INICIAR SESIÓNNona Citra... beliau di rumah kaca, Tuan. Tapi di luar hujan deras dan petir—""Buka... pintu belakang," potong Adipati. Ia memaksa kakinya untuk bertumpu pada tiang pintu. Dengan usaha yang begitu keras hingga urat-urat di lehernya menegang menembus kulit, Adipati bangkit berdiri. Tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan seperti pohon yang dihantam badai, namun ia menolak untuk jatuh lagi."Tuan, bahaya! Luar gelap gulita dan ada petir!" cegah Pak Mamat yang baru tiba membawa beberapa lilin dalam wadah kaca. "Biar saya dan Raka yang menjemput Nona Citra!""Tidak!" suara Adipati menggelegar, memotong keraguan para pelayan. Meski tubuhnya bergetar hebat dan napasnya masih memburu dalam serangan panik, aura dominan pria itu terpancar kembali, bukan aura dingin yang kejam, melainkan tekad seorang pria yang tak akan membiarkan milik terberharganya tersentuh bahaya. "Aku yang pergi."Adipati tidak menunggu jawaban mereka. Ia mendorong pintu kaca tebal yang membatasi selasar dengan area taman te
Kegelapan yang menyergap kediaman Bisma bukan sekadar terputusnya aliran listrik. Bagi Adipati, itu adalah pembukaan kembali pintu gerbang neraka masa lalunya.Lampu-lampu padu yang biasanya menerangi setiap sudut rumah mewah itu mati total dalam hitungan detik. Kegelapan pekat yang dingin menyelimuti lorong-lorong, menelan pilar-pilar marmer, dan menghapus seluruh batas ruang. Di luar, langit malam yang tertutup awan hitam pekat dan guyuran hujan deras sama sekali tidak menyisakan pendaran cahaya alami. Hanya ada kegelapan yang pekat, pekat, dan menyesakkan.Di dalam rumah, kepanikan pecah seketika."Generator! Cepat nyalakan generator cadangan!" teriakan Pak Mamat menggema di lorong utama, suaranya yang biasa tenang kini bergetar hebat dipenuhi ketakutan yang murni. "Pak Mamat! Di mana sakelar otomatismenya?!""Sedang diusahakan, Pak! Tapi sepertinya sambaran petir tadi merusak panel utama!" sahut seorang teknisi dari arah ruang bawah tanah, suaranya tertutup deru hujan yang menghan
Adipati menurunkan cangkirnya. Ia menatap cairan teh melati itu sejenak, lalu melirik Citra yang sedang menatapnya dengan alis terangkat penuh kemenangan."Rasanya pas. Tidak terlalu manis," gumam Adipati pelan. Ia lalu menatap Bi Surti dan Pak Mamat. "Mulai hari ini, sarapan pagi tidak perlu terlalu formal. Buat saja apa yang disiapkan Citra."Bi Surti mendongak kaget, matanya berkedip-kedip tak percaya. "B-baik, Den... eh, Pak Adipati.""Dan Raka," Adipati beralih pada asistennya. "Jadwal rapat hari ini undur satu jam. Saya mau sarapan di taman belakang."Raka menelan ludah. Mengundur rapat direksi senilai puluhan miliar hanya untuk sarapan di taman belakang? Ini bukan Adipati yang diketahuinya selama bertahun-tahun. Ini seperti sosok asing yang merasuki tubuh bosnya."Baik, Tuan. Akan saya atur ulang jadwalnya," jawab Raka patuh, meski otak analisisnya berputar cepat mencoba memahami situasi ini.Perubahan kecil itu tidak berhenti di dapur. Selama seminggu berikutnya, seluruh kedia
Pukul lima pagi di kediaman utama keluarga Bisma biasanya ditandai oleh satu hal: keheningan yang mencekam dan presisi yang nyaris militer.Rumah megah bergaya minimalis modern yang berdiri di kawasan elit Jakarta Selatan itu tidak pernah terasa seperti sebuah rumah tinggal. Tempat itu lebih mirip museum kaca yang dingin, tempat di mana setiap perabotan diatur hingga milimeter terpresisi, dan setiap langkah kaki pelayan harus diredam sehalus mungkin agar tidak memicu emosi sang pemilik rumah.Raka, asisten pribadi Adipati yang telah mengabdi selama tujuh tahun, melangkah menyusuri lorong berlantai marmer hitam. Di tangannya, ia memegang tablet tipis berisi jadwal rapat hari itu, laporan bursa saham, serta berkas klausul akuisisi perusahaan properti di Surabaya.Seperti biasa, wajah Raka datar dan tegang. Menjadi asisten seorang Adipati Bisma membutuhkan kesiapan mental tingkat tinggi. Bosnya adalah pria yang tidak pernah toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. Pria yang bisa memec
Agak apa? Kotor?" potong Citra lembut, tanpa nada tersinggung. Ia mengambil selembar tisu gulung dari atas meja, lalu mengelap permukaan bangku kayu itu dengan telaten sebelum menatap Adipati. "Duduklah. Ini bersih. Dan percayalah, rasanya jauh lebih enak daripada sarapan hotel bintang lima yang biasa kamu makan."Adipati menghela napas pasrah. Ia menurunkan tubuh tingginya dan duduk di atas bangku kayu kusam itu. Lututnya yang panjang terpaksa menekuk agak sempit karena keterbatasan ruang, membuat posturnya terlihat sedikit lucu di antara pengunjung warung lainnya."Bu Sum! Nasi uduknya dua porsi ya, lengkap pakai telur balado, tempe orek, sama kerupuknya yang banyak!" panggil Citra ceria."Siap, Mbak Citra! Masnya baru ya? Ganteng amat kayak pemain sinetron!" sahut Bu Sum dari balik racikan makanannya, tertawa lepas tanpa beban.Wajah Adipati terasa panas mendengar pujian blak-blakan dari ibu penjual nasi uduk tersebut. Di dunianya, pujian terhadap ketampanan atau keberadaannya sela
Matahari pagi menyusup malu-malu di antara celah gorden tebal kamar bernuansa abu-abu dan perak milik Adipati. Sinar keemasannya memantul pada meja marmer dan perabotan kristal yang berkilat dingin. Bagi Adipati, pagi hari biasanya berarti satu hal: jadwal ketat, setelan jas yang kaku, sarapan rendah kalori yang disiapkan ahli gizi pribadi, serta keheningan canggung yang diawasi oleh barisan pelayan berpakaian seragam rapi.Namun pagi ini, nuansa itu menguap.Di ujung tempat tidur, Adipati terbangun bukan oleh suara alarm jam tangan mewahnya, melainkan oleh aroma samar minyak kayu putih dan kehangatan tulus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap ke samping. Citra sudah tidak ada di atas sofa panjang tempat gadis itu tertidur semalam.Saat Adipati melangkah keluar dari kamar dengan pakaian kasual, kaos polos hitam dan celana kain yang santai, sesuatu yang sangat jarang ia kenakan, suara gelak tawa kecil terdengar dari arah dapur bersih. Ia mendapati Citra sedang sibuk mera







