MasukRuang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Ma
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah. Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya." Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan. "Tuan?" tanya Citra ragu. "Aku menunggu di sini." Sahut Adipati. Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan. --- Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..." Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Ya
Ruangan itu membeku, Tak seorang pun bergerak setelah tubuh Adipati roboh ke dalam pelukan Citra.Raka menjadi orang pertama yang tersadar, "Dokter!"Tak lama kemudian, suara langkah kaki memenuhi lorong. Seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Namun begitu melihat posisi Adipati, langkah mereka mendadak melambat, "Tolong baringkan Tuan."Raka segera mengangguk. Ia dan salah seorang petugas keamanan berjongkok untuk mengangkat tubuh Adipati. Baru saja tangan mereka menyentuh bahu pria itu, dokter mengangkat telapak tangannya, "Tunggu."Semua menoleh, Tatapan dokter jatuh pada tangan kanan Adipati yang masih menggenggam jemari Citra begitu erat."Paksa melepaskannya justru bisa membangunkan refleks tubuh Tuan," ujar dokter pelan.Raka mengangguk tipis, dengan sangat hati-hati, ia mencoba melonggarkan jemari Adipati, tetap tidak bergerak, genggaman itu justru semakin mengencang. Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangan kepada Citra, "N
Bu Ratih tampak ragu sejenak. "Tuan... terkadang sulit tidur."“Sulit tidur?” ulang Citra dengan dahi mengerut. Namun, tanpa penjelasan tambahan, Bu Ratih segera mengundurkan diri, meninggalkan Citra yang berdiri mematung dalam keraguan.Malam kian merambat. Citra memandangi langit-langit kamar, matanya enggan terpejam. Pikirannya melayang pada sang ayah. Meski Raka sudah memberi tahu bahwa operasinya berjalan lancar, hatinya tak akan benar-benar tenang sebelum melihat keadaan Ayah secara langsung.Di luar, mansion mewah ini tenggelam dalam kesunyian yang ganjil. Hingga tiba-tiba…BRAK!Citra tersentak dan langsung terduduk di ranjang. Sensasi dingin merayapi tengkuknya saat mendengar erangan tertahan dari balik dinding."Tidak..." Suara bariton seorang pria bergetar hebat. "Jangan..."Erangan itu memuncak menjadi jeritan histeris yang memilukan. "IBU!"Darah Citra serasa berhenti mengalir. Suara itu datang dari lorong lantai dua, dari kamar Adipati.Teringat peringatan Bu Ratih, Ci
BAB 3Pagi itu, mendung menggantung tebal di luar gedung Pencatatan Sipil.Citra meremas jemarinya sendiri yang terasa sedingin es.Ia tidak tidur semalaman. Bayangan dokumen perjanjian kerja sama yang ia tandatangani kemarin masih membayangi. Namun, saat teringat kabar dari Raka sejam lalu—bahwa tim dokter sudah membawa ayahnya ke ruang operasi—dada Citra yang sesak sedikit melonggar."Nona Citra, silakan masuk."Suara perawat yang ia minta tolong menjadi saksi membuyarkan lamunannya. Citra melangkah masuk ke ruangan serba putih itu.Di sana, Adipati Maheswara sudah duduk tegak dengan setelan jas mahalnya. Pria itu tampak begitu dominan, kontras dengan meja kayu sederhana di hadapannya.‘Presdir perusahaan tempatku bekerja.’Pria yang jangankan diimpikan jadi pasangan, untuk bisa menyapanya saja tidak pernah terlintas di otak Citra. Dan hari ini, pria itu duduk di sebelahnya untuk menandatangani buku nikah."Tanda tangan di sini, Pak Adipati. Dan Bu Citra di sebelah sini," instruks
Sedan hitam itu melaju tenang membelah jalanan basah. Di kursi belakang, Citra menatap hampa kilatan lampu kota. Tangannya saling meremas kaku. Penawaran gila di taman rumah sakit tadi masih bergema keras di telinganya.Menikah dengan Adipati Maheswara? Pria penguasa yang dikelilingi rumor buruk dan desas-desus kejam di dunia bisnis?Apakah ini semacam lelucon keji dari takdir untuk menertawakan hidupnya yang sedang berada di ambang kehancuran?Tak lama kemudian, laju mobil melambat dan berhenti mulus di pelataran sebuah hotel berbintang lima. Raka turun lebih dulu, lalu membukakan pintu dan membimbing Citra menuju lift khusus. Pintu lift berdenting pelan sebelum meluncur cepat membawa mereka langsung menuju penthouse di lantai teratas. Di sana, di depan dinding kaca raksasa yang menghadap lanskap kota, berdiri seorang pria tegap dalam setelan jas hitam."Tuan, Nona Citra sudah datang," ujar Raka sebelum mengundurkan diri dan menutup pintu rapat-rapat. Pria itu berbalik. Tatapan







