LOGINRuang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.
Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya." Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media." Kening Adipati berkerut "Apa isunya?" Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan." Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan." Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Maaf, Pak. Investor meminta kepastian. Jika memang kabar itu benar, mereka berharap perusahaan mengeluarkan pernyataan resmi." Beberapa detik berlalu, Adipati menutup map di depannya. Suara kecil itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan, "Lalu keluarkan." Semua orang terdiam. "Sore ini." Tatapan Adipati perlahan beralih kepada Citra. "Umumkan bahwa aku sudah menikah." Deg. Jantung Citra seolah berhenti berdetak. Ia spontan menoleh ke arah Adipati, berharap pria itu sedang bercanda. Namun wajah dingin itu tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bercanda, bisik-bisik mulai terdengar di antara para direksi. "Menikah?" "Kapan?" "Dengan siapa?" Adipati berdiri dari kursinya. Tanpa tergesa, ia melangkah mendekati Citra, seluruh ruangan mengikuti setiap langkahnya, berhenti tepat di samping wanita itu, Adipati membuka suara dengan nada yang sama datarnya, "Istriku." Hanya satu suku kata, namun cukup membuat seluruh isi ruangan membeku, seorang direktur bahkan menjatuhkan pulpennya ke lantai. Vanessa yang sejak tadi duduk di sisi kanan meja rapat perlahan mengangkat wajah, tatapannya mengunci Citra, untuk pertama kalinya, senyum di wajah wanita itu benar-benar menghilang. Tak sampai lima menit, kabar itu menyebar ke seluruh gedung Maheswara Group, setiap lantai dipenuhi bisikan. "Pak Adipati sudah menikah?" "Dengan Citra?" "Staf Divisi Keuangan itu?" "Tidak mungkin..." …. Di dalam ruang rapat, tak seorang pun lagi membahas proyek maupun investasi. Semua perhatian tertuju kepada wanita yang sejak tadi hanya berdiri diam di samping Adipati. Sementara itu, Citra sendiri masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, semalam ia hanyalah seorang wanita yang berusaha menyelamatkan ayahnya. Hari ini, seluruh Maheswara Group mengetahui bahwa dirinya adalah istri Adipati Maheswara. Di sudut ruangan, Vanessa mengepalkan jemarinya di bawah meja, tatapannya tak pernah lepas dari Citra. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya, Siapa sebenarnya wanita itu? Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang dibayangkan. Dalam waktu kurang dari satu jam, hampir seluruh karyawan Maheswara Group membicarakan hal yang sama. *Adipati Maheswara telah menikah.* Rapat berakhir lebih cepat dari biasanya, satu per satu direksi meninggalkan ruangan dengan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya. Beberapa di antaranya sempat menatap Citra sebelum akhirnya memilih diam, pintu ruang rapat menutup. Kini hanya tersisa Adipati, Citra, dan Raka. "Apa yang Tuan lakukan?" akhirnya Citra membuka suara. Adipati masih menandatangani beberapa berkas di atas meja, "Mengumumkan fakta." "Tapi... bukankah isi perjanjian kita—" lidah Citra terasa kelu jika memang status mereka sudah sah. "Perjanjian itu berlaku untuk kehidupan pribadi." Adipati meletakkan pulpen. "Perusahaan berbeda." Citra terdiam, ia baru menyadari satu hal. Pernikahan mereka memang harus dirahasiakan dari keluarga dan kehidupan pribadinya, namun sebagai Presiden Direktur perusahaan terbuka, status Adipati bukan lagi urusan pribadi. Cepat atau lambat, publik memang akan mengetahuinya. "Ada masalah?" tanya Adipati. Citra menggeleng pelan, "Tidak.’’ Namun cukup membuat Citra mengerti, pernikahan mereka tetaplah sebuah kontrak. Di luar ruang rapat, Vanessa berdiri memandangi layar ponselnya. Sebuah foto baru saja masuk, foto Adipati yang berdiri di samping Citra beberapa menit lalu, wanita itu memperbesar wajah Citra, "Jadi... kamu." Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia segera menekan satu nomor, "Paman." Suara seorang pria tua terdengar dari seberang, "Ada apa?" "Sepertinya... kita harus mencari tahu latar belakang istri baru Adipati." "Dia menikah?" suara itu kembali terdengar. "Tidak mungkin." "Itu juga yang kupikirkan, dia tidak boleh berada di sisi Adipati, Paman." Vanessa memutus sambungan telepon. Tatapannya kembali mengarah ke ruang rapat yang pintunya masih tertutup, "Aku ingin tahu … apa yang membuat Adipati memilih wanita biasa sepertimu." -… Sore harinya, mobil kembali memasuki halaman mansion. Begitu turun, Bu Ratih sudah menunggu di depan pintu dengan wajah yang tampak cemas, "Tuan." Bu Ratih menundukkan kepala, "Tadi siang... Nyonya Besar datang." Langkah Adipati berhenti, "Di mana beliau?" Suasana mendadak berubah hening, Raka yang berdiri di belakang Adipati perlahan menghela napas, Citra bisa merasakan perubahan itu. Ia belum mengenal keluarga Adipati, namun dari raut wajah semua orang, ia tahu... Kedatangan wanita itu bukanlah kabar baik. Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, terdengar suara langkah kaki dari arah ruang tengah, seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun muncul dengan pakaian yang serba elegan, tatapannya langsung jatuh kepada Citra. Dingin, menilai,tanpa sedikit pun senyum. "Jadi..." Suara wanita itu memecah keheningan. "Ini wanita yang diam-diam kamu nikahi?" Adipati berdiri di depan Citra. Tanpa sadar, tubuhnya menjadi penghalang di antara keduanya, "Nenek." Hanya satu kata, namun cukup membuat Citra membeku. *Wanita itu adalah nenek Adipati.*Suara musik orkestra yang mengalun lembut di sudut ballroom seolah tenggelam di bawah permukaan ketegangan yang merayap di antara barisan pilar marmer hitam. Di tempat itu, di balik keremangan lampu kristal yang memantulkan kilau kemewahan, percakapan antara Vanessa dan Pakusadewo masih berlanjut, menyisakan jarak pandang yang tajam terhadap apa yang sedang terjadi di tengah ruangan. Vanessa masih berdiri dengan napas yang memburu, jemarinya terkepal erat hingga kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri. Bagi wanita itu, dunia korporat adalah medan perang mutlak di mana segala sesuatu harus diukur dengan angka, dominasi, dan kepemimpinan yang tak terbantahkan. Kehadiran Citra seorang gadis asing yang tiba-tiba merangsek masuk dan merebut perhatian penuh dari sang pewaris utama bukan sekadar anomali; bagi Vanessa, itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap standar tinggi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun di sisi Adipati. "Anda berbicara seolah-olah semua ini bisa d
Langkah kaki Adipati Maheswara dan Citra yang berdampingan saat melewati ambang pintu besar menuju aula utama pesta dansa seketika mengubah atmosfer ruangan yang semula dipenuhi dengung percakapan ringan menjadi hening dalam hitungan detik. Lampu kristal raksasa di langit-langit seolah menumpahkan seluruh cahaya kemerahannya tepat ke arah mereka, menjadikan lorong masuk itu sebagai panggung utama di mana seluruh pasang mata dari para investor senior, direktur eksekutif, hingga para pencari berita tertuju tajam ke satu titik. Bagi siapa pun yang hadir malam itu, kemunculan kembali Adipati bersama Citra bukan sekadar kembalinya sang CEO ke tengah-tengah kerumunan itu adalah sebuah pernyataan sikap yang amat lantang. Lengan kokoh Adipati terlingkar sempurna di pinggang Citra, memberikan sokongan yang begitu nyata sekaligus tanda kepemilikan mutlak yang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk meragukan status gadis itu. Cekrek... cekrek... cekrek! Kilatan cahaya dari kamera tersemb
Ujung jemari Adipati menggenggam pergelangan tangan Citra dengan cengkeraman yang begitu pas, tidak terlalu longgar untuk lepas, namun tidak pula terlalu erat hingga menyakiti. Namun, di balik sentuhan yang menenangkan itu, rahang pria tersebut mengeras sempurna. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di sekitar bibirnya, dan manik mata gelapnya menyapu wajah Citra berkali-kali, seolah memastikan tidak ada satu pun goresan luka atau air mata yang tertinggal di sana akibat insiden di sudut galeri ini. Bagi siapa pun di luar sana, Adipati Maheswara adalah lambang dari kesempurnaan seorang pemimpin puncak: dingin, kalkulatif, tidak tersentuh oleh emosi murah, dan selalu berdiri tegak di atas kepala para pesaingnya. Namun, di balik benteng gengsi yang dibangunnya selama bertahun-tahun, ada api kecemasan yang membakar hebat, mendesak untuk keluar dari balik dinding pertahanannya yang kokoh. "Apa yang kamu pikirkan, Citra?" suara Adipati memecah keheningan galeri. Nada bicaranya tetap rend
Kilau lampu kristal di aula utama Maheswara Group mendadak terasa seperti sorot lampu interogasi yang membakar kulit, sementara aroma parfum mahal dan anggur vintage menguar pekat di udara, bercampur dengan dengung percakapan para elite korporat yang sibuk merajut intrik. Di tengah kemegahan yang menyesakkan itu, Vanessa berdiri terlampau dekat dengan Adipati, tubuhnya condong ke depan seolah gravitasi bumi mendadak berpihak sepenuhnya untuk menariknya jatuh ke dalam pelukan sang CEO muda. Wanita itu tahu betul bagaimana cara memanfaatkan setiap inci keunggulannya. Di hadapan puluhan pasang mata petinggi faksi dan lensa kamera tersembunyi yang mengincar dari balik pilar-pilar marmer, Vanessa dengan sengaja melangkah goyah saat mereka berjalan menuruni anak tangga panggung kehormatan. Suara erangan kecil lolos dari bibirnya yang terpoles gincu merah klasik. Dengan gerakan yang terhitung dramatis namun disembunyikan di balik kepiawaian akting kelas atas, tubuh ramping berbalut gaun eme
Udara malam di galeri sudut itu seolah kehilangan oksigennya, menyisakan dingin yang merayap lambat menembus kain gaun Citra, mendinginkan kulit yang seketika basah oleh keringat dingin. Langkah kaki Pakusadewo telah lama lenyap di balik pintu marmer berat, namun gaung suaranya setiap patah kata, setiap tatapan tajam berbalut uban di pelipis itu masih berdenging nyaring di kepala Citra, menghantam kesadarannya berkali-kali tanpa ampun. Citra mematung, manik matanya menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang disinari lampu sorot taman di balik dinding kaca tebal. Pertanyaan-pertanyaan keji mulai berbaris rapi di dalam benaknya, mencabik-cabik sisa pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di dunia yang asing ini. 'Apakah aku sudah salah dalam melangkah?' Pikiran itu berkelebat liar, memantul di dinding-dinding kesadarannya yang mulai goyah. Selama ini, ia mengira posisinya di sisi Adipati Maheswara hanyalah bagian dari sebuah sandiwara
suara bariton Pakusadewo memecah keheningan galeri, terdengar tenang namun sarat akan wibawa seorang petinggi faksi yang ditakuti. Citra tersentak kecil, tubuhnya menegang seketika sebelum ia berputar menghadap sumber suara. Manik mata cokelat gadis itu melebar sejenak, memindai wajah pria paruh baya di hadapannya garis rahang yang tegas, uban di pelipis yang menunjukkan puluhan tahun pengalaman di medan perang korporat, serta sepasang mata tajam yang tidak pernah benar-benar tersenyum. Citra mengenali wajah itu dari lembar dokumen profil perusahaan yang sempat ia pelajari sepintas, atau mungkin dari bisik-bisik ketakutan para staf istana. Pakusadewo Tokoh senior faksi barat yang paling disegani sekaligus ditakuti lawan politiknya. "Pak... Pakusadewo," cicit Citra pelan, berusaha keras menegakkan punggungnya agar tidak terlihat ciut di hadapan salah satu musuh terbesar suaminya. "Saya tidak menyangka ada orang lain di sini." Pakusadewo tersenyum tipis sebuah kurva kecil di sudut b







