LOGIN"Jangan marah, Bro," ucap Jonathan. Ia langsung tertawa pelan melihat ekspresi saudara kembarnya itu. Sedangkan Siska hanya menggeleng pelan sambil menahan malu.Beberapa menit kemudian, keluarga Johan akhirnya benar-benar pulang. Suasana rumah yang sejak sore tadi ramai, kini perlahan mulai kembali tenang.Pintu depan tertutup pelan setelah mobil terakhir keluar dari halaman rumah. Andini langsung menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke sofa ruang tamu."Hah... akhirnya selesai juga," ucap Andini. Satria yang berdiri di dekatnya tersenyum kecil. "Kamu capek, ya?""Lumayan..""Aku perhatiin kamu sibuk banget sih tadi, sampe nggak duduk sama sekali.”Andini menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum tipis. "Ya mau gimana lagi, tamunya kan banyak banget."Satria mengusap pelan pundaknya sekilas."Ya udah. Sekarang kita istirahat, yuk!""Iya."Tidak lama kemudian, rumah benar-benar terasa sepi. Siska sudah masuk ke kamarnya lebih dulu karena kelelahan setelah seharian menema
"Loh..," gumam Andini pelan. Ia memandang Johan dan laki-laki yang baru datang itu secara bergantian. "Ini siapa? Kok mukanya sama banget kayak Johan?"Beberapa anggota keluarga Hasan lain juga terlihat sama bingungnya. Apalagi Jonathan dan Johan saat ini berdiri berdampingan. Karena mulai dari tinggi badan, wajah, bentuk mata, sampai suara mereka benar-benar sama.Perbedaan yang terlihat hanya dari ekspresinya saja. Jonathan terlihat jauh lebih santai dengan senyum yang lebih mudah muncul di wajahnya. Sedangkan Johan, tetap tenang dan dingin seperti biasa.Chyntia akhirnya tersenyum kecil melihat reaksi semua orang. "Perkenalkan, ini Jonathan. Saudara kembarnya Johan.""Oh, pantes..." ucap Laura, yang merupakan salah satu Tantenya Siska, refleks.Andini bahkan masih bengong sesaat setelah Chyntia menyatakan kebenaran."Parah sih, ini mah bener-bener mirip banget." Jonathan langsung tertawa pelan sambil berjalan mendekat ke arah Andini."Iya. Saya udah sering banget denger kalimat k
"Uhm.. Begini, Om," ucap Johan. Nada suaranya tetap tenang seperti biasa."Sebenarnya, saya juga ingin jeda waktunya lebih lama, agar persiapannya lebih tenang dan tidak terburu-buru. Tapi, mulai bulan depan jadwal kerja saya akan jauh lebih padat dari sekarang."Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan."Selain itu, saya juga akan lebih sering pergi dinas ke luar negeri untuk menjalankan beberapa proyek baru. Dan kemungkinan waktunya dapat dipastikan lebih panjang dari perjalanan dinas pada umumnya."Siska langsung menoleh ke arah Johan.Johan membalas tatapannya dengan lembut."Saya ingin Siska ikut bersama saya nanti. Dan saya maunya status Siska udah jadi istri saya, Om."Kalimat itu langsung membuat beberapa orang di sana saling pandang.Andini bahkan refleks menutup mulut sambil menahan senyum gemas."Ya ampun... Johan manis banget sih," bisiknya pelan ke Zaskia.Sedangkan pipi Siska langsung merah padam."Astaga, Johan," gumamnya pelan sambil menunduk malu
"Tapi bener kan?" tanya Andini. Pipi Siska langsung bersemu merah. Begitu sampai di bawah, Satria berjalan mendekat ke arah putrinya. Tangannya terulur pelan.Siska langsung menggenggam tangan Ayahnya. Dan entah kenapa, di detik itu dada Satria kembali terasa penuh. Tatapannya tidak lepas dari wajah putrinya."Kamu cantik banget sayang," ucapnya lirih.Siska tersenyum kecil. "Makasih, Yah."Satria mengangguk pelan, tapi setelahnya ia malah membuang wajah sebentar. Seolah, sedang menahan sesuatu.Andini yang berdiri di dekatnya langsung memahami sikap Satria."Sayang, kamu jangan nangis duluan," ucapnya pelan, seraya mengingatkan suaminya. "Siapa yang nangis sih. Mata saya aja yang merah kena debu," ucap Satria, sambil terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.Tak lama kemudian, prosesi inti dimulai. Kedua keluarga duduk saling berhadapan di area utama acara. Suasana berubah lebih formal dan khidmat.Perwakilan keluarga Johan mulai menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan tenan
"Lo cantik banget sih, Sis. Sumpah!" ucap Andini, tanpa berkedip. Ia menatap lurus ke arah Siska yang wajahnya seratus persen mirip suaminya. Namun dalam versi perempuan. Wajah yang terlampau cantik dengan kulit putih bersih yang sehat, bibir kecil, dan tinggi bak model papan atas. Sedangkan tubuhnya yang seksi dan menarik seperti gitar spanyol selalu membuat orang terpukau. "Apaan sih, lebay banget lo, An!" tutur Siska, sambil tersenyum kecil. "Kayak orang baru pertama ketemu gue aja!"Andini terkekeh pelan. "Namanya juga kagum, gimana dong.."Akhirnya hari yang ditunggu tiba.Sejak sore, rumah keluarga Hasan sudah berubah menjadi jauh lebih hidup dan indah dibanding biasanya. Area halaman depan dipenuhi dekorasi bunga bernuansa champagne, peach lembut, dan ivory yang disusun elegan di setiap sudut. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat, membuat suasana terlihat mewah namun tetap anggun. Dan karpet panjang terbentang dari gerbang utama menuju area acara utama. Be
"Nggak nyangka kalo akhirnya kamu mau nikah, sayang," tutur Zaskia. Siska langsung salah tingkah sendiri."Aduh, apa sih, Bu... Bikin mellow aja..""Serius, sayang. Ibu inget, dulu kamu tuh paling takut ngomongin hal beginian. Takut ini, takut itu, banyak banget yang kamu takutin dan lebih milih ganti-ganti lelaki untuk nemenin kamu kalo bosan," ucap Zaskia Rania ikut menyahut pelan, "Betul. Udah gitu, setiap ditanya soal nikah, jawabannya selalu nanti atau belum siap."Siska menutupi wajahnya sebentar. "Udah, jangan dibahas terus dong... Kan yang penting sekarang udah mau.."Tawa kecil langsung memenuhi seisi ruangan.Beberapa saat kemudian, Satria datang. Ia baru saja pulang dari rumah salah satu kerabat dekat untuk meminta bantuan melakukan penyambutan saat keluarga Johan datang.Begitu masuk dan melihat ruang tengah penuh katalog serta daftar acara, ia sempat berhenti beberapa detik. Tatapannya berpindah ke Siska. Lalu berpindah ke Rania, Andini, dan terakhir ke Zaskia yang seda
"Masih di jalan, sebentar lagi sampe. Kenapa, An?" tanya Cinta. "Nggak apa-apa. Aku cuma mau mastiin aja. Ya udah, aku juga usah di jalan. Kabarin kalau Tante dan Om udah sampe ya..."Perjalanan terasa begitu lancar. Mobil yang membawa Andini berhenti tepat di depan lobi megah hotel milik Satria.
"Oh ya?" tanya Satria. Andini menganggukkan kepala perlahan. Satria menatap Andini beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum tipis."Kamu ini… kalau ngomong suka bikin orang kehabisan kata-kata."Andini tertawa kecil. "Memangnya salah? Kamu juga ngerasa
"Beneran Ayah nggak mau istirahat dulu?" tanya Siska, saat masuk ke dalam ruang kerja Satria. Tadi, ia sempat mencari Satria di kamar, tapi tidak menemukannya. Sehingga ia berinisiatif untuk mencarinya di ruang kerja. Ternyata, dugaannya benar. "Ayah udah istirahat sayang...""Tapi itu.. pagi-pa
"Siska!" panggil Satria.Ia membuka pintu kamar anak semata wayangnya dengan cukup kasar. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Siska menoleh ke daun pintu yang baru saja terbuka. Di mana Ayahnya berada saat ini. Ia tersenyum tipis. Bukannya tidak enak hati, ia malah senang melihat rasa khawatir







