlihat tersenyum kini tiba-tiba wajahnya mulai menegang matanya melirik ke arah belakang. Hana menaikkan alisnya dia bingung dengan Azizah yang tiba-tiba wajahnya menegang.

"Hei, ada apa ? Kenapa wajahmu seperti itu. Kamu lihat hantu ya? Apa hantunya cowok atau cewek?" tanya Hana lagi yang tertawa geli.

Hana tidak tahu perubahan Azizah karena apa. Dia pikir Azizah hanya bercanda.

Azizah memberikan kode lagi dengan menggerakkan matanya ke arah belakang agar Hana menoleh ke belakang. Namun, sayangnya Hana tidak menoleh sama sekali.

"Hei, Azizah kamu tahu tidak ada yang lebih menyeramkan daripada hantu. Kamu mau dengar siapa itu. Aku yakin kamu pasti terkejut jika tahu," ucap Hana sambil tertawa kembali.

Azizah serba salah dia bingung mau jawab apa ke Hana. Dia sebenarnya mau tahu apa yang lebih seram daripada hantu.

"Hana, apa yang lebih seram dari pada hantu?" tanya seseorang dari belakang hingga membuat Hana terdiam.

Dia menatap Azizah yang saat ini tengah menunduk terlihat tangannya gemetar dia tahu siapa yang ada di belakangnya dan saat Hana menoleh, Hana mencium pipi dari orang yang tadi bertanya dengannya.

Azizah yang melihatnya langsung pingsan membuat ketiga orang yang tadinya tegang kini terpaku melihat Azizah yang sudah pingsan.

"Dia sepertinya melihat hantu," ucap orang tersebut yang membuat Hana terdiam dan terpaku.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 85. Kebahagiaan Yang Sempurna (Tamat)

    Persiapan pernikahan Cakra dan Arum dikerjakan berdua. Keduanya mewujudkan impian pernikahan yang mereka inginkan. Walaupun ada cekcok sedikit tapi semuanya tidak sampai bubar. "Sayang, tidak lama lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar. Kamu tahu aku semangat sekali untuk menikah dengan kamu. Apa kamu semangat dan bahagia menikah dengan aku?" tanya Cakra yang manja dengan calon istrinya Arum. Arum tertawa mendengar Cakra pria tampan yang manja ini mengatakan itu. "Kalau aku katakan manja kamu marah tidak?" tanya Arum. "Kenapa aku dikatakan manja. Aku tidak manja, aku hanya sedikit ingin memeluk kamu. Aku tidak sabar untuk menjadikan kamu istri. Kamu jangan kerja lagi ya. Eh, kamu kerja saja temani aku di kantor jika aku ingin kamu dan rindu kamu aku bisa langsung peluk kamu. Kamu tidak boleh jauh dari aku." Arum menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra. Dia tidak menyangka kalau Cakra berkata seperti itu."Jadi maksudmu kalau aku kerja di kantormu nanti

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 84. Kejutan Yang Manis

    Cakra mendengus kesal dia akhirnya ikut. Ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama dan ayahnya terlalu memaksa dirinya hingga dia mau tidak mau ikut dengan kedua orang tuanya. Cakra diminta memakai pakaian yang sudah disiapin oleh orang tuanya. Sekali lagi, Cakra mau tidak mau melakukannya dan dia memakai pakaian batik yang sangat formal. "Kita ini mau kemana sih? Aku ini seperti dijebak oleh kalian. Apa kalian mau jodohkan aku dengan wanita lain?!" Cakra risau dengan tingkah orang tuanya yang ditanya tidak mau jawab malah mereka terlihat tenang. "Dengar ya, aku sudah punya kekasih jadi jangan nikahin aku dengan gadis lain. Jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah." Cakra sekali lagi memperingati orang tuanya untuk tidak ikut campur urusan kehidupan dia. "Kamu bisa diam tidak? Kamu ini berisik sekali. Kamu jalankan saja mobil ini dan ikuti arahanku. Kamu tidak perlu banyak bicara." Lintang kesal dengan anaknya sedari di rumah sampai di jalan selalu saja mengomel dan marah hin

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 83. Hari Yang Dinanti

    "Ma. Kenapa diam? Jawab Ma. Benar tidak yang Papa katakan?" tanya Cakra ke Hana. Hana lagi-lagi tidak bisa menjawabnya. Hana menoleh ke arah Lintang yang memalingkan wajahnya dari dirinya. "Kenapa kamu tidak jawab. Ayo jawab. Anakmu bertanya itu. Kamu benar-benar keterlaluan sekali. Kamu yang sudah buka suara kamu malah diam seribu bahasa. Apa-apaan ini." Hana kesal dengan Lintang lepas tangan. "Cakra, kamu jangan dengarkan papamu itu. Dia asal bicara. Kalau memang asisten kamu itu mau lamaran pasti dia beritahukan ke kamu. Sudah lupakan saja," jawab Pak Irwandi mewakili Lintang menjawab pertanyaan cucunya. Cakra menatap kakeknya lekat. Dia mau tahu apakah benar yang kakeknya katakan. Apakah kakeknya tidak bohong. Dan dari sorot matanya kakeknya benar. "Baiklah. Aku mau ke kamar. Kalian benar-benar mencurigakan sekali." Cakra geleng kepala dengan tingkah ayahnya. Dia tahu betul ayahnya itu jahil dan suka menggoda dia dan ibunya. Tapi, biarpun jahil dia sayang pada ayahnya. Pak

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 82. Rahasia

    Lintang geleng kepala. Dia tidak berani untuk mengatakan penolakannya di depan Hana. Bisa bahaya dia nantinya. "Kita pulang saja. Ayo cepat, " cicit Lintang yang segera bergerak menuju mobil. Hana pun ikut pulang tadi dia pamitan dulu dengan keluarga angkat Arum dan mengatakan akan datang lagi hari sabtu malam minggu. Arya terharu karena anaknya diterima oleh Hana. Dia berpikir Hana tidak mau menerima anaknya. Akan tetapi dia menerimanya. Arya pun pulang dan memberitahukan ke ayah dan ibunya. Tanggapan mereka bahagia. Mendengar keluarga Lintang mau menerima cucu mereka. "Arum harus dibawa ke sini. Kita buat acara mewah. Jangan buat keluarga kita malu. Mama mau cucu mama itu bahagia. Oh ya, mama mau ketemu dengan cucu mama. Kamu kapan baw kami ketemu dia. Ayolah, kenalkan mama dan Papa ke cucu satu-satunya itu. Kamu mau kan?" tanya Ibu kandung Aryaberharap anaknya bisa mengajak dia bertemu dengan cucunya. "Benar itu. Kami juga mau bertemu dia. Dan kami mau dia mengenal kami. Kita

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 81 . Melamar

    "Kita nikah saja baru kita ketemu dengan orang tua kita. Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Cakra membuat Arum melotot. "Tidak. Aku tidak mau. Sudahlah, aku pusing. Kamu jangan buat aku pusing dengan permintaan kamu itu." Arum mengabaikan Cakra yang meminta mereka menikah baru meminta restu dari keluarga. Cakra menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Cakra kembali ke mejanya dan duduk di kursi. Cakra menatap Arum dengan penuh cinta. Dirinya tidak mau kehilangan Arum. Jika orang tuanya tidak suka maka dia akan perjuangkan. Lintang yang sudah mendapatkan alamat dari Arum segera pergi ke rumahnya bersama Hana. "Sayang, kamu yakin mau temui orang tua angkat Arum? Apa kamu sudah setuju dengan mereka?" tanya Hana penasaran dengan Lintang yang tiba-tiba saja ingin ke rumah orang tua angkat Arum yang katanya polisi. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Bukan setuju. Bedakan ya." Lintang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Hana terse

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 80. Ide Apa

    "Kamu setuju dengan dia? Kamu tidak masalah anakmu menikah dengan orang yang sudah mencelakai kita berdua. Kamu tidak ingat, bagaimana kejamnya mereka, Hana?" tanya Lintang tidak percaya jika Hana malah luluh dengan apa yang anaknya lakukan. Hana menghela napas. Dia tahu kedua orang tua Arum seperti apa dengan dirinya. Tapi, dia tidak bisa berkata-kata banyak karena sosok Arum berbeda dengan orang tuanya. Dia tidak sama dan dia terlihat baik dan sopan. "Dia tidak sama dengan ayah dan ibunya. Dia diasuh dengan orang yang benar. Dia tidak jahat. Kamu tidak lihat bagaimana sederhananya dia tadi. Aku suka dengan dia. Dia manis dan lucu. Cocok dengan menantuku. Kamu coba deh resapi dia maksudnya aku lihat sisi positif dari anak itu eh maksudnya Arum. Coba sekali saja kamu lihat dia. Jangan lihat orang tuanya. Anak kita tidak menikah dengan mereka tapi Arum."Hana kembali mengatakan kesukaan dia ke Arum. Dia bisa merasakan kalau Arum itu jauh dari ibu dan ayahnya. Dia memiliki sesuatu yan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 3. Dia Wanita Penggoda

    Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terla

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 2. Perjanjian Pernikahan

    Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terdudu

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 5. Jangan Sentuh Saya, Pak Lintang

    Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya."Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu ak

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 4. Sah

    Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status