Share

Nyonya Besar Datang

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-07-24 22:30:08

Ruang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.

Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."

Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."

Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"

Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."

Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."

Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Maaf, Pak. Investor meminta kepastian. Jika memang kabar itu benar, mereka berharap perusahaan mengeluarkan pernyataan resmi."

Beberapa detik berlalu, Adipati menutup map di depannya. Suara kecil itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan, "Lalu keluarkan." Semua orang terdiam.

"Sore ini." Tatapan Adipati perlahan beralih kepada Citra. "Umumkan bahwa aku sudah menikah."

Deg.

Jantung Citra seolah berhenti berdetak. Ia spontan menoleh ke arah Adipati, berharap pria itu sedang bercanda. Namun wajah dingin itu tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bercanda, bisik-bisik mulai terdengar di antara para direksi.

"Menikah?"

"Kapan?"

"Dengan siapa?"

Adipati berdiri dari kursinya. Tanpa tergesa, ia melangkah mendekati Citra, seluruh ruangan mengikuti setiap langkahnya, berhenti tepat di samping wanita itu, Adipati membuka suara dengan nada yang sama datarnya, "Istriku."

Hanya satu suku kata, namun cukup membuat seluruh isi ruangan membeku, seorang direktur bahkan menjatuhkan pulpennya ke lantai. Vanessa yang sejak tadi duduk di sisi kanan meja rapat perlahan mengangkat wajah, tatapannya mengunci Citra, untuk pertama kalinya, senyum di wajah wanita itu benar-benar menghilang.

Tak sampai lima menit, kabar itu menyebar ke seluruh gedung Maheswara Group, setiap lantai dipenuhi bisikan.

"Pak Adipati sudah menikah?"

"Dengan Citra?"

"Staf Divisi Keuangan itu?"

"Tidak mungkin..."

….

Di dalam ruang rapat, tak seorang pun lagi membahas proyek maupun investasi. Semua perhatian tertuju kepada wanita yang sejak tadi hanya berdiri diam di samping Adipati. Sementara itu, Citra sendiri masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, semalam ia hanyalah seorang wanita yang berusaha menyelamatkan ayahnya. Hari ini, seluruh Maheswara Group mengetahui bahwa dirinya adalah istri Adipati Maheswara. Di sudut ruangan, Vanessa mengepalkan jemarinya di bawah meja, tatapannya tak pernah lepas dari Citra. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya, Siapa sebenarnya wanita itu?

Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang dibayangkan. Dalam waktu kurang dari satu jam, hampir seluruh karyawan Maheswara Group membicarakan hal yang sama.

*Adipati Maheswara telah menikah.*

Rapat berakhir lebih cepat dari biasanya, satu per satu direksi meninggalkan ruangan dengan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya. Beberapa di antaranya sempat menatap Citra sebelum akhirnya memilih diam, pintu ruang rapat menutup.

Kini hanya tersisa Adipati, Citra, dan Raka.

"Apa yang Tuan lakukan?" akhirnya Citra membuka suara.

Adipati masih menandatangani beberapa berkas di atas meja, "Mengumumkan fakta."

"Tapi... bukankah isi perjanjian kita—" lidah Citra terasa kelu jika memang status mereka sudah sah.

"Perjanjian itu berlaku untuk kehidupan pribadi." Adipati meletakkan pulpen. "Perusahaan berbeda."

Citra terdiam, ia baru menyadari satu hal. Pernikahan mereka memang harus dirahasiakan dari keluarga dan kehidupan pribadinya, namun sebagai Presiden Direktur perusahaan terbuka, status Adipati bukan lagi urusan pribadi. Cepat atau lambat, publik memang akan mengetahuinya.

"Ada masalah?" tanya Adipati.

Citra menggeleng pelan, "Tidak.’’ Namun cukup membuat Citra mengerti, pernikahan mereka tetaplah sebuah kontrak.

Di luar ruang rapat, Vanessa berdiri memandangi layar ponselnya. Sebuah foto baru saja masuk, foto Adipati yang berdiri di samping Citra beberapa menit lalu, wanita itu memperbesar wajah Citra, "Jadi... kamu." Sudut bibirnya terangkat tipis.

Ia segera menekan satu nomor, "Paman."

Suara seorang pria tua terdengar dari seberang, "Ada apa?"

"Sepertinya... kita harus mencari tahu latar belakang istri baru Adipati."

"Dia menikah?" suara itu kembali terdengar. "Tidak mungkin."

"Itu juga yang kupikirkan, dia tidak boleh berada di sisi Adipati, Paman." Vanessa memutus sambungan telepon.

Tatapannya kembali mengarah ke ruang rapat yang pintunya masih tertutup, "Aku ingin tahu … apa yang membuat Adipati memilih wanita biasa sepertimu."

-…

Sore harinya, mobil kembali memasuki halaman mansion. Begitu turun, Bu Ratih sudah menunggu di depan pintu dengan wajah yang tampak cemas, "Tuan." Bu Ratih menundukkan kepala, "Tadi siang... Nyonya Besar datang."

Langkah Adipati berhenti, "Di mana beliau?"

Suasana mendadak berubah hening, Raka yang berdiri di belakang Adipati perlahan menghela napas, Citra bisa merasakan perubahan itu. Ia belum mengenal keluarga Adipati, namun dari raut wajah semua orang, ia tahu... Kedatangan wanita itu bukanlah kabar baik. Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, terdengar suara langkah kaki dari arah ruang tengah, seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun muncul dengan pakaian yang serba elegan, tatapannya langsung jatuh kepada Citra. Dingin, menilai,tanpa sedikit pun senyum.

"Jadi..." Suara wanita itu memecah keheningan. "Ini wanita yang diam-diam kamu nikahi?"

Adipati berdiri di depan Citra. Tanpa sadar, tubuhnya menjadi penghalang di antara keduanya, "Nenek."

Hanya satu kata, namun cukup membuat Citra membeku.

*Wanita itu adalah nenek Adipati.*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Nyonya Besar Datang

    Ruang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Ma

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Vanessa

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah. Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya." Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan. "Tuan?" tanya Citra ragu. "Aku menunggu di sini." Sahut Adipati. Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan. --- Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..." Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Ya

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Operasi Berjalan Lancar

    Ruangan itu membeku, Tak seorang pun bergerak setelah tubuh Adipati roboh ke dalam pelukan Citra.Raka menjadi orang pertama yang tersadar, "Dokter!"Tak lama kemudian, suara langkah kaki memenuhi lorong. Seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Namun begitu melihat posisi Adipati, langkah mereka mendadak melambat, "Tolong baringkan Tuan."Raka segera mengangguk. Ia dan salah seorang petugas keamanan berjongkok untuk mengangkat tubuh Adipati. Baru saja tangan mereka menyentuh bahu pria itu, dokter mengangkat telapak tangannya, "Tunggu."Semua menoleh, Tatapan dokter jatuh pada tangan kanan Adipati yang masih menggenggam jemari Citra begitu erat."Paksa melepaskannya justru bisa membangunkan refleks tubuh Tuan," ujar dokter pelan.Raka mengangguk tipis, dengan sangat hati-hati, ia mencoba melonggarkan jemari Adipati, tetap tidak bergerak, genggaman itu justru semakin mengencang. Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangan kepada Citra, "N

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Jangan Tinggalkan Aku

    Bu Ratih tampak ragu sejenak. "Tuan... terkadang sulit tidur."“Sulit tidur?” ulang Citra dengan dahi mengerut. Namun, tanpa penjelasan tambahan, Bu Ratih segera mengundurkan diri, meninggalkan Citra yang berdiri mematung dalam keraguan.Malam kian merambat. Citra memandangi langit-langit kamar, matanya enggan terpejam. Pikirannya melayang pada sang ayah. Meski Raka sudah memberi tahu bahwa operasinya berjalan lancar, hatinya tak akan benar-benar tenang sebelum melihat keadaan Ayah secara langsung.Di luar, mansion mewah ini tenggelam dalam kesunyian yang ganjil. Hingga tiba-tiba…BRAK!Citra tersentak dan langsung terduduk di ranjang. Sensasi dingin merayapi tengkuknya saat mendengar erangan tertahan dari balik dinding."Tidak..." Suara bariton seorang pria bergetar hebat. "Jangan..."Erangan itu memuncak menjadi jeritan histeris yang memilukan. "IBU!"Darah Citra serasa berhenti mengalir. Suara itu datang dari lorong lantai dua, dari kamar Adipati.Teringat peringatan Bu Ratih, Ci

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Presdir yang Tak Pernah Tidur

    BAB 3Pagi itu, mendung menggantung tebal di luar gedung Pencatatan Sipil.Citra meremas jemarinya sendiri yang terasa sedingin es.Ia tidak tidur semalaman. Bayangan dokumen perjanjian kerja sama yang ia tandatangani kemarin masih membayangi. Namun, saat teringat kabar dari Raka sejam lalu—bahwa tim dokter sudah membawa ayahnya ke ruang operasi—dada Citra yang sesak sedikit melonggar."Nona Citra, silakan masuk."Suara perawat yang ia minta tolong menjadi saksi membuyarkan lamunannya. Citra melangkah masuk ke ruangan serba putih itu.Di sana, Adipati Maheswara sudah duduk tegak dengan setelan jas mahalnya. Pria itu tampak begitu dominan, kontras dengan meja kayu sederhana di hadapannya.‘Presdir perusahaan tempatku bekerja.’Pria yang jangankan diimpikan jadi pasangan, untuk bisa menyapanya saja tidak pernah terlintas di otak Citra. Dan hari ini, pria itu duduk di sebelahnya untuk menandatangani buku nikah."Tanda tangan di sini, Pak Adipati. Dan Bu Citra di sebelah sini," instruks

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Besok Pagi Kita Menikah!

    Sedan hitam itu melaju tenang membelah jalanan basah. Di kursi belakang, Citra menatap hampa kilatan lampu kota. Tangannya saling meremas kaku. Penawaran gila di taman rumah sakit tadi masih bergema keras di telinganya.Menikah dengan Adipati Maheswara? Pria penguasa yang dikelilingi rumor buruk dan desas-desus kejam di dunia bisnis?Apakah ini semacam lelucon keji dari takdir untuk menertawakan hidupnya yang sedang berada di ambang kehancuran?Tak lama kemudian, laju mobil melambat dan berhenti mulus di pelataran sebuah hotel berbintang lima. Raka turun lebih dulu, lalu membukakan pintu dan membimbing Citra menuju lift khusus. Pintu lift berdenting pelan sebelum meluncur cepat membawa mereka langsung menuju penthouse di lantai teratas. Di sana, di depan dinding kaca raksasa yang menghadap lanskap kota, berdiri seorang pria tegap dalam setelan jas hitam."Tuan, Nona Citra sudah datang," ujar Raka sebelum mengundurkan diri dan menutup pintu rapat-rapat. Pria itu berbalik. Tatapan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status