Share

Vanessa

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-07-24 22:25:33

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah.

Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya."

Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan.

"Tuan?" tanya Citra ragu.

"Aku menunggu di sini." Sahut Adipati.

Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan.

---

Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..."

Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Yah."

Pak Seto mengangguk pelan, "Dokter sudah bilang, nak.’’

Tatapannya kemudian menelusuri wajah putrinya beberapa saat, "Kamu kelihatan capek sekali?"

Citra hanya tersenyum tipis, "Hanya kurang tidur Yah, yang penting sekarang Ayah sehat."

Pak Seto menghela napas, "Ayah dengar... semua biaya rumah sakit sudah lunas."

Jemari Citra sedikit menegang, "Iya, Yah."

"Siapa yang membantu kita?"

Pertanyaan itu sudah ia duga akan datang. Namun, tetap saja lidahnya terasa kelu.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Citra menjawab pelan, "Atasan Citra."

Pak Seto mengangguk pelan, "Kalau begitu... nanti Ayah harus mengucapkan terima kasih langsung kepada beliau."

Senyum di wajah Citra perlahan memudar, ia hanya mampu mengangguk tanpa berani menatap mata ayahnya.

---

Di luar ruangan, Adipati berdiri menghadap jendela Lorong, tangannya dimasukkan ke saku celana, beberapa perawat yang melintas menoleh diam-diam. Sebagian saling berbisik, mengenali wajah yang sering muncul di media. Namun tak satu pun berani mendekat.

"Tuan." Suara dokter semalam terdengar dari belakang, Adipati berbalik.

"Bagaimana kondisi Tuan hari ini?" tanya dokter.

"Baik." Singkat Adipati.

Dokter mengangguk lega, "Kalau begitu saya tenang."

Adipati menatap dokter beberapa saat, "Laporan semalam bagaimana?."

Dokter tampak memahami maksudnya, "Seperti yang saya sampaikan, serangan Tuan berhenti tanpa obat penenang. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya."

Adipati menatap hening, "Menurut Anda penyebabnya?"

Dokter menggeleng pelan, "Saya belum bisa menyimpulkan, tapi..." tatapan dokter mengarah ke pintu ruang rawat tempat Citra berada "Kehadiran Nyonya Citra jelas memengaruhi respons Tuan."

Adipati mengikuti arah pandang itu, raut wajahnya tetap datar, namun sorot matanya sulit dibaca. Tak lama kemudian, Citra keluar dari ruang rawat. Melihat Adipati masih menunggu, ia tampak sedikit terkejut, "Saya kira Tuan sudah pulang."

"Ayahmu bagaimana?" Basa-basi Adipati.

"Sudah jauh lebih baik, terima kasih atas bantuannya."

Adipati mengangguk singkat, "Kalau begitu kita pulang."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit, tidak ada percakapan. Saat hampir mencapai pintu keluar, seorang perawat muda yang tergesa-gesa membawa berkas tak sengaja menabrak Citra, Bruk.

Tubuh Citra kehilangan keseimbangan. Belum sempat terjatuh, sebuah tangan lebih dulu menahan lengannya. Perawat itu langsung pucat, "Ma-maaf, saya tidak sengaja."

Citra buru-buru menggeleng, "Tidak apa-apa."

Perawat itu berkali-kali meminta maaf sebelum berlari pergi, Citra baru menyadari sesuatu ketika hendak melangkah lagi. Lengan kirinya, masih berada dalam genggaman Adipati. Pria itu pun seakan baru tersadar, tanpa sepatah kata, ia segera melepaskan tangannya, kemudian melangkah lebih dulu menuju mobil. Citra memandangi punggung pria itu beberapa detik, teringat jelas aturan kedua yang diucapkannya saat pertama kali tiba di mansion.

*Jangan pernah menyentuhku tanpa izin.*

Anehnya, dalam dua hari terakhir, justru Adipati sendiri yang berulang kali melanggar aturan itu.

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan, Citra duduk menatap jalanan di balik jendela mobil, sesekali bayangan ayahnya yang sudah bisa tersenyum kembali terlintas di benaknya. Untuk pertama kali, sejak beberapa hari terakhir, beban di dadanya sedikit berkurang.

Di sampingnya, Adipati membaca beberapa dokumen di tablet tanpa mengucapkan sepatah kata, hingga mobil memasuki halaman Maheswara Group.

Citra mengernyit, "Tuan... kita tidak pulang?"

"Tidak." Jawaban itu singkat "Kamu ikut denganku."

Mobil berhenti tepat di depan lobi utama. Begitu Adipati turun, para karyawan yang sedang berlalu-lalang spontan menundukkan kepala, "Selamat siang, Pak Adipati."

Adipati melangkah lurus menuju pintu masuk, Citra mengikuti di belakang dengan langkah ragu. Beberapa pasang mata mulai memperhatikannya,

"Itu... bukannya dia staf Divisi Keuangan?"

"Iya, Citra, kan?"

"Kenapa datang bersama Pak Adipati?"

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah, Citra spontan menundukkan wajah. Ia berharap bisa segera masuk ke dalam lift dan menghilang dari pandangan semua orang. Namun harapan itu pupus ketika pintu lift utama terbuka, di dalamnya sudah berdiri seorang wanita berpenampilan elegan dengan setelan putih yang mahal.

"Adipati." Wanita itu tersenyum tipis. "Akhirnya kamu datang juga."

Langkah Adipati berhenti. "Selamat siang, Bu Vanessa." Raka menyapa lebih dulu.

Vanessa hanya mengangguk sekilas, tatapannya kemudian beralih kepada Citra, sorot matanya berubah, "Siapa dia?"

"Citra." Jawaban Adipati terdengar datar. "Staf baru yang menemaniku."

Citra sedikit terkejut, Adipati... Tidak mengatakan bahwa dirinya adalah istrinya, Vanessa mengulas senyum tipis, "Aku tidak pernah melihatmu membawa staf perempuan ke mana pun."

"Tidak ada aturan yang melarang." Jawab Adipati tetap datar.

Vanessa terkekeh pelan, "Tentu saja." Meski bibirnya tersenyum, matanya tak pernah lepas dari Citra.

Tatapan yang membuat tengkuk Citra terasa dingin, pintu lift kembali terbuka. Adipati masuk lebih dulu. Citra hendak mengikutinya ketika Vanessa tiba-tiba menahan lengannya, "Citra, ya?"

"I-iya, Bu."

Vanessa merapikan kerah baju Citra yang sebenarnya tidak berantakan, gerakannya tampak lembut. Namun suara yang keluar dari bibirnya jauh berbeda, "Hati-hati." Citra mengangkat kepala bingung.

"Jangan terlalu dekat dengan sesuatu yang bukan milikmu." Senyumnya kembali merekah seolah tak pernah mengatakan apa pun.

Vanessa melepaskan tangannya, "Silakan."

Pintu lift menutup perlahan. Di dalam lift, tak seorang pun berbicara, Citra masih memikirkan ucapan wanita tadi. Sementara Adipati berdiri menatap lurus ke depan, seolah tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Lift berhenti di lantai paling atas.

Begitu pintu terbuka, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu di depan ruang presiden direktur, melihat Adipati, wajahnya langsung berubah tegang, "Pak Adipati..."

"Ada apa?" tanya Adipati penuh tatapan tajam.

Pria itu menelan ludah, "Direksi sudah menunggu sejak satu jam yang lalu."

Adipati menyerahkan tabletnya kepada Raka, "Lima menit lagi rapat dimulai."

Pria itu mengangguk cepat, saat Adipati hendak melangkah masuk ke ruang rapat, langkahnya mendadak berhenti. Ia menoleh kepada Citra, "Kamu ikut."

Citra membelalak, "Aku?"

"Ya."

Belum sempat Citra bertanya lebih jauh, pintu ruang rapat sudah terbuka dari dalam. Belasan pasang mata langsung mengarah kepada mereka, dan dalam sekejap, ruangan itu berubah sunyi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Gagal Memperkeruh Situasi

    Suara musik orkestra yang mengalun lembut di sudut ballroom seolah tenggelam di bawah permukaan ketegangan yang merayap di antara barisan pilar marmer hitam. Di tempat itu, di balik keremangan lampu kristal yang memantulkan kilau kemewahan, percakapan antara Vanessa dan Pakusadewo masih berlanjut, menyisakan jarak pandang yang tajam terhadap apa yang sedang terjadi di tengah ruangan. Vanessa masih berdiri dengan napas yang memburu, jemarinya terkepal erat hingga kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri. Bagi wanita itu, dunia korporat adalah medan perang mutlak di mana segala sesuatu harus diukur dengan angka, dominasi, dan kepemimpinan yang tak terbantahkan. Kehadiran Citra seorang gadis asing yang tiba-tiba merangsek masuk dan merebut perhatian penuh dari sang pewaris utama bukan sekadar anomali; bagi Vanessa, itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap standar tinggi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun di sisi Adipati. "Anda berbicara seolah-olah semua ini bisa d

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Bidak Catur

    Langkah kaki Adipati Maheswara dan Citra yang berdampingan saat melewati ambang pintu besar menuju aula utama pesta dansa seketika mengubah atmosfer ruangan yang semula dipenuhi dengung percakapan ringan menjadi hening dalam hitungan detik. Lampu kristal raksasa di langit-langit seolah menumpahkan seluruh cahaya kemerahannya tepat ke arah mereka, menjadikan lorong masuk itu sebagai panggung utama di mana seluruh pasang mata dari para investor senior, direktur eksekutif, hingga para pencari berita tertuju tajam ke satu titik. Bagi siapa pun yang hadir malam itu, kemunculan kembali Adipati bersama Citra bukan sekadar kembalinya sang CEO ke tengah-tengah kerumunan itu adalah sebuah pernyataan sikap yang amat lantang. Lengan kokoh Adipati terlingkar sempurna di pinggang Citra, memberikan sokongan yang begitu nyata sekaligus tanda kepemilikan mutlak yang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk meragukan status gadis itu. Cekrek... cekrek... cekrek! Kilatan cahaya dari kamera tersemb

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Tak Ada yang Bisa Menyentuhmu, Citra

    Ujung jemari Adipati menggenggam pergelangan tangan Citra dengan cengkeraman yang begitu pas, tidak terlalu longgar untuk lepas, namun tidak pula terlalu erat hingga menyakiti. Namun, di balik sentuhan yang menenangkan itu, rahang pria tersebut mengeras sempurna. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di sekitar bibirnya, dan manik mata gelapnya menyapu wajah Citra berkali-kali, seolah memastikan tidak ada satu pun goresan luka atau air mata yang tertinggal di sana akibat insiden di sudut galeri ini. Bagi siapa pun di luar sana, Adipati Maheswara adalah lambang dari kesempurnaan seorang pemimpin puncak: dingin, kalkulatif, tidak tersentuh oleh emosi murah, dan selalu berdiri tegak di atas kepala para pesaingnya. Namun, di balik benteng gengsi yang dibangunnya selama bertahun-tahun, ada api kecemasan yang membakar hebat, mendesak untuk keluar dari balik dinding pertahanannya yang kokoh. "Apa yang kamu pikirkan, Citra?" suara Adipati memecah keheningan galeri. Nada bicaranya tetap rend

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Husband Material

    Kilau lampu kristal di aula utama Maheswara Group mendadak terasa seperti sorot lampu interogasi yang membakar kulit, sementara aroma parfum mahal dan anggur vintage menguar pekat di udara, bercampur dengan dengung percakapan para elite korporat yang sibuk merajut intrik. Di tengah kemegahan yang menyesakkan itu, Vanessa berdiri terlampau dekat dengan Adipati, tubuhnya condong ke depan seolah gravitasi bumi mendadak berpihak sepenuhnya untuk menariknya jatuh ke dalam pelukan sang CEO muda. Wanita itu tahu betul bagaimana cara memanfaatkan setiap inci keunggulannya. Di hadapan puluhan pasang mata petinggi faksi dan lensa kamera tersembunyi yang mengincar dari balik pilar-pilar marmer, Vanessa dengan sengaja melangkah goyah saat mereka berjalan menuruni anak tangga panggung kehormatan. Suara erangan kecil lolos dari bibirnya yang terpoles gincu merah klasik. Dengan gerakan yang terhitung dramatis namun disembunyikan di balik kepiawaian akting kelas atas, tubuh ramping berbalut gaun eme

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kembalinya Vanessa

    Udara malam di galeri sudut itu seolah kehilangan oksigennya, menyisakan dingin yang merayap lambat menembus kain gaun Citra, mendinginkan kulit yang seketika basah oleh keringat dingin. Langkah kaki Pakusadewo telah lama lenyap di balik pintu marmer berat, namun gaung suaranya setiap patah kata, setiap tatapan tajam berbalut uban di pelipis itu masih berdenging nyaring di kepala Citra, menghantam kesadarannya berkali-kali tanpa ampun. Citra mematung, manik matanya menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang disinari lampu sorot taman di balik dinding kaca tebal. Pertanyaan-pertanyaan keji mulai berbaris rapi di dalam benaknya, mencabik-cabik sisa pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di dunia yang asing ini. 'Apakah aku sudah salah dalam melangkah?' Pikiran itu berkelebat liar, memantul di dinding-dinding kesadarannya yang mulai goyah. Selama ini, ia mengira posisinya di sisi Adipati Maheswara hanyalah bagian dari sebuah sandiwara

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Jaga Dia Citra!

    suara bariton Pakusadewo memecah keheningan galeri, terdengar tenang namun sarat akan wibawa seorang petinggi faksi yang ditakuti. Citra tersentak kecil, tubuhnya menegang seketika sebelum ia berputar menghadap sumber suara. Manik mata cokelat gadis itu melebar sejenak, memindai wajah pria paruh baya di hadapannya garis rahang yang tegas, uban di pelipis yang menunjukkan puluhan tahun pengalaman di medan perang korporat, serta sepasang mata tajam yang tidak pernah benar-benar tersenyum. Citra mengenali wajah itu dari lembar dokumen profil perusahaan yang sempat ia pelajari sepintas, atau mungkin dari bisik-bisik ketakutan para staf istana. Pakusadewo Tokoh senior faksi barat yang paling disegani sekaligus ditakuti lawan politiknya. "Pak... Pakusadewo," cicit Citra pelan, berusaha keras menegakkan punggungnya agar tidak terlihat ciut di hadapan salah satu musuh terbesar suaminya. "Saya tidak menyangka ada orang lain di sini." Pakusadewo tersenyum tipis sebuah kurva kecil di sudut b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status