LOGIN"Ha-halo..," ucap Andini, saat panggilan tersambung. Namun, ia tidak bisa melanjutkannya lagi. Ponselnya tiba-tiba terjatuh. Ia tidak cukup kuat untuk memegangnya. Karena rasa nyeri bercampur mulas yang menyerang perutnya semakin hebat. Roland menolah ke arah Andini. "Sabar ya, Bu."Andini tidak menjawab. Ia benar-benar sedang berusaha maksimal untuk tetap sadar sambil menahan berjuta rasa pada dirinya. Mobil berhenti di depan instalasi gawat darurat. Roland langsung turun, membuka pintu belakang, lalu membantu Andini keluar dengan hati-hati."Pelan ya, Bu," ucapnya.Mereka berjalan masuk ke dalam ruang IGD. Beberapa tenaga medis yang sudah siaga segera berjalan menghampiri."Pasien hamil, ketuban pecah," ucap Roland singkat tapi jelas.Andini langsung dipapah ke atas kursi roda. Wajahnya terlihat pucat, napasnya mulai tidak teratur. Tangannya masih memegang erat perutnya."Bu, usia kehamilan berapa minggu?" tanya salah satu perawat sambil mendorong kursi roda masuk."Tiga puluh d
"Ah!" ucap Andini, pelan. Ia bangkit dari duduknya perlahan. Tubuhnya terasa semakin berat, tapi masih cukup nyaman untuk bergerak. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan pelan, lalu mulai bersiap.Beberapa menit kemudian, Andini sudah berganti pakaian dengan dress longgar yang cukup nyaman. Rambutnya ia ikat sederhana. Setelah itu, tidak banyak yang ia lakukan. Hanya memastikan dirinya sudah cukup rapi tanpa harus berdiri terlalu lama di depan cermin.Setelah itu, Andini mengambil ponselnya di atas nakas dan duduk di tepi tempat tidur. Layar ponselnya menyala. Ia memasukkan sandi dan menampilkan beberapa notifikasi. Jarinya mulai bergerak, membuka media sosial untuk sekedar mengisi waktu sambil menunggu.Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, ia mendengar pintu diketuk pelan."Iya?" sahut Andini.Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah Bi Sarmi."Nyonya, Pak Roland sudah datang," ucapnya.Andini langsung mengangguk. "Iya, Bi. Aku keluar sekarang."Ia meraih tasnya, mem
"Tuh kan!" ucap Andini. Ia mengerucutkan mulutnya Tatapannya sempat turun ke arah kertas di tangannya. Sebelum akhirnya kembali ke wajah Satria."Maaf ya, An..," ucap Satria. Bingung harus bagaimana. "Iya sih, aku ngerti posisi kamu," ucap Andini akhirnya. Nada suaranya terdengar lebih lembut. "Rapat pemegang saham tahunan kan, nggak bisa diwakilin."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Apalagi beberapa keputusan penting harus kami sahkan hari ini."Andini menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya mulai kembali seperti semula. Beberapa saat, tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Satria lalu melirik ke arah dapur dan sekitar yang terlihat sepi."Tante Cinta sama Siska udah berangkat?" tanyanya."Udah, dari tadi pagi," jawab Andini. "Pagi banget..," ucap Satria. "Iya. Mereka bilang hari ini mau cek stok bahan dan persiapan pembuatan roti dan kue lebih awal dari sebelumnya. Biar nggak keteteran," lanjut Andini. "Oh, gitu.."Satria mengangguk lagi, lalu pandangannya kemb
"Baik, saya mengerti, Pak," ucap Roland. Ia langsung menangkap semua maksud Satria"Saya akan langsung berangkat sekarang, Pak."Sambungan terputus.Satria menatap layar ponselnya sebentar, lalu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.Dua hari lalu, ia memang sempat mendengar kabar bahwa Dion dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Dan sehari setelahnya, muncul kabar lain yang jauh lebih mengganggu. Ia kabur.Satria mengepalkan tangannya pelan."Jangan sampai dia deket-deket Andini lagi," gumamnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.Roland turun lebih dulu, diikuti tiga orang lainnya.Satria sudah menunggu di teras dekat halaman depan."Pak," sapa Roland.Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Mulai malam ini, kalian jaga di sekitar rumah.""Baik, Pak.""Jangan terlalu mencolok. Tapi pastikan semua aman."Roland mengangguk mantap. "Dimengerti, Pak."Salah satu anak buahnya bertanya, "Fokus di luar aja atau sampai dalam, Pak?""Di luar
"Aduh.. Badan kok jadi nggak enak banget..," gumam Andini. Menjelang sore, suasana toko dan rumah makan mulai sedikit longgar. Antrean masih ada, tapi tidak sepadat pagi sampai siang tadi. Beberapa meja sudah mulai kosong, dan ritme kerja di dapur mulai berjalan perlahan.Andini bangkit dari duduknya setelah cukup lama hanya memperhatikan sekitar karena tubuhnya yang semakin tidak mendukung untuk melakukan pekerjaan fisik. Ia berjalan menghampiri Cinta yang sedang mencatat pesanan tambahan."Tan," panggilnya.Cinta menoleh. "Iya, An?""Aku izin pulang dulu ya. Badan aku kayaknya udah nggak bisa diajak kerjasama."Cinta langsung mengangguk tanpa ragu. "Iya, pulang aja. Dari tadi juga Tante udah mau nyuruh kamu pulang, cuma ketahan terus karena banyak panggilan dari pelanggan.""Iya, nggak apa-apa Tan. Akubcapek banget soalnya. Pusing juga," kata Andini. "Itu wajar, An. Kamu tuh lagi hamil tua, jadi nggak bisa terlalu capek. Besok juga sebaiknya kamu nggak usah dateng dulu. Istiraha
"Mbak," panggil seorang pelanggan. "Iya, Kak," jawab salah satu karyawan, sambil tersenyum ramah. "Aku mau yang blueberry cheese 2 ya..""Siap.""Sama milkshake coklatnya 1.""Baik. Ada lagikah Kak?" tanya karyawan tersebut lagi. "Udah, itu aja."Sedangkan di dapur, Cinta sedang mengecek roti yang sedang di panggang dan persediaan bahan baku toko roti dan kue. Setelah memastikansemua berjalan dengan baik dan mencatat stok yang sudah menipis, ia beralih ke dapur belakang untuk mengecek makanan dan minuman pesanan pelanggan rumah makan. Aktivitas di dapur dan area depan berjalan hampir tanpa jeda. Suara pesanan dipanggil, bunyi peralatan, dan langkah kaki yang hilir mudik bercampur menjadi satu.Siska berpindah dari satu meja ke meja lain dan membantu menyiapkan pesanan yang semakin menumpuk. Tangannya bergerak cepat, tapi tetap rapi dan bersih.Di sisi lain, Andini terlihat masih ikut membantu, meskipun gerakannya tidak secepat biasanya.Cinta yang sejak tadi memperhatikan, akhirny
"Dion? Siapa?" Andini mengerutkan kening, bingung. Matanya mencari jawaban dengan melihat Siska dan Satria bergantian. "Dion itu CEO di kantor Ayah gue, An! Kan lo udah pernah ketemu sebelumnya."'Oh! Dion yang itu! Yang sering diceritain Mbak Dila!' pikir Andini. "Kapan?” ujar Andini tak tertar
"Oh ya?" tanya Satria. Andini menganggukkan kepala perlahan. Satria menatap Andini beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum tipis."Kamu ini… kalau ngomong suka bikin orang kehabisan kata-kata."Andini tertawa kecil. "Memangnya salah? Kamu juga ngerasa
"Banyak," ucap Rania. Ia tersenyum tipis. Tangannya tetap memegang kemudi dengan tenang.Siska mengerutkan kening."Contohnya?"Rania menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab."Nenek bangga karena kamu bisa menurunkan ego kamu, sayang."Siska terdiam sejenak. "Ego?" ulangnya p
"Cukup, Sis!" tegas Satria masih dengan suara berbisik. Namun, Siska tidak mau kalah. “Aku butuh sosok Ibu. Yang seperti Andini, Yah." Siska sedikit menurunkan volume suara. Tidak mau Andini mendengarnya. Satria menghela napas. "Kamu tau kan pekerjaan Ayah sangat padat! Ayah nggak ada waktu beru







