Share

Menerobos Kegelapan Demi Citra

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-10-18 23:45:11

Nona Citra... beliau di rumah kaca, Tuan. Tapi di luar hujan deras dan petir—"

"Buka... pintu belakang," potong Adipati. Ia memaksa kakinya untuk bertumpu pada tiang pintu. Dengan usaha yang begitu keras hingga urat-urat di lehernya menegang menembus kulit, Adipati bangkit berdiri. Tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan seperti pohon yang dihantam badai, namun ia menolak untuk jatuh lagi.

"Tuan, bahaya! Luar gelap gulita dan ada petir!" cegah Pak Mamat yang baru tiba membawa beberapa lilin dalam w
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Gejolak Keluarga Elit

    Pak Mamat dan para pekerja yang mulai berdatangan dari arah dapur luar hanya bisa menunduk dalam-dalam. Atmosfer di sekitar taman mendadak berubah tegang, pekat, dan mencekam. Para pelayan berdiri mematung di bawah guyuran hujan, takut membuat pergerakan sekecil apa pun yang bisa memancing kemurkaan sang matriark keluarga.Nenek tidak membuang waktu. Dengan langkah yang menyiratkan dominasi tanpa batas, ia berjalan menerobos hujan, didampingi pengawal yang memayunginya rapat-rapat. Setiap ketukan tongkatnya di atas tanah basah seolah menjadi detik jam menuju ledakan konflik.PLAK!Pintu rumah kaca didorong semakin lebar oleh pengawal. Nenek melangkah masuk ke dalam rumah kaca, matanya menangkap pemandangan yang langsung menyulut api kemarahannya: Adipati, pewaris tunggal dinasti bisnis keluarga, berdiri basah kuyup, kotor oleh lumpur, sedang merengkuh Citra dalam pelukannya."CUKUP!"Teriakan Nenek menggema menembus dinding-dinding kaca, begitu keras hingga membuat nyala lilin di ata

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Amarah Nenek Adipati

    Kegelapan malam tidak lagi menjadi penjara bagi Adipati, setidaknya untuk detik ini. Di dalam rumah kaca yang dikepung deru hujan dan kilatan petir yang menyambar-nyambar di langit, dunia Adipati menyempit, hanya menyisakan dirinya dan wanita di hadapannya.Napas Adipati masih memburu, membawa uap dingin di udara malam yang menusuk tulang. Jas mewahnya yang basah kuyup meneteskan air ke lantai semen rumah kaca, namun jemarinya yang gemetar enggan melepaskan pipi Citra. Sentuhan itu melingkupi wajah Citra dengan begitu protektif, seolah-olah wanita itu adalah barang kaca yang amat rapuh dan bisa pecah kapan saja jika ia terlambat membentenginya."Aku takut gelap, Citra," suara Adipati bergetar parau, memecah kesunyian yang tersisa di antara deru badai. "Tapi aku jauh lebih takut membayangkan kamu sendirian di tempat ini... ketakutan, kebingungan, tanpa ada yang menjaga."Mata Adipati yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh, kini dipenuhi oleh kerapuhan yang teramat san

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Menerobos Kegelapan Demi Citra

    Nona Citra... beliau di rumah kaca, Tuan. Tapi di luar hujan deras dan petir—""Buka... pintu belakang," potong Adipati. Ia memaksa kakinya untuk bertumpu pada tiang pintu. Dengan usaha yang begitu keras hingga urat-urat di lehernya menegang menembus kulit, Adipati bangkit berdiri. Tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan seperti pohon yang dihantam badai, namun ia menolak untuk jatuh lagi."Tuan, bahaya! Luar gelap gulita dan ada petir!" cegah Pak Mamat yang baru tiba membawa beberapa lilin dalam wadah kaca. "Biar saya dan Raka yang menjemput Nona Citra!""Tidak!" suara Adipati menggelegar, memotong keraguan para pelayan. Meski tubuhnya bergetar hebat dan napasnya masih memburu dalam serangan panik, aura dominan pria itu terpancar kembali, bukan aura dingin yang kejam, melainkan tekad seorang pria yang tak akan membiarkan milik terberharganya tersentuh bahaya. "Aku yang pergi."Adipati tidak menunggu jawaban mereka. Ia mendorong pintu kaca tebal yang membatasi selasar dengan area taman te

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Berusaha Keluar Dari Trauma

    Kegelapan yang menyergap kediaman Bisma bukan sekadar terputusnya aliran listrik. Bagi Adipati, itu adalah pembukaan kembali pintu gerbang neraka masa lalunya.Lampu-lampu padu yang biasanya menerangi setiap sudut rumah mewah itu mati total dalam hitungan detik. Kegelapan pekat yang dingin menyelimuti lorong-lorong, menelan pilar-pilar marmer, dan menghapus seluruh batas ruang. Di luar, langit malam yang tertutup awan hitam pekat dan guyuran hujan deras sama sekali tidak menyisakan pendaran cahaya alami. Hanya ada kegelapan yang pekat, pekat, dan menyesakkan.Di dalam rumah, kepanikan pecah seketika."Generator! Cepat nyalakan generator cadangan!" teriakan Pak Mamat menggema di lorong utama, suaranya yang biasa tenang kini bergetar hebat dipenuhi ketakutan yang murni. "Pak Mamat! Di mana sakelar otomatismenya?!""Sedang diusahakan, Pak! Tapi sepertinya sambaran petir tadi merusak panel utama!" sahut seorang teknisi dari arah ruang bawah tanah, suaranya tertutup deru hujan yang menghan

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Melawan Trauma Masa Kecil

    Adipati menurunkan cangkirnya. Ia menatap cairan teh melati itu sejenak, lalu melirik Citra yang sedang menatapnya dengan alis terangkat penuh kemenangan."Rasanya pas. Tidak terlalu manis," gumam Adipati pelan. Ia lalu menatap Bi Surti dan Pak Mamat. "Mulai hari ini, sarapan pagi tidak perlu terlalu formal. Buat saja apa yang disiapkan Citra."Bi Surti mendongak kaget, matanya berkedip-kedip tak percaya. "B-baik, Den... eh, Pak Adipati.""Dan Raka," Adipati beralih pada asistennya. "Jadwal rapat hari ini undur satu jam. Saya mau sarapan di taman belakang."Raka menelan ludah. Mengundur rapat direksi senilai puluhan miliar hanya untuk sarapan di taman belakang? Ini bukan Adipati yang diketahuinya selama bertahun-tahun. Ini seperti sosok asing yang merasuki tubuh bosnya."Baik, Tuan. Akan saya atur ulang jadwalnya," jawab Raka patuh, meski otak analisisnya berputar cepat mencoba memahami situasi ini.Perubahan kecil itu tidak berhenti di dapur. Selama seminggu berikutnya, seluruh kedia

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Keterkejutan Orang Rumah

    Pukul lima pagi di kediaman utama keluarga Bisma biasanya ditandai oleh satu hal: keheningan yang mencekam dan presisi yang nyaris militer.Rumah megah bergaya minimalis modern yang berdiri di kawasan elit Jakarta Selatan itu tidak pernah terasa seperti sebuah rumah tinggal. Tempat itu lebih mirip museum kaca yang dingin, tempat di mana setiap perabotan diatur hingga milimeter terpresisi, dan setiap langkah kaki pelayan harus diredam sehalus mungkin agar tidak memicu emosi sang pemilik rumah.Raka, asisten pribadi Adipati yang telah mengabdi selama tujuh tahun, melangkah menyusuri lorong berlantai marmer hitam. Di tangannya, ia memegang tablet tipis berisi jadwal rapat hari itu, laporan bursa saham, serta berkas klausul akuisisi perusahaan properti di Surabaya.Seperti biasa, wajah Raka datar dan tegang. Menjadi asisten seorang Adipati Bisma membutuhkan kesiapan mental tingkat tinggi. Bosnya adalah pria yang tidak pernah toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. Pria yang bisa memec

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status